Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 38. Berusaha menahan.


__ADS_3

Tuan Dira sedang menginterogasi Emily, atas kasus perselingkuhannya dengan Putera di dalam perusahaan.


Ia merasa geram karena telah kecolongan, akan aksi memalukan putranya itu dengan wanita lain yang bukan istri sahnya di dalam ruang kerja.


Beruntung Martin melaporkan kasus ini secepat mungkin, karena jika sampai terlambat sedikit saja. Akan ada banyak kejadian yang dapat merugikan semua pihak, terutama bagi hubungan Putera dan Lovely sendiri.


"Sudah berapa lama kau berhubungan dengan putraku dan sudah sejauh mana hubungan kalian berdua?" tanyanya.


"Kira-kira sudah satu bulan belakangan ini Tuan Dira, mengenai hubunganku dengannya bisa dibilang cukup dekat. Kami sudah sering berciuman dan berpelukan, hanya saja kami selalu gagal jika ingin melakukan hal yang berbau intim," jawab Emily tanpa malu.


"Memalukan, perilaku kalian berdua itu sungguh menjijikkan. Apa tujuan mu mendekati putraku, apa kau tidak tahu jika dia sudah menikah dan memiliki istri hah!" sentak Tuan Dira.


"Aku tahu itu Tuan Dira, aku sendiri adalah wanita panggilan miliknya. Dia memintaku untuk datang dan menjadi bahan pelampiasan jika istrinya itu menolak berhubungan badan dengannya."


"Tapi Tuan Dira kau tidak perlu cemas, anak mu itu tidak pernah sampai melakukan hubungan intim denganku. Karena dia sendiri selalu merasa gatal jika kami ingin memulai hal tersebut," jawab Emily apa adanya.


Tuan Dira merasa jijik dengan pengakuan Emily, tapi dia bersyukur jikalau Putera tidak sampai melakukan hal melewati batas atau sampai menghamili wanita lain yang bukan istrinya.


"Mulai sekarang kau ku pecat! Dan mulai detik ini juga jangan pernah mendekati putraku lagi, jauhi dia dan jangan berhubungan apapun lagi dengannya!" tegas Tuan Dira kemudian menandatangani surat pemecatan Emily dari perusahaannya tanpa ragu.


Emily menerima surat pemecatan tersebut. "Baik Tuan Dira, aku terima pemecatan ini dan aku juga akan mengingat semua pesan-pesanmu itu."


Emily pamit dari perusahan Mahesa Group saat dirinya telah dinyatakan dikeluarkan dari perusahaan secara tidak hormat oleh Tuan Dira sendiri.


Sedangkan yang bisa dilakukan oleh Tuan Dira sekarang hanyalah berdoa, agar Putera tidak terlambat meminta maaf kepada Lovely dan Lovely mau memaafkan Putera.


Agar mereka dapat bersatu kembali dan hidup bersama selamanya.


Namun kenyataannya tidaklah semudah harapan dari Tuan Dira sendiri.


Pasalnya Lovely sedang memasukkan seluruh pakaian serta barang-barang pribadinya ke dalam sebuah koper besar dan bermaksud ingin pergi dari mansion Putera untuk selama-lamanya.


Lovely menangis tersedu-sedu, tidak disangka hatinya bisa sesakit ini ketika melihat Putera bermesraan dengan wanita lain.


"Kau sudah keterlaluan, walau kita tidak saling mencintai tapi setidaknya lepaskan lah aku dulu!" umpatnya kesal dan berbicara sendiri.

__ADS_1


"Masa bodo dia mau melarangku atau tidak, pokoknya aku mau pergi dari sini secepatnya!" ucapnya terisak sambil menutup kopernya.


...***...


Sementara itu Putera segera tancap gas, setelah dirinya tersadar atas perbuatan buruknya selama ini kepada Lovely.


Pria itu merutuki kebodohannya sendiri dan berharap bisa datang tepat waktu sebelum Lovely pergi dari kehidupannya.


Lalu setibanya di dalam rumah, ia segera menghadang Lovely yang ingin pergi dengan membawa kopernya.


Putera mencekal pergelangan tangan Lovely dan merampas tas koper itu, lalu membawanya masuk kembali ke dalam kamar.


"Apa yang sedang kau lakukan, biarkan aku pergi dari sini!" sentak Lovely.


Putera menggeleng. "Tidak, kau tidak boleh pergi dari ku begitu saja," balasnya berusaha menahan Lovely agar tidak pergi.


Lovely menghentak tangannya dengan kuat. "Lepaskan tanganku!"


"Apa kau masih belum puas mempermainkan diriku hah? Apa kau menahanku karena ingin menunjukkan kalau kau bisa bermain dengan perempuan lain di depanku? Atau kau ingin apa? Kau ingin aku menuruti semua keinginanmu yang sama sekali tidak aku inginkan?" tanya Lovely bertubi-tubi.


"Putera, biarkan aku pergi dari sini. Dengan begitu kau bisa bebas memilih wanita yang lebih cantik dan sekssi seperti wanita tadi. Mungkin wanita itu bisa memenuhi keinginanmu atau bahkan mencintaimu sepenuh hati," ucap Lovely lagi.


"Tidak, aku tidak menginginkan wanita lain. Aku hanya menginginkan dirimu, maaf karena aku telah menyakiti hatimu," balas Putera tiba-tiba.


Lovely kembali menitikkan air mata, menahan kesal dan amarah serta sedih sangat sulit sekali untuk dia lakukan di saat ini.


Putera menghapus air mata itu. "Maaf, maafkan aku. Aku sadar aku telah berbuat salah padamu," ucapnya.


Lovely menepis tangan Putera dari wajahnya dan menatap gusar pria yang berstatus suami itu.


"Sudah ku bilang jangan sentuh aku, aku merasa jijik dengan kelakuanmu. Kau begitu bebas memegang wanita lain bahkan telah menciumnya di depanku!" bentak Lovely dengan amarahnya yang memuncak.


"Entah sudah berapa lama dan sejauh mana kau telah bermain dengannya. Kau telah kotor dan aku tidak ingin disentuh olehmu lagi. Jadi Putera biarkan aku pergi darimu!" Lovely merampas tas kopernya kembali dan berbalik pergi.


"Lovely jangan pergi aku bisa menjelaskan semuanya padamu, aku memang salah karena telah bermain dengan wanita lain. Tapi jujur aku belum sampai melakukan hal serius kepadanya, tolong jangan pergi dariku." Putera memohon dan memeluk Lovely dari belakang.

__ADS_1


Sedangkan Lovely menangis terisak dan berusaha melepaskan pelukan Putera yang semakin mengerat dirinya.


"Lepaskan aku, aku tidak butuh penjelasan apapun darimu. Semua sudah terlihat jelas di depan mataku sendiri kau ingin mengelak rasanya tidak berarti lagi bagiku. Karena menurutku, kau telah berbuat kotor. Aku membencimu Putera, aku membencimu!" Lovely meronta di dalam dekapan Putera.


"Tidak, jangan pergi. Jangan membenciku, maafkan lah aku dan berikan aku kesempatan sekali lagi untuk berubah," balas Putera tidak mau melepaskan dekapannya itu.


"Aku tidak butuh itu, karena yang ku inginkan sekarang adalah berpisah darimu!" balas Lovely masih bersikukuh dengan pendiriannya.


Tapi Putera tidak ingin itu sampai terjadi. "Tolong Lovely, jangan berpisah dariku. Aku memang salah, tapi aku tidak bisa hidup tanpa dirimu."


"Kau bisa hidup dengan wanita lain, jadi biarkan aku pergi dari sini!" sentak Lovely.


Putera menggeleng lalu melepaskan dekapannya dan berganti bersimpuh di depan kaki Lovely. "Ku mohon jangan pergi, beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji akan memperbaiki diriku dan aku juga berjanji tidak memaksamu untuk melakukan semua keinginanku."


Lovely terisak dan membuang wajahnya dari Putera. "Percuma Putera, sekarang menyingkirlah dari jalanku."


Putera berdiri dan menatap Lovely yang memalingkan wajah darinya. "Lovely jangan pergi, aku telah menyadari kesalahanku dan bukan hanya itu saja. Aku juga telah menyadari kalau aku telah jatuh cinta padamu," ucapnya.


"Jatuh cinta? Bukankah kau tidak percaya dengan cinta dan membenci kata cinta itu. Jangan bilang kau sedang menipuku karena aku tidak akan percaya semudah itu padamu," balas Lovely.


Putera menangkup kedua sisi wajah Lovely. "Aku serius, aku jujur padamu. Untuk itulah aku tidak ingin berpisah darimu," balasnya.


Lovely menatap kedua mata Putera. "Benarkah kau mencintaiku, kalau begitu buktikan. Biarkan aku pergi dari sini dan rebutlah hatiku kalau kau bisa, jika berhasil maka aku akan kembali lagi padamu. Tapi jika kau tidak berhasil, maka aku tidak akan pernah kembali lagi padamu untuk selama-lamanya," tegasnya.


Lovely menepis tangan Putera dan membawa serta merta semua barang-barangnya, lalu pergi melewati suaminya yang sedang berdiri lemah tidak berdaya begitu saja.


Karena wanita itu sejatinya membutuhkan sebuah kepastian, tapi apakah Putera akan mampu membawa Lovely kembali ke dalam kehidupannya.


"Baik, aku akan membawamu kembali kepadaku dan aku harus berhasil," gumam Putera bertekad.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2