
Selepas makan malam bersama.
"Terima kasih Tuan Dira karena telah mengundangku dan juga Ron untuk makan bersama," ucap Ibu Diana setelah selesai makan malam.
"Sama-sama, sering-seringlah main kesini mengunjungi anakmu. Karena aku tidak bisa selamanya tinggal bersama dengan mereka disini, aku juga harus pulang dan mengurus rumahku," balas Tuan Dira.
Ibu Diana tersenyum. "Baiklah, Tuan Dira. Jika sempat aku akan main ke sini untuk mengunjungi mereka berdua."
"Terima kasih, karena kau sudah mau memenuhi undangan makan malam dariku," balas Tuan Dira.
"Jangan berterima kasih kepadaku, harusnya akulah yang berterima kasih karena kau telah mengundangku kesini," balas Ibu Diana.
Mereka berdua terkekeh dan menyudahi percakapan tersebut.
Ibu Diana lalu menghampiri Putera dan juga Lovely untuk pamit pulang. "Mama pulang, tolong jaga dia baik-baik."
Putera tersenyum. "Tenang saja, aku akan menjaga dia dengan baik. Iya kan," ucapnya sambil merangkul bahu Lovely.
Lovely menepis tangan Putera dari bahunya dan menghampiri sang Ibu. "Hati-hati, kabari aku jika ada sesuatu. Makan yang teratur dan jangan tidur sampai larut malam," ucapnya sedih.
"Dasar anak bodoh, kau berkata seperti itu sebenarnya untuk siapa?" balas Ibu Diana memutar balikkan kata.
Lovely tertawa sedih, begitu berat sekali rasanya berpisah dengan keluarganya itu walau sesaat.
"Sudah jangan menangis, kita kan masih bisa bertemu lagi di toko bunga." Ibu Diana menenangkan.
"Ya, kau benar. Dan kau Ron, jangan nakal, turuti semua perintah Mama. Awas kalau kau masih merengek dan menyusahkan Mama, maka kakakmu ini akan datang menghukummu saat itu juga!" ceramah Lovely kepada adiknya.
"Dasar kakak bawel," balas Ron mencebik.
"Jangan menghinaku," Lovely mencubit pipi Ron hingga mengaduh kesakitan.
Mereka pun tertawa melihat tingkah lucu Ron yang mengambek dan meminta pulang dari sana sesegera mungkin.
...***...
Di kamar.
"Aku ingin kita tidur bersama lagi," ucap Putera sambil merebahkan dirinya dikasur.
Lovely mendengus. "Kali ini kau ingin mencoba apa? Apa seminggu kemarin tidak puas membuatku tersiksa?" gerutunya kesal.
"Waktu seminggu mana cukup untukku belajar, aku ingin sampai mahir sekali melakukannya. Kali ini aku ingin kau juga membalas ciumanku," balas Putera meminta.
Lovely menolak. "Tidak mau, sudah cukup. Aku tidak ingin tidur seranjang denganmu lagi dan melakukan hal-hal berbau mesum seperti itu!"
Putera menatap tajam Lovely. "Jangan lupakan ini Lovely, aku adalah suamimu. Secara sah aku berhak menikmati dirimu!"
Lovely menghardik keinginan itu. "Aku memang istrimu, tapi jangan pernah lupakan juga perjanjian kita. Aku sudah berlapang dada menuruti keinginanmu selama satu minggu penuh, tapi kurasa itu sudah cukup. Jangan mencoba menyentuhku lagi atau mempraktekkan hal-hal lainnya yang melewati batas keinginanku!"
__ADS_1
Putera merasa kesal dan menyergap Lovely hingga merapat ke dinding. "Berani sekali kau menolak diriku, apa kau sudah lupa apa konsekuensinya jika menolak keinginanku. Aku sudah berbaik hati hanya mencoba belajar memeluk dan juga menciummu. Bukan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku selama ini!" balasnya menekan.
"Apa kau sudah lupa dengan awal pernikahan kita, apa kau sudah lupa mengapa aku menyetujui pernikahan ini. Apa kau sudah lupa bahwa kita tidak ada rasa saling suka atau cinta, apa kau juga sudah lupa kalau kita menikah hanya sebatas nama saja!" tegas Lovely mengingatkan.
Putera mengendurkan cengkramannya dan terdiam, dengan tidak melepaskan tatapan tajamnya kepada Lovely sedikit pun. Perkataan wanita itu memang benar adanya, bahwa mereka hanya menikah sebatas nama saja.
"Apakah salah jika seorang suami ingin memiliki raga istri seutuhnya," ucap Putera.
"Memang tidak salah, tapi apa kau tahu. Suami istri melalukan itu atas dasar cinta, bukan hanya untuk sekedar coba-coba, walaupun ada juga yang melakukan nya secara terpaksa karena suatu hal yang mendesak."
"Tapi aku tegaskan sekali lagi kepadamu, sebelum kau berbuat macam-macam denganku ini. Kalau aku tidak ingin melakukan itu, apalagi tidak adanya cinta diantara kita berdua," balas Lovely.
Putera menghembus nafasnya kasar, kedua matanya sedikit memerah, karena menahan amarah sesak yang tertekan di dalam dada.
"Kau benar, kita tidak saling mencintai. Tidak seharusnya aku memintamu sesuatu atau melakukan hal yang melewati batasan," balasnya mengalah lalu melepaskan sergapannya dan menjauh dari Lovely.
Tanpa banyak kata pria itu meraih bantal kepalanya dan tidur diatas sofa tanpa melakukan apapun kepada istrinya.
...---------------...
Tiga bulan kemudian.
Perusahaan Mahesa Group.
Suasana sibuk selalu terjadi hampir di tiap hari, terutama di bagian departemen keuangan di perusahaan Mahesa Group.
"Aku selalu membawa makan siang untuk Papa dan juga Opa, kebetulan aku memasak lebih. Jadi aku bawakan ini sekalian untukmu," balas Lovely.
Putera menyingkirkan bekal makanan dari meja kerjanya. "Ada perbedaan antara meja makan dan juga meja kerja, jadi jangan taruh bekal ini diatas meja kerjaku," tolaknya.
Lovely mengambil kembali bekal makan siang untuk Putera dari meja. "Baiklah, aku akan menaruhnya di meja kecilmu ini saja."
"Hem," balas Putera singkat.
Lovely menatap Putera yang acuh, semenjak kejadian tiga bulan lalu saat dirinya menolak keinginan pria itu untuk mendekatinya.
Entah mengapa semakin hari, pria itu semakin menjauh saja darinya.
Putera bahkan tidak mau menatap dan selalu memalingkan wajahnya jika sedang berhadapan satu sama lain, serta tidak ingin banyak berinteraksi atau berbicara seperti sebelum-sebelumnya.
"Kenapa akhir-akhir ini kau selalu mengacuhkan aku?" tanya Lovely.
Putera mengerutkan dahi. "Bukankah ini yang kau inginkan, tidak terlalu banyak berhubungan," balasnya tanpa melepas pandangan dari laptop.
"Benar, aku memang tidak ingin kita terlalu dekat. Tapi setidaknya aku juga manusia, bukanlah benda mati. Kau selalu membuang muka jika bertatapan denganku, apa aku punya salah padamu atau ada sesuatu yang membuatmu tidak ingin melihatku lagi?" tanya Lovely.
Putera meremas apapun yang berada di dekatnya. "Tidak ada, jika sudah selesai pulanglah ke rumah."
"Putera," ucap Lovely tidak suka.
__ADS_1
"Aku bilang pergi!" titahnya tegas.
Lovely terkesiap. "Baiklah, kalau begitu. Jangan pulang larut malam lagi," balasnya lalu berbalik menuju pintu.
Putera menatap punggung Lovely, hingga istrinya itu menghilang dari pandangan mata dan setelah Lovely keluar, ia mulai melempar apapun karena kesal.
Rasa kesal seorang suami yang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dari istrinya sendiri, membuat Putera semakin frustasi.
Tak khayal pria itu menghabiskan malamnya untuk bekerja di kantor, demi menghilangkan keinginannya akan sesuatu terhadap Lovely.
...***...
"Martin, tolong panggil Emily kesini. Ada laporan yang salah," titah Putera sambil membaca beberapa laporan keuangan buatan bawahannya.
"Baik Pak," patuh Martin kemudian memanggilkan Emily.
Tak butuh waktu lama, wanita dewasa itu pun masuk ke dalam ruangan bosnya.
"Martin kau boleh keluarlah sekarang," ucap Putera.
"Baik Pak," patuh Martin seperti biasa.
"Iya Pak Putera, ada apa memanggilku?" tanya Emily sesaat ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.
Putera menghentikan membaca laporannya dan menatap Emily. "Kemarilah," titahnya.
Wanita itu menarik senyum dan berjalan mendekat ke meja bosnya. "Apa kau merindukanku?" tanyanya menggoda.
"Kau paling bisa menggodaku, sekarang duduklah di sini." Putera menepuk pahaa sebelah kanannya meminta wanita sekssi itu untuk duduk.
Emily menurut, karena memang itu kesukaannya. Lalu tanpa malu-malu, wanita itu duduk menghadap bosnya sendiri.
Dengan posisi layaknya seorang penunggang kuda, hingga menampilkan pahaa mulus nan seksii dari belahan samping rok sempitnya.
"Pak Putera, apa kau ingin aku melakukan ciuman yang lebih hot daripada kemarin? Bilang saja, maka aku bisa mewujudkannya," bisik Emily dengan suaranya yang menggoda.
"Puaskan diriku, berapa pun yang kau mau. Aku akan membayarnya," balas Putera melonggarkan dasi serta menarik pinggang Emily hingga merapat pada dirinya.
"Apa kau yakin, bagaimana jika istrimu tahu tentang semua ini?" tanya Emily.
"Dia tidak akan peduli," balas Putera.
Emily tersenyum, akhirnya sebentar lagi ia bisa memiliki Putera seutuhnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1