Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 36. Permohonan Tuan Dira.


__ADS_3

"Aku tidak ingin pisah darimu dan aku ingin kita melanjutkan hubungan ini hingga seterusnya, jadi jangan pernah berharap aku akan menuruti semua keinginanmu itu!" tegas Putera kembali.


"Apa maksud dari semua perkataanmu itu?" tanya Lovely tidak mengerti.


"Perjanjian itu sudah ku hancurkan, begitu pula dengan semua peraturan-peraturan. Segala perjanjian dan juga larangan yang pernah kita buat sebelumnya itu sudah tidak berlaku lagi," balas Putera.


"T-tapi, bukanlah kau sendiri yang bilang kalau hubungan kita tidak berjalan dengan baik. Maka kau tidak akan melanjutkan hubungan pernikahan ini," balas Lovely.


Putera berdecih. "Bagaimana kalau aku berubah pikiran dan tidak ingin melepaskanmu begitu saja, lalu memilih melanjutkan pernikahan kita ini kearah yang lebih serius," balasnya.


"Apa maksudmu dan beri aku satu alasan kenapa kau menahanku seperti ini?" tanya Lovely.


Putera menarik pinggang Lovely hingga berhimpitan. "Aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan darimu, jadi bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu dengan mudah begitu saja."


Lovely menahan dada Putera agar tidak mendekat. "K-kau, menjauhlah dariku dan jangan coba-coba melakukan itu padaku!"


"Lovely ... Sekarang maukah kau memberikan aku sesuatu yang berharga itu, sesuatu yang kau miliki dan juga adalah hakku," bisik Putera lalu memberi gigitan kecil pada leher jenjang istrinya hingga memerah.


"Ah apa yang kau lakukan lepaskan aku!" Lovely menggeleng dan mendorong Putera agar menjauh darinya. "Apa kau sudah gila! Kita sudah berjanji sebelumnya, tidak akan pernah berhubungan intim layaknya suami istri setelah menikah!" tolaknya mentah-mentah.


Putera merasa geram, ini sudah kesekian kalinya ia ditolak mentah-mentah oleh Lovely, saat menginginkan suatu hubungan badan.


"Dasar wanita keras kepala, aku ini adalah suamimu dan aku berhak atas dirimu itu!" bentak Putera tidak terima.


"Sadarlah Putera, kita menikah hanya demi satu tujuan. Ingatlah itu!" sentak Lovely.


"Aku tidak peduli, semua perjanjian itu sudah aku hancurkan. Jadi kau tidak bisa menolak semua keinginanku lagi!" Putera menyergap Lovely lalu membopongnya untuk dibawa ke atas peraduan.


"Tidak turunkan aku! Aku tidak mau melakukan itu!" tolak Lovely seraya memukul punggung Putera bertubi-tubi.


Namun Putera tidak mengubris keinginan tersebut, karena hasratt untuk memiliki Lovely seutuhnya mulai naik dan telah mencapai di puncak ubun-ubun.


Dan sesampainya mereka di tepi ranjang, Putera tanpa ragu menghempaskan raga Lovely diatas kasur dan segera mengungkungnya agar tidak lari.


"Putera sadarlah! Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau sampai berani melakukan hal itu padaku!" sentak Lovely sambil menahan tubuh pria yang sedang mengungkungnya agar tidak terus mendekat.


"Kau yang seharusnya sadar akan posisimu," ucap Putera dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Jangan!" pekik Lovely lalu menampar wajah Putera sekencang-kencangnya agar tersadar.


Kemudian secepat kilat dirinya menghindar disaat Putera masih duduk tercengang dengan memegangi bekas tamparan dipipinya yang mulai berkedut.


Pria itu pun mendesis, merasakan perih pada pipinya yang semakin memerah. Rasa perih yang bukan hanya di wajahnya saja, akan tetapi menusuk juga hingga ke jantung hatinya.


"Maaf, aku mengaku salah karena selalu menolakmu berulang kali. Tapi sudah ku bilang sebelumnya, kalau aku tidak ingin melakukan itu denganmu. Maksudku, a-aku tidak ingin kita melakukan hal itu hanya karena nafssu semata. Mengertilah Putera," ucap Lovely terisak lalu pergi dari sana sebelum Putera menangkapnya kembali.


Sementara itu Putera terduduk lemas dan hanya bisa terdiam menatapi Lovely yang keluar begitu saja dari kamarnya.


Ia mengertakkan gigi lalu mencengkram kuat kain sprei pada kasurnya dan merobeknya hingga terbelah menjadi dua bagian.


Sesekali mengaum keras, merasakan sakit karena ditolak oleh istri sendiri.


...----------------...


Keesokan harinya.


Perusahaan Mahesa Group.


"Tapi apa yang menyebabkan mereka bertengkar kemarin?" tanyanya pada diri sendiri.


Oleh karena itu, Tuan Dira pun memanggil Lovely agar datang ke kantornya siang hari ini untuk membahas segala permasalahan yang ada pada keduanya.


"Ly, Papa tahu harus nya Papa tidak ikut campur dengan masalah kalian. Tapi Papa tidak ingin kalian bertengkar, hingga membuat jarak sampai sebegitu jauh. Ceritakanlah pada Papa, siapa tahu Papa bisa membantumu."


Lovely terdiam dan hanya bisa menunduk, karena ia sendiri sedang merasa bimbang dan ragu-ragu, harus menceritakan hal yang sebenarnya terjadi atau tidak kepada Tuan Dira.


"Ly ... Ceritalah," ucap Tuan Dira kembali.


Lovely mulai berlinang air mata, kemudian menceritakan kejadian kemarin dengan suaranya yang berat karena terisak.


"Dia menginginkan itu, tapi aku tidak memberikannya dan juga menampar wajahnya. Oleh karena itulah dia marah kepadaku," jawab Lovely.


"Sudah jangan menangis lagi, Papa akan coba membicarakan hal ini dengan Putera agar dia mengerti. Dan Lovely Papa minta kamu jangan berpisah dengan Putera," mohon Tuan Dira.


"Maafkan aku Papa aku telah berbohong padamu dan maafkan aku juga karena tidak bisa mencintai Putera anakmu," jawab Lovely mencurahkan semua isi hatinya.

__ADS_1


Tentang semuanya, mulai dari awal kesepakatan pernikahan, pernikahan kontrak dan juga kemarahan Putera kepada dirinya.


Tuan Dira mengerti akan hal itu, karena memang dari awal dia sudah mengetahui tentang pernikahan palsu anaknya dengan Lovely dan mereka melakukan hal tersebut hanya demi menyenangkan hati keluarga saja.


Tuan Dira selalu menutupi kebenaran yang selama ini terjadi, karena ia selalu berpikir dan merasa yakin. Seiring berjalannya waktu, hubungan keterpaksaan itu mungkin bisa berubah menjadi ketertarikan satu sama lain.


Namun siapa sangka jika perhitungannya itu ternyata salah besar, karena keduanya kini tengah berada dimasalah yang cukup rumit seperti ini.


Tapi ada satu hal yang paling ia takutkan dari semua yang terjadi, yaitu mengenai Putera yang bisa saja hilang kendali lalu merampas apa yang selama ini telah Lovely jaga dengan baik.


Dia begitu takut Putera akan bernasib sama seperti dirinya sewaktu dulu, yang kehilangan Rosa akibat lepas kendali.


Tapi Tuan Dira tidak akan diam saja, dia harus menyatukan mereka kembali sebelum semuanya terlambat.


"Sayang, jangan menangis lagi. Papa sudah tidak mempermasalahkan hal yang sudah terjadi sebelumnya tentang pernikahan kalian. Papa hanya ingin kau bisa menerima Putera mulai dari sekarang, cobalah terima dia sebagai suamimu secara perlahan. Jadi Papa mohon dengan sangat kepadamu, jangan berpisah dari Putera karena Papa yakin kalian bisa menerima satu sama lain suatu hari nanti," ucap Tuan Dira menyakinkan.


"Tapi Papa, bagaimana kalau aku tidak bisa menerimanya atau tidak mencintainya layaknya seorang istri kepada suaminya seperti orang kebanyakan?" isak Lovely bertanya.


Tuan Dira mengenggam tangan Lovely. "Cinta membutuhkan waktu sayang, dia tidak bisa datang begitu saja tanpa adanya proses. Terkadang memang menyakitkan saat ditengah-tengah prosesnya, tapi percayalah ini sayang. Pada kenyataannya, cinta itu begitu indah jika sudah tiba pada waktunya."


Lovely semakin menangis, kenapa pria paruh baya di depannya itu begitu lembut dan juga sangat romantis serta mengerti hati seorang wanita.


Berbeda sekali dengan Putera anaknya, yang selalu saja memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu dan bertingkah seenak jidatnya.


"Baiklah Papa, aku akan mencobanya."


"Bagus, kau gadis yang baik. Sekarang temuilah dia dan minta maaf atas kelakuanmu kemarin dan jelaskanlah baik-baik agar dia memahamimu terlebih dahulu," saran Tuan Dira.


Lovely menggangguk dan menghapus air matanya, setidaknya dia harus mencoba dan mengikuti saran dari Papa mertuanya terlebih dahulu.


Karena walau bagaimanapun juga ia mengaku salah telah menampar wajah suaminya sendiri dan selalu saja menolak keinginan dalam berhubungan ranjang.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2