Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 43. Saudara satu ibu.


__ADS_3

Toko Bunga.


Lovely melayani beberapa pelanggannya yang datang hari ini untuk membeli maupun memesan beberapa bunga di tokonya.


Semenjak toko bunganya itu diperbaharui serta diperluas oleh bantuan Putera beberapa bulan yang lalu, banyak sekali pelanggan baru yang datang silih berganti setiap harinya.


Seperti saat sekarang ini, seorang pria bertubuh tinggi mendatangi toko bunganya yang baru saja ingin tutup.


"Maaf, bisakah kau tunda dulu menutup toko bunga cantikmu ini," ucap Alex tersenyum.


Lovely menoleh. "Maaf, tapi toko ini sudah tutup."


"Ah sayang sekali, padahal ini hari ulang tahun mamaku dan aku ingin membeli buket mawar merah kesukaan mamaku untuknya," balas Alex.


Lovely mengurungkan niatnya menutup toko. "Oh begitu, baiklah aku akan membuatkan satu untukmu. Silahkan masuk dan duduklah disini terlebih dahulu selama aku membuatkan buket bunganya," balas Lovely.


Alex tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko bunga Lovely. "Toko bungamu indah sekali," pujinya.


Lovely tersenyum dengan tangan sibuk merangkai bunga. "Terima kasih, namanya juga toko bunga. Sudah pasti tampilannya indah, kalau tidak indah bagaimana bisa menarik pengunjung."


"Kau benar sekali, ngomong-ngomong apa kau sudah menikah?" tanya Alex.


"Aku sudah menikah," balas Lovely.


Alex tersenyum tipis. "Apa kau tinggal di dalam toko ini?" tanyanya saat melihat ada satu kamar tertutup rapat.


"Benar, hanya untuk sementara waktu." balas Lovely.


"Bukankah kau sudah menikah, kenapa tidak tinggal bersama dengan suamimu itu?" tanya Alex kembali.


"Tidak apa, hanya sedang merindukan tempat ini. Jadi aku menginap disini," balas Lovely enggan menceritakan kisah rumah tangganya kepada orang asing.


"Oh begitu, aku pikir kau sedang bertengkar dengan suamimu itu hingga kau berpisah dengannya," ucap Alex.


Lovely menatap tajam Alex. "Maaf Tuan, kurasa kau tidak berhak tahu atas masalah pribadi seseorang."


Alex menggeleng. "Ah maaf, aku bukannya bermaksud ingin mengetahui tentang masalah pribadimu. Maafkan aku, aku hanya sedang menduga saja."


Lovely menurunkan emosinya dan melanjutkan merangkai bunga pesanan Alex hingga selesai.


...***...


Tak berapa lama kemudian, pesanan Alex pun sudah siap hanya tinggal diberi pemanis seperti pita dan kartu ucapan saja.


Alex senantiasa memperhatikan Lovely. "Oiya siapa namamu?" tanyanya.


"Aku Lovely," balas Lovely.


"Aku Alex," balas Alex.

__ADS_1


Lovely hanya membulatkan bibirnya dan cukup tahu saja tentang itu. "Silahkan ambil kartu ucapannya dan tulislah dengan segera karena aku harus menutup tokoku," ucap Lovely sambil merapihkan sisa-sisa kerajinan tangannya.


"Baiklah, kau cerewet sekali." cibir Alex.


Lovely mendengus kesal. "Aku memang seperti ini," balasnya ketus.


Alex terkekeh. "Kau manis sekali saat mengambek seperti itu," godanya.


Lovely menghembus nafasnya kasar. "Dasar laki-laki, bisanya hanya merayu seorang wanita," gerutunya kesal.


"Oke aku sudah selesai menulis kartu ucapannya," ucap Alex memberikan kartu ucapan yang berisi kata, "Happy birthday mommy."


Lovely menyelipkan kartu ucapan tersebut pada buket bunga mawar merah pesanan Alex, namun ada satu nama yang membuatnya terkejut.


"Mommy Rosa, bukankah itu nama mantan istrinya papa Dira, yang berarti mamanya Putera dan orang ini berarti saudara satu ibu kandung dengan Putera?" batin Lovely bertanya.


Lalu menggeleng. "Ah nama Rosa bukan mantan istrinya papa Dira saja," batinnya menepis.


Alex membuyarkan lamunan Lovely. "Hello, kau sedang melamunkan apa?"


"Ah tidak, ini sudah selesai kau bisa membawanya sekarang," balas Lovely.


"Terima kasih, berapa harganya?" tanya Alex sambil merogoh dompetnya.


"250 ribu rupiah," balas Lovely.


"Terima kasih," ucap Lovely.


"Sama-sama, bunga buatanmu ini sangat cantik. Baiklah, aku sudah memutuskan akan menjadi pelanggan setiamu mulai dari sekarang," balas Alex sambil tersenyum dan menatap wajah Lovely.


Lovely pun tersenyum karena senang hasil kerjanya dipuji oleh seseorang. "Terima kasih, kalau begitu datanglah lagi."


"Sudah pasti," balas Alex lalu pergi dari toko bunga Lovely.


...***...


Lovely akhirnya menutup toko bunganya setelah selesai memenuhi keinginan satu pelanggan baru yang terakhir bernama Alex.


Wanita itu sedang berpikir keras atas kejadian tadi. "Buket mawar merah, ulang tahun mommy Rosa? Apakah ini suatu kebetulan atau memang aku sedang salah orang?" batinnya menduga-duga.


Lovely menghela nafas panjang dan menyingkirkan semua pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Ia memilih untuk beristirahat saja dan kembali beraktifitas dikeesokan harinya.


...----------------...


Keesokan harinya.


Putera mengunjungi toko bunga Lovely, selain karena merindukan istrinya itu, hari ini juga adalah hari dimana ia ingin menanyakan sebuah kepastian Lovely mengenai hasil dari pertimbangannya selama beberapa hari.


Pria itu tersenyum lembut di depan pintu masuk toko dan menyapa istrinya segera. "Lovely," sapanya.

__ADS_1


Lovely memutar bola matanya malas. "Mau apa datang kesini?" tanyanya acuh.


"Aku merindukanmu istriku," balas Putera kemudian masuk ke dalam toko.


Lovely merasa geli. "Putera sudah berapa kali aku katakan, jangan katakan kata-kata seperti itu padaku. Aku merasa gatal," balasnya menggaruk.


Putera terkekeh. "Tidak ku sangka istriku tertular alergiku begitu saja, tapi apa kau tahu kalau alergiku sepertinya sudah sembuh total. Ah nyamannya bisa berdekatan denganmu lagi, tanpa rasa gatal setelahnya," balasnya lalu menarik pinggang Lovely agar mendekat.


"Menjauhlah dariku Putera, kau memberikan dampak negatif pada tubuhku ini." Lovely menahan dada Putera agar tidak mendekat.


"Beri aku jawaban, bagaimana apa kau sudah siap pulang ke rumah dan tinggal bersama denganku lagi?" tanya Putera.


Lovely menghela nafas dan menyingkirkan tangan Putera dari pinggangnya. "Aku belum berniat pulang, aku masih betah tinggal disini."


"Mengapa? Apa kau tidak kasian melihatku yang sendirian ini? Lovely ... Jika kau masih marah dengan kejadian waktu itu, aku minta maaf. Tolong sudahilah semua masalah masa lalu kita dan berikan aku kesempatan untuk memulai lagi hubungan ini denganmu," mohon Putera.


"Entahlah, kau tahu sulit sekali rasanya tinggal bersama dengan orang yang tidak kita cintai. Terkadang aku menyesal kenapa aku harus menerima tawaran pernikahanmu itu," balas Lovely.


"Lovely, jangan berkata seperti itu. Aku mengerti kalau kau masih marah padaku dan aku juga tahu kau masih belum bisa menerimaku sepenuhnya. Tapi Lovely, aku mencintaimu. Aku ingin selalu bersama denganmu dan ijinkanlah aku untuk terus berhubungan denganmu," mohon Putera kembali.


Putera menggenggam kedua tangan Lovely. "Ku mohon kembalilah padaku, aku ingin memperbaiki semua kesalahanku padamu."


Lovely terdiam dan memalingkan wajahnya, namun Putera terus memohon dan berusaha agar Lovely kembali ke sisinya.


"Ehem!"


Suara deheman tiba-tiba terdengar di muka pintu, membuat Putera dan Lovely segera melemparkan pandangannya ke depan.


"Pagi, maaf apa aku datang disaat yang tidak tepat?" tanya Alex sambil cengengesan merasa tidak enak.


"Alex!" ucap Lovely dan Putera bersamaan, lalu menatap satu sama lain karena mereka berdua sama-sama mengenal Alex.


Lovely melepaskan genggaman tangan Putera. "Kau mengenalnya?" tanyanya.


Putera menatap tajam Alex. "Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Alexander Peterson, anak dari tuan Peterson dan nyonya Rosa."


Alex menatap Putera dan tersenyum sinis. "Kakak tiriku, bagaimana dengan kabarmu?" tanyanya.


Putera berdecih. "Jangan panggil aku kakak, karena aku tidak sudi. Sedang apa kau disini, apa kau ingin mengambil sesuatu lagi?"


Alex tersenyum. "Itu bukan urusanmu, aku kesini hanya ingin membeli beberapa kuntum bunga dari penjual bunga yang cantik ini," balasnya.


Putera merangkul pinggang Lovely. "Penjual bunga yang cantik ini adalah istriku," balasnya penuh penekanan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2