Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 27. Tinggal serumah.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Setelah melewati malam pertama tanpa arti kemarin malam di hotel tempat mereka menggelar pesta pernikahan, Putera akhirnya mengajak Lovely untuk tinggal bersama di dalam mansionnya.


Selain karena status mereka yang sudah resmi menjadi suami istri, itu juga mereka lakukan agar tidak ada pihak yang mencurigai jika di dalam pernikahannya itu terdapat pembatasan dalam berhubungan satu sama lain.


Dan walaupun Putera dan Lovely kini telah tinggal di satu atap yang sama, namun masalah tidur keduanya tetaplah terpisah.


Pria itu bahkan telah menyiapkan satu kamar pribadi untuk Lovely sebelumnya dan meminta kepada semua Maid di dalam mansionnya itu agar menutup mulut dan tidak memberitahu kepada Opa Mahes maupun Tuan Dira, jika mereka tidak tidur seranjang.


"Ini kamarmu dan sekarang beristirahatlah, jika butuh sesuatu bilang saja kepada Bi Ami. Dia kepala asisten rumah tangga disini," ucap Putera.


"Baiklah," balas Lovely kemudian masuk ke kamar pribadinya yang berada di sebelah kamar Putera.


Begitu pula dengan pria itu, ia kembali ke dalam kamar nya untuk melepas lelah karena pesta pernikahannya kemarin malam.


Walaupun tidur terpisah di kamar yang berbeda, akan tetapi keduanya telah sepakat akan tidur di kamar yang sama jika ada Opa Mahes atau Tuan Dira yang ingin berkunjung atau menginap ke rumahnya agar tidak curiga.


Seperti saat sekarang ini, Tuan Dira tiba-tiba menghubungi Putera dan mendadak ingin berkunjung ke rumah anaknya dan akan menginap selama beberapa hari disana.


"Apa!" pekik Putera saat mendengar hal dadakan tersebut.


Pria itu pun menjadi kelabakan sendiri, sampai-sampai meremas wajahnya hingga membekas karena saking terkejutnya.


Apalagi Tuan Dira bilang sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya. "Kenapa dia malah mau datang tiba-tiba seperti itu!" kesalnya sembari melepar ponsel.


Dengan segera ia datang ke kamar Lovely dan meminta istrinya itu untuk pindah ke kamar pribadinya sekarang juga.


"Lovely, cepatlah bawa barang-barangmu ke dalam kamarku sekarang! Papa Dira sedang dalam perjalanan menuju ke sini," titah Putera terburu-buru.


"Apa!" pekik Lovely tidak kalah terkejut dari Putera.


Ia tersedak nafasnya sendiri sembari menggigit kuku jari, saat mengetahui mertuanya itu akan menginap disini selama beberapa hari. Dan itu berarti, selama beberapa hari pula dia akan tidur sekamar dengan suaminya sendiri.


"Sudah jangan bengong saja, sini aku bantu membawakan barangmu!" ucap Putera merasa gemas karena Lovely hanya diam melongo saja.


Lovely menggeleng cepat dan segera memindahkan semua barang pribadinya itu ke dalam kamar pribadi Putera.


...***...


Beberapa saat kemudian.


Lovely akhirnya selesai memasukkan semua pakaian beserta barang-barang pribadinya ke dalam kamar Putera dan telah siap menantikan sang ayah mertua untuk datang ke sini di depan rumah.


Ribet sebenarnya tapi mau bagaimana lagi, toh mereka memang sudah sepakat seperti itu.


Menyembunyikan segala syarat serta beberapa peraturan yang telah dibuat sebelum pernikahan mereka terjadi, agar tidak ada orang yang merasa curiga.


Namun, nampaknya Tuan Dira telah mengetahui hal tersebut dari para anak buahnya yang bekerja di Mansion Putera dan untuk itulah dia sengaja datang menginap agar bisa menyatukan mereka berdua.

__ADS_1


Buaya dikadalin, begitulah pikiran Tuan Dira sekarang.


Pria paruh baya itu berpura-pura untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang sedang terjadi kepada anak serta menantu barunya. Ia hanya berharap keduanya bisa bersatu, walau itu membutuhkan waktu yang cukup lama.


...***...


Malam harinya.


Suasana hening terjadi saat mereka bertiga melakukan ritual makan malam, sampai akhirnya Tuan Dira mencoba membuka topik pembicaraan agar suasana makan malam tidak membosankan.


"Ly, ini hari pertama kamu tinggal disini. Jangan sungkan untuk meminta sesuatu jika perlu bantuan, karena para asisten rumah tangga disini akan siap membantu dan melayani dirimu." ucap Tuan Dira.


"Iya Papa, aku mengerti," balas singkat Lovely.


"Bagus! Nah Putera. Lovely sekarang adalah istrimu, penuhi tanggung jawabmu sebagai seorang suami," ceramah Tuan Dira.


"Bagaimana caraku membahagiakan seorang istri Papa?" tanya Putera.


"Ya, kau harus memanjakannya, mengerti segala keinginannya. Selain itu kau juga harus memenuhi kebutuhan pribadinya baik materi maupun kebutuhan batin," balas Tuan Dira.


"Kebutuhan batin, apa itu?" tanya Putera.


Tuan Dira mengangguk. "Iya kebutuhan batin, maksud Papa kau harus memberikan kebutuhan yang dapat membuat hati istrimu selalu merasa bahagia."


"Seperti?" tanya Putera polos sekali seperti kendi tanah liat. Kosong dan tanpa nyawa.


Putera dan Lovely tersedak bersamaan, mereka memandang satu sama lain sembari meneguk ludahnya susah payah.


"Iya aku mengerti, semalam sudah dan kami menikmatinya," balas Putera berbohong.


Lovely menunduk malu, walau dia tahu jawaban Putera hanyalah omong kosong belaka, namun nyatanya hal tersebut mampu membuat dirinya bergidik ngeri.


Putera menyenggol kaki Lovely agar tidak diam saja dan berhenti menunduk.


"Ah iya benar Papa, kami berdua telah melalui malam pertama kemarin," jawabnya sebisa mungkin.


Tuan Dira menatap keduanya dan terkekeh, kepolosan dua insan itu membuat dirinya geleng-geleng kepala karena telah salah mengartikan maksud dari perkataannya.


"Aku tidak menanyakan hal itu kepada kalian dan aku juga tidak ingin mengetahui hal sensitif tentang hubungan kalian saat malam pertama kemarin," balas Tuan Dira sembari menepuk-nepuk meja dan terpingkal-pingkal.


Putera merasa kesal. "Kenapa kau menertwai kami sampai sebegitunya, bukankah jawabanku benar."


Tuan Dira menyentil cairan bening pada ujung ekor matanya. "Putera sayang, maksud dari memberi kebutuhan batin adalah memberi perhatian, kasih sayang dan juga cinta kepada pasangan kalian. Tapi kalau kalian sudah melakukan itu berarti bagus sekali," balasnya masih terkekeh geli.


"A-apa," jawab Putera dan Lovely bersamaan.


"Haha ... Sudahlah jangan dibahas lagi, kalian membuat Papa sakit perut," balas Tuan Dira. Lalu pria paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya untuk ke kamar kecil, merasa mulas karena kebanyakan tertawa.


Putera merasa gatal dengan penjelasan sang Papa tadi, sedangkan Lovely langsung tertunduk lemas karena merasa malu setengah mati.

__ADS_1


"Dasar bodoh, kenapa kau malah beranggapan Papa sedang bertanya ke arah sana," bisik Lovely penuh penekanan.


"Mana aku tahu! Kau juga sama, kenapa malah melanjutkan perkataanku tadi," balas Putera.


"Kau menyebalkan, karena dirimu aku jadi malu seperti ini." Lovely kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari ruangan itu sembari menutupi wajah memerahnya dengan kedua tangan.


...***...


Hari sudah malam dan Putera masuk ke dalam kamarnya setelah menyelesaikan beberapa tugas kantor yang menumpuk selama ia cuti nikah kemarin.


Ia mendapati Lovely sedang termenung di balkon kamar, sambil menopang dagunya dengan kedua tangan di atas pagar besi.


"Sudah malam, kenapa tidak tidur dan kenapa kau membawa selimut dan bantal ke luar sini?" tanya Putera.


"Ini bukan kamarku, bagaimana bisa aku tidur di atas kasurmu itu. Jadi aku tidur disini saja," balas Lovely kemudian kembali melemparkan pandangannya ke bawah sana.


Putera menghela nafas. "Sudah ku bilang, aku tidak akan menyentuhmu. Kau tidak percayaan sekali," balasnya.


"Mana aku tahu, bisa saja kau tiba-tiba berubah pikiran setelah aku tertidur pulas dan berlaku macam-macam kepadaku," balas Lovely ragu.


"Hei otak kotor! Aku masih waras, aku masih bisa mengendalikan diriku ini. Sekarang masuklah dan bawa semua bantal dan kasur kecil ini ke dalam. Aku tidak ingin Papa Dira melihat semua ini dan merasa curiga kepada kita," balas Putera memerintah.


"Tidak akan melihat, kamar Papa Dira kan di bawah sana dan jauh dari kamar ini," balas Lovely menolak.


Putera merasa gemas, lalu ia mengambil semua peralatan tidur Lovely dan melemparkannya kembali ke dalam kamar.


"Sekarang kau juga masuk ke dalam," ucap Putera sambil menarik tangan Lovely.


Lovely menahan tangannya dan menggeleng. "Tidak mau," balasnya.


"Kau susah sekali di atur, baiklah. Jangan salahkan aku bertindak berani kepadamu," balas Putera. Lalu segera membopong Lovely ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Apa maksudmu itu. Hei turunkan aku!" titah Lovely meminta untuk diturunkan.


Putera tidak menghiraukan permintaan tersebutz ia terus saja berjalan masuk dan sesampainya di tepi ranjang, ia menurunkan Lovely dan segera mengungkungnya.


"Jangan pergi kemana-mana atau berpikir untuk tidur di luar kamar ini, kau tidur di kamar ini hanya beberapa hari. Jadi bersabarlah," balas Putera kemudian menarik diri agar menjauh dari istrinya yang sudah berdebar ketakutan.


Pria itu lalu turun dari ranjang dan mengambil selimut serta bantal kepala untuk dirinya tidur di atas sofa.


Sementara itu Lovely menarik bedcover dan menenggelamkan seluruh tubuhnya hingga atas kepala, sesekali mengintip ke arah suaminya yang terbaring di atas sofa.


"Semoga saja tidak terjadi apapun malam ini," gumamnya lalu memejamkan kedua mata.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2