
"Terima kasih atas kunjungannya, datang lagi kesini ya nyonya," ucap Ibu Diana kepada pelanggannya yang baru saja selesai dilayani.
Wanita itupun mengontrol pekerjaan suaminya dikebun belakang dan melihat Tuan Dira sedang duduk ditemani oleh sang mantan istri.
Ibu Diana menghela nafas, berusaha untuk terus berpikiran positif. Lalu dia mengambilkan beberapa gelas berisi minuman dan juga cemilan ringan untuk mereka berdua.
"Diana," sapa Tuan Dira sambil mengusap peluh didahinya.
Ibu Diana tersenyum kearah suaminya dan menaruh nampan diatas meja taman. "Ini ada minuman dan juga makanan ringan, nikmatilah."
"Terima kasih," ucap Tuan Dira, lalu tanpa malu menyantap apa yang sudah disediakan oleh sang istri.
"Sama-sama," balas Ibu Diana kemudian menatap nyonya Rosa. "Nyonya, kau juga makanlah."
"Terima kasih," balas Nyonya Rosa.
"Diana, apa masih ada pelanggan?" tanya Tuan Dira.
Ibu Diana menggeleng. "Tidak ada, semua sudah pergi."
"Kalau begitu duduklah disini," ucap Tuan Dira sambil menepuk kursi disebelahnya.
Ibu Diana mengangguk patuh dan duduk, kemudian menuangkan segelas air untuk dirinya minum.
"Diana, toko bungamu ini sangat cantik dan indah sekali. Bahkan kebun bungamu ini sangatlah nyaman dan asri, hawanya begitu segar disini. Kau sangat merawatnya dengan baik," puji Nyonya Rosa.
Ibu Diana tersenyum. "Terima kasih, kau benar. Butuh kesabaran dan juga perawatan ekstra agar bunga tumbuh indah dan juga sehat."
Nyonya Rosa menyesap minumannya perlahan kemudian mengambil setangkai bunga mawar yang tadi dipetik oleh Tuan Dira.
"Melihat bunga mawar ini, aku jadi teringat akan seseorang yang mengirimiku buket bunga mawar merah setiap hari. Tanpa ada nama si pengirim dan hanya ada selembar kartu ucapan saja," ucap Nyonya Rosa mengingatkan sesuatu.
"Bunga mawarmu ini memiliki kualitas terbaik, aku menyukainya dan setiap bunga yang dikirim olehmu pasti akan ku simpan dengan baik dan di letakan di dalam vas bunga mahalku. Lalu kartu ucapan yang selalu kau berikan padaku, aku masih menyimpannya dengan baik hingga sekarang," ucap nyonya Rosa melanjutkan.
Ibu Diana dan Tuan Dira seketika terdiam dan saling menatap satu sama lain, perkataan nyonya Rosa membuat mereka teringat akan buket mawar merah yang selalu Tuan Dira pesan setiap pagi hari untuk sang mantan istri.
Hal tersebut membuat Ibu Diana merasa tak berselera makan dan berubah lesu, namun Tuan Dira yang menyadari perubahan tingkah istrinya segera menggenggam tangan Ibu Diana.
"Kau tidak apa?" tanya Tuan Dira memastikan. Lalu menatap tajam nyonya Rosa. "Rosa, tolong jangan ungkit masa lalu kita di depan istriku."
"Maaf, aku lupa. Maafkan aku Diana, aku selalu saja teringat masa lalu jika melihat bunga mawar merah ini," balas Nyonya Rosa.
"Tidak apa," balas Ibu Diana.
Nyonya Rosa menaruh kembali bunga mawar itu didalam keranjang, sesekali melirik raut wajah Ibu Diana yang sudah berubah masam. "Akhirnya dia terpancing juga," gumam wanita itu ternyata melakukannya dengan sengaja.
__ADS_1
Kedatangan nyonya Rosa memang merupakan sebuah rencana yang telah diatur oleh Peterson sang suami. Dimana ia sendiri rupanya dijadikan alat untuk melancarkan rencananya agar berhasil.
"Maaf Diana, aku tidak bermaksud ingin memanasimu. Aku melakukan ini dengan terpaksa," batin Nyonya Rosa merasa bersalah.
Karena inilah satu-satunya cara agar Putera mau mencabut tuntutannya, untuk membebaskan Alex dari dalam penjara.
...***...
Beberapa jam kemudian.
"Rosa, bersiap-siaplah. Sebentar lagi supirku akan datang untuk mengantarmu ke bandara," ucap Tuan Dira.
"Dira, bolehkah kalau kau saja yang mengantarku saja ke bandara? Maaf permintaanku ini terlalu egois, tapi aku takut Peterson akan menemukanku saat dijalan. Aku takut dia berlaku kasar padaku," ucap nyonya Rosa membujuk.
Tuan Dira menghela nafasnya berkali-kali, terlebih saat ia mendapat tatapan tajam dari istrinya sendiri, membuat dirinya merasa serba salah.
"Rosa, tenanglah Peter tidak akan melukaimu. Lagipula pekerjaanku disini masih banyak, aku tidak bisa meninggalkan Diana bekerja disini sendirian. Karena aku telah berjanji kepada istriku akan selalu membantunya bekerja," balas Tuan Dira menjelaskan.
Nyonya Rosa nampak murung, kemudian menatap wanita yang beruntung karena mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Tuan Dira.
Ia memelas sekali lagi, membuat Ibu Diana merasa sesak karena tidak suka ditatap seperti itu. "Sudahlah Dira, kau antar saja dia ke bandara."
"Tapi Diana," ucap Tuan Dira enggan melakukannya.
Tuan Dira berkacak pinggang, sambil meraup wajahnya kasar. Lalu menatap nyonya Rosa yang menghadap ke arahnya.
"Cepatlah!" titah pria itu kemudian naik ke dalam mobil.
Nyonya Rosa mengekor dibelakang Tuan Dira, setelah berpamitan dengan Ibu Diana, kemudian masuk ke dalam mobil untuk pergi ke bandara.
"Tolong temani istriku sebentar," ucap Tuan Dira kepada sang supir, lalu melajukan kendaraannya.
...----------------...
Setibanya di bandara, Tuan Dira segera mengantar Nyonya Rosa ke dalam untuk melakukan pemeriksaan tiket yang sudah dipesan sebelumnya.
Namun dirinya begitu terkejut, karena namanya tidak terdaftar dipesawat tujuan manapun.
"Bagaimana bisa, aku sudah memesan tiket ini dan aku yakin tidak salah sedikitpun," ucap Nyonya Rosa merasa heran.
Tuan Dira menghembus nafasnya kasar dan memijat pelipisnya karena pusing. "Ada apalagi ini?" batinnya bertanya-tanya.
Mereka berdua terdiam cukup lama, pemesanan tiket baru juga dirasa tidak mungkin. Karena nama nyonya Rosa tiba-tiba di tolak begitu saja.
"Kenapa bisa seperti ini? Pasti ada seseorang yang telah memblokir dataku," duga Nyonya Rosa menerka-nerka.
__ADS_1
"Ini pasti ulah Peterson, iya! Aku yakin, gagalnya aku terbang hari ini pasti ulah suamiku itu. Dira, aku tidak bisa pergi hari ini. Tapi tidak mungkin juga aku pulang ke rumahmu, aku tidak enak dengan Diana. Dia sepertinya tidak menyukai kehadiranku," ucap nyonya Rosa.
Tuan Dira sekali lagi menghela nafas panjang, sambil mengelus dadanya. "Kalau begitu menginaplah di hotel selama beberapa hari, sampai aku memesan tiket lagi."
"H-hotel? Tapi bagaimana kalau Peterson tau aku sedang menginap di hotel. Dia pasti akan menemukanku dan membunuhku saat itu juga," balas Nyonya Rosa dengan segala kepanikannya.
"Sudahlah, jangan khawatir seperti itu. Lebih baik kita pulang terlebih dahulu dan memikirkan masalah ini di rumah," ucap Tuan Dira.
Nyonya Rosa mengangguk. "Baiklah kalau begitu," balasnya. Kemudian mereka berdua pun akhirnya kembali ke rumah.
...----------------...
Mansion Tuan Dira.
Lovely dan Putera tiba di rumah ayahnya, untuk mengecek keadaan Ibu Diana.
"Mama baik-baik saja, kenapa kalian sampai repot-repot datang kesini?" tanya Ibu Diana kepada anak dan menantu atau bisa disebut juga kepada anak dan anak tiri.
Tapi apapun sebutan untuk hubungan mereka sekarang ini, janganlah pembaca ambil pusing, karena penulis juga merasakan kepusingan yang sama.
"Mama, Putera tidak repot. Sekarang dimana Papa dan Nyonya Rosa itu?" tanya Putera mengedarkan pandangan kesekeliling rumah.
"Mereka ada dibandara," balas Ibu Diana.
"Bandara?" tanya Putera dan Lovely bersamaan.
Ibu Diana mengangguk. "Iya, nyonya Rosa bilang dia mau pulanb ke rumah orang tuanya, dan Papa kalian sedang mengantarnya ke bandara."
"Tapi kenapa harus diantar Papa, kenapa tidak pakai supir?" tanya Putera merasa aneh.
"Tidak tahu," balas Ibu Diana enggan membahas panjang masalah tersebut.
"Aku yakin wanita itu pasti punya maksud tersembunyi," ucap Putera menduga.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan dan jangan membahas masalah ini lagi. Karena bagaimanapun juga dia sedang membutuhkan pertolongan," balas Ibu Diana.
"Kau benar Mama, untunglah dia pulang segera dan tidak kembali lagi ke rumah ini," ucap Putera.
Namun kedua matanya membola, sesaat melihat wanita yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri tepat di muka pintu.
.
.
Bersambung.
__ADS_1