
Di restoran.
Setibanya mereka di tempat tujuan, Lovely bertanya-tanya kepada dirinya sendiri dan merasa bingung.
"Dimana Paman Dira dan juga Opa Mahes?" tanya Lovely.
"Mereka baru saja pulang karena kesehatan Opa tiba-tiba terganggu," balas santai Putera.
"Jadi?" Lovely mengerutkan dahinya.
"Jadi mereka tidak ada disini, bisa di bilang ini adalah makan malam untuk kita berdua dari mereka," balas Putera.
Lovely merasa canggung dan tidak enak hati, mau menolak pun rasanya tidak bisa karena makanan sudah tersaji di depan mata.
Dan bukan itu saja, apa jadinya jika ia menolak undangan dari keluarga Mahesa. Sudah pasti pria di hadapannya itu akan marah besar dan membunuhnya disaat itu juga.
"Oh Tuhan tolonglah aku," gumam Lovely berdoa, karena pikiran buruknya mulai melayang kemana-mana.
"Sudah jangan banyak berpikir. Makanan ini sudah dipesan sebelumnya dan sekarang kau duduklah!" balas Putera.
"Baiklah," patuh Lovely.
Putera dan Lovely saling terdiam, hanya ada bunyi peralatan makan saja yang menyelinap masuk di kesunyian mereka berdua.
Sesekali diselingi lirikan mata keduanya yang saling penasaran akan pribadi satu sama lain.
Selesainya mereka menyicipi hidangan makan malam, Putera dan Lovely mencoba membuka topik pembicaraan agar suasana tidak membosankan.
"Lovely ... ."
"Pak Putera ... ."
Ucap mereka bersamaan.
"Bapak duluan saja ... ."
"Kau duluan ... ."
Sahut mereka bersamaan lagi, membuat keduanya menjadi salah tingkah saat itu juga.
"Lady's first!" serobot Putera segera.
"Aku tidak jadi bicara, silahkan Bapak saja," balas Lovely.
"Baiklah, pertama jangan panggil aku Bapak. Panggil saja aku Putera," pinta Putera.
Lovely mengangguk. "Baiklah," patuhnya.
__ADS_1
"Kedua, ada yang ingin ku tanyakan padamu. Apa kau sudah punya kekasih?" tanya Putera memastikan.
Lovely menggeleng. "Belum, tapi mengapa kau menanyakan itu padaku?" tanyanya.
"Jangan berpikir macam-macam, aku hanya tidak ingin membawa pergi seorang wanita yang telah memiliki kekasih atau sedang menjalani suatu hubungan dengan pria lain," balas Putera.
"Tidak Pak, maksudku Putera. Aku tidak punya kekasih atau sedang menjalani hubungan istimewa dengan pria manapun. Karena memang jujur aku tidak berminat menjalani hubungan apapun dengan seorang pria," balas Lovely.
"Mengapa?" tanya Putera.
"Tidak ada, hanya tidak ingin," balas Lovely lalu mengingat bayang-bayang ayahnya yang kejam.
"Apa kau trauma dengan Papamu yang jahat itu?" tanya Putera tiba-tiba.
Lovely menatap Putera. "Tidak juga," balasnya. Padahal jauh di dalam lubuk hati, wanita itu sangat trauma akan yang namanya pria.
"Bagus, begini saja. Bagaimana kalau kau menikah denganku!" tembak langsung Putera
"Apa menikah!" pekik Lovely hingga mengejutkan beberapa orang di dalam restoran tersebut.
"Bukan pernikahan serius, hanya sebatas diatas kertas saja. Kita akan membuat perjanjian nikah, jika selama 3 bulan ke depan kita tidak memiliki kecocokan satu sama lain, maka dengan sendirinya pernikahan ini akan berakhir dan kita tidak perlu melanjutkan lagi pernikahan ini selamanya," balas Putera.
Lovely mendengus kesal dan segera bangkit dari tempat duduknya. "Kau pikir pernikahan adalah sebuah permainan? Kau pikir apa arti dari pernikahan hah?"
"Jangan marah ... Aku hanya tidak ingin menyakiti hati wanita dan tidak ingin terjerumus dalam cinta yang terlalu dalam kepada seorang wanita. Selain aku tidak ingin menyakiti hati siapapun, aku juga sedang terjebak diantara permintaan Papa dan Opa Mahes. Jadi ku mohon bantulah aku keluar dari situasi sulit ini," mohon Putera.
Lovely kemudian segera menyambar tas miliknya dan bergegas pergi dari acara makan malam yang memang sudah selesai itu.
Namun saat dirinya hendak berbalik pergi, Putera membuatnya berhenti melangkah lebih jauh.
"Bagaimana kalau aku membantumu melunasi semua hutang-hutang Papamu itu pada si bos renternir?" Putera mengajukan penawaran.
Lovely berbalik badan dan menatap tajam Putera. "Tidak perlu, aku masih sanggup membayar semua hutang itu sendiri!" tegasnya menolak.
Kemudian pergi meninggalkan Putera yang masih terdiam di tempat duduknya, sambil meremas kasar kain serbet yang berada di atas pangkuannya.
...----------------...
Toko bunga.
Lovely memilih bermalam di toko bunganya agar bisa menghabiskan waktu bersama dengan bunga dan juga beberapa tanaman lain untuk menyegarkan pikiran.
Karena sepanjang hari ini dia begitu kesal, mulai dari ancaman Leo tadi pagi, sampai Putera yang juga ikut menambah kekesalannya saat makan malam belum lama tadi.
"Semua pria hanya bisa bertindak semaunya, mengapa mereka bertingkah tanpa memikirkan perasaan seorang wanita terlebih dahulu," gerutunya kesal.
"Untunglah dia tidak mengejarku sampai kesini, karena kalau tidak, aku pasti sudah terjerat ikatan tidak jelasnya itu!" gerutunya kembali.
__ADS_1
Wanita itu begitu kesal dan marah, hatinya juga sedih karena mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari kedua pria berbeda pada hari yang sama.
"Mengapa mereka kejam sekali padaku, yang satu mengancamku dan yang satu lagi menawariku dengan sebuah permintaan yang aneh-aneh. Pokoknya aku tidak ingin menikah, titik!" gerutunya lagi.
...***...
Beberapa saat kemudian.
Sebuah pintu tidak terkunci terbuka dengan perlahan, menyelusupkan semilir angin malam ke dalam toko itu. Beserta makhluk hidup lainnya yang ikut masuk bersama dengan semburan dinginnya angin malam tanpa permisi.
Lovely tengah lengah disaat dirinya masih sibuk mengurus sebuah tananam hias dengan posisi membelakangi pintu masuk.
Dirinya tersentak kaget saat sebuah tangan tiba-tiba membungkam mulutnya.
"Hmpp!!"
Lovely berusaha membuka bungkaman tangan pada mulutnya itu dan berusaha melihat siapa orang yang begitu lancang karena tiba-tiba menyergapnya dari belakang tanpa permisi.
Ia seketika terbelalak, saat kedua netra yang tidak asing lagi bagi dirinya muncul kembali dihadapannya.
"Mata itu, Leo!" batin Lovely.
"Sayang, kau darimana saja. Apa kau tahu kalau aku sudah lama menunggumu disini dan merindukanmu kembali padaku ..." bisik Leo di belakang telinga Lovely.
...----------------...
Sementara itu ditempat lain, Putera masih bergeming di dalam mobilnya. Pria tampan itu ragu dan bimbang antara pulang atau kembali lagi menemui Lovely.
Dirinya takut jika pulang membawa kabar tidak menyenangkan akan membuat kesehatan sang Papa maupun Opa Mahes terganggu kembali dan membuat ia kehilangan muka karena telah di tolak mentah-mentah begitu saja oleh seorang wanita.
Selain malu karena gagal, ia juga harus menerima keputusan dari sang Papa maupun Opa Mahes yang akan menjodohkan dirinya dengan wanita lain dan ia sama sekali tidak boleh menolak permintaan itu.
"Aku benci perjodohan," gumamnya jika membayangkan itu sampai terjadi pada dirinya.
Akan tetapi kembali mengunjungi Lovely juga rasanya berat sekali untuk dilakukan, mengingat dirinya punya harga diri dan juga gensi yang tinggi. Karena meminta maaf kepada wanita setelah di tolak, tidak pernah ada dalam kamus pribadinya.
Namun Putera menyadari satu hal dan ia telah mengakui kesalahan, harusnya dia tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan tentang tawaran pernikahan.
Putera meninju stir mobil dan mengusak rambutnya hingga berantakan, karena hati kecilnya itu selalu saja memaksa ia untuk menemui Lovely dengan segera.
Padahal dia sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan wanita yang telah berani menolak tawarannya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1