
Perusahaan Mahesa.
Putera tersenyum berkali-kali, sesekali terkekeh jika mengingat kejadian tadi pagi disaat dirinya bangun tidur.
Dimana ia tiba-tiba terbangun dari mimpi indahnya, gegara tangan Lovely yang masih tertidur lelap tidak sengaja menggenggam belut listriknya yang kebetulan sedang tegang itu.
Rasa nikmat akan sentuhan tangan istrinya sendiri, membuat Putera selalu terbayang-bayang kembali dengan mimpi kotornya beberapa hari yang lalu.
Akan tetapi lamunannya itu tidak berlangsung lama, karena seorang wanita menaruh berkas diatas mejanya dengan kasar.
"Kau sedang melamunkan apa, apa mengingat kejadian tadi pagi?" tanya Lovely dengan raut wajah kesalnya, karena teringat kejadian memalukan bagi dirinya tadi pagi.
Dimana tangan sucinya itu menyentuh belut listrik berukuran raksasanya itu dan yang menyebalkannya lagi, Putera malah menggiring tangannya itu masuk kedalam celana.
Dan ia begitu menikmatinya, disaat tangan Lovely memainkan si belut atas dasar hasutan Putera yang memintanya untuk memeras seperti memeras susu sapi.
Hingga si belut listrik berhasil muntah dan muntahannya itu memenuhi seluruh telapak tangannya, disaat kondisi ia belum sadar sepenuhnya dari rasa kantuk berat dipagi-pagi buta.
Putera tersenyum dan menatap Lovely. "Ah sayang, aku pikir siapa. Pagi-pagi jangan marah-marah dan cemberut seperti itu, nanti cepat tua," cibirnya.
"Siapa yang membuatku marah pagi ini!" jawab Lovely ketus sambil menatap telapak tangannya yang telah disalahgunakan oleh Putera suaminya.
"Ya sudah aku minta maaf, tapi ngomong-ngomong pijatanmu tadi sangat nikmat sekali. Andaikan kau bisa melakukan itu setiap hari dan aku mendapatkan layanan lebih daripada itu, maka aku berjanji akan menaikkan uang bulanan berkali-kali lipat untukmu," ucap Putera mencoba membujuk istrinya.
"Jaga omonganmu itu, kita sedang berada di kantor. Apa kau tidak takut ada orang lain yang mendengar perkataanmu ini hah?" ucap Lovely sambil memperhatikan sekitar.
"Ini ruanganku, tidak ada yang berani masuk ke ruangan ini tanpa ijin terlebih dahulu dariku selain dirimu. Sekarang kemarilah, biar aku periksa laopranmu dulu," ucap Putera meminta.
Lovely menurut dan mendekat ke arah Putera, namun karena saking dekatnya pria itu langsung menarik tubuhnya, sehingga ia pun langsung terduduk dipangkuan suaminya sendiri.
"Putera, apa yang kau lakukan. Malu tau, bagaimana jika ada orang yang masuk ke ruanganmu," ucap Lovely meronta ingin bangun, namun Putera senantiasa mengalungkan erat lengannya pada pinggang ramping istrinya itu agar tidak pergi.
"Untuk apa malu, kita kan sudah menikah dan telah resmi menjadi suami istri. Sudahlah Lovely, jangan banyak protes, kalau mau ini cepat berakhir, maka menurutlah padaku. Lagipula aku tidak keberatan kau duduk dipangkuanku seperti ini," jawab Putera merasa senang sekali.
Lovely mencebik. "Ck! Ya sudah cepatlah periksa laporanku," balasnya pasrah.
__ADS_1
Putera tersenyum. "Nah begitu donk," balasnya, lalu memulai membaca laporan buatan istrinya itu.
Selama membaca laporan miliknya, Lovely memandangi wajah Putera dari dekat. Tidak terasa dirinya menjadi tertarik berlama-lama memandangi wajah tampan suaminya.
"Kau tampan juga," gumam Lovely tiba-tiba membuat Putera langsung berbunga-bunga.
"Aku memang tampan," jawab Putera dan Lovely segera tersadar.
"Bukan itu maksudku, kau salah paham," balas Lovely dengan wajah malunya.
"Jangan malu dan jangan berbohong padaku, kau mengatakan itu dari dasar hatimu yang terdalam bukan. Tapi asal kau tahu saja aku memang tampan sejak lahir," ucap Putera menyombongkan diri.
"Perkataanmu itu membuatku jadi ingin muntah saja," balas Lovely.
Putera terkekeh dan mencubit gemas hidung istri kecilnya. "Kau menggemaskan, tidak ku sangka aku malah menyukai wajah kesalmu itu."
Lovely menghela nafas panjang, tapi entah mengapa dia merasa senang melihat Putera tertawa dan menggodanya seperti itu.
...***...
"Ini laporanmu sudah selesai ku periksa, ada beberapa kesalahan disini dan perbaikilah. Setelah itu aku akan mengajakmu makan siang di luar," ucap Putera sambil menyodorkan berkas pada Lovely yang masih duduk dipangkuannya.
"Cium aku dulu," balas Putera dengan seringai tipis diwajahnya.
Lovely memutar bola matanya malas, mau tidak mau dia mencium pipi suaminya itu dengan cepat. "Sudah! Sekarang biarkan aku pergi dari sini," ucapnya lalu berdiri.
Putera tersenyum dan memandangi Lovely dari atas hingga ke bawah. "Kau cantik sekali," pujinya.
"T-terima kasih," jawab Lovely malu-malu. Walau dia kesal dengan tingkah Putera sehari-hari, namun suaminya itu sekarang sangat tahu cara menyenangkan hati seorang wanita.
Entah ia belajar darimana, tapi seiring berjalannya waktu, Putera benar-benar telah mewarisi sisi romantis dari Tuan Dira ayahnya sendiri.
...----------------...
Perusahaan Peterson.
__ADS_1
Beberapa anggota kepolisian menggeruduk masuk ke dalam perusahaan milik Tuan Peterson, hanya untuk mencari keberadaan Alexander dan menyeretnya atas keterlibatan pria itu dalam kasus pembebasan serta keterkaitannya dengan kejahatan Leo beberapa waktu yang lalu.
Tuan Peterson yang melihat hal tersebut segera menghadang petugas kepolisian yang membawa anaknya secara paksa, karena ia yakin anaknya itu tidaklah bersalah sama sekali.
"Mengapa kalian membawa anakku begitu saja, hah!" sentak Tuan Peterson kepada semua polisi.
"Maaf Tuan, kami hanya menjalankan sebuah perintah penangkapan saudara Alex saja. Karena saudara Alex adalah seorang penjahat, dia menyuap penjaga penjara untuk membebaskan seorang narapidana dan terseret atas kasus penculikan anak kecil," tutur salah satu petugas, sambil menunjukkan selembar surat penangkapan Alex.
Tuan Peterson sangat murka dan menyambar kertas tersebut lalu membacanya dengan seksama. "Siapa yang telah melaporkan kasus seperti ini kepada anakku!" tanyanya membentak.
"Saudara Putera Mahesa Tuan," jawab petugas kepolisan lalu tetap meringkus Alex agar ikut ke kantor polisi.
Sedangkan Tuan Peterson meradang, saat mengetahui jika keluarga Mahesa mulai berbuat macam-macam dengannya. Dan hal tersebut membuat dirinya terancam malu teramat sangat, karena anak semata wayangnya ditangkap oleh polisi didepan banyak orang.
...----------------...
Mansion Peterson.
Nyonya Rosa terkejut saat mengetahui putranya ditangkap oleh polisi karena terlibat kasus kejahatan bersama dengan orang jahat.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Alex ternyata ditangkap atas dasar laporan dari Putera anak pertamanya dengan tuan Dira.
Wanita paruh baya itu lantas bergegas pergi ke kantor polisi untuk menanyakan segala sesuatu yang terjadi kepada anaknya itu.
...***...
Setibanya dikantor polisi, Nyonya Rosa segera bertemu dengan Alex dan juga suaminya yaitu tuan Peterson.
"Dasar!! Lihatlah ulah anak pertamamu itu, dia berani membuat tuduhan yang bukan-bukan kepada anak kita!" bentak Tuan Peterson dan melemparkan kertas berisi laporan penangkapan Alex ke wajah istrinya.
Nyonya Rosa mengutip kertas tersebut dan terbelalak, karena yang dikatakan oleh suami keduanya sangatlah benar. "Tapi apa alasan dia melakukan hal tersebut?" tanyanya.
"Mana aku tahu, yang jelas aku tidak terima dengan perlakuannya terhadap Alex! Dan kau juga harus bertanggung jawab dengan kasus ini, karena anak pertamamu itu menyebabkan anakku jadi masuk penjara!" geram Tuan Peterson menatap tajam Nyonya Rosa.
.
__ADS_1
.
Bersambung.