
Selepas meluapkan isi hatinya, Putera nampak berbeda. Pria itu terlihat lebih tenang dan juga dapat mengontrol emosinya lebih baik.
Seperti saat hari ini yang kebetulan hari minggu, pria yang sudah sembuh dari alergi itu sedang mendengarkan celotehan sang anak yang sedang asik melihat gambar-gambar ikan laut.
Walau ia sendiri tidak mengerti, namun sebisa mungkin Putera mencoba belajar memahami bahasa memusingkan tersebut dan sudah pasti dengan bantuan Lovely disisinya.
"Edy ni itan pa?" (Daddy ini ikan apa?), tanya Marcell menunjuk-nunjuk sebuah gambar ikan besar pada buku dengan jari mungilnya yang agak gempal.
"Ini ikan paus," balas Putera.
"Oh itan awus na nde, ica di acak ak?" (Oh ikan pausnya gede, bisa di masak tidak?), tanyanya lagi.
"Tidak bisa, karena badannya besar," jawab Putera sebisanya.
"Adan na ecar aya Edy, hihi." (Badannya besar kaya Daddy, hihi), kekeh Marcel begitu pula dengan Lovely.
"Lo ni itan babi acak ya, iwip ma agu oget-oget acell? Aya ni ni. Babi acak udu udu, babi acak udu udu, babi acak!" (Kalau ini ikan baby shark ya, mirip sama lagu joget-joget Marcel? Kaya gini ni. Baby shark du du du du, baby shark du du du du, baby shark!) seru Marcel sambil menirukan gaya di lagu baby sharknya.
Lovely hanya terkekeh geli melihat tingkah anaknya yang aktif dan menggemaskan, terlebih melihat rambut Putera yang sudah mulai kusut tidak beraturan.
"Edy, itan babi acak ica di mam ak?" (Daddy, ikan baby shark bisa dimakan tidak?), tanya Marcell lagi.
"Tidak bisa," jawab Putera.
"Itan ana tong ica acell mam?" (Ikan mana dong yang bisa Marcell makan?), tanyanya lagi.
"Ada, ikan tenggiri, ikan teri, ikan kuwe, ikan bawal, ikan tongkol," jawab Putera menyebutkan satu persatu nama-nama ikan laut yang bisa dimakan.
"Itan ton-tol?" (ikan tongkol?) tanya polos anak itu. Membuat Lovely dan Putera seketika tersedak nafasnya sendiri, lalu mereka saling menatap satu sama lain.
"Ikan tongkol," ucap Putera mengajari.
"Itan ton-tol," jawab Marcell meniru.
Sedangkan Ibu Diana dan tuan Dira yang baru saja datang ke rumah mereka pun, langsung memarahi Putera.
"Kata apa yang sedang kalian ajarkan itu!" sentak Ibu Diana menjewer telinga Putera.
"Aw sakit mama!" ringis Putera mengaduh kesakitan.
"Beraninya kalian mengajari cucuku bicara kotor seperti itu, hem!" geram Ibu Diana.
__ADS_1
"Mama, itu semua salah paham. Marcell sedang belajar nama-nama ikan," bela Lovely agar ibu Diana melepaskan tangannya ditelinga Putera.
"Marcell, ikan apa tadi Nak?" tanya Ibu Diana.
"Itan ton-tol," jawab Marcell polos. Kedua matanya mendelik-delik takut kena jeweran sang nenek.
Ibu Diana menghela nafas lega, sambil mengelus dadanyaa. "Oh ikan itu," gumamnya.
"Angan ewel inga Acell ya oma," (jangan jewer telinga Marcell ya Oma), ucap Marcell menutupi kedua telinganya.
"Ya mana mungkin oma jewer kuping Marcell sayang," ucap Ibu Diana mengecupi pipi cucunya.
"Tu tati edy inga na i ewel," (Itu tadi Daddy telinganya dijewer)," balas Marcell.
"Sudahlah jangan dibahas lagi, Marcell sudah makan siang belum?" tanya tuan Dira.
"Eyum Opa," balas Marcell lengkap dengan gelengan kepalanya.
"Ya sudah, Marcell mau makan apa sekarang?" tanya tuan Dira lagi.
"Itan ton-tol," jawab Marcell.
"Baik, siang ini kita makan ikan tongkol," ucap tuan Dira mengiyakan.
Mereka semua yang melihat pun hanya bisa tersenyum, walau kata-kata tersebut begitu tidak enak didengar oleh indera pendengaran dan membuat otak mereka sedikit terkontaminasi.
Tapi yang terpenting adalah mereka dapat melihat sang jagoan kecil itu tumbuh sehat dan juga ceria.
...***...
Setelah menikmati makan siang bersama, dengan menu ikan tongkol balado dan juga ikan tongkol goreng original untuk Marcel, keluarga Putera dikejutkan dengan kedatangan tamu tidak diundang. Dia adalah nyonya Rosa, yang datang bersama dengan Alex dan juga Feby beserta cucunya.
Suasana canda tawa di dalam rumah itu pun, seketika menjadi hening. Ada ketegangan terjadi diantara dua keluarga tersebut, namun Lovely segera mencairkan suasana.
"Silahkan masuk Mama, ayo Feby dan semua. Silahkan masuk," sapa hangat Lovely menuntun mertuanya setelah melakukan cipika cipiki di muka pintu.
"Terima kasih sayang," balas nyonya Rosa. Kemudian rombongan keluarga itu pun masuk dan duduk diruang tamu.
Sementara itu Putera memilih pergi dari ruangan tersebut, namun dengan segera Lovely menahannya. "Putera, tolong mulai sekarang jangan lagi menghindari mereka," ucapnya meminta.
Namun Putera menepis tangan Lovely dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar. "Kau saja yang menemui mereka," ucapnya.
__ADS_1
Nyonya Rosa lantas menunduk sedih, melihat Putera tidak mau duduk dan berkumpul bersama dengannya, kemudian menatap Feby dan juga Alex.
"Mom, sepertinya kalian harus bicara berduaan saja." ucap Feby.
"Apakah harus?" tanya nyonya Rosa ragu. Ia takut sekali kalau Putera akan marah besar padanya jika berani menganggunya.
Feby mengangguk pasti, kemudian meminta ijin kepada keluarga Putera termasuk ibu Diana dan juga Tuan Dira yang masih ada didalam rumah tersebut, untuk membiarkan nyonya Rosa menemui Putera dikamarnya.
"Silahkan saja menemuinya, kami tidak keberatan. Mungkin memang ada baiknya kalau kalian bicara berdua saja," ucap Ibu Diana.
"Ya, walau kita sudah berpisah. Namun Putera tetaplah anak kandungmu, jadi tidak ada salahnya menemui dia," ucap tuan Dira.
Nyonya Rosa tersenyum. "Terima kasih, aku berjanji tidak akan lama-lama," balasnya.
Wanita paruh baya itu menarik udara disekitarnya sebanyak mungkin, sesekali memejamkan kedua mata demi mengumpulkan semua keberaniannya sebelum bertemu dengan Putera.
Lalu dengan langkah pasti ia berjalan menuju lantai atas, dimana kamar Putera berada.
...***...
Setibanya di depan kamar yang dituju, nyonya Rosa mengetuk pintu kamar itu dan berharap seseorang didalam mau membukakan pintunya.
Tak butuh waktu lama, penantian nyonya Rosa akhirnya berakhir sudah. Ia melihat pintu kamar itu terbuka dan seorang pria mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.
Nyonya Rosa mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu dan berhenti kepada seorang pria bertubuh tinggi besar dan tegap, sedang berdiri membelakangi dirinya.
"Putera," panggil nyonya Rosa. Namun Putera tetap terdiam diposisinya dan enggan berbalik.
"Putera anakku," panggil nyonya Rosa kembali.
Kali ini pria itu sedikit bergerak, walau masih tidak membalikkan tubuhnya. Namun nyonya Rosa yakin, jika Putera sedang menahan tangisnya disana.
"Putera, anakku. Maafkan mama karena terlalu lama meninggalkanmu, tapi sekarang Mama telah datang padamu. Berbaliklah sayang, agar mama bisa memelukmu ..." ucap nyonya Rosa terdengar lirih.
.
.
Bersambung.
...----------------...
__ADS_1
Next... Dibab selanjutnya adalah bab terakhir...