Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 44. Sifat asli Alex


__ADS_3

"Penjual bunga yang cantik ini adalah istriku, jadi pergilah dari sini dan beli bunga di toko lain saja," tukas Putera melarang Alex masuk.


Lovely menyingkirkan tangan Putera dari pinggangnya. "Putera, dia adalah pelanggan baruku, jangan bersikap tidak sopan seperti itu padanya."


"Tapi Lovely, kau tidak mengenal dia. Dia adalah pria jahat yang sangat licik dan menghalalkan segala acara demi mendapatkan apa saja yang dia inginkan," ucap Putera menasehati.


"Lovely, jangan dengarkan kakak tiriku itu. Dia hanya cemburu padaku, karena tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu sejak lahir. Tidak seperti diriku yang selalu disayang dan dimanja oleh Mamy," balas Alex memanasi.


Putera mulai geram. "Tidak ada hubungannya dengan itu semua! Asal kau tahu saja, aku tidak butuh kasih sayang seorang ibu, karena walau tanpa kehadiran dia pun aku masih bisa berdiri tegak disini."


"Baguslah kalau begitu, aku merasa lega karena Mamy tidak pernah mengingatmu dan tidak pernah membahas juga tentang dirimu," balas Alex sambil menatap Putera yang mulai memanas.


"Oiya, Kakak apa kau ingat hari kemarin adalah hari ulang tahunnya, kami makan malam bersama dan saling bercengkrama. Bahkan Mamy mengucapkan terima kasih dengan menghadiahiku sebuah ciuman disini," balas Alex sambil menunjuk keningnya.


Putera menelan ludahnya yang tercekat, dengan kedua tangan yang terkepal erat. Dia selalu saja merasa sakit hati jika mengingat sang ibu yang selalu tidak pernah ada di dalam hidupnya.


Putera tersenyum kecut. "Baguslah, itu berarti mamymu itu sangat menyayangimu. Lalu untuk apa kau memberitahu semua itu padaku? Apa kau berpikir aku akan cemburu padamu atau kau berpikir aku akan marah dan memukulmu disini?"


Alex tersenyum. "Tidak Kakak, aku hanya memberitahumu jika kami sangatlah bahagia hidup bersama sekarang ini."


Putera berdecih. "Apa kau tahu Alex, biasanya orang yang selalu mengumbar kata-kata bahagia di depan orang lain itu adalah orang yang kesepian," ledeknya.


Alex langsung tersenyum getir dan mereka saling menatap tidak suka.


Sedangkan Lovely memperhatikan mereka yang sedang beradu mulut dan mulai kesal karena keduanya tidak mau berhenti mengalah.


"Cukup! Sudah! Aku tidak peduli dengan masalah kalian berdua, tapi bisakah jangan ribut di dalam tokoku ini! Apa kau tidak melihat pelangganku sudah mulai berdatangan sejak dari tadi dan mereka tidak bisa masuk ke sini karena terhalang oleh kalian!" sentak Lovely lalu mendorong Alex dan Putera untuk keluar dari tokonya.


"T-tapi Lovely aku suamimu. Kenapa mengusirku, harusnya dia saja yang kau usir," Putera menolak keluar.


"Aku ini pelanggan barumu, apakah ini sikapmu terhadap seorang pelanggan hah," Alex menolak juga untuk keluar.


"Masa bodo dengan perkataan kalian, keluarlah dari sini dan selesaikan masalah pribadi kalian berdua diluar sana, karena aku harus bekerja dan melayani pelangganku yang ingin membeli bunga!" bentak Lovely. Lalu menyapa para pelanggannya yang baru saja tiba.

__ADS_1


...***...


Beberapa saat kemudian kedua pria beda usia 3 tahun itu langsung beradu tatap kembali, setelah Lovely mengusir mereka keluar.


"Apa sebenarnya tujuanmu mendekati istriku?" tanya Putera to the point.


Alex terkekeh, sesaat tidak ada siapapun yang melihat, dia mulai menunjukkan sifat aslinya.


"Aku menginginkan dia, aku menginginkan istrimu. Sudah ku bilang kepadamu sebelumnya bukan, kalau aku akan mengambil apapun yang kau miliki hingga habis tak bersisa," balas Alex dengan senyum smirknya.


Putera berdecih. "Sifat burukmu itu tidak pernah berubah, apa tidak cukup kasih sayang ibumu sampai ingin mengambil kasih sayang dari istri orang lain hem?"


"Kau tidak berhak memiliki apapun, aku lah yang berhak. Selama ini aku melihat kau selalu sukses dan berhasil, kau juga selalu mendapatkan apa yang kau mau. Sampai-sampai aku muak mendengarkan ucapan Mamy yang selalu saja memujimu setiap hari," balas Alex membuang muka karena kesal.


"Puteraku sangat tampan, Puteraku telah sukses, Puteraku sangat mandiri dan terakhir, Puteraku telah menikah dengan istri yang cantik," batin Alex mengingat.


Putera merasa sedih sekaligus senang mendengar pernyataan tersebut, tidak disangka jika ibu yang meninggalkannya sejak lahir ternyata memikirkan dirinya sepanjang hari.


"Mama memujiku?" tanyanya.


Putera terdiam karena sedih, bukan sedih karena hinaan dari saudara tiri jahatnya itu, melainkan dengan sikap sang ibu kepada dirinya.


Apakah benar jika sang ibu masih memikirkan dirinya dan jika memang benar akan hal tersebut, kenapa ibunya itu tidak mau menemui dirinya walau hanya untuk sekali saja.


"Kau benar, aku anak yang tidak diinginkan oleh nyonya Rosa. Aku juga pasti bernasib hidup dijalanan sebagai gelandangan, jika tidak ada darah Mahesa di dalam tubuhku ini."


"Tapi perlu kau ketahui ini, kalau aku sangat bangga, karena aku tidak terlahir jahat seperti dirimu, yang selalu tamak akan kekuasaan dan juga rasa dengki."


"Ingatlah ini Alexander Peterson, sifat iri hatimu itu suatu saat akan menghancurkan dirimu sendiri!" tegas Putera.


"Kau yang akan hancur, bukan diriku!" balas Alex dengan segala keangkuhannya.


Putera tersenyum dan menatap Alex sekali lagi. "Pulanglah kepangkuan ibumu dan jangan pernah mencoba untuk mengambil Lovely dariku. Karena sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi," ucapnya tak gentar.

__ADS_1


Alex terkekeh. "Baiklah, kita lihat saja. Apa kau berhasil mempertahankan istrimu itu atau sebaliknya, kau akan bernasib sama seperti ayahmu itu. Menyedihkan dan hidup sendirian tanpa seorang istri," sindirnya.


Putera terbelalak dan berubah gusar. "Perbuatan jahatmu ini menyadarkan diriku akan sesuatu, keturunan Peterson ternyata senang sekali menjadi pria perebut istri orang lain. Tidak cukup ayahnya yang mengambil istri Papaku, anaknya juga ternyata ingin mengikuti jejak ayahnya, yang ingin merebut istri orang lain," balasnya menyindir.


Alex merasa terhina dan sindiran Putera terasa menusuk hatinya, ingin rasanya memukul wajah pria yang terus saja menghantui dirinya.


Namun niatnya terurung, saat melihat Lovely menghampiri mereka berdua.


"Apa kalian sudah selesai berdebatnya?" tanya Lovely memastikan agar tidak ada keributan diantara keduanya.


"Tentu saja sudah, baru saja aku ingin menemuimu di toko dan membelu bunga untuk Mamy ku. Dia begitu senang dengan bunga buatan tanganmu, seperti dibuat dengan cinta dan kasih sayang. Jika ada kesempatan aku akan mengajak Mamy untuk bertemu denganmu, dia pasti akan merasa senang saat melihat menantunya yang cantik ini," balas Alex menatap sinis Putera.


Lovely tersenyum dan merasa gatal, tapi tidak menggaruk agar tak malu di depan orang lain.


"Baguslah kalau mamymu suka dengan hadiah bunga buatanku kemarin. Sekarang kau ingin membeli bunga apa? Masuklah ke dalam tokoku dulu dan melihat-lihat disana," ajaknya pada Alex.


"Tentu saja, aku menyukai toko bungamu itu beserta isinya," balas Alex penuh dengan maksud. Lalu berjalan duluan menuju toko.


Sedangkan Lovely menatap Putera yang termenung seperti memikirkan sesuatu, ada rasa kasihan ketika mendengar perdebatan dua saudara itu saat membicarakan tentang sang ibu.


"Putera, apa kau baik-baik saja?" tanya Lovely akhirnya menyapa Putera.


Putera terenyum. "Aku baik-baik saja," balasnya lemah.


"Baguslah kalau begitu, aku harus kembali ke toko. Apa kau mau ikut atau sudah harus pergi ke kantor?" tanya Lovely.


Putera menatap benda melingkar di pergelangan tangannya. "Aku ingin meminta segelas air padamu, baru setelah itu aku akan pergi ke kantor."


"Baiklah, aku akan menyediakanmu segelas air minum. Sekarang ikutlah aku ke toko," ajak Lovely.


Putera merasa senang dan ikut mengekor dibelakang Lovely, sesekali menatap tajam ke arah Alex yang tersenyum sinis ke arah dirinya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2