Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 68. Mencabut tuntutan.


__ADS_3

Mansion Peterson.


Tuan Dira bersama dengan nyonya Rosa telah tiba di tempat tujuan, ada perasaan takut didalam hati nyonya Rosa sendiri. Ketika dirinya gagal dalam menjalankan rencana sang suami.


"Ayo kita turun," ucap Tuan Dira membukakan pintu mobil.


Nyonya Rosa mengangguk, lalu keluar dari mobil Tuan Dira dan mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah besar itu.


Sejenak Tuan Dira mengingat masa lalunya, disaat wanita yang dia cintai berada di dalam rumah ini.


Lalu sepenggal memori lama dalam ingatannya muncul kembali, disaat itu ia membawa Putera yang masih berusia 6 tahun datang bersama ke rumah ini bermaksud mengajak nyonya Rosa kembali.


Rosa, akhirnya aku menemukanmu. Lihat ini adalah Putera. Dia adalah anak kita. Putera sangat membutuhkanmu, kembalilah padaku dan kita bisa hidup bersama lagi.


Maaf Dira, tapi aku tidak bisa kembali. Karena aku sudah berkeluarga dan ini adalah suamiku yang sangat aku cintai, selain itu aku juga telah memiliki buah cinta darinya.


"Rosaa ..." lirih Tuan Dira, merasa sedih jika mengingat kejadian tersebut.


Dirinya begitu berusaha untuk mengambil nyonya Rosa kembali kala itu dan mengeluarkannya dari rumah tersebut dari tangan pria lain, akan tetapi ia selalu saja gagal membawanya kembali.


Namun, sungguh sebuah ironi yang menyakitkan dan yang lebih menyedihkan lagi, kali ini dia sendiri yang akan mengantar wanita itu pulang ke rumah suaminya. Serta menyerahkannya secara langsung kepada seorang pria yang pernah merebut cintanya itu.


...***...


Sedangkan Tuan Peterson yang mengetahui jika istrinya telah kembali bersama dengan pria lain, bergegas menghampiri.


"Rosa istriku telah kembali?" batin pria itu merasa senang. Karena selain merindukan sang istri, dia juga sudah tidak sabar mendengar kabar tentang kekacauan apa yang sudah berhasil istrinya itu perbuat.


Namun, demi keberhasilan rencana selanjutnya. Tuan Peterson menyingkirkan rasa senangnya terlebih dahulu saat melihat sang istri telah kembali dan berdiri dihadapannya.


"Bagus! Aku mencarimu kemana-mana tapi kau malah bersenang-senang bersama dengan mantan suami itu?" gertak Tuan Peterson. Kemudian menarik tangan nyonya Rosa dengan kasar.


"S-sayang ..." balas Nyonya Rosa mulai takut. Entah suaminya itu sedang berpura-pura atau memang serius, ia benar-benar tidak tahu pastinya.


"Peter, jangan kau marahi Rosa lagi. Dia sudah pulang ke rumah dan telah kembali kepadamu," sela Tuan Dira menahan Peterson yang ingin memukul wajah nyonya Rosa.


"Diam kamu Dira! Ternyata ini kah yang kau lakukan selama ini, selalu ingin membawa pergi istriku dan sekarang kau senang karena telah berhasil, hah!" sentaknya lalu menatap nyonya Rosa.

__ADS_1


"Dan kau malah ikut bersamanya? Bukankah kita saling mencintai dan kau sudah memilihku. Tapi apa yang ku lihat ini, kau malah pergi bersamanya," ratapan Peterson begitu sempurna, hingga sulit sekali menyatakan jika ia hanya sedang berpura-pura.


"Sayang, jangan salahkan Dira. Salahkan aku saja karena telah pergi darimu, aku sekarang telah pulang dan kembali kepadamu," ucap nyonya Rosa menahan tangan Peterson agar tidak menunjuk-nunjuk dada tuan Dira lagi.


Tuan Peterson menggeleng. "Tidak Rosa, aku sudah tidak bisa menerimamu lagi. Kau begitu hina, apa kurangnya aku hingga kau tega pergi dariku dan tinggal bersama dengan pria lain," sindir tuan Peterson mengulang kejadian lama, hingga tuan Dira merenung memikirkan kembali memori menyakitkan hatinya.


Nyonya Rosa menatap tuan Dira, kali ini drama suaminya itu sudah kelewat batas. "Cukup Peterson!" sentaknya. "Cukup!" sentaknya sekali lagi.


Namun keberaniannya belum cukup untuk mengatakan semua kebohongan suaminya itu, mengingat ia juga harus membebaskan Alex.


Tuan Peterson menatap tajam nyonya Rosa dan mengeratkan giginya. "Kau berani membentakku, hanya karena membela pria yang sudah membawamu pergi ini hah!"


"T-tidak, kau salah sangka." Nyonya Rosa begitu gugup, karena raut wajah suaminya terlihat menakutkan sekali.


Tuan Peterson menyergap kedua bahu nyonya Rosa dan mencengkram kuat. "Aku akan menghukummu nanti," bisiknya penuh penekanan.


Tuan Dira menghembus nafasnya kasar, lalu menarik tangan Peterson yang kurang ajar kepada wanita, walau ia tahu nyonya Rosa itu bukanlah haknya lagi.


"Kenapa kau selalu menyebalkan seperti ini!" Tuan Dira melayangkan satu pukulan diwajah tuan Peterson, hingga darah segar mengalir begitu saja dari sudut bibirnya.


"Dasar breng-sek!" Tuan Peterson menghapus darah segar pada ujung bibir dan melayangkan satu pukulan kearah Tuan Dira.


...***...


Perkelahian tersebut, membuat Tuan Dira dilaporkan atas kasus penyerangan terhadap tuan Peterson di rumahnya.


Hal itu membuat seisi keluarga Mahesa panik, terlebih bagi Ibu Diana yang tahu jika suaminya sedang berada di dalam penjara.


Ia pun bergegas pergi ke penjara, bersama dengan Lovely dan juga Putera.


Setibanya di kantor polisi, mereka segera berkumpul. Suasana panas pun kembali tercipta, dimana Putera dan tuan Peterson sedang berhadapan satu sama lain.


"Tarik semua laporanmu!" tegas Putera kepada tuan Peterson tanpa ragu.


Tuan Peterson berdecih dan menarik senyum. "Tarik dulu semua laporanmu terhadap Alex, dengan begitu kita seimbang."


Putera mengepal erat tangannya. "Anakmu bersalah karena telah berani mengusik keluargaku. Dia pantas dihukum," jawab Putera enggan menuruti keinginan tuan Peterson.

__ADS_1


"Cih! Kalau begitu biarkan papa tersayangmu itu membusuk dipenjara, karena aku juga tidak akan sudi mencabut laporanku!" balas tuan Peterson.


Putera merasa kesal, kemudian memandangi Ibu Diana yang sedang menangis karena suaminya ditangkap polisi.


Pria itu mengertakan giginya, merasa kesal dengan semua yang terjadi. "Ini semua gara-gara wanita itu!" batinnya menatap geram nyonya Rosa.


Sedangkan yang ditatap hanya bisa menunduk tak berdaya. "Mama minta maaf," batin wanita itu berkali-kali.


Putera menghembus nafasnya kasar dan menatap Lovely yang sedang memeganginya sedari tadi. "Maaf, sepertinya kita harus mengalah. Ini demi kebahagiaan mama dan papa kita," ucapnya membulatkan keputusan.


Lovely mengangguk dan mengerti dengan situasi yang terjadi. "Kau benar, mereka baru saja bahagia. Kita tidak boleh memisahkan mereka berdua," balasnya setuju.


Putera pun terpaksa menarik semua tuntutannya terhadap Alex, sehingga pria itu akhirnya terbebas dari kasusnya sebelum sidang terlaksana.


Lalu sesuai janji tuan Peterson menarik tuntutannya kepada tuan Dira, sehingga tuan Dira tidak jadi ditahan atas kasusnya.


...***...


Alex kini telah terbebas dari tuduhan apapun, karena Putera telah menarik tuntutannya. Sekali lagi kedua pria itu bertatapan dan tatapan tajam tidak bisa lagi terelakkan.


"Aku tidak akan melupakan semua kejadian ini begitu saja," bisik Alex kepada Putera sebelum akhirnya ia pulang bersama dengan keluarganya.


"Aku tidak akan memberikanmu kesempatan," balas Putera sebelum Alex melangkah masuk ke dalam mobil.


Alex hanya menyeringai tipis dan menatap Lovely dari kejauhan, Putera yang mengetahui istrinya sedang ditatap oleh pria lain pun, segera menghalangi pandangan Alex terhadap Lovely.


"Jangan pernah kau berpikir untuk mengambilnya dariku," ucap Putera menegaskan.


Alex berdecih dan tanpa banyak kata, ia masuk ke dalam mobil.


Sedangkan tuan Peterson, segera membawa pulang anaknya ke rumah dan melewati tuan Dira dengan seringai diwajahnya.


Pria penuh tipu daya itu bahkan berani menatap Ibu Diana yang sedang mengandeng tangan suaminya. "Istri barumu sangat cantik, pantas saja kau mau meninggalkan Rosa."


"Benar, istriku ini bukan hanya cantik. Dia juga bersih dari segala tipu muslihat," balas Tuan Dira seperti menyindir seseorang, dengan tatapan mengarah kepada nyonya Rosa yang hanya menunduk saja.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2