
Perusahaan Mahesa Group.
Tuan Dira tersenyum, saat seseorang mengirimi dirinya beberapa gambar foto kedekatan antara anak dengan menantunya di pantai hari ini melalui ponsel pintarnya.
Ia begitu senang dan terharu saat melihat sebuah foto yang sudah lama ditunggu-tunggu, dimana Putera sedang memeluk Lovely saat bermain-main dan menerjang deru ombak di tepi pantai.
Entah bagaimana kejadian itu bisa terjadi, akan tetapi satu hal yang pasti, dia turut bahagia saat melihat momen tersebut.
Apalagi ketika melihat keduanya terlihat nampak bahagia sekali, terlebih senyuman diwajah anaknya itu. Dimana hal tersebut tidak pernah terjadi di dalam hidup Putera sendiri.
"Akhirnya aku bisa melihatmu tertawa," gumam Tuan Dira sambil menitikkan air mata.
Karena ia akan selalu teringat akan keinginan mantan istrinya itu disaat menghadiri pesta pernikahan Putera, yang ingin sekali melihat anaknya itu terus tersenyum.
Pria paruh baya itu merasa puas, kemudian menghapus air mata kegembiraannya dengan segera.
Ia merasa yakin, jika rencananya kali ini akan berhasil mendekatkan keduanya. Walau rencananya itu terbilang sedikit memaksa, namun dirinya sangat yakin, keduanya pasti akan bersatu dalam waktu dekat ini.
Tuan Dira pun menghubungi seseorang, yang telah di beri kepercayaan untuk menjaga anak beserta menantunya selama berbulan madu di sana.
"Pak Gede, aku berterima kasih karena kau sudah mengirimiku foto-foto anak dan menantuku. Terima kasih juga karena telah sudi menemani serta memantau mereka berdua selama liburan disana. Jangan pernah lupakan permintaanku sebelumnya, aku ingin kau memberi kesulitan kepada anakku itu agar dia semakin dekat dengan istrinya," ucap Tuan Dira melalui ponsel pintarnya.
"Tenang saja Tuan Dira, aku tidak akan lupa." balas Paman Gede dari ujung seberang sana.
...----------------...
Sore harinya.
Setelah bersenang-senang ria di pantai, menikmati pemandangan indah dan menerjang ombak di pesisir pantai seharian.
Pasangan pengantin baru beda usia 15 tahun itu pun kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri dari banyaknya pasir pantai yang menempel, serta bertukar pakaian karena sebentarnya lagi mereka akan menikmati makan malam bersama.
"Aku ingin mandi duluan," serobot Putera merebut gagang pintu kamar mandi sebelum Lovely berhasil masuk ke dalam.
"Hei, aku duluan yang sampai disini. Dasar curang!" Lovely menggedor-gedor pintu kamar mandi karena kesal.
"Tenang saja, aku mandinya tidak akan lama. Tidak seperti perempuan," sahutnya dari dalam.
"Kau pria menyebalkan!" umpat Lovely sambil menendang pintu sekencang-kencangnya dengan ujung kaki.
Gadis itu pun mencebik dan berdiri di depan pintu kamar mandi, sambil menghentak-hentakkan salah satu ujung kakinya, sesekali menggerutu jika mengingat kejadian di pantai tadi.
"Dia itu pasti sengaja, badannya kan besar mana mungkin di terjang ombak sekecil itu ia bisa terjatuh. Aku yakin dia hanya berpura-pura lemas agar bisa memelukku," gerutu Lovely sambil berdecih berkali-kali, mengira jika Putera telah sengaja memeluknya.
__ADS_1
...***...
Lima belas menit kemudian.
Yang di tunggu-tunggu oleh Lovely akhirnya keluar juga dari kamar mandi, pria itu bersiul dan berjalan keluar dengan santainya. Sambil menggosok-gosok rambutnya yang masih basah sehabis keramas.
Dan tidak lupa mengibaskan rambutnya berkali-kali, hingga air sisa keramas pada rambutnya itu terciprat kemana-mana dan mengenai seluruh wajah Lovely.
"Dasar pria menyebalkan, kau selalu saja berulah di depanku!" geramnya.
"Maaf, siapa suruh berdiri di dekatku," balas Putera acuh.
"Minggir, jangan halangi jalanku! Aku ingin mandi!" Lovely mendorong tubuh Putera agar menjauh dari pintu kamar mandi.
"Dasar wanita, hanya bisa mengomel dan mengomel!" gertak Putera.
"Berisik!" sahut Lovely dari dalam.
...***...
Setelah mandi, makan malam bersama pun dimulai. Mereka memutuskan untuk makan malam di dalam kamar karena malu hanya memakai pakaian serba minim kekurangan bahan.
Padahal turis domestik maupun mancanegara di sekitaran hotel tersebut, ada yang berpakaian lebih kurang bahan daripada mereka berdua.
Lovely membungkus tubuhnya dengan selimut dan makan membelakangi Putera, dia tidak ingin selera makannya menjadi hilang karena di tatap oleh suaminya sendiri.
"Hei, apa wajahku ini jelek atau menyeramkan, hingga kau membelakangiku seperti itu?" sindir Putera.
"Tidak, aku hanya tidak ingin kau terlalu fokus melihati diriku yang berpakaian seperti ini," balas Lovely.
"Cih! Untuk apa aku melihati dirimu. Menurutku kau sama saja seperti wanita lain dan tidak ada bedanya," balas Putera.
"Ya sudah, kalau begitu jangan paksa aku untuk menghadap dirimu," balas Lovely.
Putera meremas sendok dan garpu di kedua tangannya, entah mengapa rasanya sesak sekali ketika di tolak keinginannya oleh seorang wanita terlebih istrinya sendiri.
"Aku sudah selesai makan, aku ingin nanti malam kau tidur disofa. Jangan di dekatku," titah Lovely.
"Apa kau sudah gila, tidak melihat diriku yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek seperti ini, sementara selimut sudah di hak miliki oleh dirimu sendiri. Apa kau ingin melihat suamimu ini mati kedinginan," tolak Putera.
Entah mengapa suhu AC di kamar mereka terasa dingin sekali, padahal dia sudah mengatur ke suhu yang sesuai untuk dirinya.
"Aku tidak peduli, yang jelas aku tidak ingin kita tidur seranjang. Titik!" tegas Lovely.
__ADS_1
Putera menghela nafas panjang, daripada berdebat dengan seorang wanita, lebih baik ia mengalah saja agar tidak berkelahi nantinya.
...***...
Malam harinya.
Putera tidak bisa tidur, karena suhu di dalam kamar nya tiba-tiba menjadi sangat dingin hingga menusuk ke tulang sumsumnya. Ditambah pakaiannya yang tipis membuat ia menggigil kedinginan.
"Padahal sudah ku naikkan suhunya, kenapa malah semakin dingin," gumamnya merasa aneh.
Pria itupun menghubungi staft hotel dan meminta perbaikkan atas pendingin ruangan yang menurutnya itu sudah rusak.
Namun, staft hotel tersebut menjawab jika pendingin ruangan di dalam kamar mereka baik-baik saja dan dalam kondisi masih baru.
Sontak saja Putera merasa kesal, terlebih dia tidak diperbolehkan naik ke atas kasur hanya untuk berbagi selimut dan juga sedikit kehangatan bersama Lovely diatas sana.
"Pelit sekali, geserlah sedikit. Biarkan aku tidur semalaman diatas ranjang!" tegasnya.
"Tidak boleh! Jangan kesini," Lovely melarang Putera untuk naik ke atas kasur.
Pria itu pun habis kesabaran dan tidak memperdulikan gubrisan dari Lovely yang terus menerus memintanya agar tidak naik.
Ia segera merebahkan dirinya di atas kasur empuk lagi nyaman dan membungkus tubuhnya yang sedari tadi kedinginan dengan cepat.
Masa bodo dengan istrinya yang sudah mengerutu serta waspada akan kehadiran dirinya di atas kasur.
"Baiklah, awas saja kalau malam ini kau berlaku macam-macam denganku. Aku akan menghajarmu!" ancam Lovely.
Putera mengulum senyum dan mendekati Lovely perlahan seperti mengendap-endap.
"M-mau apa kau, jangan mendekatiku!" sentaknya gugup.
"Berisik!" bisik Putera penuh penekanan.
Pria itu lantas mengambil bantal guling yang berada di belakang tubuh Lovely dan segera menaruhnya di antara mereka berdua sebagai pembatas saat tidur.
"Apa begini sudah yakin hem?" tanya Putera, lalu merebahkan kembali raga atletisnya diatas kasur dan berusaha untuk tidur.
Lovely menelan ludahnya susah payah dan menatap Putera yang membelakangi dirinya. Ia pun menghela nafasnya panjang sekali dan berbaring, sesekali waspada kepada pria disebelahnya.
Takut tiba-tiba menerkam dirinya disaat lengah.
.
__ADS_1
.
Bersambung.