
Seminggu kemudian.
Sementara itu disisi lain, semenjak dirinya ditahan dalam penjara, Leo mempercayakan penagihan uang para penghutangnya kepada Pak Marsan.
Pria lintah darat itu mengancam akan memberi tahu polisi tentang keberadaan Pak Marsan yang tinggal di rumahnya jika ia tidak menuruti semua perintah darinya.
Pak Marsan pun setuju dengan beberapa syarat, selain tidak membocorkan keberadaan dirinya kepada polisi, dia juga ingin memakai beberapa persen keuntungan dari keberhasilan dirinya menagih tagihan kepada para debitur.
Leo menyetujui keinginan serakah dari Pak Marsan itu, akan tetapi dia juga harus berjanji akan selalu setia kepada dirinya dan melayani seluruh keinginannya saat masih berada di dalam sel tahanan.
Pak Marsan dan Leo telah menjadi sekutu, sama-sama berkomitmen untuk saling setia.
Akan tetapi disaat Pak Marsan mengetahui Lovely telah menikah dengan orang kaya pun, ia kembali memutar otaknya.
Dia menyeringai tipis dan bermaksud meninggalkan kediamanan Leo untuk kembali kepada keluarga lamanya.
"Leo sudah dipenjara, uangnya disini juga sudah habis. Untuk apa aku bertahan lama-lama disini, dia dipenjara sangat lama dan sudah tidak ada kekuatan lagi untuk menjeratku. Lagipula hutang-hutang ku juga sudah dilunasi oleh menantuku yang kaya itu," gumam Pak Marsan.
Pria parasit itu mengusap-usap kedua tangan dan menjilat bibir seperti biasanya, ketamakan akan harta menjadikan dia pria yang tidak tahu malu.
Seperti sekarang ini, dia sedang berada di depan toko bunga Love's Florist milik istrinya sendiri, yang sudah di perbesar dan di perluas oleh Putera.
Pak Marsan pun masuk le dalam toko bunga itu dan bersujud di kaki istrinya sambil mengemis meminta balikan.
"Sayang, maafkan aku karena telah meninggalkan kalian dan telah berlaku kasar kepadamu selama ini," isak Pak Marsan menangis di kaki istrinya.
"Untuk apa kau datang kesini, bukankah kau buronan polisi sekarang?" Ibu Diana memalingkan wajahnya.
"Aku sudah dibebaskan sayang dan aku ingin kembali padamu agar bisa memperbaiki kesalahan yang pernah ku lakukan kepada dirimu dimasa lalu. Jadi ku mohon, ijinkanlah aku untuk kembali. Aku ingin kita rujuk," balas Pak Marsan dengan sejuta tipu dayanya.
Ibu Diana berdecih dengan segala perbuatan buruk mantan suaminya itu. Dia tidak akan pernah bisa melupakan apalagi harus memaafkannya.
__ADS_1
"Aku tidak sudi memaafkanmu apalagi menerima dirimu kembali ke sisiku, aku tahu kau datang kesini dan meminta rujuk padaku adalah karena Lovely menikah dengan seorang pewaris perusahaan besar dan dengan begitu kau bisa memeres dan mengambil keuntungan dari kekayaan menantuku itu. Aku tahu semua dan aku yakin kau datang kesini juga hanya berpura-pura meminta maaf," balas Ibu Diana sudah mengetahui sifat buruk mantan suaminya.
Pal Marsan mengepal erat kedua tangannya dan masih dalam posisi bersujudnya. "Sayang, aku akui aku salah dan telah banyak berlaku buruk. Tapi percayalah, aku telah berubah. Aku berjanji akan membahagiakan dirimu dan juga anak-anak kita," balasnya mengemis kembali.
Ibu Diana berdiri dan menyingkirkan Pak Marsan dari kedua kakinha. "Pergilah dari sini, aku sudah tidak sudi melihatmu lagi!" titahnya menolak.
"Sayang, percayalah padaku. Aku sudah berubah berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku berjanji tidak akan menganggu Lovely dan juga menantu kita yang sudah menikah, aku murni ingin membahagiakanmu dan juga Ron." Pak Marsan terisak pilu untuk meyakinkan mantan istrinya agar percaya.
Namun Ibu Diana memalingkan wajahnya agar tidak melihat air mata buaya Pak Marsan yang sedang mengemis untuk kembali.
Rasa sakit saat ditinggalkan dan juga pengkhianatan serta kekerasan dalam rumah tangga sewaktu berumah tangga dulu, memantapkan keteguhan hatinya untuk tidak menerima mantan suaminya itu kembali lagi ke dalam kehidupannya.
"Pergilah aku tidak ingin kau kembali lagi ke kehidupanku atau pun kepada anak-anak kita, aku sudah membulatkan telad tidak akan pernah mau berhubungan denganmu kembali. Sekarang pergilah sebelum aku memanggil petugas keamanan setempat!" tegas Ibu Diana sambil menunjuk pintu keluar tokonya.
"Aku tahu kau masih mencintaiku dan aku juga masih mencintaimu Diana. Aku akan kembali lagi kesini untukmu, sampai kau menerima aku untuk kembali ke dalam kehidupanmu dan membina rumah tangga kita yang baru," balas Pak Marsan kemudian keluar dari toko bunga itu sembari menunjukkan air mata buayanya.
Sedangkan Ibu Diana kembali menangis, bagaimana bisa dia melupakan kejahatan mantan suaminya itu dimasa lalu.
...***...
Tak berselang lama setelah Pak Marsan pergi dari toko bunganya itu, Ibu Diana tiba-tiba kedatangan tamu tak diundang.
"Tuan Dira kau datang kesini, ingin bunga yang mana? Biar aku pilihkan untukmu," sapa Ibu Diana sembari menghapus sisa-sisa air matanya yang tertinggal.
"Tunggu Bu Diana, apa kau baru saja menangis?" tanya Tuan Dira melihat hal tersebut.
Ibu Diana menggeleng. "Ah tidak, ini mataku terkena semprotan air saat menyiram bunga tadi," balasnya berbohong.
"Oh, ku pikir kau sehabis menangis. Karena matamu itu sedikit memerah," balas Tuan Dira.
"Lupakanlah tentang diriku, kau ingin membeli bunga apa? Pelanggan setia tidak boleh merasa kecewa di toko ku ini," ucap Ibu Diana mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Tuan Dira menggeleng. "Tidak, hari ini aku tidak ingin membeli bunga, hanya ingin mengabarimu sesuatu."
"Mengabariku sesuatu, apa itu?" tanya Ibu Diana.
"Lovely dan Putera akan pulang dari bulan madunya malam ini dan aku mengundangmu ke rumah untuk makan malam bersama," balas Tuan Dira.
Ibu Diana tersenyum senang, setidaknya kesedihannya hari ini sedikit berkurang saat mendapat kabar bahagia mengenai anak menantunya yang baru saja pulang berbulan madu.
"Baiklah Tuan Dira, aku akan datang ke rumahmu," balas Ibu Diana
"Baiklah, kalau begitu aku sudah menyampaikan pesan untukmu dan sekarang aku harus kembali bekerja," balas Tuan Dira kemudian berjalan menuju muka pintu.
"Terima kasih karena telah datang memberiku kabar baik ini dan sudah sudi mengundangku untuk makan malam bersama dengan keluargamu," balas Ibu Diana sedikit membungkukkan badannya.
"Jangan merasa sungkan seperti itu, kita sudah menjadi keluarga sekarang. Kau dan aku juga sudah mengenal sejak lama, anggap saja kalau aku masih menjadi temanmu seperti biasanya. Jangan lupa ajak Ron pergi bersamamu dan bawa pesanan buket bunga kesukaan menantuku untuk dia nanti ya," ucap Tuan Dira.
Ibu Diana tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan lupa semua pesan-pesanmu itu kepadaku," balasnya.
"Hem, bagus! Aku harus kembali, titip salam untuk Ron," balas Tuan Dira.
"Hati-hati, terima kasih sudah mampir."
"Sama-sama."
Tuan Dira keluar dari toko bunga tersebut dan menatap bunga mawar merah di pinggiran toko itu. Ia pun menghela nafasnya panjang, karena setiap melihat mawar merah dia pasti akan teringat akan mantan istrinya.
"Rosa, andaikan kau masih berada disisiku. Kau pasti akan merasa bahagia ketika melihat anak kita telah menemukan pasangannya," gumam Tuan Dira sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.
.
.
__ADS_1
Bersambung.