Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 48. Kematian Pak Marsan.


__ADS_3

Alex segera mundur setelah mengetahui banyak polisi berada di kediaman Leo, ia juga menarik anak buahnya untuk tidak melanjutkan membantu Leo, agar dirinya tidak ikut terseret masuk ke dalam penjara.


"Bos, bagaimana apa jadi?" tanya salah satu anak buah Alex.


Alex memukul kepala anak buahnya kasar. "Bodohh!! Sudah tahu di depan mata banyak polisi, apa kau mau kita ikut terseret bersama Leo hah!" sentaknya.


"M-maaf bos, jadi kita mau kemana lagi bos?" tanya si anak buah membuat Alex semakin kesal aja.


"Tentu saja kembali!" sentak Alex.


Pria itu menghembus nafasnya kasar dan memukul benda apapun yang berada di sekitarnya, termasuk si anak buah karena kesal oleh satu orang.


"Si Putera itu, sudah semakin ikut campur urusan orang lain saja!" geram Alex bertambah kesal. Ketika melihat Putera berdiri sambil berkacak pinggang, sesekali terlihat gemas menampar wajah Leo yang telah berani mengusik keluarganya.


Sementara itu Putera bergegas memanggil ambulan untuk membawa Pak Marsan ke rumah sakit, mengingat kondisi dari pria paruh baya itu terlihat semakin melemah.


Sungguh penyiksaan dari Leo dan anak buahnya yang begitu menyiksa, sampai siapapun yang melihatnya akan merinding lemas dan merasa ngilu.


Kedua tangan Pak Marsan telah dipatahkan, serta wajah yang babak belur karena dihajar oleh masa. Belum lagi banyak luka dikepalanya, menjadikan pria itu kini terbaring lemah dalam kondisi tidak sadarkan diri.


"Martin, antar Ron kepada Mama Diana dan biarkan aku yang menemani papa mertuaku pergi ke rumah sakit," ucap Putera setelah para petugas rumah sakit memasukkan Pak Marsan ke dalam ambulan.


"Baik Pak," patuh Martin kemudian pergi dari sana.


...----------------...


Rumah sakit.


Putera menunggu di ruang tunggu, disaat pak Marsan sedang mendapatkan perawatan intensif oleh tenaga medis berpengalaman.


Ia menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi pak Marsan, sambil mondar-mandir di depan ruang operasi karena tidak sabar.


"Kenapa belum ada kabar juga," gumamnya berpikir.


Bersamaan dengan hal tersebut, Ibu Diana datang ke rumah sakit bersama dengan Lovely, Ron dan juga Tuan Dira, setelah mendapat kabar dari Martin mengenai kejadian di rumah Leo saat menyelamatkan Ron tadi.


Mereka pun segera menghampiri Putera dan bertanya mengenai keadaan pak Marsan.


"Dia sedang di operasi dan aku masih belum mendapat kabar dari dokter yang menanganinya," ucap Putera.


Ibu Diana lantas menangis karena merasa akan mendapat firasat buruk mengenai mantan suaminya itu.


"Ma, kenapa kau menangisi pria jahat seperti papa itu. Harusnya kau merasa senang," ucap Lovely.


Ibu Diana menatap Lovely dan memarahinya. "Walau dia orang jahat, orang itu tetaplah ayah kandungmu sendiri. Bagaimana bisa kau tidak sedih saat mendengar kabar kurang baik mengenai dirinya?"


"Apa kau tahu Lovely, saat dia tahu Ron dibawa oleh Leo. Pria jahat yang kau bilang itu segera pergi untuk mengambil Ron kembali, bahkan sebelum pergi ia pernah berkata, tidak akan menyesal jika ia mati hari ini asalkan anak-anaknya pulang dalam kondisi selamat."

__ADS_1


"Dia memang bersalah, karena telah mencampakkan kita dan selalu menyusahkan hidup kita setiap hari. Tapi apa kau tidak punya hati nurani sampai harus terus mengutukinya? Dia butuh doa dari anak-anaknya sekarang, bukanlah makian."


Lovely tertunduk dan merenungi semua perkataan ibunya, tanpa terasa dia pun turut meneteskan air mata dan mulai menangis.


"Kau benar Mama, papa memang selalu menyusahkan hidup kita. Tapi walau begitu dia tetaplah papa kandungku, bagaimana aku bisa melupakan hal itu. Di saat darurat begini aku malah memakinya dan bukan mendoakannya. Aku benar-benar seperti anak durhaka saja," tangis Lovely terisak.


Mereka bertiga kemudian berpelukan satu sama lain dan berdoa untuk kesembuhan pak Marsan yang sedang berjuang melawan maut di ruang operasi.


Sedangkan Tuan Dira dan Putera pergi sejenak untuk mengurus semua administrasi yang berkaitan dengan pak Marsan.


...***...


Tiga puluh menit kemudian.


Pintu ruangan operasi telah terbuka dan bersamaan setelah itu, dokter yang menangani operasi pak Marsan pun mulai menampakkan dirinya.


"Dokter bagaimana keadaan pasien?" tanya Tuan Dira yang ikut menemani keluarga Lovely.


"Operasi berjalan lancar Tuan Dira, akan tetapi pasien masih belum bisa melewati masa kritisnya. Disebabkan ada luka pendarahan cukup parah di bagian kepalanya yang retak. Untuk itu, kita hanya bisa berharap ada keajaiban yang datang untuk kesembuhan pasien," balas sang Dokter.


Dan mereka yang mendengar berita itupun hanya bisa pasrah menerima keadaan tersebut, lalu air mata Ibu Diana tiba-tiba kembali mengalir, saat dokter mengatakan jika pak Marsan sempat menyebut kata maaf satu kali, saat sebelum penanganan operasi dimulai.


"Dia bilang maaf Ly, papamu pasti ingin meminta maaf sama kita ..." isak Ibu Diana memeluk putrinya.


Lovely ikut menangis terisak, tidak pernah dia melihat ibunya sesedih ini. Lalu sebisanya ia berusaha menenangkan. "Iya Ma, tenanglah. Saat papa sadar nanti, kita akan menjenguk papa dan memberinya maaf."


"Maaf Dok, pasien drop dan mengalami henti jantung!" seru suster dan Dokter segera memeriksa.


"Papa ..." ucap Lovely menatap Ibu Diana.


Mereka pun bangkit dari tempat duduknya dan bergegas ke ruangan dimana pak Marsan sedang ditangani.


"Tunggu diluar saja ya Bu," saran Suster kemudian menutup pintu kamar.


Ibu Diana dan Lovely sama-sama mengintip ke dalam, sesekali air matanya mengalir karena tidak bisa menahan kesedihan saat melihat kejadian menegangkan di depan mata.


Mereka berdua saling menggenggam tangan dan berharap semua baik-baik saja, namun nasib baik tidak berpihak pada pak Marsan.


Karena saat itu juga, dokter menyatakan jika pak Marsan telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dan meninggal dunia akibat luka dalam yang cukup parah.


Hal tersebut membuat keluarga Lovely menangis sejadi-jadinya dan Tuan Dira beserta Putera berusaha menenangkan mereka berdua.


Bahkan tanpa ragu Putera langsung memeluk Lovely yang sedang membutuhkan penenangan diri.


"Tenangkan dirimu Diana, pak Marsan telah tiada dan kalian harus mengikhlaskan kepergiannya," ucap Tuan Dira merasa iba.


"Benar, kau juga harus tabah Lovely. Ikhlaskanlah kepergian papa Marsan dan doakan ia agar tenang disana," ucap lembut Putera dan memeluk erat Lovely yang sedang menangis tersedu-sedu di dalam dekapannya.

__ADS_1


...----------------...


Mansion Putera.


Putera menghampiri Lovely yang sedang melamun di dalam kamarnya, tatapan wanita itu terlihat kosong setelah selesai mengantar kepergian sang ayah ke tempat peristirahatan terakhir.


"Kau masih memikirkannya?" ucap Putera lalu duduk disisi Lovely.


"Putera, apa kau tahu. Aku pernah bertengkar hebat dengan papaku saat masih sekolah SMA dulu, gara-gara dia datang meminta uang untuk bersenang-senang kepada Mamaku. Aku bahkan berkata kasar dan berharap dia segera pergi dari dunia ini," ucap Lovely dengan tatapan mengarah keluar jendela.


"Dan sekarang saat harapan itu terwujud, harusnya aku merasa senang dia telah pergi dari dunia ini. Tapi anehnya, entah mengapa aku malah merasakan sesak di dalam dadaku ini dan tiba-tiba merasa kehilangan dirinya.


Lovely tertunduk dan menitikkan air matanya kembali. "Dan ada satu hal yang masih aku sesali sekarang ini, yaitu aku belum sempat meminta maaf padanya atas semua sikap jahatku kepada papa Marsan semasa hidupnya."


Putera merangkul Lovely dan menghapus air matanya menggunakan sapu tangan, lalu menangkup kedua sisi wajah istrinya itu dan menatap lembut.


"Menyesal dan menangis tidak ada gunanya Lovely, yang dibutuhkan oleh papamu sekarang hanyalah doa. Kirimkan lah dia doa sebanyak-banyaknya, agar papamu bisa tenang di alam sana."


Lovely menatap wajah Putera sejenak dan tidak menyangka dengan sikap lembut dari suaminya itu, ternyata bisa mengurangi sedikit kegelisahan di dalam hatinya.


"Kau benar, terima kasih. Terima kasih banyak," ucap Lovely berusaha tersenyum.


Putera membalas senyuman itu. "Kau terlihat cantik saat tersenyum," ucapnya.


Lovely tertunduk malu. "Jangan berkata seperti itu padaku," balasnya lalu membuang muka.


Putera menarik dagu Lovely dan menatapnya. "Kenapa membuang muka begitu, apa kau malu aku berkata demikian hem?" godanya.


Lovely mencebik lalu mencubit perut Putera hingga mengaduh kesakitan. "Kau jangan menatapku seperti itu dan jangan pernah berkata seperti itu lagi padaku."


"Kenapa kau mencubitku, aku berkata jujur. Kau memanglah cantik dan aku suka padamu yang sedang tersenyum. Harusnya kau memberikanku satu ciuman dan bukan mencubitku," balas Putera sambil mengusap perutnya yang sakit.


"Ah lihat perutku sampai biru gara-gara dicubit olehmu," ucap Putera berbohong sambil menunjukkan perut sixpacknya.


Lovely segera melihat dan meraba bagian perut Putera. "Mana perutmu yang biru tidak ada," ucapnya panik. Lalu tersadar akan ulah Putera yang telah menipu dirinya. "Kau menipuku!"


Putera terkekeh. "Jangan marah, iya aku menipumu. Maafkan aku ya," balasnya meminta maaf.


Lovely mencebik. "Kau sungguh menyebalkan, sekarang keluarlah dari kamarku!" titahnya.


Putera menuruti. "Iya baik, aku akan keluar dari sini." Lalu secepat kilat ia menyempatkan diri mencium pipi Lovely sebelum kabur dari kamarnya.


"Kau!" Lovely mendengus kesal sambil memegangi pipinya yang tercium oleh Putera.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2