Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 35. Kembali gatal.


__ADS_3

Emily mulai membuka satu persatu kancing kemeja putih yang melekat pada tubuh pria kekar dihadapannya.


Jari jemarinya begitu lihai, meraba dan menyapu lembut dada berotot itu hingga si empunya langsung terpejam merasakan nikmat yang tiba-tiba menjalar disekujur tubuh.


Putera mendesis, bersamaan dengan datangnya sensasi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Rasa geli bercampur nikmat kini bersatu padu, seakan menuntut dirinya untuk merasakan hal yang lebih daripada itu.


"Teruskan," lirih Putera masih terpejam, menikmati sapuan hangat pada dadanya oleh kecupan lembut dari wanita cantik yang bernama Emily.


Sedangkan Emily menatap wajah pria matang itu dan ia tersenyum puas, saat berhasil membuat sang lawan mulai terbuai dengan aksi gilanya.


Kini Emily pun tidak ragu lagi dan segera menanggalkan semua kancing kemeja yang mengganggu, hingga menampilkan bagian depan tubuh atletis yang begitu menggoda untuk dirinya.


"Kau pria ku yang tampan, kau begitu gagah," puji Emily. Lalu menyelusupkan satu tangannya pada ceruk leher Putera dan meraup satu ciuman untuk pelanggan setianya.


Putera menikmati hal tersebut dan berandai-andai, jika Lovely yang sedang melakukan ini padanya.


"Kau juga cantik, cantik sekali ..." lirih Putera memuji dan masih asyik dengan bayang-bayang wajah istrinya sendiri.


Emily berhenti menggeliat memainkan jemarinya diatas dada Putera dan berganti menuntun raga bosnya itu untuk berbaring di atas sofa dengan begitu anggunnya.


Lalu, tanpa malu ia merangkak naik dan duduk di atas raga kekar itu seperti sedang menunggangi seekor kuda jantan.


Putera masih terpejam dan mencoba menikmati setiap gerakan serta permainan lihai dari sang wanita bayarannya, sesekali membayangkan jika Lovely lah yang tengah menari dan berada diatas tubuhnya sendiri.


Emily menarik senyum saat merasakan ada sesuatu yang mulai terbangun dibagian bawah sana.


"Punyamu sudah bangun, bolehkah?" goda Emily berbisik.


"Silahkan itu milikmu," racau Putera sambil menahan hasrattnya yang sudah menggelora di dalam dada.


Sementara itu Emily mengulum senyum dan jemarinya pun mulai lancang menurunkan resleting celana, saat mendapatkan ijin dari si pemilik senjata pusaka yang sudah menegang sedari tadi.


"Punyamu pasti besar sekali, rugi sekali istrimu karena tidak pernah mau menyentuhnya," ucap Emily dengan tatapan laparnya.


Putera lantas membuka matanya dengan kasar dan berubah geram saat Emily menyebut kata istri tepat di indera pendengarannya.


Seketika itu pula sekujur tubuhnya merasa gatal kembali, saat menyadari aksinya itu sudah mulai kelewat batas.


Ia segera mencekal pergelangan tangan Emily untuk berhenti menurunkan resleting celana, agar tidak menyentuh pusaka berharganya yang masih berlabel perjaka ting-ting.


"Berhenti!" titah Putera tiba-tiba.


Emily mengerutkan dahi. "Kenapa? Apa kau mulai gatal-gatal lagi. Ayolah Putera, kenapa kau selalu saja begini. Kenapa kau selalu saja berubah gatal-gatal saat kita ingin serius ke intinya," cebiknya kesal.

__ADS_1


"Menyingkirlah dari atas tubuhku!" titah Putera menaikkan resletingnya dan tidak ingin membahas, karena rasa gatal yang menyerang kembali.


Emily enggan turun sebelum mendapatkan apa yang dia mau. "Ayolah sayang, aku bosan menunggu terus. Kenapa kau selalu saja berhenti ditengah jalan? Kalau begini terus bagaimana bisa aku memuaskan keingintahuanmu itu," ucapnya merayu.


Putera menyingkirkan Emily dari tubuhnya dan segera merapihkan pakaiannya kembali. Entah mengapa rasa alerginya itu selalu muncul jika bersama dengan wanita lain yang bukan istrinya.


Padahal dia sudah berusaha belajar beradaptasi untuk dekat dengan wanita lain, namun usahanya itu selalu saja tidak berhasil.


Alerginya akan selalu muncul, akan tetapi tidak begitu jika sedang berdekatan dengan Lovely saat tidur bersama pada waktu bulan madu beberapa bulan yang lalu.


"Aku akan memanggilmu kembali dan sekarang keluarlah dari sini," balasnya sambil mengeluarkan segepok uang tunai dari dompet.


Emily merampas uang itu dengan kasar dan mendengus kesal. "Baiklah, aku ambil uang ini. Tapi jika suatu hari kau memanggilku lagi, aku ingin kita melakukan hal yang serius!" balasnya lalu keluar dari ruangan itu dengan raut wajah kecewa.


Putera membelakangi Emily dan menatap bekal makan siang buatan istrinya sendiri, ada perasaan bersalah ketika ia menyadari perbuatan gilanya itu selama satu bulan belakangan ini bersama dengan wanita lain.


Akan tetapi ia akan merasa kesal jika mengingat perilaku Lovely yang selalu saja menolak untuk didekati.


"Itu semua salahmu, kau yang telah salah. Kau adalah istriku, seharusnya kau tidak menolak keinginan suamimu sendiri!" geramnya merasa kesal, sesekali menjambak rambutnya karena frustasi.


...***...


Malam harinya.


Lovely terduduk sambil melamun dan memikirkan nasib pernikahannya yang sudah menginjak usia tiga bulan lebih lamanya.


Wanita itu memandangi surat pernikahan, sekaligus surat perjanjiannya bersama dengan Putera. Ada keragu-raguan dalam hatinya, ketika dirinya harus memilih diantara dua pilihan rumit.


Melanjutkan hubungan pernikahan pura-pura ini atau mungkinkah memang harus segera berakhir.


Lovely menghembus nafasnya kasar dan berganti menatap jam diatas nakas yang telah menunjukkan waktu pukul 11 malam.


"Dia pulang terlambat lagi," gumamnya lesu. Sesekali menguap menahan rasa kantuk yang mulai menjalar dikedua matanya.


Beberapa saat kemudian, Putera baru saja tiba di rumahnya. Lalu bergegas menuju kamar untuk mandi dan juga bertukar pakaian sebelum Lovely memergoki dirinya.


"Kau baru pulang," ucap Lovely sesaat mendapati Putera yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Menurutmu," balas Putera.


"Apa ada banyak pekerjaan hingga kau harus lembur bekerja, sampai pulang larut malam setiap hari seperti ini?" tanya Lovely mengekor dibelakang suaminya.


Putera mengendurkan dasinya. "Jika lembur, sudah pasti banyak pekerjaan di kantor."


"Apa kau sedang berbohong? Papa Dira bilang tidak banyak pekerjaan di kantor," balas Lovely.

__ADS_1


Putera memutar badan dan menatap tajam Lovely. "Kalau aku pulang malam, lalu apa urusannya denganmu! Keluarlah dari kamarku sekarang juga!" sentaknya sembari menunjuk pintu kamar.


Lovely mengangkat kedua bahunya karena kaget, badannya sedikit gemetar hingga kertas ditangannya ikut bergerak tidak beraturan.


"Aku hanya bertanya saja, tidak perlu marah seperti itu padaku."


Lovely berbalik badan dan mengurungkan niat untuk membahas masalah perjanjian pernikahannya dengan Putera, karena ia merasa jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan hal tersebut.


Namun Putera menahan Lovely agar tidak keluar dari kamarnya. "Tunggu! Apa yang sedang kau pegang itu?" tanyanya.


"Tidak ada," Lovely menyembunyikan kertas itu dibelakang tubuhnya.


Putera melangkah memdekat dan merampas surat-surat perjanjian pernikahnya dengan Lovely.


Wajah pria itu pun lantas suram. "Kenapa kau membawa surat kontrak nikah ini kehadapanku? Apa kau sedang mengingatkanku bahwa aku tidak berhak memilikimu seutuhnya hem?" tanyanya kesal.


Lovely merasa gugup. "T-tidak bukan begitu, aku tidak jadi. Besok lagi saja membahasnya."


Putera mengunci pergerakan Lovely agar tidak kabur darinya. "Apa yang ingin kau bahas? Bahas saja sekarang!" tegasnya.


Lovely menelan ludahnya susah payah. "P-putera, ini sudah tiga bulan lebih. Aku hanya ingin bertanya, apa kau ingin melanjutkan hubungan ini atau tidak?" tanyanya memberanikan diri.


Putera menarik dagu Lovely agar menatap dirinya. "Kau inginnya bagaimana?" tanyanya balik.


Lovely mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, saat Putera menatapnya begitu dalam. "Lepaskan aku dulu," ucapnya.


"Jawab dulu," balas Putera enggan melepaskan Lovely.


"A-aku tidak tahu, terserah kau saja. Tapi selama tiga bulan ini, kurasa kita tidak memiliki kecocokan. J---" ucap Lovely terputus.


"Jadi?" serobot Putera.


"J-jadi bolehkah kalau kita mengakhiri saja?" tanya Lovely memberanikan diri dan menunggu reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh Putera setelah ini.


Putera terkekeh dan melepaskan Lovely, ia merampas surat perjanjian nikah kontrak itu dan merobek-robeknya di depan mata kepala istrinya.


Lalu dia lempar ke sembarang arah, kemudian mengunci Lovely kembali.


"K-kau ...." ucap Lovely terbata.


"Aku tidak ingin pisah, aku ingin melanjutkan hubungan ini!" tegasnya dengan seringai yang begitu menakutkan.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2