
Di restoran.
Sebuah meja dengan kursi untuk dua orang telah dipesan oleh Tuan Dira sebelumnya, tak kalah ketinggalan suasana romantis menghiasi atas meja tersebut.
"Dira, untuk apa semua ini?" tanya Ibu Diana. Merasa bingung dengan semua yang terjadi dihadapannya.
"Diana, duduklah dulu." Tuan Dira menarik satu kursi dan menuntun Ibu Diana untuk duduk. Lalu, pria itu pun memberanikan diri menyampaikan keinginannya untuk meminang Ibu Diana.
Tuan Dira menunjukkan sebuah cincin pernikahan. "Diana, maukah kau menikah denganku," ucapnya penuh keyakinan.
Ibu Diana hanya bisa terdiam, dengan kedua netra yang membola sempurna menatap cincin indah nan berkilauan didepan matanya sendiri. "A-apa maksudmu Tuan Dira, apa ini?" tanyanya masih tidak mengerti.
"Diana, maaf. Mungkin ini mengejutkan bagimu, tapi ku harap kau mau menerima lamaran pernikahan ku ini. Aku tahu kau baru saja kehilangan seorang suami, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Kalau aku telah menaruh hati padamu sejak lama," balas Tuan Dira masih mengulurkan cincin ditangannya.
"T-tapi bagaimana mungkin. Kita hanyalah teman dan aku sangat mengenalmu, kau begitu mencintai mantan istrimu itu. Tapi, kenapa tiba-tiba kau melamarku Tuan?" balas Ibu Diana masih sulit menerima.
"Benar, aku memang mencintai Rosa. Tapi setelah aku menggali lebih dalam isi hatiku ini, aku menyadari kaulah satu-satunya wanita yang selalu ada untukku. Kau menemaniku disaat senang maupun susah, kau mengurusku tanpa pamrih hingga tahu apapun kesukaanku ataupun yang menjadi kebiasaanku."
"Kau juga menyembuhkan luka dihatiku ini dengan semua perhatianmu itu, kau layaknya teman hidupku. Yang selalu bisa membuatku tersenyum, bahkan ada satu hal lagi yang tidak bisa diberikan oleh Rosa seperti dirimu itu," ucap Tuan Dira mengutarakan isi hatinya.
"Apa itu?" tanya Ibu Diana.
"Waktumu untukku, kau selalu ada untukku. Bersedia menemaniku dan juga mau mendengarkan semua keluh kesahku padamu," balas Tuan Dira.
"Tuan, kurasa kau salah mengartikan semua perhatian serta kebaikan hatiku selama ini padamu. Aku melakukan semua ini hanya karena kau adalah temanku, karena seorang teman sudah seharusnya membantu teman lainnya disaat mereka sedang mengalami kesusahan," balas Ibu Diana.
"Awalnya aku juga berpikir demikian Diana, tapi setelah aku selami lebih dalam hatiku ini. Aku ternyata membutuhkanmu dan bukan itu saja, aku juga menginginkan dirimu agar selalu terus berada disisiku," harap Tuan Dira.
Ibu Diana menghela nafasnya dan menatap wajah tulus Tuan Dira, ia tidak menyangka jika pria dihadapannya itu telah menaruh hati padanya begitu dalam.
"Ku mohon janganlah menolak," ucap Tuan Dira semakin berharap.
"Tapi bagaimana bisa Tuan, aku tidak mungkin menerimamu." Ibu Diana memalingkan wajahnya dan enggan menatap cincin pernikahan pemberian Tuan Dira.
"Terima saja Mama," ucap Lovely yang ternyata telah sampai di restoran dan mendengar semua pembicaraan mereka berdua.
Tuan Dira dan Ibu Diana sontak menoleh bersamaan. "Lovely," sahutnya.
"Mama, Papa Dira sepertinya tulus dengan Mama. Bagaimana kalau diterima saja, Ly setuju kok." Lovely meyakinkan Ibunya untuk menerima lamaran dari Tuan Dira.
__ADS_1
"T-tapi ___"
"Sudah jangan terlalu banyak berpikir Mama, aku juga menyetujui hubungan kalian," serobot Putera.
"Putera ..." lirih Tuan Dira.
"Aku sudah lama sekali ingin mempunyai ibu, walaupun itu hanya sebatas ibu sambung. Tapi setelah mendengar Papa ingin melamar Mama Diana, aku merasa senang sekali. Seperti mendapatkan sesosok ibu kandung asli ke dalam hidupku ini," balas Putera.
Lovely mengangguk dan membenarkan perkataan Putera. "Sama seperti Putera Mama, aku juga menginginkan sesosok ayah seperti Papa Dira."
Ibu Diana tersenyum lalu menatap Tuan Dira. "Kau tahu, setelah melihat anak menantuku ini menyetujui hubungan kita. Aku rasa tidak ada salahnya menerima lamaranmu," balasnya kemudian disambut keceriaan semua orang.
Tuan Dira menangis haru dan begitu bahagia sekali, lalu tanpa banyak kata lagi pria itupun menyematkan cincin pernikahan dijari manis Ibu Diana.
Tak ada bedanya, Ibu Diana merasa bersyukur. Diusianya yang tidak muda lagi, dia akan berumah tangga kembali bersama pria yang tulus mencintainya.
Semua orang pun bersuka cita, terlebih bagi Putera dan Lovely sendiri. Dimana mereka akhirnya bisa melihat raut kebahagiaan diwajah orang tua mereka masing-masing.
Putera dan Lovely yang larut dalam suasana kebahagiaan pun tak sadar saling berpelukan begitu eratnya, karena saking senangnya melihat kedua orang tua mereka akhirnya bersatu dan mau membuka lembaran baru.
"Aku mencintaimu Lovely," ucap Putera lalu mendaratkan satu ciuman untuk istrinya begitu saja.
Sedangkan Lovely terbelalak dan tersadar dengan kejadian tersebut, wanita itupun menunduk malu. "Kau ini, menciumku seenaknya didepan banyak orang!" ucapnya sambil mencubit perut Putera.
Lovely dan Putera menurut, kemudian duduk di meja yang sama setelah bertukar ke meja yang lebih besar daripada sebelumnya.
Sedangkan Ron yang sudah lapar sedari tadi, menghabiskan satu menu tanpa menunggu kedua pasangan dihadapannya itu.
"Dasar anak tidak sopan, makan sendirian saja!" ucap Lovely sambil mencubit gemas pipi adiknya yang gembul.
"Akh sakit Kakak," Ron merengek.
"Lovely, lepaskan tanganmu. Tidak apa, mungkin Ron sudah lapar," bela Putera menepis tangan Lovely dari pipi Ron.
"Om Putera benar, Ron sudah lapar. Habisnya nunggu kalian lama sekali," balas Ron menyambar makanan yang lain.
"Om?" ucap Tuan Dira dan Ibu Diana bersamaan.
"Iya, dia Om ku yang baik," serobot Ron.
__ADS_1
"Dia kakak iparmu, mulai sekarang berhenti memanggilnya om," ucap Ibu Diana.
"Lalu aku harus memanggilnya apa?" tanya Ron.
"Panggil dia Kak Putera saja," balas Ibu Diana.
"Kakak? Tapi dia seperti om-om." Ron polos melanjutkan memakan makannya kembali dan tidak memperdulikan ekspresi Putera yang berubah menjadi masam.
Sedangkan Lovely terkekeh mendengar penuturan adiknya itu. "Rasakan itu, dia menyebalkan bukan. Tapi Ron memang benar, kau seperti om-om," gelak tawanya.
Putera menatap Lovely yang masih saja menertawai dirinya. "Kau tertawa begitu senangnya, apa tidak takut malam nanti aku berbuat sesuatu padamu hmm," ucapnya dengan seringai tipis.
Lovely segera menghentikan tawanya. "Maaf, aku hanya bercanda denganmu."
"Tidak akan ku maafkan, kecuali kau mengabulkan keinginanku untuk bermain denganku di ranjang nanti," bisik Putera tersenyum menatap Lovely yang terbelalak.
"Tidak mau!" bisiknya tegas.
"Sudahlah jangan bertengkar, sekarang mulailah makan malamnya," sela Tuan Dira tidak ingin keduanya bertengkar.
...***...
"Lovely sayang, kapan kau akan memberikan keturunan untuk keluarga suamimu hah?" tanya Ibu Diana membuat keduanya tersedak makanan bersamaan.
"Mama, bicara apa sih." Lovely menatap tidak suka.
"Sayang, kau sudah menikah cukup lama. Penuhilah kewajibanmu sebagai seorang istri dan berikan hak suamimu itu dengan segera," balas Ibu Diana menegaskan.
"Mama aku dan Lovely memang tidak ingin buru-buru punya momongan," serobot Putera tidak ingin membahas hal tersebut, karena dia tahu kalau Lovely masih belum ingin memberikannya.
"Tidak bisa begitu Putera, kau adalah suami putriku dan kau juga berhak atas dirinya," balas Ibu Diana lalu menatap Lovely kembali. "Ly, Mama berharap kau bisa membahagiakan suamimu dan memberikan apa yang sudah menjadi haknya."
Lovely mengangguk pelan. "Baiklah Ma," balasnya lalu menatap Putera yang tersenyum padanya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
...----------------...
Apakah Lovely akan memberikannya pada Putera, tunggu di bab selanjutnya.