Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 17. Sedikit demi sedikit.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Sesuai janji dan juga tanggung jawabnya terhadap peraturan akan sanksi yang telah di tetapkan untuk dirinya kemarin di kepolisian.


Putera datang pagi-pagi sekali ke toko bunga Love's Florist bersama dengan para pelanggar kejahatan lainnya.


Pria itu menjalani masa hukumannya dengan melakukan pelayanan masyarakat berupa kerja bakti selama satu minggu di kawasan yang terdampak perkelahian.


Putera bersama dengan beberapa orang dari dinas pekerjaan umum, memasang beragam fasilitas baru.


Seperti lampu jalan yang sempat rusak, tepi jalan yang hancur serta bangku yang sudah tidak layak pakai dan beberapa pagar pembatas jalan yang penyok dimana-mana.


Entah bagaimana perkelahian itu bisa menimbulkan beberapa kerusakan parah diberbagai sudut, namun satu hal yang pasti, dia akan bertanggung jawab secara penuh sampai semuanya kembali pulih dan berjalan normal seperti sedia kala.


Kegiatan tersebut membuat Putera menjadi pusat perhatian dari warga sekitar serta beberapa pejalan kaki yang melewati jalan tersebut.


Bagaimana tidak, jarang-jarang mereka melihat penampakan indah di depan mata, secara gratis sepuas mata memandang.


Seperti melihat berlian berkilau di antara tumpukan batu kerikil.


Seorang pria muda gagah nan tampan dengan tinggi badannya yang semampai. Berbadan tegap dan atletis, berpakaian rapi bergaya casual.


Dengan topi dan masker sebagai pelengkap penampilannya.


Ia beraktifitas dibawah sinar mentari pagi, berpanas ria dan berjemur di dekat tepi jalan, dengan memegang peralatan kebersihan di kedua tangannya.


Ibu Diana tersenyum melihat kerja keras Putera, ia segera memanggil pria itu dan meminta agar beristirahat sejenak untuk minum sesuatu di dalam tokonya.


"Putera, kesini Nak. Istirahatlah dulu!" sahut Ibu Diana dari depan tokonya.


Putera menoleh dan mengangguk. "Baiklah, sebentar lagi aku ke sana!" sahutnya.


Tak lama setelah itu, Putera menghentikan sejenak aktifitasnya dan mampir ke dalam toko bunga Lovely, hanya untuk sekedar memenuhi permintaan Ibu Diana sekaligus melepas dahaganya sehabis merapihkan fasilitas jalan.


...***...


Sesampainya di dalam toko, Ibu Diana segera menjamu Putera layaknya seorang tamu terhormat. Ia menyuguhkan beberapa cemilan serta minuman dingin untuk Putera seorang.


"Bibi, kenapa kau repot-repot menyediakan ini untukku," ucap Putera merasa tidak enak hati.


"Mengapa, apa kau tidak suka? Tidak apa-apa biar Bibi ganti," balas Ibu Diana.


Putera menahan Ibu Diana untuk membawa makanan yang telah tersaji dihadapannya. "Bukan itu Bibi, maksudku aku tidak ingin merepotkanmu saja."

__ADS_1


Ibu Diana tersenyum. "Tidak apa Nak, ini hanyalah makanan ringan. Tidak sebanding dengan perbuatanmu yang telah menyelamatkan putriku kemarin."


"Kau terlalu berlebihan Bibi," balas Putera.


"Sudah jangan banyak bicara, segera habiskan semua makanan ini," titah Ibu Diana.


"Baiklah, karena kau telah memaksaku. Aku akan menyantap semua makanan ini," balas Putera menurut.


Ibu Diana mengulum senyum. "Bagus, kalau begitu makanlah biar kenyang. Jika butuh sesuatu jangan sungkan meminta pada Bibi," balasnya.


Putera menarik senyum. "Baiklah, Bibi tidak ku sangka kau begitu baik hati."


Ibu Diana mengusap wajah Putera dan tersenyum. "Semua ibu di dunia ini memiliki hati yang baik," balasnya.


Seketika itu pula Putera terdiam dan meremas sendok dengan eratnya.


Semua ibu? Tentu saja tidak semuanya Bibi.


Begitulah yang ada di dalam pikiran dan juga di hati Putera yang telah terluka begitu lama.


"Nak Putera, Bibi tinggal dulu. Bibi harus membantu Lovely mengurus bunga di kebun belakang sana," ucap Ibu Diana sembari membawa peralatan berkebunnya.


"Baiklah," balas Putera.


...***...


Ia berjalan ke arah belakang toko itu dan menemukan Lovely beserta Ibu Diana sedang bersenda gurau bersama, sambil memegang beberapa bunga hasil kebun sendiri.


Putera terdiam sejenak sambil memandangi pemandangan menyejukkan di depan mata, yang baru pertama kali ia lihat di seumur hidupnya.


Ia melihat kedua makhluk ciptaan Tuhan yang bernama wanita sedang tertawa bersama begitu lepasnya, seperti tidak ada beban dalam hidup serta tidak ada rasa takut setelah kejadian kemarin.


Tanpa terasa Putera menarik senyumannya hingga melengkung, melihat apa yang sulit sekali untuk ia terima.


Seperti mengikis sedikit demi sedikit rasa bencinya terhadap wanita dan itu membuatnya kembali berpikir. Apakah benar yang dikatakan oleh orang lain, tidak semua wanita hanya bisa menyakiti hati pria saja.


Karena faktanya dia melihat jika kedua wanita itu, justru telah dikhianati dan disakiti hatinya oleh seorang pria. Tapi yang membuat Putera merasa bingung adalah, mengapa mereka masih bisa tersenyum dan tertawa bahagia seperti itu.


Apa yang membuat mereka bisa tertawa dan tersenyum?


"Nak Putera, apa kamu perlu sesuatu?" tanya Ibu Diana ketika kebetulan melihat Putera berdiri mematung.


Putera menggeleng. "Tidak Bibi, aku sudah selesai makan dan ingin kembali ke jalan untuk kerja bakti lagi."

__ADS_1


"Oh begitu baiklah, taruh saja semua piring dan gelasnya di meja nanti Bibi yang akan bereskan," sahut Ibu Diana sembari mencuci tangan.


"Baiklah," balas Putera. Kemudian ia menyempatkan diri menegok ke arah dimana Lovely berada.


Ia melihat wanita itu tengah menyiram bunga di tengah kumpulan banyaknya bunga-bunga, sesekali menyibak rambutnya yang tertiup angin mesra.


Putera tersenyum lembut sebelum akhirnya pergi dan kembali turun ke jalan untuk menjalankan tanggung jawabnya.


...***...


Sementara itu Pak Marsan tengah memata-matai kegiatan Lovely di toko bunga hari ini, dengan menyamar sebagai seorang pemulung.


Kesempatan terakhir dari Leo, membuat dia harus menyelesaikan tugasnya dengan cepat.


Tapi sebelum itu dia harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya terlebih dahulu tentang pria yang telah berani menggagalkan rencana jahatnya.


Pak Marsan berjalan tertatih-tatih, karena salah satu kakinya telah di patahkan oleh Leo akibat dirinya yang gagal.


Namun itu tidak mematahkan semangatnya dalam menggapai keinginan duniawinya, yaitu uang dan kesenangan.


Ia berjalan mendekat ke arah Putera yang sedang sibuk membetulkan lampu jalan, lalu mengajaknya untuk berbincang sejenak.


Dirinya yang sedang fokus mendongak ke atas, serta oenampilan Pak Marsan yang terlihat berbeda, ditambah kelihaian pria paruh baya itu dalam berkata-kata.


Membuat Putera sama sekali tidak menaruh curiga, karena ia berpikir itu adalah seorang pria yang sedang beristirahat di jalan dan mengajaknya berbincang saja.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Apa yang akan dilakukan oleh Pak Marsan setelah ini?


Apakah dia akan melanjutkan kesepakatan bersama dengan Leo sebelumnya, atau malah mendukung Putera ketika mengetahui jika Putera adalah anak orang kaya sekaligus pewaris satu-satunya perusahaan Mahesa Group?


Nantikan jawaban itu di bab selanjutnya.


Jangan lupa memberikan dukungan kepada penulis berupa Like, beri komen atau gift.. Terima kasih.


Semoga harimu menyenangkan. Salam penulis.

__ADS_1


__ADS_2