Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 60. Bermain kembali.


__ADS_3

Mansion Peterson.


Suara barang pecah belah memekakkan indera pendengaran, dimana sang pemilik rumah yaitu tuan Peterson tengah mengamuk membanting atau melempar apapun yang berada disekitar dirinya.


Hal tersebut dilakukan karena sang istri yaitu nyonya Rosa telah gagal membujuk keluarga Mahesa untuk mencabut laporan, atas tuntutan kasus penculikan anak dibawah umur dan juga penyuapan kepada petugas lapas untuk pembebasan salah satu narapidana beberapa waktu yang lalu.


"Dasar istri tidak berguna! Anak ku, satu-satunya kebanggaan keluargaku sekarang ini sedang mendekam didalam penjara. Ini semua karena kau yang tidak becus membujuk mereka untuk mencabut laporan!" sentak Tuan Peterson, sambil menunjuk wajah Nyonya Rosa dengan tatapan murkanya.


"Aku sudah berusaha sayang, semua sudah ku lakukan untuk membujuk mereka. Tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak, karena mereka tetap bersikukuh melanjutkan kasus ini," jawab nyonya Rosa membela diri.


Tuan Peterson juga bertambah geram, ketika mengetahui jika orang kepercayaannya tidak bisa membebaskan Alex dengan jaminan sejumlah uang.


"Ini semua gara-gara dirimu, jika saja kau lebih memperhatikan Alex dan tidak terus memikirkan anak pertamamu itu. Mungkin dia tidak akan memiliki sifat jahat seperti ini," geram tuan Peterson ketika mengetahui jika anaknya memiliki sifat iri dan dengki karena selalu diabaikan.


"Kenapa kau menyalahkanku, anakmu tumbuh seperti itu karena dirimu yang selalu saja memanjakan dirinya. Kau selalu membela dia kalau sedang berbuat salah, bahkan kau selalu saja menyalahkan orang lain jika dia sedang terkena masalah!" bentak Nyonya Rosa merasa tidak suka dengan tuduhan buruk tentang dirinya.


Tuan Peterson merasa kesal, tangannya hampir saja mendarat di pipi istrinya sendiri. Jika saja ia melupakan bahwa perjuangannya sewaktu dulu, saat berhasil merebut wanita yang ia cintai itu dari tangan pria lain.


"Kenapa kau berhenti, tamparlah aku. Apa kau baru saja mengingat kejadian masa lalu hah? Saat ingat betapa kau sangat menginginkan diriku, hingga kau tega merebut aku dari pria lain yang sangat mencintaiku. Semua sudah kulakukan, aku sudah memilih dirimu dan telah pergi darinya hanya untuk memenuhi semua keinginanmu!" bentak nyonya Rosa kemudian pergi masuk ke kamarnya sambil menangis terisak.


Tuan Peterson menatap punggung istrinya itu yang telah pergi menjauh darinya, lalu meninju udara disekitar. "Apa yang telah aku katakan!" umpatnya merasa menyesal.


"Ros!" panggilnya sedikit memekik. Kemudian menyusul istrinya ke kamar.


...***...


Setibanya di kamar, Tuan Peterson segera mencekal tangan istrinya yang sedang memasukkan semua pakaian ke dalam koper berukuran besar.


"Ros, apa yang kau lakukan! Kenapa kalau kita sedang bertengkar, kau selalu saja ingin pergi dari rumah ini!" ucap Tuan Peterson kemudian membuang koper tersebut hingga isinya terceceran kemana-kemana.


Nyonya Rosa menatap nanar suaminya. "Kau selalu saja memarahiku, aku sudah tidak betah tinggal bersama denganmu lagi!" tegasnya.


Tuan Peterson merasa geram, tanganbya berganti mencengkram erat kedua pundak Nyonya Rosa hingga meringis kesakitan. "Kau ingin pergi dariku, kau ingin pergi kemana! Apa kau ingin kembali kepada mantan suami lemah yang sangat mencintaimu itu hah!" sentaknya.

__ADS_1


Nyonya Rosa menatap tajam suaminya itu. "Itu bukan urusanmu, aku ingin pergi kemana pun kau tidak berhak melarangku!"


"Asal kau tahu saja Rosa, aku sangat mencintaimu dan tidak akan kubiarkan kau pergi seenaknya dari hidupku. Walau sebanyak apapun kau berusaha melarikan diri dariku, maka aku akan terus membawamu kembali ke sisiku!" sentak Tuan Peterson mengancam. Lalu mengurung istrinya didalam kamar agar tidak melarikan diri dari rumah.


Sementara itu Nyonya Rosa hanya terduduk lemah di tepi ranjang sambil menangis tersedu-sedu, sekaligus merasakan sesak teramat sangat dalam menghadapi semua kenyataan ini.


Tentang keegoisan suaminya, tentang cinta pria itu yang selalu saja mengikat dirinya. "Aku hanya ingin bebas ..." lirihnya bergumam.


...----------------...


Keesokan paginya.


Mansion Putera.


Sementara itu aktifitas kemarin malam yang melelahkan, membuat pasangan suami istri ini masih betah memejamkan kedua matanya diatas pembaringan dengan posisi berpelukan.


Lovely menggeliat, tidur semalaman dengan posisi berpelukan membuat salah satu tangannya mati rasa.


Selain merasakan kebas pada satu tangannya, ia juga merasakan remuk disekujur tubuhnya. Wanita itu pun mendesis serta merintih kesakitan, hingga membangunkan pria yang telah mengumulinya hingga semalaman suntuk.


Lovely menggeleng. "Tidak apa, aku baik-baik saja. Hanya seluruh badanku ini entah kenapa rasanya pegal sekali, apalagi bagian bawahku ini. Rasanya seperti disobek saja," jawab Lovely.


Mereka berdua terdiam sejenak, kemudian sama-sama mengingat kembali kejadian semalam, dimana keduanya telah bersatu hingga hilang kendali.


"Maafkan aku, sepertinya aku lepas kendali saat melakukan itu padamu. Sakit ya," ucap Putera memeluk dan mengecup punggung polos istrinya yang masih belum mengenakan pakaian.


Lovely tersenyum lembut. "Tidak apa, aku mengerti."


Putera menyambut senyuman itu dengan mencium bibir Lovely, kemudian menarik tubuhnya agar berbaring kembali.


"Sayang, hari ini kita cuti kerja ya. Aku ingin seharian bersamamu," ucap Putera. Sepertinya hasrat lelaki itu mulai naik kembali, terlebih melihat tubuh istrinya yang masih polos tanpa busana satu helai pun.


Lovely mencebik saat tahu ada sesuatu benda mengeras yang menggesek-gesek bagian intinya. "Kau ini, apa tidak bisa dijeda paling tidak 1 hari dulu."

__ADS_1


Putera menggeleng cepat dengan bibir yang mengerucut seperti bebek. "Tidak mau, aku ingin bermain denganmu sampai puas."


"Ya, tapi punyaku masih sakit Putera. Apa kau tidak lihat noda darah itu? Lihatlah begitu banyak sekali, kau semalam menghajarku seperti orang yang sedang kerasukan saja!" ucap Lovely menunjuk-nunjuk sprei yang terkena noda darahnya.


Putera tersenyum dan tak menghiraukan ocehan maupun ceramah dari Lovely, dia hanya memandangi wajah istrinya yang semakin menggoda iman saja.


Lalu, tanpa banyak basa basi Putera membungkam bibir Lovely yang masih mengoceh dengan bibirnya agar berhenti bicara.


Dan segera mengungkung raganya lagi, serta mengunci pergerakannya agar tidak banyak memberontak saat ia ingin bermain kembali.


"Oh tidak!" batin Lovely panik, dikala Putera semakim gencar melancarkan serangan mematikannya.


Seketika itu juga tubuh Lovely kembali melemas dan bergelinjang tidak karuan, merasakan sensasi geli-geli nikmat dikarenakan oleh ulah suaminya sendiri.


Desahaan demi desahaan keluar kembali dari mulut Lovely dan tak lama setelah gairah wanita itu memanas, Putera mulai menggempur dirinya kembali.


...----------------...


Perusahaan Mahesa Group.


Mengetahui anak dan menantunya ijin bekerja hari ini, Tuan Dira serta Martin menghandle semua pekerjaan Putera maupun Lovely yang belum terselesaikan.


Pria itu begitu senang, apalagi saat mengetahui jika Putera ijin bekerja karena ingin menghabiskan waktu bersama dengan Lovely seharian di rumah.


Hal tersebut menambah keyakinan dirinya bahwa Putera dan Lovely telah bersatu akhir-hari ini, lalu timbullah keinginan dihatinya, untuk mengajak sang anak serta menantu agar ikut berbulan madu dengannya setelah hari pernikahannya itu.


Tuan Dira kemudian meminta sang sekretaris kantornya untuk memesankan 4 tiket pesawat menuju tempat wisata, beserta hotel dan juga fasilitas lengkap lainnya.


Karena ia ingin melakukan kencan ganda dan ingin sekali bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga beserta orang yang ia cintai.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2