Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 25. Menerima.


__ADS_3

Lovely mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko, semua barang-barangnya telah hancur berantakan akibat perkelahian kedua pria tangguh tadi.


Ia menghela nafas panjang dan berusaha untuk terus bersyukur, karena walau bagaimana pun hancurnya seisi toko miliknya itu, itu masih lebih baik daripada ia harus kehilangan sesuatu yang berharga pada dirinya.


Lovely kemudian menatap wajah Putera yang babak belur. "Terima kasih karena telah menolongku, maaf karena diriku kau jadi terluka seperti itu," ucapnya merasa bersalah.


"Sama-sama, tidak masalah," balasnya sembari meringis menahan sakit.


Lovely menggenggam tangan Putera dan mengajaknya untuk duduk. "Tunggu disini, lukamu harus segera diobati." Lalu bergegas mengambil kotak P3K nya.


...***...


"Tahan sebentar, mungkin ini sedikit sakit," ucap Lovely lalu mulai membasuh luka agak terbuka pada wajah Putera dengan kapas dan cairan antiseptik.


"Ssh ..." ringis Putera.


Lovely menjeda sejenak. "Maaf, apa sakit sekali?" tanyanya.


Putera menggeleng. Tidak, hanya sedikit perih saja. Lanjutkanlah," balasnya.


Lovely mengangguk, lalu melanjutkan kembali memberi perawatan pada luka di sekitar wajah Putera.


Ini kedua kalinya ia menyentuh wajah pria tampan itu, walau menyebalkan saat pertama kali bertemu dan bersumpah tidak ingin melihat wajahnya lagi.


Akan tetapi, karena ia telah datang dan berani menolong dirinya disaat sulit. Lovely perlahan menyingkirkan rasa kesal itu dan berusaha sesabar mungkin merawatnya, sebagai rasa terima kasih dan bersyukur atas pertolongan dirinya.


Sedangkan Putera selama menerima pengobatan pada wajahnya itu, ia kembali memandangi wajah Lovely dari jarak dekat dengan seksama.


Hidungnya yang mancung, bola mata yang indah, wajah mulus cerah berseri, bibir merah muda begitu ranum dan sensual. Membuat dirinya menjadi betah berlama-lama menatap pemandangan indah tersebut.


Putera kembali meringis dan refleks mencekal pergelangan tangan Lovely, saat luka pada sudut bibirnya kembali tersentuh oleh tangan lembut itu. "Maaf," ucapnya lalu melepaskan cekalan tangannya.

__ADS_1


"Tidak apa," balas Lovely. Kemudian melanjutkan perawatan dan Putera kembali memandangi wajah Lovely.


Ini kali keduanya pria itu merasa tertarik dengan wanita yang menurutnya adalah makhluk paling berbahaya di dunia ini.


Namun, karena seringnya berinteraksi dan takdir yang selalu membuat ia menolong wanita itu disaat yang tepat, membuat Putera semakin menyingkirkan rasa bencinya kepada wanita walau belum sepenuhnya percaya.


"Sudah selesai," ucap Lovely sembari membereskan peralatan medis rumahan sederhananya.


"Terima kasih," balas Putera.


Lovely menghela nafas panjang dan kembali menatapi toko bunganya yang hancur. Ia pun bernjak dari tempat duduknya, lalu membereskan sisa-sisa bunga maupun barang-barang yang masih bisa diselamatkan.


"Aku akan mengganti semua kerugian atas kerusakan pada tokomu ini," ucap Putera.


Lovely menggeleng. "Tidak apa, aku tidak ingin merepotkanmu lebih banyak lagi," balasnya.


"Jangan menolak pemberianku, semua barang disini telah hancur akibat diriku. Lagi pula memulihkan toko ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Kalau tidak menerima bantuan dariku, bagaimana kau akan berjualan nantinya," ucap Putera.


"Kau benar, tapi aku tidak ingin menerimanya secara gratis," balas lovely.


"Terima kasih, kau sungguh murah hati. Kau juga telah menolongku sebanyak dua kali, enrah apa yang terjadi padaku kalau saja kau tidak datang tepat waktu. Aku tidak tahu bagaimana caraku membalas semua pertolonganmu itu," balas Lovely.


"Apa kau ingin tahu bagaimana caranya membalas semua pertolonganku ini?" tanya Putera.


"Benar, jika ada sesuatu yang bisa ku lakukan untuk membalas semua kebaikkan mu ini, maka aku akan siap melakukan apapun itu," balas Lovely.


Putera tersenyum. "Kalau begitu sanggupilah permintaanku tadi. Menikahlah denganku," jawabnya cepat.


Lovely membulatkan kedua matanya. "Tidak mau apakah tidak ada cara lain lagi? Seperti bekerja denganmu atau memberi hadiah berupa barang begitu," balasnya menolak.


Putera berdecih. "Sudah ku bilang kita hanya menikah diatas kertas saja dan selama masa pernikahan itu terjadi, aku bersumpah tidak akan berbuat macam-macam denganmu. Lagi pula asal kau tahu saja, aku juga melakukan pernikahan ini karena terpaksa," balasnya.

__ADS_1


"Kalau tidak ingin menikah, kenapa tidak langsung menolaknya saja," balas Lovely.


"Kau tidak mengerti posisiku, aku terjebak. Papa dan Opa memaksaku untuk segera mencari pasangan. Karena jika tidak, maka mereka sendiri yang akan turun tangan mencarikan pasangan untukku. Aku tidak ingin perjodohan, aku juga tidak ingin tinggal bersama dengan wanita asing yang tidak aku kenal," balas Putera.


"Aku juga wanita asing, lalu kenapa memilih diriku?" tanya Lovely.


"Karena kau berbeda dengan kebanyakan wanita lain yang pernah aku temui, kau juga sama seperti ku, yaitu tidak punya keinginan untuk menikah. Jadi aku memutuskan untuk memilihmu," balas Putera.


"Iya aku memang tidak ingin menikah, tapi bukan berarti aku bisa disamakan denganmu. Lalu bukankah lebih baik kau mencari pendamping yang tulus mencintaimu," balas Lovely.


"Aku tidak percaya cinta dan aku membencinya, tapi bukan itu saja. Setidaknya aku bisa menjalani hari-hari seperti biasanya dengan tenang tanpa paksaan dari seorang wanita yang menginginkan macam-macam kepadaku," balas Putera.


"Kalau kau tidak percaya dengan cinta dan bahkan membencinya, lalu bagaimana bisa ada wanita yang tenang saat tinggal bersamamu nanti. Kau pasti akan menyiksanya dan menyuruh wanita itu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal," balas Lovely.


"Kau banyak protes, sekarang terima saja permintaanku itu dan bantulah aku keluar dari kerumitan ini. Aku berjanji semua hutang budimu padaku, akan ku anggap lunas dan aku tidak akan meminta hal yang lainnya padamu," ucap Putera.


"Aku akan membantu melunasi semua hutang Papamu, aku juga akan memperbesar toko bungamu ini dan setelah kau menikah denganku nanti, aku berjanji tidak akan menyentuhmu. Kita menikah hanya sebatas nama, agar kita berdua bisa keluar dari kesulitan ini. Kau mendapatkan kebebasan biaya dan aku juga mendapat kebebasan tekanan dari Papa dan Opa untuk menjalani hari-hari," ucapnya lagi.


Lovely menghela nafas panjang dan akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut. "Baiklah, aku setuju."


Putera tersenyum senang. "Terima kasih, baiklah besok aku akan menyiapkan perjanjian pernikahan kita dan aku akan menyuruh anak buahku membereskan semua kekacauan di dalam tokomu ini."


Lovely mengangguk cepat. "Iya, terserah kau saja," balasnya.


Putera merasa senang, tapi dia tidak tahu apa arti bahagia dalam hatinya itu. Entah bahagia karena berhasil menepati janji dan terbebas dari tekanan mencari pasangan oleh Tuan Dira atau dia memang bahagia karena telah menemukan pasangan yang sesuai untuk hatinya.


Sedangkan Lovely merasa rancu dalam dirinya sendiri, entah dia harus bersyukur atau tidak. Disatu sisi dia bisa tenang dari ancaman penagih hutang serta dapat mewujudkan impiannya melalui Putera atau dia harus bersyukur karena telah mendapatkan pasangan dalam hidupnya.


Akan tetapi, apakah hubungan mereka itu akan berlangsung awet dan tahan lama, disaat keduanya menjalani hubungan pernikahan hanya sebatas di atas kertas, karena unsur keterpaksaan akan kondisi hidup saja, serta menikah tanpa didasari oleh rasa cinta.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2