Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 72. Rujak buah.


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Perusahaan Mahesa.


"Pak Putera, pembelian tanah di daerah kabupaten telah selesai. Kita bisa mulai proyek pembangunan rumahnya," ucap Martin mengabari sang bos.


"Hem, bagus. Mana sini berkas-berkasnya, biar saya lihat," jawab Putera.


Martin mengulurkan beberapa berkas pembangunan rumah cluster tersebut. "Ini Pak," ucapnya. Kemudian menjelaskan beberapa point penting yang berada di dalam berkasnya itu.


Sebagai perusahaan yang mengelola real estate, dari hunian cluster kelas menengah hingga hunian kelas atas, bahkan sekelas mansion pun, perusahaan Mahesa bisa dibilang sangat sukses dalam mengelola usaha tersebut.


Itu terbukti dari tingkat penjualan yang terus meningkat, karena dalam setahun terakhir mereka mampu menjual beberapa ribu unit rumah dalam satu gerakan saja.


Hal tersebut dikarenakan rasa kepercayaan tinggi dimata masyarakat umum, terhadap nama Perusahaan mereka yang selalu menjaga kualitas bangunan dan estetika bergaya serta point-point penting lainnya.


"Pembangunan 2500 unit rumah, diantaranya 500 unit cluster Melati, 500 unit cluster Mawar, 500 unit cluster Cempaka, 500 unit cluster dan 500 unit cluster Lily putih," ucap Putera sambil membaca ulang berkas tersebut.


"Benar Pak!" seru Martin bersemangat.


"Baiklah, Martin tolong katakan pada Siska agar mencatat jadwal kunjunganku ke tempat itu lusa nanti!" titah Putera.


"Baik Pak! Segera akan saya sampaikan," jawab Martin.


"Bagus Martin, tugasmu sekarang adalah segera hubungi bagian-bagian pihak yang terkait atas pembangunan rumah ini. Jika ada kesulitan atau sesuatu yang penting bilang saja padaku," ucap Putera sambil menyerahkan berkas-berkas itu kembali.


Martin mengangguk. "Siap Pak Putera!" patuhnya, kemudian kembali melaksanakan tugas.


Lalu Putera kembali mengerjakan laporannya dan berniat akan lembur hari ini dan mengambil alih pekerjaan Lovely selama istrinya itu dalam masa cuti hamil.


...----------------...


Perusahaan Peterson.


Alex mendatangi kantor tuan Peterson, karena ingin membicarakan sesuatu hal yang penting kepada ayahnya itu.


"Hai Alex, ada perlu apa datang ke ruangan Daddy?" tanya tuan Peterson.


Alex duduk berhadapan dengan sang ayah. "Daddy, aku dengar perusahaan Mahesa akan membangun perumahan lagi di daerah kabupaten. Kenapa perusahaan kita selalu saja tidak diajak bekerja sama olehnya?" tanyanya.

__ADS_1


"Bukannya mereka tidak mau menggandeng perusahaan kita, tapi karena Daddy memang tidak berminat untuk bekerja sama dengan perusahaan Mahesa," balas tuan Peterson.


"Itulah masalahnya Daddy, kenapa kita tidak ikut saja bekerja sama dengan perusahaannya. Dengan begitu kita bisa menghancurkan bisnis mereka dari dalam," balas Alex dengan ide jahatnya.


Tuan Peterson segera menatap tajam anaknya itu. "Apa yang kau katakan? Walau Daddy tidak suka dengan keluarga Mahesa, bukan berarti Daddy harus menghancurkan bisnis mereka juga."


"Daddy ... Kalau Daddy tidak menyukai keluarga Mahesa, mengapa tidak kita hancurkan saja bisnis mereka. Dengan begitu kita tidak punya saingan lagi, seperti Daddy menghancurkan rumah tangga tuan Dira," balas Alex membujuk.


Tuan Peterson mendengus kesal. "Daddy seorang profesional, bisnis tetaplah bisnis. Jangan campuri urusan pribadi dengan bisnis, apalagi mengotori perusahaan yang telah keluarga kita bangun selama ini hanya karena keinginan pribadi semata."


"Dan mengenai hancurnya rumah tangga tuan Dira, itu karena mommy dan Daddy sama-sana saling mencintai, bukan merebut mommymu dari tanggannya secara paksa," jelas tuan Peterson menimpali.


Alex berdecak kesal, merasa ayahnya begitu sulit sekali untuk menuruti permintaannya. "Lalu kapan Daddy akan menyerahkan perusahaan ini kepadaku?"


"Ck! Setelah kamu siap menjalankan bisnis ini secara mandiri dan kau juga telah memiliki keluarga, maka Daddy berjanji akan menyerahkan semua perusahaan ini kepadamu," balas Tuan Peterson.


Alex menyeringai tipis. "Baiklah kalau begitu, aku akan memenuhi permintaanmu itu. Tapi berjanjilah akan memberikan perusahaan ini secepatnya jika aku sudah menikah," balasnya.


Tuan Peterson mengangguk yakin. "Iya, sekarang pergilah ke ruanganmu. Banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan," balasnya.


"Baik Daddy," patuh Alex. Kemudian pria itu kembali ke ruang kerjanya dengan pikiran bagaimana caranya mendapatkan wanita untuk ia nikahi sebagai pelengkap.


...----------------...


Pada malam harinya, Putera pulang ke rumah dengan membawakan sekotak rujak buah untuk sang istri tercinta.


Bukan karena sebab, itu semua ia lakukan karena keinginan sang ibu hamil yang meminta rujak buah dimalam hari yang gelap begini.


"Sayang," ucap lembut Putera memanggil istrinya yang sedang memakan beberapa cemilan.


Lovely menoleh, namun bukanlah sang suami yang ia sambut. Melainkan kepada sebuah jinjingan yang berada di tangan suaminya itu.


"Ah rujak buahnya sudah datang!" seru Lovely kegirangan, hingga melupakan perjuangan Putera yang sudah mencari rujak buah itu kemana-mana tempat. Mengingat hari yang sudah malam dan semua toko penjual rujak buah pun telah tutup berjualan.


Bersyukur Ibu Diana mau membuatkan rujak buah itu, walau membuatnya secara sembunyi-sembunyi. Karena Lovely sudah pasti akan menolaknya, jika ia tahu rujak itu bukanlah buatan si abang-abang.


"Aku ingin makan rujak buah buatan abang-abang, bukan buatan rumah. Titik!" Begitulah keinginan keras kepalanya.


Walau ngidam Lovely tidak seaneh ngidamnya Jelita kala itu, yang ingin mematahkan batang candu dan juga ular python milik Wiliam suaminya itu setiap hari.

__ADS_1


Namun nampaknya Putera juga tidak kalah cukup dibuat kewalahan oleh selera Lovely yang semakin hari semakin sulit saja dimengerti.


Seperti saat sekarang ini, wanita hamil itu memisahkan semua buah-buahan dari bumbu petisannya. Lalu mengeluarkan cabe rawit hijau dari mangkuk yang dia ambil dari dapur tadi.


Kemudian ia pun mencocol cabe rawit itu pada bumbu rujak dan memakannya seperti kacang goreng. Dengan ekspresi wajah senang, seperti sehabis memenangkan sebuah undian berhadiah.


"Sayang, kenapa kamu tidak makan buah-buahannya. Malah memakan cabe rawit yang pedas ini?" tanya Putera keheranan.


"Kenapa? Apanya yang salah, ini enak kok," jawab Lovely tanpa kepedasan sama sekali. "Sudahlah sayang, aku ingin habiskan ini dulu. Kalau kamu mau, makan saja buahnya itu," sambungnya lagi.


Putera hanya bisa menghela nafas berkali-kali, sudah cape-cape dia berkeliling tempat untuk mencari rujak buat itu, tapi yang dimakan hanya bumbu rujaknya saja.


Nasib.


...----------------...


Mansion Peterson.


Nyonya Rosa begitu senang, saat mengetahui jika Alex telah setuju menikah dan meminta tolong agar mencarikan seorang wanita untuk dinikahi.


Wanita paruh baya itu lantas menghubungi salah satu sahabatnya dan mengajukan lamaran kepada putrinya untuk dinikahi oleh Alex.


"Benarkan Des, kamu setuju! Baguslah kalau begitu, bagaimana kalau kita pertemukan saja anak-anak kita besok. Biar mereka bisa bertemu dan berkenalan terlebih dahulu," seru nyonya Rosa masih dalam panggilan telepon.


"Iya Ros, aku juga setuju. Semoga keduanya bisa sama-sama suka," balas nyonya Desi dari ujung selulernya.


"Okelah kalau begitu, aku akan memberitahumu dimana tempat dan jam ketemuannya ya," balas nyonya Rosa.


"Baik Ros," balas nyonya Desi.


Nyonya Rosa menutup panggilan tersebut, kemudian tersenyum senang, seketika salah satu beban pikirannya telah sirna. Karena ia tidak memikirkan lagi masalah Alex yang bersikeras ingin menikahi Lovely.


Namun, faktanya tidaklah seperti itu. Karena jauh didalam hati Alex sendiri. Ia hanya menginginkan rumah tangga Putera dan Lovely hancur seperti rumah tangga tuan Dira terdahulu.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2