Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 61. Suster Vany.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Sebuah pesta pernikahan sederhana tengah digelar di dalam sebuah Mansion, suasana suka cita begitu kental terasa. Terlebih bagi pasangan pengantin baru yang sudah di bilang tidak muda lagi.


Mereka berdua begitu bahagia, karena telah menemukan teman hidup dan tidak akan mengalami kesendirian lagi.


Tidak ada bedanya dengan mereka, pasangan Lovely dengan Putera tidak kalah bahagianya.


Dimana setelah mereka itu mendapatkan hak masing-masing sebagai pasangan suami istri, kedua insan tersebut semakin terlihat mesra saja.


Seperti saat sekarang ini, Putera dan Lovely sedang bermanja-manjaan ria di dalam kamar. Setelah puas bermain-main dan bertarung di atas peraduan.


"Terima kasih sayang, love you!" ucap Putera, lalu mengecup lembut pundak sang istri.


"Sama-sama," balas Lovely sambil mengelus rahang suaminya.


Mereka berdua lantas membersihkan diri di kamar mandi, lalu turun ke bawah untuk ikut makan malam bersama dengan orang tua sekaligus mertua mereka.


...***...


Setelah makan malam, dua pasangan suami istri itu berkumpul bersama diruang keluarga. Mereka kemudian saling bercengkrama, menunjukkan kebahagiaan dan juga kemesraan masing-masing.


Sungguh kebahagiaan yang sangat mereka impikan sejak lama, terlebih bagi Opa Mahesa sendiri.


Dimana pria tua itu sangat bersyukur sekali bisa melihat anak serta cucunya mendapatkan pasangan yang tepat dan berharap kebahagiaan akan selalu menyertai kedua pasangan tersebut.


Bahkan beliau sampai menangis haru, karena rasa bahagia sebab impiannya telah tercapai, walau impian terwujud disaat usianya yang sudah semakin senja.


Ia merasa semua beban hidupnya telah pergi dan siap meninggalkan dunia ini dengan tenang, kapanpun jika Tuhan sudah berkendak memanggilnya kembali pulang.


"Putera, Lovely. Bersiaplah malam ini, karena besok kita akan pergi bersenang-senang," ucap Tuan Dira.


"Kita akan pergi kemana Papa?" tanya Putera.


"Ikutlah kami berbulan madu," balas Tuan Dira lalu menoleh dan menatap Ibu Diana yang menunduk malu-malu.


"Benarkah?" tanya Lovely antusias.


"Tentu saja benar," jawab Tuan Dira yakin.


Lovely merasa senang, tapi Putera lebih senang lagi. Karena dia akhirnya bisa bersenang-senang dengan istrinya itu, tanpa ada perasaan menahan nafsu atau ragu-ragu lagi.


Ia juga senang karena kepergian kali ini seperti sedang mengantikan bulan madu mereka waktu lalu bersama Lovely, yang tidak berarti sama sekali.

__ADS_1


Seketika terlintas di dalam pikiran pria itu dan otak kotornya telah traveling kemana-kemana, walau hanya seputaran kamar saja bersama dengan sang istri.


Putera menyeringai tipis dan menatap Lovely, lalu berbisik di belakang telinganya. "Siap-siaplah sayang, isi tenagamu yang banyak. Karena kita akan bermain sampai pagi," ucapnya penuh maksud sekali.


Membuat Lovely langsung tersedak nafasnya sendiri, ia refleks mencubit pipi Putera yang telah berani berkata seperti itu di depan banyak orang.


Ibu Diana dan Tuan Dira hanya tersenyum melihat anak menantu mereka sama-sama merasakan cinta dan kebahagiaan.


"Kalian ingin pergi, lalu bagaimana dengan aku?" tanya Ron tiba-tiba.


Semua orang segera menatap bocah kecil yang sedang duduk menonton tv.


"Ron sama Opa saja ya, temani Opa disini," ucap Opa Mahesa membalas.


Ron menggeleng, "Tidak mau, Ron takut ditinggal sendirian," jawab anak itu. Karena selain dia tidak ingin di tinggal sendiri, Ron juga takut tinggal bersama dengan orang asing.


"Nanti Opa akan belikan kamu mainan yang banyak, belikan makanan dan es krim. Apa saja yang Ron minta, nanti Opa belikan." balas Opa membujuk.


"Bagaimana kalau Ron tersesat di rumah ini," balas Ron menatap sekeliling rumah besar tersebut.


"Papa, biarkan saja Ron ikut bersama kami." Ibu Diana segera menyela pembicaraan saat melihat Ron berubah sedih.


"Sudah jangan dipikirkan Diana, masalah Ron biar Opa yang urus. Ron masih terlalu kecil, Opa takut dia akan kelelahan selama perjalanan nanti. Jadi lebih baik dia disini saja dan Opa juga ingin kalian bisa leluasa bersenang-senang disana nanti," balas Opa Mahesa.


"Benar, lagipula banyak orang dirumah ini dan juga banyak asisten rumah. Dia tidak akan kekurangan apapun, semua kebutuhan Ron akan terpenuhi disini," ucap Tuan Dira menimpali kemudian memangku Ron.


"Papa dan Mama hanya pergi sebentar ya sayang, nanti setelah pulang kita bisa bersama lagi." Ibu Diana membelai wajah putranya agar mengerti.


Ron mengangguk pasrah dan menuruti semua keinginan orang-orang dewasa tersebut. "Mereka mau apa sih? Sampai anak kecil seperti diriku tidak boleh ikut," batin bocah itu bertanya-tanya.


...***...


Keesokan paginya.


Martin datang ke rumah Tuan Dira, sesaat mendapat panggilan dari atasannya untuk menjaga seorang anak kecil.


"Nah Ron sayang, ini Paman Martin. Nanti Paman Martin akan menjaga dan mengajakmu bermain," ucap Putera kemudian menyerahkan Ron.


"Hai Ron, kau anak yang tampan. Apa sudah siap bersenang-senang hari ini bersama Paman hem?" bujuk Martin. Namun Ron diam saja seperti mengambek.


Ibu Diana menghela nafasnya dan menatap Tuan Dira yang kini telah menjadi suaminya. "Dira, apa sebaiknya kita ajak saja dia," ucapnya tidak tega melihat Ron sedih.


"Sudah jangan pikirkan Ron, Opa dan Martin bisa menjaga dia." Opa Mahesa kemudian memutar balik badan Ron agar kembali masuk ke dalam rumah, sementara matanya memberi kode kepada anak serta menantu agar segera berangkat.

__ADS_1


Ron nampak kurang senang, terlebih melihat seluruh keluarganya akan pergi bersenang-senang tanpa dirinya. Lalu air matanya mulai tergenang.


"Ron mau ikut!" pecah lah tangisan anak itu saat meihat ibunya menaiki sebuah mobil dan pergi keluar dari Mansion.


Kemudian semua orang di dalam Mansion segera membujuk dan menenangkan Ron agar tidk menangis lagi, termasuk Martin yang sudah pusing karena dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengasuh seorang anak kecil.


Opa Mahesa merasa bersalah melihat cucu kecilnya menangis, ia segera memanggil suster wanita berpengalaman agar bisa mengurus Ron dengan baik.


...***...


Sudah hampir satu jam Ron menangis, tangisannya baru berhenti ketika suster panggilan Opa Mahesa telah tiba ke rumah tuan Dira.


Suster itu berhasil menenangkan Ron dan membujuknya untuk bermain, bahkan Ron sedang tidur siang hanya karena belaian sang suster.


Dan hal tersebut membuat semua orang merasa senang dan lega, serta kagum dengan sang suster cantik yang bernama Vany.


"Terima kasih Sus, jika tidak ada anda mungkin kami sudah kewalahan mengurus anak itu. Kau begitu pandai mengambil hati anak kecil, tidak salah kami memanggilmu kesini," ucap Opa Mahesa bersyukur sekaligus memuji.


"Jangan terlalu meninggikan saya Tuan, karena sejatinya itu memang sudah menjadi tugas saya," jawab sopan suster Vany.


"Tidak disangka Suster Vany begitu rendah hati, apa sudah punya pacar?" tanya Opa Mahesa.


Suster Vany tersenyum dan menggeleng perlahan. "Belum Tuan," balasnya menunduk.


Opa Mahesa melirik Martin yang kedapatan curi-curi pandang serta mesam-mesem saja sedari tadi sejak kedatangan suster Vany, lalu timbul ide jodoh-jodohan sang kakek tua itu.


"Kalau begitu sama seperti pria itu, dia namanya Martin. Dia masih muda dan masih belum punya pacar," ucap Opa Mahesa menunjuk Martin.


Seketika itu pula pria tidak tahu menahu itu jadi tersedak ludahnya sendiri dan menjadi salah tingkah.


"Ah Tuan besar, apa yang sedang anda bicarakan. Kenapa jadi saya yang ditunjuk-tunjuk seperti itu," pecicilan lah jadinya Martin saat di tatap suster Vany yanh tersenyum padanya.


Opa Mahesa tersenyum. "Sus, saya serahkan tugas menjaga Ron padamu dan kau akan menjaga Ron bersama dengan pria itu."


Suster Vany mengangguk mengerti. "Baik Tuan Besar," ucapnya.


Kemudian Opa Mahesa meninggalkan kamar dimana Ron sedang tidur, lalu membiarkan Suster Vany dan Martin berdua yang menjaga Ron selama Ibu Diana-Tuan Dira dan Lovely-Putera menghabiskan liburan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2