
"Siapa pria yang berani mengancam dan mengertakmu, hem?" tanya Putera di muka pintu.
Lovely beranjak dari tempat duduknya. "Pak Putera."
"Apa yang kau katakan tadi, beritahu padaku. Apa ada pria yang berani menganggumu?" tanya Putera.
Lovely menggeleng dan tidak berani menjawab jujur, karena akan menambah kerumitan di dalam hidupnya sendiri. Apalagi dia tidak ingin sang ibu juga terbarut-barut masalah dengan Leo si renternir.
"Tidak ada yang berani berbuat seperti itu padaku," balas Lovely.
"Apa kau yakin?" tanya Putera tidak percaya.
Lovely mengangguk. "Benar, tidak ada."
"Lalu kenapa kau berkata kalau semua pria selalu saja memaksa dan mengertak. Apa kau sedang mengejekku?" desak Putera.
"Ah tidak! Aku tidak sedang mengejek siapapun. Sekarang lupakanlah itu dan beritahu aku untuk apa Bapak datang kesini? Toko bungaku sebentar lagi akan tutup," balas Lovely mengalihkan pembicaraan.
"Jangan katakan kau lupa dengan undangan makan malam kita, hem? Eh tidak maksudku, undangan makan malam dengan Papaku." Ralat cepat Putera.
Lovely terdiam dan berusaha mengingat-ingat undangan tersebut dan ia menepuk jidatnya. "Ah iya! Maaf Pak. Aku lupa," balasnya sembari menyengir.
"Bisa-bisanya kau melupakan undangan penting dari orang terhormat seperti diriku ini, apa kau anggap ajakan ku ini tidak berarti hah!" tegas Putera.
"Maaf Pak, bukan maksudku lupa begitu. Hanya saja toko bungaku ini, sejak dari pagi tadi ramai sekali pengunjung. Jadi aku belum sempat bertukar pakaian," balas Lovely mengelak.
Putera berdecih, entah wanita itu telah pikun atau dirinya yang memang datang terlalu cepat. Tapi satu hal yang pasti dirinya tidak suka menunggu terlalu lama.
Alhasil ia segera merampas tangan Lovely dan mengajaknya untuk pergi tanpa harus bertukar pakaian terlebih dahulu.
"Pak Putera, aku belum mandi dan bertukar pakaian!" ucap Lovely.
"Tidak perlu, waktuku tidak banyak!" jawabnya tegas.
"T-tapi toko ku, toko ku! Pak tolong berhenti dulu, toko ku belum di kunci!" hardik Lovely.
Putera berhenti menarik tangan Lovely dan menengok ke belakang, ia segera melepaskan cekalan tangannya saat tersadar dirinya begitu lancang menarik tangan seorang wanita.
"Kenapa aku bisa sampai memegang tanganmu ini hah! Sekarang cepatlah tutup toko kecilmu itu! Aku tidak ingin mereka menunggu kita terlalu lama," titah Putera.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan segera menutup tokoku!" sahut Lovely. Lalu bergegas menutup toko bunganya sambil mengumpat kesal.
"Dasar lelaki, hanya bisa memaksa saja. Jika bukan karena ajakan Paman Dira, sumpah demi apapun aku tidak akan sudi ikut dengan pria menyebalkan seperti dirimu itu!" gerutunya kesal.
"Hei, jangan mengerutu. Jika sudah, bergegaslah!" ketus Putera.
Lovely menarik senyum ala kadarnya dan berlari menghampiri Putera. "Iya aku sudah selesai."
"Bagus, sekarang naik ke mobil!" titah Putera.
Lovely mengangguk dan mengekor di belakang Putera, sebelum akhinya merekq masyk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Pakai safety belt mu," ucap Putera sembari melirik ke arah Lovely dengan ujung ekor matanya. Seperti berharap ada yang meminta pertolongan darinya.
Lalu pria itu seketika berdecih saat melihat wanita disebelahnya ternyata bisa memakai sabuk pengaman tanpa bantuan dirinya.
"Kau pikir aku wanita norak yang tidak mengerti memakai benda lentur ini apa, heh!" batin Lovely menyoraki Putera yang telah salah menganggapnya tidak bisa apa-apa.
...***...
Sepanjang perjalanan Lovely teringat kembali ancaman dari Leo dan memikirkan kondisi sang ibu di rumah.
Ia pun merogoh benda pipih dari tas kecilnya dan mengirim pesan untuk menanyakan keadaan sang ibu.
Mama baik-baik saja, jangan lupa titip salam untuk Tuan Dira jika bertemu dengannya.
Lovely menghela nafas lega, ketika Leo tidak berlaku macam-macam kepada Ibunya, akan tetapi pesan berikutnya membuat Lovely mengeluarkan keringat dingin.
Ly, apa kamu yang membelikan mainan untuk Ron? Mama dapat paket isinya mainan semua, cuma nama pengirimnya tidak ada. Hanya tertulis untuk Ron dari "L". L itu nama depanmu kan Ly?
Lovely menelan ludahnya kasar. Nama depannya memanglah L, tapi itu juga bisa berarti nama inisial orang lain dan Lovely menduga itu adalah Leo.
"Pria licik itu mengincar Ron juga, awas saja dia jika berani menyentuh adik dan juga mamaku!" batin Lovely merasa kesal.
"Kau kenapa?" tanya Putera merasa aneh dengan tingkah laku Lovely.
"Tidak ada Pak, aku hanya gugup karena kalian mengajakku makan malam di restoran mewah ini. Tapi seperti yang kau lihat aku seperti gadis kampungan," balas Lovely sembari menatap penampilannya dari tengah hingga ujung kaki.
"Benar, kenapa tidak terpikirkan olehku. Bagaimana kalau kita beli beberapa baju terlebih dahulu untuk kau bertukaran pakaian, setelah itu kita masuk ke dalam restoran ini," ucap Putera.
Putera berdecak. "Ck! Tidak perlu bayar!" tegasnya. Kemudian menarik tangan Lovely untuk ikut dengannya mencari butik.
Lovely hanya bisa menurut dan mengikuti kemana langkah kaki pria tegap itu membawanya.
...***...
Setibanya di butik, Putera melepaskan genggaman tangannya dan meminta Lovely untuk memilih sendiri pakaian mana yang ingin ia kenakan.
Tidak pernah berpacaran atau dekat dengan seorang wanita sebelumnya, membuat pria itu menjadi tidak peka sama sekali dan tidak tahu bagaimana cara menyenangkan hati perempuan.
"Terserah kau saja, waktumu hanya lima menit." Itulah yang hanya bisa di katakan Putera kepada Lovely.
"Apa! Lima menit? Dia pikir aku sedang ikut wajib militer?" gerutu Lovely kesal.
"Jangan banyak mengeluh, cepatlah pilih!" titahnya.
"B-baiklah," balas Lovely sembari menggerutu.
...***...
Dua puluh menit kemudian.
"Kurang ajar! Ini sudah dua puluh menit, tapi dia masih belum muncul juga." Kesal Putera sembari menatapi jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Ia bangkit dari tempat duduknya dan sibuk berjalan kesana kemari, hanya karena menunggu Lovely yang sedang bertukar pakaian.
Bahkan gelisah pria itu melebihi gelisah seorang suami yang sedang menunggu lahiran seorang bayi.
Ponselnya berdering terus menerus dari sang ayah, menambah kegemasan Putera akan lamanya menunggu seorang wanita yang sedang bertukar pakaian.
"Dia sedang apa sih!" gemasnya sembari meremas ponsel, lalu menjawab panggilan tersebut.
"Halo Papa," jawab Putera lewat ponselnya.
"Putera, kalian ada dimana?" tanya Tuan Dira.
"Maaf, aku sedang menunggu Lovely bertukar pakaian. Jadi kemungkinan kami berdua akan datang terlambat," jawab Putera.
"Ya sudah tidak apa, tapi Putera encoknya Opa tiba-tiba kambuh. Jadi Papa harus segera mengantar Opa pulang ke rumah," ucap Tuan Dira.
"Jadi?" Putera mengerutkan dahi.
"Jadi, kalian makan malamlah berdua. Papa tidak bisa menemani kalian berdua," jawab tuan Dira lalu menutup panggilan.
"T-tapi! Hei, Pah kenapa dimatikan!"
"Oh shitt!! Mereka seperti sengaja meninggalkanku begitu saja berdua dengan dia," umpat Putera.
Akhirnya pria itu terjebak, akibat dari persekongkolan tuan Dira dan juga Opa Mahes yang memang sengaja membuatnya agar lebih dekat dengan Lovely.
Mau tidak mau, Putera akhirnya melakukan makan malam bersama dengan Lovely berdua saja dan yang lebih menyedihkan lagi bagi dirinya adalah, bahwa ia tidak bisa membatalkan makan malam itu karena sudah dipesan dan telah dibayar lunas oleh papanya sendiri.
...***...
Beberapa saat kemudian, Lovely keluar juga dari butik, lalu bergegas menghampiri Putera dan tidak lupa ia meminta maaf karena sudah lama membuat pria itu menunggu dirinya.
"Maaf Pak, aku kelamaan memilih baju tadi. Lalu di tempat ganti pakaian juga harus mengantri, jadi tidak bisa cepat bertukar pakaian," ucap Lovely menjelaskan.
Putera memandangi Lovely sejenak, ia tidak dapat menyangkal jika wanita yang sedang berdiri dihadapannya itu memanglah cantik dan sempurna.
Akan tetapi mengingat perkataan orang asing minggu lalu, membuat dirinya tengah waspada akan kecantikan Lovely.
Dia berpikir bahwa wanita ini bisa saja merugikan dirinya suatu hari nanti, walau ia belum menemukan bukti yang cukup kuat mengenai perkataan orang asing tempo lalu.
"Ya sudah tidak apa-apa. Ayo kita berangkat sekarang," ajak Putera.
"Baiklah," balas Lovely patuh.
.
.
Bersambung.
__ADS_1