
Beberapa bulan kemudian.
Sebuah acara pernikahan tengah digelar disuatu hotel megah dipusat jantung kota, dimana pengantinnya adalah Alex dengan Feby.
Dan nyonya Rosa terlihat begitu bahagia sekali, selain karena bisa melihat putranya itu menikah, ia juga senang karena dapat melihat cucunya lagi yang datang ke acara pernikahan tersebut.
"Lovely, mama ingin gendong baby Marcell sebentar. Boleh ya," pinta nyonya Rosa.
Lovely tersenyum dan memberikan baby Marcell kepada nyonya Rosa. "Tentu saja boleh, bagaimabapun juga baby Marcel adalah cucu mama," ucapnya dan Putera hanya bisa berdecih kesal.
"Terima kasih sayang," ucap nyonya Rosa, lalu menimang-nimang cucunya yang sedang tertidur pulas dengan riang.
Lovely senang sekali melihat kejadian tersebut, lalu menatap Putera yang hanya memalingkan wajahnya sambil berdecak kesal. Karena putranya diberikan kepada wanita yang ia tidak sukai.
"Putera, jangan marah. Mama hanya menggendongnya sebentar, lagi pula bayi Marcel itu kan cucunya," rayu Lovely agar amarah Putera mereda.
"Tapi aku tidak suka kalau dia menyentuh anakku!" tegas Putera.
"Putera, kau kan sudah berjanji padaku. Akan menuruti semua keinginanku setelah berhasil melahirkan, jadi ku harap kau akan selalu mengingat janjimu itu!" tegas Lovely mengingatkan.
Putera mencebik, sesekali menghembus nafasnya ke udara. Merasa kesal sekali jika berdebat dengan seorang wanita, terlebih wanita itu adalah istri sendiri.
Seperti sedang makan buah simalakama, jika dituruti bikin hati jengkel sendiri dan jika tidak dituruti, maka siap-siap akan dicueki oleh istri setiap hari.
Putera menyugar rambutnya, kemudian menatap tajam Lovely. "Baiklah, tapi hanya sepuluh menit dia boleh menggendong putraku dan tidak boleh lebih dari itu!" bisiknya tegas.
Lovely tersenyum. "Terima kasih sayang, kau memang suamiku yang tampan dan terbaik," pujinya sesekali mengedipkan mata genit.
Dan seketika itu pula wajah Putera berseri. "Jangan merayuku untuk sekarang ini Lovely, kau tahu kan kalau kita ini sedang puasa," ucap Putera merasa tertekan.
Lovely terkekeh. "Maaf sayang, aku lupa kalau aku sedang datang bulan."
Putera mendengus kesal, puasa berhubungan selama seminggu membuatnya jadi sakit kepala. Ditambah sang istri yang selalu saja meledeknya, mengakibatkan dirinya menaruh dendam.
"Setelah bersih nanti dia tidak akan ku lepaskan dengan mudah," umpatnya.
"Sudah jangan berkelahi, acaranya sebentar lagi akan selesai. Kita harus memberi mereka ucapan selamat," ajak Lovely menggandeng suaminya yang sedang cemberut.
...***...
__ADS_1
Tepat dipenghujung acara, Lovely bersama dengan Putera menyempatkan diri naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat. Ada kesan tersendiri bagi Alex saat melihat wanita yang dia sukai menjabat tangannya.
"Selamat atas pernikahanmu semoga selalu langgeng," ucap Lovely memberi selamat.
Alex terdiam sejenak menatapi Lovely sambil tersenyum lembut, lamunan dikepalanya membuat tangannya itu tidak mau melepaskan pegangannya.
Hingga harus Putera sendiri yang melepas jabat tangan itu, ketika melihat tangan istrinya terlalu lama disentuh oleh pria lain.
"Sudah jangan lama-lama, masih banyak orang yang mengantri memberimu selamat." sindir Putera hingga membuyarkan lamunan Alex.
"Maaf," ucap Alex sedikit kesal dengan Putera. Namun dia harus menyembunyikan rasa dongkolnya itu dalam-dalam, agar tidak ada yang curiga jika dirinya masih belum bisa move on.
Selain memberi selamat kepada Alex, Lovely juga memberi selamat kepada Feby dan berharap Feby bisa menjadi istri yang baik untuk Alex.
...----------------...
Mansion Putera.
Setibanya di rumah setelah menghadiri pesta pernikahan Alex dan juga Feby, Lovely tengah berusaha merayu Putera yang sedang merajuk.
Pasalnya pria itu dipaksa oleh istrinya untuk menghadiri pesta pernikahan Alex, padahal dia sendiri tidak peduli dengan acara tersebut.
Karena diacara itu, banyak sekali orang-orang yang tidak disukai oleh Putera, seperti semua anggota keluarga Peterson.
Serta lamanya jabat tangan Alex kepada istrinya, dan yang membuat Putera semakin kesal adalah tatapan pria itu kepada Lovely.
"Dia sudah menikah dengan wanita lain, tapi masih saja menatap damba seperti itu kepada istriku," gumam Putera tidak habis pikir.
"Sudahlah sayang, mereka kan sudah menikah dan aku yakin mereka pasti akan bahagia dengan pasangannya setelah ini," rayu Lovely agar suaminya itu tidak mengambek lagi.
Putera pun memicingkan matanya dan menatap Lovely dengan kesal. "Ini semua salahmu, jika saja kau mendengarkan kata-kataku untuk tidak menghadiri acara pernikahan itu. Maka Alex maupun mamanya tidak akan menyentuh putraku ataupun dirimu Lovely!" ucapnya gusar.
Lovely menghela nafasnya. "Putera, berhentilah benci kepada keluarga mereka. Karena bagaimanapun juga mereka masih satu keluarga dengan kita dan salah satu dari keluarga ini harus menyudahi dendam lama. Karena kalau tidak, maka keluarga Mahesa atau keluarga Peterson tidak akan pernah bisa merasa tenang dan bahagia."
"Keluarga merekalah yang memulai, dendam lama ini tidak akan pernah bisa dihapus dengan mudah begitu saja. Dan mengenai kebahagiaan serta ketenangan keluargaku sendiri adalah kita tidak perlu lagi berhubungan dengan keluarga mereka," ceramah Putera menasehati.
"Tapi sayang," ucap Lovely namun Putera segera membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.
"Tidak sayang, jangan katakan apapun lagi. Selamanya kau milikku, tidak ada pria lain yang boleh menyentuh atau mengambil dirimu dariku," ucap Putera kemudian masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Lovely terkesiap dan merasa lesu. "Kenapa sulit sekali menghapus dendam lama mereka dan kenapa sulit sekali menyatukan dua keluarga itu," gumamnya.
...----------------...
Sementara itu masih di sebuah hotel yang sama dengan tempat mereka melangsungkan pernikahan. Tepatnya disebuah kamar hotel, Alex dan Feby tengah berada didalam satu ruangan yang sama.
Akan tetapi, walau ini adalah malam pertama mereka, namun pikiran keduanya begitu sibuk dengan lamunan mereka masing-masing.
Jika Feby melamunkan sesuatu tentang malam pertamanya bersama dengan sang suami, beda halnya dengan Alex.
Pria itu masih saja terngiang-ngiang dengan wujud tamu istimewanya dan teringat akan sentuhan tangan lembut seorang wanita didalam pikirannya itu, saat berjabat tangan tadi.
"Alex," panggil Feby.
"Ya," jawab malas Alex.
"Apa kau ingin dipijat? Ku lihat kau diam saja daritadi, apa kau sedang lelah?" tanya Feby mencoba melayani suaminya.
Alex menghela nafasnya panjang dan hanya mengangguk saja. "Ya aku lelah," balasnya berbohong.
Padahal Alex dalam kondisi prima, namun berpura-pura lelah agar istrinya itu tidak meminta hal yang tidak dia inginkan malam ini.
"Kalau begitu berbaringlah, biar aku pijat seluruh badanmu," ucap Feby menawarkan diri.
"Baiklah," Alex mengangguk, lalu membuka kemejanya dan berbaring diatas pembaringan.
Sedangkan Feby, dia langsung menelan ludahnya saat melihat tubuh sempurna milik suaminya itu. "Apapun yang terjadi, aku harus bisa memilikimu malam ini," batinnya.
Feby merangkak naik, kemudian mulai memijat punggung suaminya dengan minyak zaitun yang berada di dalam kamar hotel tersebut. Sesekali menahan hasrat yang tiba-tiba muncul begitu saja pada dirinya.
Hal tersebut membuat Feby memijat dengan sedikit meremass, terlebih jika tangannya itu sedang berada di bagian pangkal pahaa suaminya.
Alex meneguk ludahnya kasar, merasa jika pijatan Feby semakin lama semakin tidak benar saja. "Berani sekali dia menyentuh bagian sensitifku," ucapnya kesal.
Dengan segera pria itu membalikkan badan dan seketika itu juga dia membulatkan matanya hingga membola sempurna.
Alex begitu syok, ketika melihat tubuh mulus Feby tanpa mengenakan pakaian sehelai benangpun, terpampang nyata di depan mata kepalanya sendiri.
.
__ADS_1
.
Bersambung.