Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 79. Bahasa anak-anak.


__ADS_3

Hotel.


Alex dan Feby masih tertidur setelah melakukan aktifitas melelahkan sepanjang malam, seluruh kamar hotel itu nampak berantakan seperti kapal pecah.


Seluruh pakaian mereka tercecer dilantai, benda-benda di dalam kamar hotel pun banyak yang berserakan disembarang tempat. Entah bagaimana itu bisa terjadi.


Tapi satu hal yang pasti, rasa lelah serta kepuasan terukir jelas dikedua wajah mereka yang masih terlelap.


Alex meregangkan tubuhnya, kemudian perlahan-lahan berusaha membuka kelopak matanya yang masih sulit untuk dibuka.


Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya itu beberapa kali, untuk menyesuaikan sinar mentari yang memasuki indera penglihatannya.


Dan Alex tersentak, ketika melihat Feby tidur nyenyak diatas dadanya, lalu bayangan akan malam pertama bersama dengan istrinya itu terputar kembali.


Dimana ia sampai lupa diri, menunggangi Feby seperti koboi jalanan. Begitu pula dengan Feby, tidak kalah hebat menunggangi dirinya.


Hingga ia sendiri merasa kewalahan dan mencengkram benda apapun disekitar, lalu membantingnya, akibat menerima rasa nikmat tiada tara yang diberikan oleh Feby.


Alex mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mau mengelak lagi juga sudah tidak bisa. Dia sudah mengagahi istrinya itu berkali-kali dalam satu malam dan menumpahkan seluruh lahar hangatnya di dalam perut wanita itu.


Bahkan laharnya berceceran juga di seprei, karena saking banyaknya dan berulang-ulang. Begitu pula dengan sebercak darah cukup banyak, milik siapa lagi kalau bukan milik istrinya.


"Ya mau bagaimana lagi, salah sendiri dia selalu menggodaku," gumamnya tidak mau mengakui jika itu hasil perbuatannya.


Feby menggeliat dan tersenyum menatap punggung suaminya yang masih polos. "Pagi, suamiku," ucapnya mesra.


Alex bergidik ngeri. "Tolong jangan panggil aku seperti itu," balasnya menjauh.


Feby tersenyum, semakin Alex beringsut, semakin ia mendekati Alex hingga ke tepi. "Kenapa menjauhiku sayang, apa aku harus menggodamu dulu baru kau mau mendekatiku lagi hm?" godanya.


Alex menelan ludahnya susah payah. "Bicara apa kau ini, pergilah dan pakai bajumu itu." ucapnya grogi sekali, terlebih Feby mulai menekan dadaanya di lengan.


Feby terkekeh. "Alex, kau lucu sekali. Tampang saja sok serius, tapi nyatanya kau sangat takut dengan wanita."


"Aku bukannya takut, tapi memang tidak nyaman jika di dekati olehmu seperti ini." ucap Alex membantah. "Oh tidak jangan lagi," batin pria itu bergejolak kembali.

__ADS_1


Feby tersenyum. "Kenapa, tidak tahan ya?" seperti sengaja wanita itu merayu suaminya lagi.


"Sudah cukup!" sentaknya, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum kejadian tadi malam terulang kembali.


...----------------...


Beberapa bulan kemudian.


Kehidupan Alex setelah menikah mengalami sedikit perubahan dan perubahan tersebut bukanlah tanpa alasan. Karena semenjak Feby mengandung anak darinya, membuat Alex sedikit demi sedikit mulai memperhatikan kesehatan sang istri dan melupakan wanita lain.


Seperti saat sekarang ini, Alex dengan hati-hati menuntun Feby setelah pulang dari rumah sakit sehabis mengecek kandungan.


"Hati-hati duduknya," ucap Alex sambil memapah Feby yang tengah hamil.


"Terima kasih," balas Feby.


Alex bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan susu hamil. "Ini minumlah, jangan lupa minum vitaminmu nanti malam."


"Terima kasih sayang."


Feby tersenyum dan memandangi wajah suaminya yang semakin perhatian padanya, sungguh ia merasa senang karena perjuangannya dalam merubah penampilan agar bisa semenarik mungkin ternyata membuahkan hasil.


"Sayang, bulan depan perkiraan aku lahir. Bagaimana kalau kita membeli perlengkapan anak kita untuk nanti?" tanya Feby.


Alex mengangguk. "Boleh juga, ya sudah tunggu aku pulang dari kantor. Nanti kita pergi bersama," ucapnya.


Feby melengkungkan senyumannya. "Baiklah."


Alex menyambar tas kerjanya, kemudian menyempatkan diri mengecup lembut istrinya sebelum berangkat pergi ke kantor.


...----------------...


Mansion Putera.


Sementara itu, keluarga Lovely juga sedang merasa bahagia. Pasalnya anak mereka kini telah tumbuh menjadi anak yang pintar dan juga tampan lagi menggemaskan.

__ADS_1


"Edy au egi enja ya? (Daddy mau pergi kerja ya?)" tanya Marcell dengan suara menggemaskannya.


Putera nampak bingung dengan pertanyaan anaknya itu dan ia menggaruk-garuk kepalanya karena tidak mengerti dengan apa yang telah diucapkan oleh sang anak.


Marcell mencebik. "Ih Edy, alo ti anya da au awab. enti arcel ilangin amy ni. (Ikh Daddy, kalau di tanya nggak mau jawab. Nanti Marcell bilangin mamy ni).


Semakin kusutlah rambut ayah satu anak itu, menghadapi anaknya yang sedang aktif bicara namun tidak jelas perkataannya.


Beruntung Lovely datang tepat waktu dan memberitahu apa yang sedang di tanyakan oleh sang anak.


"Iya Marcell sayang, Daddy mau pergi kerja. Tuh Daddy sudah rapi dan tampan," ucap Lovely dengan berjongkok.


Marcell mencebik lagi. "Tu amy ja eti acell anya apa, ni Edy da ica awab alo acell anya ma Edy. Enyelnya edy, edynya acell uban ci!" (Tuh Mamy saja ngerti Marcell nanya apa, ini Daddy tidak bisa jawab-jawab kalau Marcell nanya sama Daddy. Sebenarnya Daddy, Daddynya Marcell bukan sih!).


Putera tersenyum kecut, bukannya tidak mengerti, karena memang perkataan anak itu sungguh sulit dipahamani. "Iya maaf, Daddy salah."


Marcell masih mencebik. "Da au! Okona edy aus ee in acell ainan nan abak, alu acell aaf in edy." (Tidak mau! Pokoknya Daddy harus beliin Marcell mainan yang banyak, baru Marcell maafin Daddy.)


Putera mendesis, merasa lebih pusing menghadapi anaknya sendiri daripada kliennya dikantor. "Ya nanti Daddy pulang beliin mainan yang banyak buat Marcell," ucapnya mengerti setelah diberitahu oleh Lovely.


Marcell namoak senang, lalu memeluk ayahnya. "Na tu tong, acell tan di enang, aci edy." (Nah begitu dong, Marcell kan jadi senang, makasih Daddy.) ucapnya, membuat Putera kembali menggeleng kepala karena tidak mengerti.


Lovely buru-buru mendorong Putera untuk pergi ke kantor, sebelum percakapan itu berubah menjadi bencana.


"Sudah ya Marcell sayang, Daddy mau pergi kerja. Nanti Daddy bisa terlambat," Lovely kemudian menggendong Marcell.


Marcell mengangguk kecil. "Ia ami! Ami ami, edy eja inana mi. Edy eja na ain-ain aya acell ya? Oget-oget i ipi, oyang aby acak?" (Iya Mamy! Mamy mamy, Daddy kerja dimana mi. Daddy kerjanya main-main kaya Marcell ya? Joget joget di tivi, goyang baby shark?"


Lovely tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan polos anaknya itu, sedangkan Putera hanya cemberut karena tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


Ia memilih tidak mendengarkan, daripada kepalanya berasap karena pusing. Entah bagaimana caranya Lovely bisa mengerti apa yang sedang diucapkan oleh anaknya itu, seperti ada kamus terjemahaan bahasa anak-anak didalam kepalanya.


Hingga mereka dapat mengobrol dengan serius, tanpa ada kesulitan sama sekali.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2