Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 24. Berkelahi.


__ADS_3

Putera memutuskan kembali untuk menemui Lovely, tetapi ia tidak mendapati wanita itu di rumahnya.


"Dia bilang mau menginap di toko bunga malam ini," ucap Ibu Diana.


"Baiklah Bibi, terima kasih," balas Putera kemudian bergegas menuju toko bunga Love's Florist.


Di sepanjang jalan menuju tempat tersebut, entah mengapa ia merasakan gelisah pada hati yang teramat sangat. Seperti akan terjadi hal buruk dalam waktu dekat ini, namun dia tidak tahu hal buruk apa itu dan akan menimpah kepada siapa.


Dia bahkan menghubungi semua orang demi menghilangkan kecemasan tidak jelasnya itu dan berharap agar rasa cemasnya segera menghilang dari dalam dirinya.


...***...


Toko Bunga.


"Kau! Mau apa kesini?" sentak Lovely.


"Hanya mengunjungimu," balas Leo.


"Pergilah dari sini!" Lovely menepis tangan Leo dari wajahnya.


"Jangan kasar-kasar begitu, sayang. Apa kau tidak tahu kalau aku sudah menunggumu disini sejak dari tadi. Katakan padaku, kau habis dari mana?" tanya Leo.


"Bukan urusanmu, pergi sekarang juga!" bentak Lovely sembari menunjuk pintu keluar.


Leo berdecak kesal menghadapi Lovely yang terus saja menolak dan membentaknya. "Kau benar-benar membuatku habis kesabaran, jangan salahkan aku jika berbuat kasar kepadamu!" bentaknya.


"Pria lintah darat, pergilah dari sini sebelum aku berteriak!" balas Lovely.


Leo tertawa. "Teriak saja sebisamu, ini sudah malam dan semua toko sudah pada tutup, jalanan juga sudah sepi. Kita lihat malaikat mana yang datang jam segini dan menolongmu hah!"


Lovely menelan ludahnya susah payah dan bergetar ketakutan, tidak disangka dia akan terjebak disituasi sulit seperti ini.


Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari benda untuk senjatanya melawan Leo yang terus saja mendesaknya hingga ke sudut.


"Menjauhlah dariku, kalau kau maju selangkah lagi maka aku tidak akan segan-segan melukaimu dengan alat ini!" sentaknya sambil menghunuskan garpu taman.


Leo terkekeh dan menggeleng. "Alat seperti itu mana bisa melukaiku," balasnya.


"Jangan kesini!" bentak Lovely.


"Sayang, kau gemetaran. Mungkin sedikit pelukan dariku bisa membantu menyingkirkan ketakutanmu itu," ledek Leo.


Lalu pria itu secepat kilat merampas garpu taman dari tangan Lovely dan membuangnya ke sembarang arah.


Ia juga mencekal pergelangan tangan Lovely saat gadis itu berusaha kabur darinya. "Mau kemana, hem?" tanyanya lalu menarik Lovely agar mendekat ke arahnya.


Secepat kilat Leo mendekap Lovely dan menarik pinggang rampingnya untuk mengikis jarak yang ada.


"Lepaskan aku!" pekik Lovely disaat Leo terus saja mendekatkan wajahnya seperti mengincar sesuatu.


"Biarkan aku menciummu," ucap lembut Leo.


"Tidak akan, menyingkirlah dariku!" Lovely masih berusaha menjauhkan wajahnya. Namun semakin dia berusaha memberontak, semakin gencar juga Leo menyerang dirinya.

__ADS_1


Leo tertawa, saat melihat wanita incarannya itu mulai menangis dan memohon untuk tidak melakukan hal menjijikkan kepada dirinya.


Akan tetapi Leo sudah berada di puncak keinginan dan tidak memperdulikan tangisan maupun permintaan tersebut. Ia semakin menyergap tubuh Lovely hingga merapat ke dinding dan mengunci kedua tangan di atas kepala dengan satu tangannya.


Sementara itu satu tangannya lagi menjepit dagu di wajah Lovely, agar memudahkan dirinya dalam merampas benda kenyal nan ranum menggiurkan di depan mata.


Pria itu menyeringai tipis dan mulai mendekatkan wajahnya kembali.


"Jangan! Tolong!" pekik Lovely.


...***...


Bersamaan dengan hal tersebut, sebuah tangan kekar menarik bahu Leo disaat pria itu nyaris saja berhasil menyentuh dan ingin merenggut paksa bibir seorang wanita.


Belum sempat Leo melihat siapa yang berani menganggu aksinya, bogem mentah tiba-tiba mendarat mulus begitu saja menyentuh pipinya.


"Sial!!!" Pekik Leo sembari memegang rahangnya yang sedikit bergeser dan mengusap darah segar yang keluar pada ujung bibir. Lalu menatap gusar pria yang telah berani memukul dirinya.


"Jangan ikut campur!" bentak Leo kemudian melayangkan satu pukulan.


Namun, nampaknya pria itu salah mendapatkan lawan kali ini. Karena belum sempat kepalan tangannya itu mendarat ke wajah musuh, ia malah mendapatkan satu pukulan telak dibagian perutnya.


"Eugh!"


Begitulah rintihan Leo saat kepalan tangan Putera menghajar bagian sisi kanan perutnya.


"Siapa kau? Berani sekali ikut campur!" bentak Leo dengan suaranya yang tertahan akibat menahan sakit.


Putera menatap tajam Leo. "Jangan pernah berani menyentuh calon istriku!" tegasnya.


Lovely mengenali suara itu dan segera mengangkat wajahnya untuk memastikan sesuatu, ia semakin menangis sekaligus bersyukur karena Putera datang tepat pada waktunya.


"Calon istri? Cih!" Leo meludah ke arah Putera dan tertawa. "Lovely milikku, dia kekasihku dan akulah yang berhak atas dirinya!"


"Pria bejatt seperti dirimu, tidak pantas memiliki apapun!" sentak Putera.


"Kau yang tidak pantas dan kau jangan ikut mencampuri urusanku dengan Lovely, karena dia adalah milikku!" balas Leo.


"Apa yang membuatmu bersikeras ingin memilikinya?" tanya Putera.


"Itu karena hutang-hutang ayahnya padaku, dia berhutang banyak dan tidak sanggup membayarnya sampai sekarang. Jadi apa salahnya kalau aku mengambil apa yang menjadi hakku, karena Papanya yang tidak berguna itu sudah menukarkan semua hutang dengan putrinya sendiri kepadaku!" balas Leo menyeringai.


Kedua netra Putera membulat sempurna saat mendengar pernyataaan tersebut, lalu menatap Lovely yang masih menangis sesunggukkan. Ia tidak menyangka ada ayah yang tega menjual putrinya demi uang.


"Jadi akulah yang berhak atas dirinya, sekarang menyingkirlah dan jangan coba-coba menghalangiku membawa dia pergi dari sini!" bentak Leo.


Putera meradang. "Langkahi dulu mayatku!" tegasnya.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan ragu lagi!" ucap Leo kemudian melayangkan satu pukulan ke arah Putera.


Perkelahian sengit pun akhirnya terjadi diantara keduanya dan tidak dapat dihindari lagi. Baik Putera maupun Leo berusaha menumbangkan lawannya.


Sementara itu Lovely mulai berdiri perlahan dan mencoba berjalan mendekat ke arah meja untuk meraih telepon disaat keduanya masih sibuk berkelahi.

__ADS_1


Ia berusaha menghubungi kantor kepolisian walau tangannya itu masih saja bergetar hebat, karena rasa takut akan pemandangan mengerikan di depan matanya.


Lovely menjerit saat melihat wajah Leo dan juga Putera telah penuh berlumuran darah, lalu ia berusaha memisahkan keduanya agar berhenti berkelahi.


"Kalian berdua tolong berhentilah!" pekiknya.


Namun keduanya tidak menghiraukan larangan tersebut, karena mereka hanya berfokus pada kemenangan diri masing-masing.


"Sudah jangan berkelahi lagi!" pekik Lovely kembali.


Akhirnya gadis itu hanya bisa memejamkan kedua mata dan menutup telinganya sambil duduk meringkuk disudut ruangan.


Dia hanya berharap petugas kepolisian segera datang kesini untuk melerai perkelahian tersebut, sebelum ada salah satu dari mereka yang tumbang dan memakan korban.


...***...


Tak berselang lama kemudian, petugas kepolisian datang dan segera mengamankan keduanya.


"Dia yang bersalah, jadi tangkaplah dia!" titah Putera.


"Kau yang ikut campur masalahku, jadi kau saja yang masuk ke dalam penjara!" hardik Leo.


"Sudah diam!" bentak kepala petugas lalu bertanya pada Lovely.


"Nak, apa kau baik-baik saja? Pria mana yang berusaha melukaimu?" tanya pak petugas.


"Dia yang berusaha menyentuhku," ucapnya terisak sembari menunjuk ke arah Leo.


Leo pun meradang dan mengumpat kesal. "Berani sekali kau menjebloskan ku ke dalam penjara, lihat saja nanti aku tidak akan segan-segan menghabisi seluruh keluargamu! Dan jangan lupakan itu!" ancamnya.


"Berisik!" sentak Pak petugas lalu membawa Leo ke kantor polisi.


Setelah kondisi mulai sepi, Putera mulai menghampiri Lovely yang masih saja menangis terisak, entah menangis karena takut dengan peristiwa tadi atau menangis karena takut akan ancaman dari Leo.


Tapi satu hal yang pasti, pria itu berusaha menenangkan Lovely sebisa mungkin.


"Sudah jangan menangis dan jangan takut, dia tidak akan keluar dari penjara dengan mudah," ucap Putera.


"Bagaimana mungkin aku tidak takut, saat kejadian menyeramkan terjadi begitu saja di depan mataku dan juga ancaman dari Leo yang masih bergema di telingaku," balas Lovely.


"Jangan takut, dia hanya menggertakmu saja." balas Putera.


"Kau tidak mengenal Leo, dia punya banyak anak buah suruhan yang sanggup melakukan apapun demi uang. Bagaimana bisa aku hidup tenang saat dia bilang akan menghancurkan keluargaku," balas Lovely lalu menangis kembali sambil menutupi wajahnya.


Mendengar tangisan tersebut, membuat hati Putera merasa tersentuh. Seketika itu pula dia merasakan sesak yang sama, hingga tak terasa kedua tangannya terulur begitu saja dan mendekap erat wanita yang sedang menangis di hadapannya.


"Jangan menangis, masih ada aku disini," ucap Putera keluar begitu saja mengikuti kata hatinya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2