
Mansion Putera.
Tuan Dira menghampiri Putera yang baru saja sampai di rumah, ia merasa prihatin ketika melihat kondisi anaknya yang berubah menjadi berantakan.
Ia pun bergegas menghampiri dan melihat ke sekeliling mencari seseorang. "Putera, dimana Lovely. Dimana menantu Papa?" tanya Tuan Dira, ketika dia tidak menemukan Lovely datang bersama dengan anaknya.
"Papa ..." lirih Putera, kemudian memeluk Tuan Dira dan menangis.
"Apa yang terjadi, apa dia benar-benar marah dan tidak ingin pulang bersamamu?" tanya Tuan Dira kembali.
"Dia tidak ingin pulang, dia juga tidak mau tinggal bersama denganku lagi. Dia benar-benar marah, apa yang harus aku lakukan? Aku telah bersalah, tidak seharusnya aku melakukan hal buruk itu padanya," balasnya tersedu-sedu.
Tuan Dira turut bersedih, karena ia tahu betul bagaimana rasanya di tinggal oleh seorang istri disaat lagi sayang-sayangnya.
Namun dirinya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, karena ia tidak ingin Putera mengalami nasib yang sama dengannya.
"Tidak apa, tenangkan dirimu. Kita akan pikirkan bagaimana caranya membawa Lovely kembali kesini," bujuk Tuan Dira. Kemudian mengajak Putera untuk duduk bersama di ruang tengah dan berbincang.
Putera menggeleng. "Tidak Papa, ini semua adalah kesalahan pribadiku. Aku sendirilah yang bertanggung jawab atas semua kejadian yang terjadi dan aku juga lah yang harus membawa Lovely kembali ke rumah ini."
Tuan Dira menepuk pundak Putera dan berusaha menyemangatinya. "Baiklah Putera, kau memang benar. Sebagai seorang laki-laki kau harus bertanggung jawab memperbaiki segala kesalahan yang telah kau perbuat pada Lovely. Berusahalah untuk mengambil hatinya dan terus belajar memahami istrimu sendiri."
Putera mengangguk. "Kau benar Papa, selama tiga bulan ini aku hanya sibuk memaksanya untuk memenuhi semua keinginanku. Bodohnya aku karena telah terbuai dengan belaian wanita lain, tanpa memikirkan perasaan istriku sendiri. Aku menyesal sekali Papa, karena aku telah mengabaikannya selama ini."
"Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti Papa dulu Putera, Papa selalu memaksa Mamamu. Sampai tega merampas kehormatannya secara licik dan karena itulah dia membenci Papa sampai sekarang."
"Harusnya Papa terus berjuang untuk merebut hati Mama dan berusaha menunjukkan jika Papalah yang pantas bersanding dengan dirinya, bukan merenggutnya secara paksa."
"Papa tidak ingin kau bernasib sama dengan Papa, menyendiri tanpa seorang istri," balas Tuan Dira menasehati Putera dengan berbagi sedikit kisah tentang pengalaman pribadi hidupnya.
Putera termenung seketika, akhirnya dia tersadar dan dapat memahami rasa sakit yang sedang diderita oleh Papanya sendiri sewaktu itu.
Dan ia juga akhirnya menyesal, karena tidak pernah ada untuk sang Papa dikala membutuhkan, seperti perhatian beliau saat ini yang sedang memberikan semangat serta penghiburan hati untuk dirinya disaat sedih.
"Maafkan aku Papa, seharusnya aku tidak meninggalkan mu di dalam kondisi terpuruk saat itu. Aku malah menyebutmu pria lemah karena kehilangan seorang wanita, bahkan aku tega memaki dan memarahimu hanya karena cinta konyolmu kepada Mama yang tidak pernah pudar."
"Maafkan aku, sekarang aku mengerti bagaimana rasa sakit yang sedang kau alami ini. Mungkin Tuhan sedang mengujiku atau memberikanku hukuman karena terlau durhaka kepadamu, maafkan aku Papa. Maafkan aku selama ini sudah berlaku kasar kepadamu," ucap Putera terisak dan bersujud di kaki sang Papa.
Tuan Dira terharu dan menangis, karena tersentuh oleh perubahan kesadaran tidak terduga dari putranya sendiri.
Pria paruh baya itu berjanji akan membantu Putera bagaimanapun caranya, agar bisa mengembalikan cinta nya kepada sang anak.
...***...
Putera mulai mematuhi nasehat dan menjalankan beberapa saran yang telah di berikan oleh Tuan Dira mengenai apa saja yang harus dia lakukan untuk mengambil hati seorang wabita.
__ADS_1
Putera mau tidak mau harus mau belajar menulis atau menyampaikan kata-kata cinta maupun kata-kata romantis untuk Lovely, walau sesekali dia merinding karena gatal pada tubuhnya.
Pria itu juga mulai mencari tahu, apa saja yang disukai oleh Lovely. Dari makanan, benda-benda dan juga kesukaan sang istri sendiri. Dengan dibantu oleh Tuan Dira dan Ibu Diana tentunya.
"Lovely menyukai bunga lily putih, es krim rasa vanilla, dia gemar berkebun dan bernyanyi. Dia ingin sekali membeli mainan yang banyak untuk Ron dan suka sekali menonton film horor," ucap Tuan Dira mengikuti perkataan Ibu Diana melalui ponselnya tadi.
Putera mengangguk dan mencatat semua itu di nota kecil miliknya dan akan memenuhi semua keinginan Lovely serta membeli benda-benda kesukaan sang istri.
...----------------...
Keesokan harinya.
Toko Bunga.
Lovely memutuskan untuk menjaga toko, menggantikan ibunya yang sedang mengurus Ron karena sakit.
Tak berapa lama setelah Lovely membuka pintu toko untuk berdagang seperti biasanya, ia mendapatkan sebuah pesanan buket bunga lily putih dari seorang pelanggan baru yang misterius melalui sebuah panggilan.
"Baiklah Tuan, aku akan mengantarkan buket bunga pesananmu ini ke restoran itu," balas Lovely kemudian menutup teleponnya.
Ia bergegas merangkai bunga istimewa khusus pelanggannya itu dan menjalankan keinginan sang pelanggan, yang meminta untuk diantarkan buket bunga tersebut ke tempat yang sudah diberitahukan sebelumnya melalui telepon.
Sementara itu diujung seberang sana, Martin memberi tanda oke kepada Putera tertanda dimulainya sebuah rencana.
Putera merasa senang lalu memesan sebuah meja disebuah restoran mewah untuk dirinya bersama dengan Lovely dan mengadakan ritual makan siang bersama.
"Sialll, aku seperti terkena karma sendiri." umpatnya memaki di depan cermin, sembari menjinjing boneka kelinci putih besar yang ternyata itu adalah boneka kesukaan istrinya.
...***...
Restoran.
Setibanya di restoran yang telah dijanjikan, Putera menunggu Lovely mengantarkan bunga. Ia meminta salah satu waiters di restoran tersebut untuk menyambut Lovely di depan lobi dan mengantarkannya ke meja yang telah dipesan oleh dirinya beberapa jam yang lalu.
"Jika wanita itu telah datang, antar dia ke meja ini dan layani dia dengan baik." titah Putera kepada semua pelayan yang ada di hotel tersebut.
"Baik Tuan," patuh mereka serempak.
"Terima kasih," balas Putera lalu bersembunyi disuatu tempat.
...***...
Tak berselang lama kemudian, Lovely datang ke restoran sambil membawa buket bunga lily putih pesanan seorang pelanggan baru melalui teleponnya tadi pagi.
Wanita itu pun langsung disambut hangat oleh beberapa pelayan restoran sesaat dirinya baru saja menginjakkan kakinya di lobi.
__ADS_1
"Selamat siang Nyonya, apakah anda Nyonya Lovely dari penjual bunga dari toko Love's Florist?" sapa seorang pelayan restoran.
Lovely terheran-heran, hebat sekali dirinya bisa terkenal sampai sejauh itu. "Kau benar, aku Lovely dan aku datang kemari untuk mengantarkan bunga pesanan pelangganku ini," balasnya.
"Kalau begitu ikuti saya Nyonya," balas pelayan itu dan menuntun Lovely masuk ke dalam sesuai rencana.
"Maaf Nyonya, sini biar saya saja yang membawakan bunga ini dan mengantarkannya langsung kepada si pemiliknya," ucap si pelayan itu kepada Lovely.
"Kenapa kau ingin membawa bunga ini, aku yang harus memberikannya secara langsung kepada sang pemesan?" tanya Lovely melarang.
"Tenang saja Nyonya, kebetulan sang pembeli bunga ini telah berpesan kepada pihak restoran untuk mengambilnya dari anda," balas pelayan itu beralasan.
Lovely mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, dirinya merasa ada yang aneh dengan semua kejadian hari ini.
"Baiklah, terserah kau saja, tapi jaga buket bunga itu baik-baik. Jangan sampai rusak," ucap Lpvely lalu menyerahkan buket bunga setelah mendapat pesan dari si pemilik untuk menuruti keinginan sang pelayan restoran.
Pelayan itu tersenyum lalu mengambil bunga dari tangan Lovely untuk membawanya ke suatu tempat dimana lagi kalau bukan ke tempat Putera berada sekarang.
Lalu seorang pelayan restoran yang berbeda menyambut Lovely dan menuntunnya untuk ke sebuah meja di restoran tersebut.
"Silahkan duduk Nyonya," ucap pelayan menarik kursi untuk Lovely duduk.
"Tunggu dulu, aku tidak memesan semua ini. Kenapa kalian meminta aku untuk duduk disini?" tanyanya merasa heran lalu menolak.
"Maaf Nyonya, mohon anda tidak menolaknya. Karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," balas sang pelayan.
Lovely menghela nafas panjang, dia tadinya ingin menolak. Namun setelah melihat sajian lezat di depan mata mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.
"Baiklah, aku akan duduk. Tolong bilang pada si pemesan meja ini untuk segera datang, karena aku masih ada banyak pekerjaan penting di tokoku." ucap Lovely.
"Baik Nyonya," balas si pelayan lalu menuju tempat Putera berada dan menyampaikan jika Lovely telah duduk di meja yang telah ia pesan sebelumnya.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Bagaimanakah usaha Putera dalam mengambil hati Lovely kali ini dan apa reaksi Lovely ketika tahu jika Putera lah yang telah memesan meja untuk dirinya berdua?
A. Terkejut dan pingsan di tempat.
B. Marah dan melempar meja hingga terbelah dua.
__ADS_1
C. Berbunga-bunga, atau.
D. Bodo amatlah terserah penulis aja.