
Toko Bunga.
Tuan Dira menyempatkan diri mengunjungi toko bunga sejenak, selepas dirinya pulang dari kantor.
"Tuan Dira, tumben sekali kau datang jam segini? Apa kau ada perlu denganku atau ingin membeli sesuatu?" tanya Ibu Diana sambil mengeringkan tangannya pada apron yang ia kenakan.
Tuan Dira menggeleng. "Tidak ada Diana, aku hanya mampir saja kesini."
"Oh begitu, silahkan duduk. Kau ingin minum apa, kopi atau teh hangat?" tanya Ibu Diana sudah seperti pelayan kafe.
"Kopi saja," balas Tuan Dira lalu duduk.
"Baiklah, tunggu sebentar. Biar aku buatkan kopi untukmu," balas Ibu Diana kemudian menuju dapur kecil dibelakang toko bunganya.
Sekilas Tuan Dira menyadari, jika Ibu Diana adalah satu-satunya wanita, yang paling dekat dengannya. Hingga kebiasaan maupun kesukaan pria itu pun Ibu Diana telah mengetahuinya dengan baik.
"Apakah pantas?" gumam Tuan Dira, karena merasa malu dengan usianya sendiri, yang sudah tidak muda lagi.
Ibu Diana meletakkan kopi sedikit gula diatas meja. "Ini kopimu," ucapnya kemudian membuka apronnya dan ikut duduk bersama.
"Terima kasih," balas Tuan Dira kemudian menyesap kopi buatan Ibu Diana. "Hm, enak. Seperti biasanya," ucapnya lagi.
Ibu Diana terkekeh. "Kau ini, seperti orang baru saja yang mencoba kopiku ini."
Tuan Dira tersenyum, entah mengapa dia merasa sangat canggung sekali. Terlebih saat Ibu Diana tersenyum kepadanya dan itu memunculkan perasaan aneh yang menerpa didalam dadanya ini.
"Diana, apa malam ini kau ada waktu senggang?" tanya Tuan Dira memberanikan diri.
Ibu Diana seketika berpikir. "Tidak ada," balasnya sembari menggelengkan kepala. "Kenapa, ada apa?" tanyanya.
Tuan Dira menghela nafas. "Apa kau mau makan malam bersama denganku," ajaknya.
"Makan malam? Baiklah, aku akan datang ke rumahmu bersama Ron nanti malam," balas Ibu Diana.
"Tidak! Ah jangan, maksudku. Aku ingin kita makan malam berdua saja tanpa Ron," balas Tuan Dira begitu gugupnya.
"Apa maksudmu Tuan Dira?" tanya Ibu Diana.
Tuan Dira menarik nafas dalam-dalam. "Makan malamlah bersamaku di restoran," balasnya.
"Makan malam berdua? Tanpa Ron? Bagaimana bisa aku meninggalkan dia sendirian di rumah, Ron itu masih sangat kecil," balas Ibu Diana sedikit bingung dengan tingkah aneh Tuan Dira.
"Ah dia benar, bagaimana bisa aku tidak memikirkan anak itu," batin Tuan Dira merasa bersalah.
"Tuan Dira, apa ada masalah yang ingin kau bicarakan padaku? Sampai kau ingin kita berdua saja?" tanya Ibu Diana menambah kegugupan Tuan Dira sendiri.
"Diana, ada yang ingin ku sampaikan padamu. Tapi bukan disini tempatnya, aku ingin kita membicarakan hal ini di tempat yang lebih privasi. Jadi bersiaplah untuk nanti malam, karena aku akan datang ke rumah menjemputmu," balas cepat Tuan Dira.
"Dan mengenai Ron, kau jangan khawatir. Aku akan meminta Lovely dan Putera yang menjaganya," ucapnya lagi.
Ibu Diana mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. "Makan malam berdua, di tempat privasi, menjemputku nanti malam?" batin wanita itu berpikir keras.
__ADS_1
"Ku mohon jangan terlalu banyak berpikir Diana atau menganggapku orang aneh," balas Tuan Dira seperti mengerti saja apa yang sedang dipikirkan oleh Ibu Diana.
"Hmm ... Terserah kau saja," balas singkat Ibu Diana tidak mau ambil pusing dengan itu semua.
Tuan Dira pun tersenyum. "Bagus! Baiklah, sekarang aku harus pulang ke rumah terlebih dahulu dan memberitahu Lovely untuk menjaga Ron selama kita makan malam nanti," ujarnya lalu berdiri.
"Baiklah hati-hati," balas Ibu Diana sambil mengantar Tuan Dira hingga ke muka pintu.
Setelah meninggalkan toko bunga, Tuan Dira akhirnya bisa mengambil nafas lega. Tidak disangka mengajak makan malam saja rasanya sangat sulit sekali.
...----------------...
Sore harinya.
Mansion Putera.
Tuan Dira menelepon Lovely dan menyampaikan keinginannya untuk makan malam bersama dengan Ibu Diana malam ini di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari rumahnya berada.
Pria itu juga menitipkan Ron dan meminta tolong untuk menjaga bocah itu kepada Lovely dan Putera sejenak, selama ia melakukan makan malam bersama berdua.
Beruntung Ron mengerti dan mau dititipkan kepada kakaknya yang galak itu, walau sebenarnya ia juga ingin ikut dengan sang mama dan memakan makanan enak selama di restoran.
Melihat Ron yang sedikit murung, membuat hati Tuan Dira merasa tidak tega. "Jangan sedih, nanti Paman akan belikan makanan enak untukmu," rayunya sambil mengusap puncak kepala Ron.
"Memangnya kalian berdua mau kemana sih, kenapa harus berdua saja dan tidak ajak Ron?" tanya polos Ron.
"Ron sayang, jangan cemberut seperti itu. Mama juga tidak tahu Paman Dira ingin apa, tapi percayalah Mama tidak akan pergi lama-lama," ucap Ibu Diana.
"Ya sudah," balas Ron dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Sudahlah, kalian jangan terlalu mengkhawatirkan si Ron bawel ini, pergilah dan cepat kembali," serobot Lovely sebelum Ron menangis dan membuat acara makan malam menjadi batal.
"Ya sudah Mama pergi dulu titip Ron ya," ucap Ibu Diana.
"Lovely, maaf merepotkanmu. Papa hanya sebentar saja," ucap Tuan Dira.
"Tidak merepotkan kok Papa, Ron adalah adikku. Jadi kalian bersenang-senanglah," goda Lovely,
Wajah Tuan Dira lantas memerah semu dan pria itu pun segera masuk ke dalam mobil tanpa banyak berkata-kata lagi.
Ia juga segera berangkat agar tidak bertemu dengan Putera, yang akan membuat ia kerepotan dalam menjelaskan keinginannya untuk meminang Ibu Diana.
...***...
Tak lama setelah itu, Putera baru saja pulang dari kantor. Melihat Ron bermain di rumahnya, membuat pria itu menjadi kebingungan.
"Wah ada anak tampan, katakan pada Om kenapa kau bermain sendirian disini?" tanya Putera menghampiri, lalu memangku Ron diatas pangkuannya.
"Dan kenapa wajahmu cemberut seperti itu?" tanya Putera lagi. Namun Ron masih tidak mau membalas pertanyaan Putera.
Pria itu pun akhirnya bertanya pada Lovely. "Adikmu kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ron mengambek karena tidak diajak sama Mama dan Papa makan malam di restoran," balas Lovely berbisik.
"Maksudnya apa? Makan malam Mama dan Papa?" tanya Putera.
"Iya, Papa Dira dan Mama Diana sedang makan malam bersama. Ron jadi ngambek deh," balas Lovely.
"Tapi kenapa mereka hanya makan malam berdua saja dan tidak mengajak keluarganya?" tanya Putera.
"Mana aku tahu!" balas Lovely.
Putera menghela nafas dan menatap Ron yang berubah lesu, lalu di dalam kepalqnyq itu mincul sebuah ide. "Ron, kau ingin makan malam di restoran yang enak itu kan?"
Ron menoleh dan mengangguk cepat. "Mau sekali Om," balasnya antusias.
"Bagus! Kalau begitu ikut Om saja, kita makan malam bersama dan Lovely kau juga bersiaplah. Setelah ini kita akan berangkat," ucap Putera.
Ron merasa senang dan melonjak kegirangan. "Asyik! Akhirnya Ron bisa makan enak, nanti belikan Ron es krim yang banyak ya."
"Tenang saja, Om akan belikan apapun yang Ron mau," balas Putera dengan bangganya.
"Benarkah Om?" tanya Ron berbinar.
"Tentu saja!" balas cepat Putera.
"Asyik! Om Putera memang terbaik, tidak seperti Kak Lovely yang pelitnya minta ampun," balas Ron melirik tajam Lovely dengan ujung ekor matanya.
"Apa kau bilang? Dasar anak nakal, bisa-bisanya kau berkata hal buruk tentang kakakmu sendiri, didepan orang lain." Lovely hendak menjewer telinga Ron, namun Putera tidak membiarkan hal itu sampai terjadi.
Dengan segera ia menyelamatkan telinga kecil Ron dari cubitan kepiting mematikan Lovely. "Sudahlah Lovely, Ron hanya bercanda. Kenapa kau bisa marah seperti itu pada adikmu sendiri."
"Kau tidak mengenalnya, jangan tertipu dengan wajah polosnya itu. Yang sebenarnya anak kecil ini, bisa sangat menjengkelkan." Lovely berusaha mengambil Ron yang bersembunyi di belakang Putera.
"Kesini kau anak nakal," ucapnya gemas sekali menghadapi tingkah gesit Ron yang licin seperti belut.
"Sudah Lovely! Sudah!" Putera terpaksa memeluk Lovely dengan erat sekali agar berhenti mengejar Ron.
"Lepaskan aku Putera," pinta Lovely meronta didalam dekapan Putera.
Putera menggeleng. "Tidak mau, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menurunkan emosimu itu dan tidak mengejar Ron lagi," ucapnya membela Ron.
Namun pembelaan tersebut justru membuat mereka menjadi bahan ledekan Ron. "Om Putera genit!" ucapnya sambil menutup mata dengan kedua tangan.
Putera pun tersadar dari aksi peluk-pelukannya itu dan segera mengurai tangannya dari pinggang Lovely. "Sudahlah Lovely, sekarang kau bersiaplah."
"Baiklah," patuh Lovely kemudian menuju kamar. Sesekali menatap tajam Ron.
.
.
Bersambung.
__ADS_1