Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 71. Pamali.


__ADS_3

Mansion Peterson.


Kabar baik dan membahagiakan tentang kehamilan Lovely telah tersebar kemana-mana, termasuk ke telinga keluarga Peterson sendiri.


Nyonya Rosa mendengar berita tersebut pun, turut gembira dan merasa senang. Karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek, walau dirinya tidak lagi dianggap ibu oleh sang anak sendiri.


Akan tetapi berbeda dengan Alex yang mendengar berita tersebut, ia lantas kesal saat mengetahui kebenaran yang ada, jika Putera sebentar lagi akan mendapatkan sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya.


"Orang itu tidak boleh merasakan bahagia sedikit pun, dia harus kehilangan salah satunya, entah itu anak ataupun istrinya," gumam Alex dengan seringainya.


Tatkala dendam pria itu tidak pernah hilang sampai kapanpun, jika mengenai Putera yang lebih unggul daripada dirinya.


Hal tersebut membuat nyonya Rosa sangat takut dan khawatir sekali, jika Alex akan berlaku buruk kepada keluarga Putera suatu hari nanti.


"Tidak! Aku tidak boleh membiarkan itu sampai terjadi, karena bagaimanapun juga anaknya Putera adalah cucuku sendiri!" gumam nyonya Rosa bertekad, akan selalu melindungi cucunya dari tangan jahat Alex maupun suaminya.


Ia menghampiri Alex yang tengah mengumpat kesal. "Alex sayang, apa yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya berpura-pura tidak tahu.


Alex menoleh dan dia menggenggam kedua tangan nyonya Rosa. "Mom, aku hanya kesal karena Putera akan segera memiliki anak. Aku hanya tidak ingin kalah saing darinya," balasnya.


"Alex, kalau kau tidak ingin kalah saing dari Putera. Mengapa kau tidak menikah saja, dengan begitu kau juga bisa memiliki seorang anak dari istri sahmu," balas nyonya Rosa memberi saran.


"Yang ku inginkan hanyalah Lovely, selain karena dia cantik, wanita itu juga milik Putera. Apapun yang ada ditangan Putera, aku harus segera mengambilnya," jawab Alex penuh dengan ambisi.


"Sayang, biarkanlah Lovely tetap menjadi milik Putera. Mamy bisa mencarikanmu wanita yang sempurna dan tidak kalah cantik dari Lovely," ucap nyonya Rosa berusaha memberi pengertian.


Alex menggeleng. "Tidak mau mom, tidak ada yang seperti dia. Jika wanita itu telah berhasil meluluhkan sikap keras kepala Putera selama ini, maka dia begitu istimewa dan aku benar-benar tidak mengerti, kenapa dia bisa mencintai lelaki seperti itu."


"Sayang, itu karena mereka telah berjodoh dan kita tidak boleh memisahkannya. Kau sudah dewasa dan cukup umur untuk menikah, sekali saja turuti permintaan mommy mu ini. Jangan ikuti jejak daddy mu, karena mommy ingin kau juga mendapatkan cintamu, mendapatkan kebahagiaan dan memiliki jalan yang benar," ucap nyonya Rosa membujuk.


Alex berganti menatap tajam ibunya. "Apa maksud Mommy dengan berkata seperti itu, apa mommy sudah tidak menyayangiku dan tidak ingin membantuku lagi?"


"Bukan begitu sayang, mommy akan selalu membantu dan juga mendukungmu. Tapi mommy juga ingin kau bahagia tanpa menghancurkan hubungan orang lain. Mommy ingin kau menemukan cintamu sendiri, coba keluarlah dari lingkaran masa lalumu."ujar nyonya Rosa terus membujuk.

__ADS_1


Alex menepis tangan nyonya Rosa. "Kenapa kau berubah Mom, kenapa setelah beberapa hari tinggal bersama dengan mantan suamimu itu kau jadi berubah seperti ini? Kau seperti sudah tidak berada dipihakku lagi, apa karena mereka sudah berhasil meracuni otakmu Mom?" curiga pria itu kepada ibunya yang tiba-tiba berhenti mendukung.


Nyonya Rosa terpaku, kenapa kebencian Alex kepada Putera tidak pernah pudar sedikitpun.


"Apa yang membuat anakku menjadi seperti ini?" batinnya merasa sakit ketika anaknya selalu saja memiliki sifat iri hati. Apalagi iri hati tersebut hanya terhadap kakak tirinya saja.


...----------------...


Mansion Putera.


Semua keluarga berkumpul, setelah mengetahui kabar bahagia kehamilan menantu dari keluarga Mahesa.


Opa Mahes begitu senang, karena tidak lagi memikirkan beban hidup tentang siapa yang akan menjadi penerus perusahaannya.


Pria tua itu pun datang dengan tidak lupa membawakan hadiah luar biasa mewah kepada sang cucu menantunya.


"Opa, kenapa Opa repot-repot membawakan hadiah seperti ini?" ucap Lovely merasa sungkan sekali saat menerima pemberian hadiah berupa gelang emas tebal bertabur batu permata nan berkilau.


Lovely terkekeh, saat bisikan Opa Mahesa ternyata terdengar di telinga kedua orang tuanya. Membuat pasangan suami itu langsung menunduk malu.


"Papa, apa yang kamu bicarakan. Aku sudah tua, sudah tidak pantas merawat bayi. Cukup anak dari Lovely dan Putera saja ya, jangan meminta anak lagi kepadaku," balas Tuan Dira menggeleng.


Dia sampai mengangkat kedua tangannya karena tidak sanggup jika memenuhi permintaan Opa Mahesa yang menginginkan anak darinya.


Opa Mahesa mencebik. "Umurmu masih pantas memiliki anak, apa salahnya kalau Papa meminta anak darimu. Kau kan sudah menikah dan punya istri yang masih muda, jadi bisa lah buatkan Papa satu cucu lagi. Ya boleh ya Diana," senyumnya merayu agar mau.


Ibu Diana hanya tersenyum malu-malu, lalu menatap suaminya yang menatapnya juga sambil mengangguk kecil agar mengiyakan permintaan Opa Mahesa saja daripada pusing.


"Baiklah Papa, kami berdua akan memikirkannya kembali." jawabnya patuh.


"Syukurlah kalau begitu," balas Opa Mahesa begitu senang.


Begitu pula dengan Lovely dan Putera yang mengijinkan kedua orang tuanya untuk memiliki seorang anak lagi.

__ADS_1


"Menurutku menambah satu adik kandung serasa anak boleh juga," ucap Putera terkekeh dan Lovely hanya mengangguk setuju.


Sungguh hubungan keluarga yang begitu membingungkan, hingga mereka hanya tertawa jika memikirkan itu semua.


Namun lain halnya dengan Ron, pria kecil itu menatap tajam ibunya. "Ron enggak mau punya adik, nanti tidak kebagian mainan. Apalagi adiknya cewek, Ron tidak suka. Nanti sudah besar dia bawel dan galak seperti kak Lovely."


Seketika itu pula Lovely mencebik, lalu mencubit pipi tambun adiknya. "Beraninya berkata seperti itu tentang kakakmu hem, biarkan saja. Awas saja kau ya Ron, kalau aku punya adik baru lagi. Kau tidak akan aku sayang!" ancamnya.


Ron akhirnya tidak tahan lagi, dia kemudian menangis histeris. Kemudian berlari ke pelukan sang ibu sambil memegangi kedua pipinya yang merah karena dicubit oleh Lovely.


"Mama jangan punya anak lagi, nanti Ron tidak disayang!" cebiknya sambil menangis tersedu-sedu.


"Lovely, jangan suka menggoda adikmu!" tegas ibu Diana menasehati Lovely.


"Maaf Ma, salah sendiri dia mengatai Lovely bawel dan galak. Padahal dia juga aslinya sangat ngeselin," balas Lovely ingin mencubit gemas adiknya.


"Sudahlah Ly, ingatlah kau sedang hamil. Tidak baik jika mengatai orang lain seperti itu," ucap Ibu Diana.


"Kalau sedang hamil, kenapa tidak boleh?" tanya Lovely.


"Pamali!" tegas Ibu Diana.


"Pamali?" tanya Lovely lagi.


"Iya pamali, kalau kata orang tua dulu-dulu. Jangan suka ngatain orang kalau sedang hamil. Nanti anaknya bisa sama sifatnya seperti orang yang sedang dikatain," balas Ibu Diana.


Lovely mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, lalu menatap Ron dan segera mengusap-usap perutnya. "Amit-amit."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2