
Nyonya Rosa, mengintip kejadian membahagiakan itu di depan pintu kamar dimana Lovely sedang mengalami masa pemulihan sehabis melahirkan.
Wanita paruh baya itu menyeka air matanya yang mengalir membasahi kedua pipi, karena tangis bahagianya melihat sang cucu dari kejauhan.
"Tante, ayo kita masuk saja," bujuk Feby mengusap bahu nyonya Rosa.
Nyonya Rosa mengangguk. "Iya kau benar, ayo kita masuk," balasnya.
Feby menggandeng tangan nyonya Rosa dan menemani wanita paruh baya itu untuk masuk dan menemui semua orang yang tengah bersuka cita.
...***...
Putera perlahan menghentikan tawanya, saat melihat sesosok wanita paruh baya yang sudah tidak asing lagi di ingatannya, perlahan-lahan masuk ke dalam kamar rawat inap tersebut.
Tatapannya begitu dingin dan juga tajam, lalu menghadang langkah nyonya Rosa agar tidak masuk terlalu dalam.
"Untuk apa kau datang kesini?" ucap Putera dengan tatapan tidak sukanya. Sambil menggiring nyonya Rosa agar keluar dari kamar istrinya.
"Putera, mama datang kesini hanya ingin mengucapkan selamat kepada kalian semua." balas nyonya Rosa sambil menunjukkan hadiah yang ia bawa.
Putera berdecih, kejadian beberapa waktu lalu, dimana wanita itu telah berhasil melakukan tipu daya demi membebaskan Alex, membuat pria itu tidak ingin lagi melihat nyonya Rosa.
"Pergilah, jangan pernah muncul dihadapan kami lagi!" ucap Putera penuh kebencian.
"Putera tolong berikan kesempatan untuk mama agar bisa menemui menantu dan juga cucu mama," mohon nyonya Rosa mengiba.
Putera menghembus nafasnya kasar dan tersenyum kecut. "Kau ingin bertemu dengan siapa? Menantu dan cucumu?" tanyanya sambil mencungkil telinganya dengan jari kelingking. "Sepertinya kau salah tempat nyonya," sambungnya.
"Putera, Lovely adalah menantu mama dan anaknya itu adalah cucu mama, jadi mama berhak bertemu dengannya," balas nyonya Rosa.
"Semua hak mu itu sudah hilang saat pergi meninggalkanku 36 tahun yang lalu dan jika kau ingin bertemu dengan menantu dan cucumu, maka menunggulah sampai Alex menikah dan mereka telah mempunyai seorang anak!" tegas Putera.
"Kakak Putera, maaf jika aku menyela. Tapi perkataan tante Rosa itu benar, kami berdua datang kesini hanya untuk memberi ucapan selamat. Jadi tolong ijinkanlah dia untuk bertemu dengan kak Lovely," ucap Feby meminta.
Putera memandang Feby dari atas kepala hingga ujung kaki. "Kau siapa?" tanyanya acuh.
"Aku Feby dan aku adalah calon istrinya Alex," balas Feby.
"Oh, jadi kau calon menantu wanita ini? Kalau begitu bawalah calon mama mertua mu ini pergi dan jangan pernah datang lagi menemui keluarga Mahesa, walau itu supirnya sekalipun!" tegas Putera.
"Putera ..." panggil Ibu Diana yang baru saja keluar dari kamar Lovely. Karena terlalu lama menunggu anak menantunya itu berdiri di luar ruangan.
Mereka bertiga pun menoleh.
__ADS_1
Ibu Diana mengusap pundak manantu sekaligus anak tirinya itu. "Putera biarkan mereka bertemi dengan Lovely dan juga cucunya," ucapnya.
"Tapi Ma, a---" tolak Putera namun dibantah oleh Ini Diana.
"Jangan menolak tamu yang ingin memberikan selamat, karena itu juga termasuk doa yang baik," ucap Ibu Diana kemudian menatap nyonya Rosa dan juga Feby.
"Kalian berdua masuk saja ke dalam, tidak apa." ucapnya mengajak.
Nyonya Rosa dan Feby pun tersenyum. "Terima kasih Diana," ucapnya senang.
"Terima kasih tante," ucap Feby kemudian menggandeng tangan nyonya Rosa melangkah masuk menemui orang yang dimaksud.
Ibu Diana menghela nafasnya, kemudian menatap Putera yang masih kesal karena telah gagal mengusirnya dari sini.
"Putera anakku, jangan merasa kesal seperti itu. Sekarang lebih baik kita masuk," ucap Ibu Diana mengajak Putera.
Namun Putera menolak. "Tidak Mama, aku tidak ingin satu ruangan dengan wanita licik itu. Aku akan masuk kembali jika mereka telah pergi dari sini," jawabnya tegas.
"Ya sudah terserah kau saja, kalau begitu mama masuk dulu. Takut Lovely butuh sesuatu," balas Ibu Diana dan Putera mengiyakan.
...***...
Nyonya Rosa menghampiri Lovely yang masih dalam masa pemulihan, kemudian duduk di tepi ranjang dimana wanita itu berada.
Lovely tersenyum dan mengangguk. "Sudah lebih baik Ma," balasnya.
Nyonya Rosa merasa terharu, saat Lovely sudi memanggilnya mama. Lalu wanita paruh baya itu menangkup salah satu sisi wajah Lovely dan tersenyum.
"Selain cantik, ternyata kau juga baik hati. Terima kasih karena masih sudi menerima kehadiran mama disini," ucapnya senang.
"Jangan meraaa sungkan seperti itu, kau juga mama mertuaku. Bagaimana bisa aku menolak keinginan orang tua yang ingin menjenguk anaknya," balas Lovely.
Nyonya Rosa tersenyum. "Kau benar, tapi masih ada seseorang yang masih belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran mama disini," ucapnya sambil melirik Putera yang sedang mengintip dimuka pintu.
"Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah pasti membutuhkan proses nyonya Rosa, jadi teruslah berusaha dan jangan menyerah. Selalu percaya dengan ketulusan hati yang dapat mengubah hati siapapun, walau itu sekeras batu," ucap Ibu Diana menyarankan.
"Kau benar Diana, maaf waktu itu aku berlaku tidak pantas kepada kalian. Tapi percayalah, aku telah berjanji tidak akan mengulang hal itu lagi. Aku juga sudah bertekad akan melindungi menantu dan juga cucuku dari ambisi seseorang," balas nyonya Rosa.
"Aku percaya kepadamu nyonya Rosa dan aku berharap kau bisa terus menepati janjimu itu," balas Ibu Diana.
Nyonya Rosa tersenyu kemudian menatap Lovely. "Lovely sayang, bolehkan kalau mama menggendong cucu mama sebentar?" tanyanya meminta ijin.
Lovely menatap satu persatu anggota keluarganya yang masih nerada di dalam ruanvannya itu dan mereka mengijinkan hal tersebut, walau Putera sendiri tidak mengijinkannya.
__ADS_1
"Tidak apa Lovely, jangan hiraukan Putera. Biarkan mertuamu menggendong bayi Marcell sebentar," ucap Opa Mahesa.
"Iya biarkan saja dia menggendongnya," ucap Tuan Dira menimpali.
Lovely mengangguk, kemudian mengijinkan bayi Marcell digendong oleh neneknya sejenak. "Baiklah Ma, kau boleh menggendong cucumu ini," ucapnya.
Nyonya Rosa pun berlinang air mata, karena merasa senang. Dia tidak henti-hentinya menangis bahagia karena bisa menggendong cucunya itu walau hanya sebentar saja.
Sedangkan Putera terlihat menekuk wajah tampannya hingga berkali-kali lipat, karena kesal. Sebab Lovely telah berani memberikan ijin kepada nyonya Rosa untuk menggendong putranya.
Pria itu menatap tajam istrinya seperti mengisyaratkan akan sesuatu dan juga ancaman yang terkandung didalamnya.
"Awas saja kau sayang, aku akan menghukummu jika sudah pulih nanti," begitulah kira-kira isi hati yang bersemayam didalam dada berototnya.
Tapi Lovely hanya tersenyum menatap Putera dari kejauhan, sesekali memberikan tanda agar suaminya itu bisa menahan emosi.
...***...
Beberapa saat kemudian, nyonya Rosa dan Feby pamit undur diri. Dia menatap baby Marcell dan memberikan segepok uang tunai pecahan seratus ribu rupiah di samping tubuh mungil cucunya itu.
"Mama, kau sudah memberikan bayi Marcel banyak hadiah dan menapa sekarang kau malah memberikan uang sebanyak ini?" ucap Lovely menolak.
"Jangan menolak, ini rejeki anakmu. Hanya ini yang bisa mama berikan untuk cucu Oma yang tampan ini," balas nyonya Rosa merasa gemas dengan bayi Marcel.
Lovely akhirnya menerima pemberian uang tersebut, walau sebenarnya dia merasa tidak enak hati. "Mama, terima kasih atas hadiahnya. Dan terima kasih karena kau telah datang jauh-jauh kesini hanya untuk menjengukku."
Nyonya Rosa tersenyum. "Sama-sama sayang dan tidak usah sungkan seperti itu sama mama ya. Mama tidak keberatan dan malah meraaa senang karena bisa bertemu dengan kalian semua."
Nyonya Rosa kemudian mengenalkan Feby kepada semua orang. "Dan kenalkan, dia adalah Feby. Calon istrinya Alex," ucapnya menunjukkan.
"Ya kami sudah tahu," balas tuan Dira.
"Syukurlah jika kalian sudah mengenalnya, ku harap kalian semua bisa hadir ke pesta pernikahannya nanti," ucap nyonya Rosa.
"Itu sudah pasti," balas Ibu Diana.
"Terima kasih, kalau begitu kami berdua pulang." nyonya Rosa dan Feby pun keluar dari ruangan itu, dengan raut wajah bahagia.
Karena ia telah berhasil bertemu dengan cucunya itu bahkan berkesempatan menggendongnya, walau hanya sebentar saja.
.
.
__ADS_1
Bersambung.