
Perusahaan Mahesa Group.
"Masuk!" sahut Putera, sesaat terdengar suara ketukan dari pintu ruangannya.
"Pak Putera," sahut Martin.
"Iya Martin, masuklah. Ada kabar apa?" tanya Putera.
"Saya mendapat kabar dari petugas lapas, kalau Leo telah disidang dan mendapatkan hukuman mati. Atas kasus pembunuhan berencana pak Marsan dan juga kasus penculikan Ron beberapa hari yang lalu," balas Martin.
"Syukurlah, akhirnya dia telah mendapatkan hukuman yang setimpal. Lalu Martin, apa kau mendapat info tentang orang yang membantu Leo sebelumnya?" tanya Putera kembali.
Martin menggeleng. "Tidak ada yang tahu Pak, bahkan Leo tidak mau membuka mulutnya saat di interogasi oleh petugas disana."
Putera menghela nafasnya kasar. "Begitu ya, jadi dia tidak ingin membuka mulutnya."
"Benar Pak Putera, lalu apakah ada orang yang menurut anda patut untuk dicurigai?" tanya Martin.
Putera mengangguk pelan. "Ada satu orang yang aku curigai membantu Leo selama ini Martin, tapi aku tidak yakin kecurigaanku ini benar atau salah."
"Apakah orang itu adalah Alex?" tanya Martin menerka.
"Iya, aku rasa dia orang yang telah membantu Leo selama ini. Karena siapa lagi orang jahat yang mempunyai uang banyak dan kekuasaan yang besar selain keluarga Peterson. Tapi sayangnya aku belum mempunyai bukti yang kuat tentang itu semua," balas Putera.
"Lalu apa yang akan anda lakukan setelah ini Pak Putera?" tanya Martin.
"Sudah pasti mencari kebenarannya dan saat aku telah berhasil mendapatkan kebenaran itu, maka aku tidak akan melepaskan Alex dengan mudah. Martin, cobalah terus awasi pergerakan Alex. Aku tidak ingin kita kecolongan lagi seperti waktu itu," ucap Putera.
"Baik Pak!" patuh Martin.
"Terima kasih, sekarang kembalilah dan kerjakan semua laporanmu yang belum diselesaikan!" titah Putera.
"Baik Pak!" patuh Martin sekali lagi, lalu kembali ke ruang kerjanya.
...----------------...
Toko Bunga.
__ADS_1
Setelah beberapa hari tutup karena melangsungkan acara kedukaan, toko bunga milik Ibu Diana akhirnya dibuka kembali. Namun keindahan dari bunga-bunga di dalam tokonya tersebut, tidaklah seindah hati sang pemilik disaat sekarang ini.
Bagaimana tidak, awal mula terbentuknya toko bunga itu karena ada berkat campur tangan sang mantan suaminya sendiri yang telah almarhum.
Hingga tak terasa bayang-bayang kenangan masa lalu pun kembali muncul di dalam benak Ibu Diana.
"Sayang, kau telah berhenti bekerja dan sekarang telah mengganggur. Bagaimana caramu membiayai persalinanku dan juga biaya hidup anak kita yang lahir nanti."
"Jangan cemaskan hal itu sayang, aku mendapatkan pesangon. Bagaimana kalau kita membuka usaha saja."
"Kau ingin membuka usaha apa?"
"Kau suka bunga bukan, bagaimana kalau kita menjual bunga saja. Kebetulan aku punya teman yang punya kebun bunga."
"Baiklah kalau begitu, aku akan membantumu menjaga toko."
"Sayang, aku telah menemukan tempat yang cocok untuk membuka usaha ini dan aku ingin menamainya toko bunga Love's Florist."
"Wah bagus sekali namanya, kenapa kau menamai toko kita seperti itu?"
Ibu Diana tersenyum dan mengingat bagaimana pak Marsan memberikan nama Lovely untuk anak pertamanya.
"Dia putriku, beri nama Lovely sesuai dengan nama toko kita. Aku juga berharap dia bisa menebar cinta untuk siapapun dan mendapatkan cinta sejatinya kelak jika sudah dewasa."
Ibu Diana lantas menghela nafasnya panjang, merasa sulit melupakan semua kenangan lama yang pernah dialami oleh dirinya dan juga sang mantan suami.
"Andaikan saja kau tidak salah jalan waktu itu dan tidak terjerumus ke jalan yang sesat, mungkin kita masih tinggal bersama menjalani usaha ini dan tidak menutup kemungkinan kau masih hidup sampai sekarang," ucapnya pelan.
"Diana ..." ucap seseorang dari muka pintu.
Ibu Diana segera menghentikan tangisannya dan menoleh. "Tuan Dira," jawabnya.
Tuan Dira merasa tidak enak hati, lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam toko. "Maaf, sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat. Aku akan datang kembali saat tokomu sudah buka."
Ibu Diana menggeleng. "Tidak Tuan Dira, silahkan masuk. Toko ku sudah buka, bagaimana bisa aku mengabaikan pelangganku yang ingin membeli sesuatu."
__ADS_1
Tuan Dira tersenyum kemudian masuk ke dalam toko. "Baiklah kalau begitu," jawabnya.
"Duduklah dulu Tuan Dira, kau ingin membeli bunga apa?" tanya Ibu Diana.
"Diana, kali ini aku datang bukan untuk membeli bunga. Tapi hanya untuk melihat keadaanmu saja," balas Tuan Dira.
"Aku baik-baik saja Tuan Dira, lagipula Leo sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan lagi," ucap Ibu Diana sambil menuangkan air minum.
"Benar, semua juga sudah berlalu dan yang harus kita pikirkan adalah hubungan pernikahan antara kedua anak kita," balas Tuan Dira.
"Kau benar Tuan, mereka sudah cukup lama menikah tapi masih belum bisa bersatu. Maafkan anakku Lovely, karena sepertinya dia masih belum siap memberikanmu seorang keturunan," ucap Ibu Diana.
"Jangan berkata seperti itu Diana, menurutku pernikahan bukanlah tentang memberi keturunan untuk keluarga saja. Karena yang terpenting adalah pasangan itu bisa menerima satu sama lain dan saling mencintai terhadap pasangannya sepanjang hidup," tutur Tuan Dira.
Ibu Diana tersenyum. "Tidak ada yang bisa mengalahkanmu jika mengenai hal yang berkaitan dengan cinta Tuan Dira. Bahkan menurutku, kata-katamu itu selalu saja bermakna indah dan bagus untuk di dengar," pujinya.
"Kau bisa saja memujiku, walau banyak orang yang menjuluki aku seorang pujangga cinta. Tapi kenyataannya aku hanyalah pria yang gagal dalam menjalani biduk rumah tangga, karena tidak bisa mempertahankan istriku sendiri dari genggaman pria lain. Bahkan aku sendiri tidak bisa membuat anakku percaya dengan apa yang namanya cinta," balas Tuan Dira mengelak.
"Jangan berkata seperti itu Tuan Dira, janganlah menyalahkan diri sendiri atas semua yang sudah terjadi. Karena semuanya sudah diatur oleh Tuhan yang maha kuasa dan mengenai putramu itu, aku yakin suatu saat nanti ia pasti yakin kalau cinta itu benar nyata adanya."
"Benar, cinta itu nyata! Semua orang pasti akan merasakan yang namanya jatuh cinta dan aku berharap Putera dan Lovely bisa saling jatuh cinta. Diana, menurutmu bagaimana membuat mereka bisa saling jatuh cinta?" tanya Tuan Dira meminta saran.
"Menurutku yang pertama adalah membuat mereka menerima terlebih dahulu kelebihan serta kekurangan masing-masing. Yang kedua adalah mereka harus saling mengerti dan memahami karakter dan juga kepribadian pasangannya."
"Dan yang ketiga dan yang paling penting dari itu semua adalah, mereka harus sering berkomunikasi dan saling terhubung satu sama lain," tutur Ibu Diana menjelaskan.
Tuan Dira mengangguk. "Tepat sekali, dari yang kulihat hubungan mereka selama menikah adalah kurangnya komunikasi. Mungkin aku harus membuat mereka selalu terhubung dan dengan begitu mereka jadi bisa lebih dekat," balas Tuan Dira.
"Jadi Tuan Dira apa yang akan anda lakukan?" tanya Ibu Diana.
"Lovely selama ini hanya bekerja mengurus bunga di toko dan sekarang aku ingin dia bekerja menjadi bawahannya Putera secara langsung. Dengan begitu mereka bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak diperusahaan. Jadi, bagaimana menurutmu Diana?" balas Tuan Dira.
Ibu Diana tersenyum. "Terserah anda saja Tuan, karena bagiku keinginanmu yang ingin mendekatkan mereka berdua akan selalu aku dukung."
.
.
__ADS_1
Bersambung.