Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 31. Merampas ciuman.


__ADS_3

Di tengah malam, Putera terbangun dari tidurnya karena merasa aneh dengan suhu ruangan yang semakin malam, semakin dingin saja.


Ia menyilangkan kedua tangan dan meraba tubuhnya yang tidak memakai selimut. "Mana bedcovernya?" tanya Putera dalam hati.


Pria tampan itu pun terduduk dan mendapati jika seluruh bedcover telah tergulung habis ditubuh istrinya sendiri.


"Dia benar-benar serakah sekali," umpatnya.


Putera pun berdecih dan mencoba menarik bedcover secara perlahan agar tidak membangunkan Lovely dari tidurnya, untuk mendapatkan kehangatan dari sebagian hak milik atas selimut tebal di kasur tersebut.


Akan tetapi, posisi selimut yang tertindih Lovely membuat ia kesulitan menariknya. Alhasil Putera pun mendengus kesal, karena tubuhnya sudah sangat kedinginan akibat ulah sang papa Dira.


"Kalau begini terus, lama-lama aku bisa mati beku," gumamnya.


Putera menengok ke arah Lovely yang tengah tertidur nyenyak dan memberanikan diri untuk menyelusupkan dirinya di antara celah selimut yang tersisa.


Ia tidak peduli apa resiko dari berdekatan dengan istrinya, karena yang terpenting sekarang adalah ia harus mendapat kehangatan agar bisa bertahan dari rasa dingin yang aneh di kamarnya itu. Walau ada perasaan was-was dan jantung yang terus saja berdebar hebat saat ia melakukan hal tersebut.


Putera menyingkirkan bantal guling yang berada di tengah-tengah mereka, lalu membenamkan seluruh tubuhnya di gulungan bedcover bersama dengan Lovely.


"Salahmu sendiri," gumamnya dalam hati.


Sesekali menelan ludahnya susah payah, karena harus bersenggolan dengan tubuh mulus sang istri dikala keduanya kini tengah berhadapan satu sama lain.


Putera sudah merasa hangat sekarang, namun kehangatan itu juga justru membuat ia tidak bisa tidur dengan mudah begitu saja.


Bagaimana tidak, jika ada wanita cantik sedang tidur berhadapan dengannya. Memakai pakaian dinas sekkkssi sekali dan tiba-tiba memeluk tubuhnya seperti bantal guling.


"D-dia memelukku," ucap Putera gugup sekali.


Pria itu mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali dan pasrah saja dengan keadaan nyaman namun mendebarkan di depan matanya sendiri.


"Dia kan istriku, apa salahnya melakukan posisi berpelukan seperti ini. Dari pada aku mati beku karena kedinginan, besok pagi aku akan segera bangun dan menjauhkan diri agar dia tidak curiga," gumamnya.


Lalu berusaha memejamkam kedua mata, walau ada yang terbangun di bagian bawahnya.


...***...


Keesokan paginya.


Putera mengerjapkan kedua matanya berkali-kali dan langsung merinding saat melihat Lovely masih tertidur pulas dengan kepala bersandar di atas dada berototnya.

__ADS_1


Lovely tertidur dengan memeluk tubuhnya erat dan itu malah menambah kegelisahan pada Putera sendiri. Pasalnya ada sesuatu yang bangun selain dirinya di pagi indah yang penuh kejutan tersebut.


Putera berusaha menyingkirkan tubuh Lovely dari sisi tubuhnya agar bisa bergeser sedikit untuk menjauh dari raga istrinya sendiri.


Perlahan tapi pasti, usahanya itu pun berhasil dan ia menghela nafas lega sesudahnya.


Tapi ada sesuatu yang membuat dirinya kembali terpaku, saat menatap lekuk tubuh indah istrinya di kala memakai pakaian dinas berwarna pink, yang bukan hanya tipis tapi juga menerawang kemana-mana.


"Papa kau membuatku tersiksa," batin Putera merasa kesal jika mengingat pemberian papanya sendiri.


Putera kembali terngiang- ngiang, kali ini rasa penasarannya menuntun kepada sebuah benda kenyal kembar yang tengah naik turun mengikuti desiran nafas.


Putera mendekatkan diri, ingin kabur pun akhirnya tidak jadi. Karena dia sedang berusaha beradaptasi menyesuaikan dirinya untuk berdekatan dengan Lovely.


Ia menatap bibir ranum wanita itu dan mencoba untuk merasakannya sedikit, "Apa rasanya ya, orang bilang berciuman itu rasanya indah sekali, bisa membangkitkan semangat dan juga gairah. Apa iya hah?" pikirnya bertanya-tanya.


Putera pun mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir istrinya yang masih terlelap tidur, hanya untuk menjawab rasa penasarannya selama ini.


Sekujur tubuh pria itu bergetar seketika, seperti tersengat aliran listrik yang mengalir dari atas kepala hingga ujung kakinya begitu saja.


Jantung lelaki itu pun terus memompa dengan kuat, ada sensasi unik yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dan itu membuatnya terlena.


"Oh siall! Jadi begini rasanya mencium seorang wanita," gumamnya sembari mengumpat.


Itulah ibarat kata keadaan Putera sekarang ini.


Ia mencengkram erat pinggang Lovely dan menariknya hingga berhimpitan, tidak lupa menahan tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciumannya.


Putera memejamkan kedua mata saat dia mulai terbuai dengan aksi beraninya sendiri, namun belum sempat dia menjelajah lebih dalam. Sebuah tangan meninju tubuhnya dengan keras dan hal itu membuat ia terjatuh dari tempat tidur hingga terjungkal ke belakang.


"Auww!!" ringis Putera dan berusaha bangkit sambil mengusap bagian belakangnya yang sakit.


"Dasar pria mesum, apa yang sedang kau lakukan padaku dan berani-beraninya kau mencuri ciuman pertamaku!" bentak Lovely.


"B-bukan begitu ... M-maaf, a-aku hanya," Putera pun gelagapan.


"Dasar lelaki menyebalkan, apa lagi yang sudah kau lakukan padaku? Jawab!" sentak Lovely, kedua matanya mulai memerah merasakan kesal kepada pria yang notabenenya suami sendiri.


"Kau salah paham, aku hanya mencoba merasakannya saja. Jangan marah seperti itu," balas Putera enteng.


"Apa! Kau hanya mencoba? Entah besok apa lagi yang akan kau coba hem? Kau telah melanggar janjimu dan kau pasti tahu apa akibat dari perjanjian yang telah diingkari. Aku mau kita pisah secepatnya sebelum kau mengambil semuanya dariku!" tegas Lovely.

__ADS_1


Putera menatap tajam Lovely, waktu bulan madu belum usai tapi sudah ada kata-kata berpisah keluar dari mulut istrinya sendiri.


Entah mengapa dia merasa sakit dan tidak rela wanita itu pergi begitu saja dari kehidupannya.


"Tidak bisa! Seenaknya saja kau mengatakan ingin berpisah dariku! Apa kau lupa kalau kita sudah sepakat menikah demi kebaikan bersama," geramnya.


"Itu salahmu, kau yang tidak bisa menjaga janjimu sendiri. Kita menikah hanya untuk hidup bersama tanpa melakukan hubungan serius seperti layaknya suami istri lakukan kebanyakan," balas Lovely.


"Jadi kau mau pisah, hem. Baiklah, bayar semua hutang papamu yang pernah aku bayarkan kepada lintah darat itu dan aku minta hari ini juga uangnya sudah masuk ke dalam rekeningku," ucap Putera mengancam.


"Kau gila, bagaimana aku bisa mengembalikan uang tiga ratus juta dalam waktu satu hari," geram Lovely.


"Cih! Tidak bisa ya, bagaimana kalau kau membayarnya dengan sesuatu, seperti berhubungan layaknya suami istri denganku selama beberapa hari?" balas Putera.


Lovely terbelalak. "Aku tidak sudi! Sampai mati pun aku tidak ingin melakukan hal menjijikkan itu denganmu," tolaknya.


Putera mengepal erat kedua tangannya, entah mengapa dia tidak suka sekali ditolak saat ingin berhubungan dengan seorang wanita, apalagi itu istrinya sendiri.


Padahal sebelumnya dia tidak peduli akan hal tersebut, namun ada sesuatu yang membuat ia ingin melakukan hal lebih dari sekedar menikah saja.


"Baiklah, kau tidak bisa mengganti rugi uangku. Kau juga tidak ingin melayaniku di atas kasur. Jadi jangan harap meminta pisah dariku dan sekarang aku ingin sedikit merubah peraturan kita sebelumnya," balas Putera.


"Kau ingin merubah apa?" tanya Lovely.


"Mulai sekarang dan seterusnya aku ingin kita tidur seranjang," balas Putera sambil mengulum senyum.


Senyuman yang tidak tahu apa artinya itu, tapi begitu menakutkan untuk Lovely sendiri.


"Tidak mau," Lovely menolak.


"Kalau begitu bayar uangku atau bercintalah denganku sekarang!" ancam Putera.


Lovely meneguk ludahnya susah payah. "Kau menyebalkan, sudah ku bilang aku tidak akan sudi melakukan itu."


"Ya sudah kalau gitu jangan menolak untuk tidur seranjang denganku mulai hari ini, karena kalau kau menolak. Maka terima sendiri akibatnya," balas Putera lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk sarapan pagi.


Lovely terdiam dan berubah kesal, karena dia merasa terjebak sekarang. Sebelumnya wanita itu mengira Putera tidak akan meminta hal lebih darinya setelah menikah atau meminta ganti rugi uang atas pembayaran hutang-hutang beserta bunga sang ayah tempo lalu.


Wanita itu pun mulai frustasi. "Hari ini dia merampas ciuman pertamaku, entah apa lagi yang akan dia rampas dariku setelah ini. Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan," gumannya dalam hati.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2