
Perusahaan Mahesa.
Martin masuk ke dalam ruangan Putera, sesaat dirinya mendapat kabar jika Alex telah dibawa oleh beberapa petugas polisi.
"Pak Putera, Alex telah ditangkap dan sekarang ia sedang diinterogasi di kantor polisi," ucap Martin memberitahu.
"Baguslah kalau begitu, aku ingin sekali melihat dia dimasukkan ke dalam penjara yang sama seperti penjahat lainnya," balas Putera merasa puas.
"Tapi Pak, masalahnya tuan Peterson sangat tidak menyukai hal itu dan kabarnya dia marah besar akan kasus ini. Bahkan tuan Peterson ingin melaporkan balik kasus ini kepada polisi atas dugaan pencemaran nama baik," balas Martin.
"Untuk apa takut, bukti Alex telah melakukan tindak kejahatan sudah ada di depan mata. Bukti percakapan Alex dengan Leo dan juga seringnya mereka menghubungi satu sama lain melalui panggilan seluler. Itu sudah sangat membuktikan jika penculikan Ron ada sangkut pautnya dengan Alex," balas Putera yakin.
"Tapi apa yang menjadi motif Alex melakukan itu semua Pak Putera, kenapa dia sampai melibatkan Ron?" tanya Martin masih belum tahu.
"Ada satu motif yang sudah pasti dan itu adalah keinginan merebut Lovely dariku," jawab Putera.
"Kenapa dia ingin sekali merebut bu Lovely, apa dia tidak tahu kalau bu Lovely sudah menikah dengan anda?" Martin merasa heran.
"Alex sama dengan ayahnya, gemar sekali merebut apa yang sudah dimiliki oleh orang lain. Aku yakin sifat iri hatibya padaku membuat dia nekat melakukan itu semua," jawab Putera.
"Kalau benar begitu, dia berarti sudah benar-benar sudah gila," ucap Martin geleng-geleng kepala.
...***...
Tak berselang lama setelah Martin keluar dari ruangan Putera, pria itu kedatangan tamu tidak diundang.
Dia adalah nyonya Rosa yang ingin meminta penjelasan kepada Putera mengenai laporan pria itu, karena telah berani menjebloskan Alex ke dalam penjara tanpa alasan yang jelas.
Wanita paruh baya itu menatap sedih putranya, sekaligus marah dengan apa yang telah Putera perbuat.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Putera sambil memalingkan wajahnya karena tidak sudi memandang sang ibu yang pernah meninggalkannya sejak lahir demi pria lain yang bernama Peterson.
"Putera, kenapa kau membuat laporan seperti itu pada Alex!" bentak Nyonya Rosa kepada Putera.
"Dia telah mengganggu keluargaku, jadi tidak ada salahnya jika aku melaporkan kasus kejahatan itu pada pihak yang berwajib," balas Putera masih melemparkan pandangannya ke sembarang arah.
"Tatap mata Mama!" titah Nyonya Rosa mulai geram karena diacuhkan oleh anaknya sendiri.
__ADS_1
Putera perlahan menggeser pandangannya dan menatap sang ibu dengan tajam. "Aku sudah menatapmu, sekarang apa maumu datang kesini?" tanyanya, karena ia yakin nyonya Rosa datang kesini dengan maksud tertentu.
"Cabut semua laporanmu mengenai Alex sekarang juga dan akhiri semuanya agar kau tidak menyesal dikemudian hari!" tegas Nyonya Rosa meminta.
Putera berdecih. "Tidak bisa, semua yang telah berani mengganggu keluargaku harus dihukum seadil-adilnya!" jawabnya tidak kalah tegas.
"Putera!" sentak Nyonya Rosa.
Putera mengepal erat kedua tangannya dan berdiri sambil mengebrak mejanya dengan keras. "Jangan membentakku sembarangan! Sudah bagus aku tidak mengusirmu dari sini, apa kau sudah lupa dengan apa yang telah kau perbuat padaku waktu lalu hah! Kau sudah tidak berhak mengatur hidupku lagi atau mencemaskan keadaanku sekarang ini!"
"Jadi sebelum aku habis kesabaran, pergilah dari sini Nyonya Rosa. Dan terima saja dengan nasib anakmu yang akan mendekam cukup lama didalam penjara!" ucapnya sambil menunjuk pintu keluar.
Nyonya Rosa berusaha menelan ludahnya yang tercekat, dengan tatapan nanar memandang putranya yang sudah tumbuh dewasa begitu berani membentaknya.
Tak terasa kedua bola matanya itu mulai berembun, lalu perlahan luruh juga hingga membasahi kedua pipinya. Tubuhnya pun ikut bergetar, merasakan sesak yang tertekan didalam dada.
"Mama memang salah telah meninggalkanmu sejak lahir, tapi kali ini Mama datang meminta padamu sebagai seorang ibu. Bebaskanlah putraku Alex dan Mama berjanji tidak akan meminta apapun lagi padamu, Mama juga akan menasehati Alex agar tidak menganggu hidupmu lagi Nak," isak Nyonya Rosa begitu pilu.
Namun dihati Putera lebih pilu lagi, dimana sang Mama yang telah menelantarkan dirinya lebih memilih Alex ketimbang dirinya yang telah mengalami berbagai macam kesulitan hidup.
"Pergilah dari sini, anakmu Alex sudah bersalah dan proses hukum telah berjalan. Jadi nikmatilah prosesnya itu Mama," balas Putera tak mengubah keputusannya.
"Dira," gumam Nyonya Rosa teringat nama mantan suaminya. "Iya! Aku harus meminta bantuan Dira, dia pasti akan membantuku," gumamnya lagi lalu bergegas menuju ruangan tuan Dira.
...***...
Setibanya di ruang kerja tuan Dira, harapan Nyonya Rosa seketika itupula pupus, karena tidak dapat menemukan pria yang sedang ia cari.
"Ada dimana tuan Dira?" tanya Nyonya Rosa kepada salah satu asisten tuan Dira.
"Maaf Nyonya, tuan Dira sedang tidak ada ditempat dan beliau berpesan tidak boleh ada siapapun orang yang mengganggu beliau untuk sekarang ini," ucap si asisten
"Urusan penting apa sampai dia tidak ingin diganggu oleh siapapun?" tanya Nyonya Rosa.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa memberitahu anda. Jika ingin bertemu dengan tuan Dira, anda bisa membuat janji terlebih dahulu," balas si asisten.
Nyonya Rosa menghela nafasnya panjang. "Baiklah, tapi bisakah kau memberitahuku sekarang dia sedang ada dimana?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, tidak pasti sekarang tuan Dira ada dimana sekarang. Tapi beliau selalu datang ke toko bunga Love's Florist, yang berada di seberang ujung jalan ini," jawab si asisten.
"Ya sudah baiklah terima kasih," ucap Nyonya Rosa.
"Sama-sama Nyonya," sahut si asisten.
"Toko bunga? Apa yang sedang dia lakukan di toko buka itu, bukankah dia sudah berhenti mengirimiku buket bunga lagi?" gumam Nyonya Rosa bertanya-tanya. Lalu pergi dari perusahaan Mahesa Group untuk ke suatu tempat.
Yaitu toko bunga milik keluarga Lovely.
...----------------...
Toko bunga.
"Sudahlah Tuan Dira jangan membantuku lagi, nanti bajumu bertambah kotor," ucap Ibu Diana menolak agar Tuan Dira tidak membantunya mengangkat pot tanaman.
"Aku calon suamimu, mana bisa aku diam saja melihatmu sedang dalam kesulitan mengangkat benda berat seperti ini," balas Tuan Dira tidak peduli dengan larangan Ibu Diana.
"Sudahlah Tuan Dira, istirahatlah lebih dulu. Apa kau sedang tidak ada pekerjaan di kantor, sampai repot-repot datang kesini dan membantuku?" tanya Ibu Diana sambil mencuci tangannya.
"Tidak ada yang penting, semenjak Putera menikah. Aku selalu melimpahkan pekerjaanku padanya agar dia bisa menjadi pemimpin perusahaan Mahesa yang handal," jawab Tuan Dira.
"Apa maksudmu, kau ingin pensiun dari pekerjaanmu lebih cepat daripada seharusnya?" tanya Ibu Diana, lalu menuangkan air minum.
"Aku ingin fokus mengurus keluarga baruku nanti, dan membantumu mengerjakan pekerjaan berat disini. Aku juga ingin mengurus toko bunga ini saja berdua denganmu," balas Tuan Dira.
Ibu Diana tersenyum. "Penghasilan di toko bunga ini sangatlah kecil dan tidak sepadan dengan penghasilanmu saat memimpin di perusahaan. Apa kau yakin tidak akan menyesal?" tanyanya ragu.
Tuan Dira menggeleng. "Tidak akan, aku tidak akan menyesal. Asalkan bisa tinggal bersama dengan orang yang aku cinta dan kusayangi. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup," balasnya.
Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain dan tersenyum, tidak terasa sebentar lagi hubungan mereka akan menjadi satu keluarga dalam ikatan pernikahan.
"Dira ..." sapa lembut suara wanita tiba-tiba dari depan pintu.
.
.
__ADS_1
Bersambung.