
Di sebuah bar.
Leo bergegas mengunjungi Alex, setelah mendapat panggilan darinya. Pria lintah darat itu segera mendaratkan bokonggnya dan duduk berhadapan dengan sang bos di satu meja yang sama.
"Bos Alex, kau memanggilku kesini. Ada hal mendesak apa?" tanya Leo.
"Leo, Lovely dan keluarganya sudah tahu kalau kau telah bebas dari penjara. Karena itulah Lovely akhirnya bisa kembali lagi ke rumah suaminya," balas Alex.
"Mereka sudah tahu, tapi siapa orang yang berani memberitahu mereka tentang kebebasanku?" tanya Leo gemas.
"Siapa lagi kalau bukan si Marsan keparatt itu! Dia datang ke rumah mantan istrinya dan memberitahukan tentang kebebasanmu padanya," balas Alex.
Leo meninju meja di depannya, karena merasa kesal dengan Pak Marsan yang selalu saja sukses membuat dirinya marah besar.
"Dasar Marsan breng-s*ek! Sekali lagi dia telah berbuat kesalahan, aku benar-benar tidak akan memaafkan pengkhianatannya itu. Ergh!!" Leo membanting apapun disekitarnya karena emosi yang meluap.
"Tenang Leo, duduklah." Alex meminta Leo untuk duduk kembali.
"Maaf bos Alex, aku tidak bisa mengendalikan emosiku jika mendengar nama Marsan. Dia sudah ku anggap sebagai paman sendiri, tapi balasannya itu padaku sangatlah menyakitkan. Aku benar-benar tidak akan melepaskannya kali ini," ucap Leo geram.
Alex menuangkan wine untuk Leo. "Marsan sangatlah licik, dia juga hebat dalam melarikan diri. Sekarang berhentilah mengejar dia, tapi pikirkanlah cara memancingnya agar ia mau keluar sendiri dari tempat persembunyiannya."
Leo seketika mendapatkan pencerahan, lalu menarik senyum karena membenarkan perkataan Alex. "Kau benar bos, tapi bagaimana caranya kita bisa memancing dia agar keluar?"
"Saat aku menguping pembiacaraan Lovely dengan ibunya, aku merasa jika Marsan masih peduli dengan keluarganya itu. Cobalah kau cari siapa yang bisa dijadikan umpan untuk membuat Marsan keluar," balas Alex.
"Kau begitu pintar bos, walau keluarga itu telah terpisah. Tapi ikatan anak dan ayah masih ada diantara mereka, menurutku membawa Lovely ke tanganmu memang cukup menyulitkan. Selain karena dia bisa memberontak kapan saja, dia juga sekarang telah tinggal kembali di rumah suaminya," balas Leo kemudian menatap Alex yang menatap dirinya juga.
"Hmm, lanjutkan."
Leo mengangkat cangkir wine nya. "Adiknya Lovely, dia Ron. Dia masih kecil dan mudah sekali dibujuk oleh sebuah mainan, mungkin dia bisa dijadikan umpan untuk menarik perhatian Marsan agar keluar."
Alex tersenyum dan menyesap winenya perlahan. "Bukan hanya Marsan saja yang akan keluar, tapi Lovely juga akan pergi untuk menyelamatkan adik tercintanya."
"Benar, benar sekali!" seru Leo.
Kemudian mereka saling bersulang dan akan melancarkan rencananya itu besok pagi, dimana Ron akan dijemput oleh Leo di depan sekolahnya.
...----------------...
Mansion Putera.
Putera merasa senang sekali, karena Lovely akhirnya mau tinggal bersama di rumahnya lagi. Walau wanita itu masih belum dapat menerimanya dengan sepenuh hati.
Hal itu membuat Putera berusaha keras untuk merebut hati istrinya sendiri, mulai dari tidak mengekangnya dengan peraturan aneh-aneh, sampai tidur dikamar terpisah kembali seperti sebelumnya.
Pria itu bahkan rela tidak masuk ke kantor demi memanjakan istrinya yang baru beberapa saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Putera mencoba memasak makan siang untuk Lovely dengan dibantu oleh chef ahli dan juga Bi Ami tentunya.
"Chef, menurutmu makanan apa yang paling disukai oleh wanita?" tanya Putera seperti kepompong kosong.
"Wanita muda biasanya menyukai hidangan pembuka yang manis, serta makanan mewah yang tidak terlalu berat," balas chef.
"Bisakah kau mengajariku membuat salah satu desert atau hidangan penutup yang enak," ucap Putera.
"Tentu saja Tuan, pertama-tama anda harus mencuci tangan terlebih dahulu dan pakailah apron agar tidak mengotori baju anda," balas si Chef.
"Oh begitu, baiklah." Putera pun patuh kemudian memakai celemek.
Selama di dapur pria itu benar-benar menjadi seorang murid, belajar hal baru yang belum pernah dia lakukan selama ini.
Memasak untuk sang istri.
Menjijikkan memang, tapi itu kan dulu, saat kondisi Putera sebelum mengenal kata cinta.
Namun kali ini pria itu benar-benar berubah, karena ia rela melakukan apapun demi menyenangkan hati Lovely dan berharap agar istrinya itu merasa nyaman tinggal bersama dengannya di rumah.
...***...
"Lovely, ayo turunlah. Kita makan siang bersama," ajak Putera.
"Kau duluan saja aku akan menyusul nanti," balas Lovely.
Lovely menghela nafasnya panjang. "Aku sedang memikirkan kebebasan Leo, bagaimana dia bisa keluar dengan mudah dari penjara begitu saja dan siapa orang yang telah membantunya keluar dari sana?" balas Lovely tak habis pikir.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas orang yang telah membantu Leo keluar dari penjara mempunyai maksud tertentu," jawab Putera.
"Benar, tapi apa tujuan orang itu membantu Leo dan ada satu hal lagi yang menjadi beban pikiranku. Bagaimana jika mereka sampai melukai keluargaku?" Lovely merasa cemas dan khawatir akan keselamatan keluarganya.
Putera mendekat dan duduk di sisi Lovely. "Tenanglah, jangan cemaskan hal itu. Aku akan membantu menjaga mereka berdua, aku telah meminta orang-orang ku untuk berjaga disekitar mereka. Berjaga di rumahmu dan juga di sekitar toko bunga," balasnya menenangkan.
"Terima kasih, setidaknya kecemasanku sedikit berkurang. Tapi bagaimana jika mereka mencari cara lain untuk mencelakai mereka?" tanya Lovely.
"Ya kita juga akan mencari cara lain dan memecahkan solusinya jika terjadi sesuatu kepada mereka," balas Putera.
Lovely tersenyum dan termenung kembali.
"Kenapa masih melamun? Apa yang masih mengganjal di pikiranmu?" tanya Putera.
Lovely mendesaah kecil. "Aku hanya tidak menyangka kalau Mama masih berhubungan dengan Papa dan aku yakin semua kejadian ini ada sangkat pautnya dengan pria menyebalkan itu," balasnya kecewa.
"Lovely, aku tidak tahu apapun tentang hubungan keluargamu. Tapi dari yang ku lihat, peringatan dari Papa Marsan ada sedikit kepeduliannya terhadap keluarga," balas Putera.
"Kau benar, tapi aku masih tidak bisa memaafkan perilaku jahatnya," balas Lovely.
__ADS_1
"Sudahlah jangan terlalu banyak pikiran, sekarang mari kita makan siang. Aku membuatkan sesuatu untukmu," ucap Putera malu-malu.
"Kau membuatkan apa untukku?" tanya Lovely.
"Ada, sekarang turunlah. Jawabanmu ada di atas meja makan nanti," balas Putera tersenyum lalu berdiri dan keluar dari kamar Lovely.
"Ada-ada saja, apa sih yang dibuat oleh pria itu," batin Lovely penasaran.
"Ah sudahlah, apa salahnya juga menuruti keinginannya. Lagipula aku juga belum makan apapun dari pagi," gumam Lovely.
Lalu wanita itu pun turun, menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang kosong.
...***...
Setibanya di ruang makan, Lovely menatap Putera yang sudah memakai celemek. Ada rasa penasaran menimpah kepalanya, disaat suaminya itu senyam-senyum sendiri menunggu kehadirannya.
"Dia kenapa?" batin Lovely aneh.
"Duduk disini, hari ini aku akan melayanimu makan siang dan menggantikan posisi Bi Ami selama di meja makan bersamamu," ucap Putera membuat Lovely seketika tersedak ludahnya sendiri.
"K-kenapa kau repot-repot begini, tidak perlu aku bisa sendiri," balas Lovely menolak karena risih.
"Jangan menolak semua ini istriku yang cantik, kalau perlu aku juga yang akan menyuapimu makan," ucap Putera membuat Lovely merinding disaat itu juga.
"Apa tujuanmu melakukan semua ini padaku Putera, apa kau berpikir aku akan luluh dan menerimamu dengan mudah begitu saja heh?" Lovely mencebik.
"Jangan terlaku banyak berpikir Lovely, aku takut kepala kecilmu itu akan meledak karena terlalu banyak berpikir." Putera menyendokkan beberapa menu di piring Lovely.
"Perubahanmu sangat aneh dan aku rasa aku tidak salah bertanya itu semua kepadamu," balas Lovely.
Putera tersenyum dan tidak menghiraukan ocehan dari istrinya sendiri, lalu tanpa ragu Putera menyumpal mulut Lovely yang tidak bisa berhenti bicara dengan sesuap makanan.
"Huft!"
"Bagaimana apakah makanan ini enak," ucap Putera tersenyum sembari menyipitkan kedua matanya.
Sedangkan Lovely terbelalak ketika Putera menyuapinya makan. "E-enak, eh! Tidak maksudku lumayan," ucapnya sambil mengunyah makanan tiada henti.
Putera terkekeh. "Bagus kalau begitu teruslah makan, aku akan menyuapimu sampai kenyang."
Lovely menolak, tapi sekeras apapun wanita itu menolak. Putera juga tidak mau mengalah memberikan perhatian.
.
.
Bersambung.
__ADS_1