Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 64. Sarapan pagi.


__ADS_3

Mansion Putera.


Keesokan harinya, Lovely terbangun dari tidurnya. Dimana rasa sakit pinggang pada dirinya sudah membaik.


Hal tersebut ia manfaatkan dengan melakukan pekerjaan rumah seperti memasak di dapur untuk menyenangkan hati sang suami tercinta.


Sedangkan Putera yang mengetahui istrinya sedang memasak di dapur pun, bergegas turun dan ikut membantu Lovely memasak agar cepat selesai.


"Bukankah kau sedang sakit pinggang, kenapa harus repot-repot memasak seperti ini?" ucap Putera tidak suka.


"Tidak repot kok, hanya membuat satu menu untuk kita sarapan pagi sebelum pergi ke kantor," balas Lovely melanjutkan kembali memotong bahan makanan.


"Bagaimana kalau sakit pinggangmu itu kambuh hah?" tanya Putera masih mencekal tangan Lovely.


Lovely mendesaah kecil. "Bagaimana bisa kambuh sakit pinggangku ini hah? Apa kau berpikir aku memasak harus menungging atau jungkir balik dulu seperti melayanimu hah?" balas wanita itu lalu menarik tangannya agar terlepas.


Putera jadi bengong sendiri, kemudian menyadari kalau Lovely sakit pinggang akibat ulahnya yang terlalu bersemangat setiap kali berhubungan.


"Jadi maksudmu, kau sakit pinggang karena diriku?" tanyanya polos sekali.


"Menurutmu," jawab Lovely balik bertanya.


Putera mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. "M-maaf kalau begitu sayang, aku tidak tahu kalau aku sudah membuatmu jadi sakit seperti ini."


Pria itu merasa bersalah sekali, kemudian mengulurkan salah satu tangan besarnya itu ke bagian pinggang Lovely yang sedang memasak. Sesekali mengusap-usap lembut bagian pinggang ramping istrinya itu agar merasa hangat dan nyaman.


"Terima kasih," ucap Lovely dan tersenyum.


"Sama-sama," sahut Putera. "Kau ingin memasak apa?" tanyanya.


"Tidak tahu," jawab Lovely sekalian menaikkan bahunya.


"Tidak tahu, lalu bagaimana kau akan memasak sarapan kita kalau tidak tahu mau buat apa?" tanya Putera terheran-heran.


"Sudah tenang saja, kau duduklah dulu disana. Sebentar lagi makanannya akan siap." Lovely menyingkirkan tangan Putera dari pinggang yang semakin merambah kemana-mana.


Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, selain membuat sarapan. Wanita itu menyiapkan juga bekal makan siang untuk mereka berdua di kantor.


Selama memasak, entah mengapa Putera semakin betah berlama-lama menatap istrinya. Sesekali ia tersenyum jika mengingat awal pertemuannya dengan Lovely yang dibilang tidak ada akur-akurnya.


...***...


Lima menit kemudian dua piring berisi sarapan pagi telah tersedia dimeja makan dan Lovely mengulurkannya kepada Putera.


"Ini sudah jadi, makanlah."



Putera menatap kagum menu yang tersaji dihadapannya itu, lalu berganti menatap Lovely yang baru saja duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Kelihatannya menarik," puji Putera. "Tapi mari kita coba, apa rasanya juga semenarik penampilannya," ucapnya lagi. Kemudian mengambil peralatan makan dan mulai mencipipi.


"Bagaimana rasanya?" tanya Lovely penasaran.


Putera mengunyah makanan tersebut dengan cepat, kemudian memberikan satu suapan pada Lovely, agar ia dapat merasakan sendiri bagaimana rasa dari makanan yang telah dibuat olehnya itu.


Lovely membuka matanya lebar-lebar, lalu menatap wajah Putera yang tersenyum dan menatap kearahnya juga.


"Enak!" seru mereka berdua.


"Tidak ku sangka makanan tidak tahu namanya ini, punya rasa yang enak sekali. Kalau kau masak makanan enak seperti ini terus, chef rumah kita bisa kehilangan pekerjaan," puji Putera sambil menyantap makanannya.


Lovely tersipu malu, wajahnya langsung berseri-seri saat dipuji seperti itu oleh suaminya sendiri.


"Kau berlebihan sekali memujiku atau kau memang punya maksud lain berkata seperti itu padaku, hem?" ucap Lovely sambil mencubit gemas bahu kekar suaminya.


Putera terkekeh. "Tidak ku sangka kau pintar dan mengerti maksud dari pujianku itu, nanti malam boleh ya," balas pria itu sambil menaik turunkan alisnya berkali-kali.


Lovely tersenyum, ternyata dugaannya sangatlah tepat. Dimana Putera mulai meminta jatah untuknya nanti malam.


"Baiklah," patuh Lovely mengangguk. "Tapi aku tidak ingin kau memaksaku untuk melakukan gaya ekstrim seperti kemarin oke!" ucapnya.


"Baik sayang, aku tidak akan hilang kendali lagi." ucapnya kemudian merampas satu ciuman sebelum pergi ke kantor.


...----------------...


Mansion Tuan Dira.


Sudah menjadi kebiasaan wanita itu dalam mengurus rumah tangga, karena tanpa dibantu ia bisa menyelesaikan pekerjaan dapur tanpa kendala sedikitpun.


"Ayo Ron cepat habiskan sarapanmu, nanti kau akan terlambat!" titah Ibu Diana membereskan segala keperluan sekolah anaknya. Sesekali melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul 7 pagi.


"Iya Mama," jawab anak itu ogah-ogahan karena masih ngantuk menghadapi hari-hari.


Ibu Diana menghela nafas, kemudian duduk di kursi dan menyuapi Ron makan agar cepat selesai.


"Ah Mama sudah kenyang," Ron memalingkan wajah sambil menutup mulutnya.


"Ayo cepatlah dua suap lagi," balas Ibu Diana masih menyodorkan makanannya.


"Tidak mau," jawab Ron menggeleng.


"Ron, jangan mulai lagi. Sarapan pagi sangat penting untukmu," ucap Ibu Diana menasehati.


Bersamaan dengan hal tersebut, Tuan Dira menghampiri meja makan dan melihat aktifitas istrinya.


Suatu hal yang sangat dia impikan sejak lama, dimana ada keributan antara anak dengan sang istri di depan meja makan.


Pria itu hanya tersenyum menatap momen manis tersebut dan segera melerai pertengkaran itu agar tidak merambat kemana-kemana.

__ADS_1


"Sudahlah Diana, kalau kau memaksa Ron memakan semuanya. Dia bisa muntah dijalan," ucap Tuan Dira.


"Bagaimana bisa disisakan makanan ini, sayang sekali. Hanya 1 suap lagi, tidak mungkin membuat perutnya meledak," balas Ibu Diana.


Lalu suara tawa wanita terdengar dari depan ruang makan, membuat Tuan Dira dan Ibu diana menoleh bersamaan.


"Rosa," sapa Tuan Dira.


"Pagi semuanya," sahut Nyonya Rosa kemudian menghampiri meja makan.


"Pagi," sahut Ibu Diana malas.


"Rosa, duduklah dan ikut sarapan bersama kami," ajak Tuan Dira kepada mantan istrinya.


"Sudah pasti," balas Nyonya Rosa tanpa malu-malu.


Ibu Diana mendesaah kesal, sampai-sampai dia berhenti menyuapi Ron makan. "Ron, kau sudah selesai makan. Ayo kita pergi ke sekolah," ucapnya kemudian menarik tangan Ron agar pergi.


"Diana, kenapa tidak supir kita saja yang mengantarnya." Tuan Dira mencekal pergelangan tangan Ibu Diana agar tidak pergi.


"Aku sudah terbiasa mengantar anakku sekolah sendiri," balas Ibu Diana.


"Tapi bagaimana denganku?" tanya Tuan Dira manja.


"Kau sudah besar, bahkan sudah berumur lebih untuk bisa makan sendiri." Entah mengapa melihat wajah nyonya Rosa membuat Ibu Diana merasa jengkel sekali.


"Dira, bagaimana kalau kau makan bersama denganku saja. Aku akan menyiapkanmu sarapan," ucap Nyonya Rosa menyela pembicaraan.


Tuan Dira terdiam, sambil menatap sang istri yang memalingkan wajah tidak mau menatap dirinya dan mengerti kemarahan serta rasa tidak suka istrinya itu terhadap nyonya Rosa.


"Sayang, kau adalah istriku. Maukah kau melayaniku dimeja makan walau sebentar?" bujuk rayu Tuan Dira begitu lembutnya.


Ibu Diana menelan ludahnya kasar dan menghela nafas, mencoba untuk meredam emosinya sejenak.


"Baiklah," balas Ibu Diana. Kemudian meminta Ron untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


Tuan Dira tersenyum, kemudian memberikan piring kosongnya kepada sang istri. "Aku ingin makan makanan yang dimasak langsung oleh istriku sendiri," ucapnya.


Ibu Diana tersenyum, kemudian menyendoki nasi beserta lauk pauk buatannya untuk Tuan Dira. Lalu duduk dihadapan sang suami dan menunggunya makan hingga selesai.


Sementara itu Nyonya Rosa berubah sedih dan tidak jadi sarapan pagi di meja makan yang sama oleh Tuan Dira.


Dalam hatinya begitu menyesal, karena tidak melayani dengan baik saat menikah dulu dengan Tuan Dira. Hingga akhirnya dia menyadari jika dirinya memanglah tidak pantas untuk menerima cinta dari pria itu lagi.


.


.


Bersambung.

__ADS_1



Tuan Dira.


__ADS_2