
"Putera anakku, mama sudah datang. Sekarang berbalik dan kemarilah agar mama bisa memelukmu," panggil nyonya Rosa sekali lagi.
Langkah kakinya semakin mendekat ke arah sang putra, dimana kini ia telah berdiri dihadapan pria itu. Lalu, nyonya Grace memberanikan diri menyentuh lengan Putera dan berharap agar anaknya itu mau berbalik untuk menghadap dirinya.
"Berbaliklah sayang, maafkan mamamu yang jahat ini, karena telah tega meninggalkanmu. Mama bersalah dan mama mengakui itu semua," ucapnya.
Kali ini dia meluapkan semua penyesalannya itu, dengan isak tangis menyertai setiap kata-katanya yang bergetar. Nyonya Rosa bahkan memaki dirinya sendiri dan mengatai jika dirinya adalah ibu yang durhaka.
"Mama memang tidak pantas disebut sebagai seorang ibu dan mama tidak pantas menjadi ibumu, maafkan mama Putera," ucapnya lagi.
Merasa Putera masih belum bisa memaafkan dirinya, nyonya Rosa pun membalikkan tubuhnya. "Maafkan mama, karena sudah mengganggu waktumu," ucapnya. Lalu melangkah maju menuju pintu keluar kamar.
Sedangkan Putera terlihat tidak rela, dengan segera ia mencekal pergelangan tangan ibunya itu agar tidak pergi lagi darinya.
"Mama ..." ucap Putera terdengar lirih.
Nyonya Rosa segera menoleh dan ia berbalik kembali menatap putranya. "Kau bilang apa tadi, kau memanggilku dengan sebutan apa?" tanyanya terharu.
"Mama," ucap Putera sekali lagi, walau sedikit bergetar namun ia yakin, indera pendengarannya itu tidak salah mendengar.
"Katakan sekali lagi," pinta nyonya Rosa, kali ini dia tidak kuasa menahan air matanya itu.
"Mama ..." lirih Putera. Pria itu juga sudah tidak kuat lagi untuk meluapkan semua kerinduannya akan sesosok ibu kandung selama ini.
"Putera anakku," ucap nyonya Rosa. Lalu memeluk anaknya itu dengan erat tanpa ijin sambil menangis tersedu-sedu.
Putera membalas pelukan tersebut dan mendekap ibu kandungnya dan turut menangis.
"Kenapa ... Kenapa kau lama sekali mengakui kalau aku ini adalah mamamu, apa kau tahu mama selalu menantikan setiap hari kau menyebut kata itu padaku," isak nyonya Rosa.
Putera mengangguk cepat. "Kau lah yang terlalu lama meninggalkan aku, kau selalu saja mementingkan anak keduamu dari pada diriku ini. Kau selalu saja ada untuknya, tapi tidak ada untuk diriku. Kau selalu menyayanginya, tapi tidak menyayangi aku," ucapnya.
Putera meluapkan semua rasa sesak di dalam hatinya akan sang ibu kandung selama ini, yang selalu tidak pernah ada untuknya. Pria itu memarahi, mengadu dan bercerita seperti anak kecil kepada ibunya.
Sesuatu hal yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya itu, bukan karena ia tidak mau, melainkan karena memang tidak adanya sang ibu di dalam hidupnya selama ini.
Putera menangis sejadi-jadinya, dia bahkan sampai melupakan usianya yang sudah tidak muda lagi. Pria itu membuang rasa malunya, hanya karena ingin merasakan kesempatan yang sudah lama ia rindukan.
Mendapat perhatian sang ibu kandung.
Tak ada bedanya dengan Putera, nyonya Rosa pun menangis penuh haru. Bahkan dirinya mendengarkan semua keluh kesah anaknya itu dan menerima semua amarah dari Putera tanpa membalas.
Ia selalu mengucapkan kata maaf disetiap amarah anaknya itu dan selalu berharap agar Putera sudi memaafkan dirinya.
"Maafkan Mama, percayalah kalau selama ini mama selalu menyayangimu dan memikirkanmu setiap hari," balas nyonya Rosa.
Mereka saling mencurahkan hati mereka masing-masing, melupakan semua dunianya untuk sekarang ini. Dimana mereka berdua terhempas kembali ke dunia masa kecil, sehingga ibu dan anak itu tersenyum. Sesekali berandai-andai dalam anganannya.
Nyonya Rosa menciumi wajah Putera hingga bertubi-tubi, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama ini hingga anaknya itu sendiri sudah tidak pantas lagi.
Tapi mereka tidak peduli, bahkan Putera bergelayut manja dan duduk dipangkuan ibunya seperti anak kecil.
...***...
Sementara itu, perasaan bersalah melanda Alex saat mengintip kejadian tersebut. Tidak disangka cinta ibunya kepada Putera tidak bisa hilang begitu saja walau sudah lama terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Tapi yang membuatnya semakin bersalah adalah melihat tingkah laku Putera kakak tirinya itu, saat mendapat pelukan dari ibunya sendiri.
__ADS_1
Ia terlihat memejamkan kedua mata, sambil menyandarkan kepalanya dibahu sang ibu. Kenyamanan juga terlihat jelas pada wajah sang kakak tiri, begitu mirip seperti dirinya disaat mendapat pelukan hangat dari sang ibu dikala ?hatinya sedih.
"Kenapa aku bisa tega memisahkan mereka berdua selama ini," ucap Alex. Ia mulai menyadari jika dirinya sangatlah egois dan jahat kepada Putera.
"Syukurlah kalau kau sudah menyadari semua kesalahanmu, dan seperti yang sudah kau lihat sekarang ini. Tidak ada yang bisa memisahkan cinta ibu kepada anaknya," ucap Feby.
Kemudian mengajak Alex untuk membiarkan Putera menghabiskan waktu bersama dengan nyonya Rosa berdua di dalam kamar.
...***...
Malam harinya.
Suasana berbeda terlihat didalam ruang makan rumah itu, dimana beberapa hidangan mewah nan lezat telah terhidang diatas meja makan.
Hal tersebut bukanlah tanpa sebab, karena Lovely begitu senang, melihat semua keluarganya berkumpul hari ini dan untuk itulah ia beserta ibu Diana, bermaksud menyiapkan makan malam untuk mereka santap bersama.
Akan tetapi bukan itu saja yang membuatnya bahagia hari ini, melainkan Lovely juga bahagia ketika mengetahui jika hubungan Putera dengan nyonya Rosa mulai berangsur membaik.
Hal tersebut terlihat semenjak mereka keluar dari dalam ruangan kamar dan turun dengan saling bergandengan tangan, bahkan Putera menuntun ibunya serta mengucapkan kata hati-hati, disetiap langkah kaki sang ibu yang menuruni anak tangga.
Momen manis tersebut, membuat semua orang ikut terharu, terlebih bagi tuan Dira sendiri.
Dimana akhirnya ia bisa melihat Putera mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri, yang selama ini memang pria itu sudah dambakan sejak dari kecil.
"Ayo kalian juga duduklah kita makan malam bersama," ucap Lovely kepada Alex dan keluarga kecilnya.
Mereka mengangguk bersamaan, lalu duduk disatu meja makan yang sama. "Baiklah," ucap Alex setuju.
Putera kemudian menatapi seluruh keluarganya yang telah berkumpul bersama di meja makan, lalu memandang Alex yang telah memiliki keluarga kecil.
Pria itu lantas menyadari, jika bukan karena Alex yang mengikhlaskan nyonya Rosa bertemu dengannya. Mungkin hal bahagia didalam hidupnya itu, tidak akan bisa terjadi.
Alex tersenyum. "Ibuku adalah ibumu juga, mana bisa aku bersikap egois kepada kakak ku sendiri," ucapnya.
Putera nampak tertegun, tidak disangka Alex memiliki pemikiran dewasa seperti itu. Lantas dimana rasa egois serta rasa iri dengkinya selama ini?
Ya, rasa egois serta rasa dengki Alex itu telah di babat habis oleh Feby. Karena wanita itu akan selalu menceramahi Alex jika berani tidak menuruti keinginannya.
Selama menikmati makan malam bersama, kedua keluarga itu mulai bersenda gurau setelah sempat canggung selama beberapa saat.
Suasana yang semulanya tegang, kini mencairlah sudah. Tidak ada lagi pertikaian, perdebatan bahkan tidak ada lagi kata-kata yang menyakitkan hati, diantara kedua keluarga tersebut.
"Aku ingin keluarga kita selalu merasakan kehangatan seperti," ucap Lovely diantara selipan doanya.
"Benar, Rosa. Bagaimana jika malam ini kau menginap disini," ucap ibu Diana.
"Ah apakah boleh?" tanya nyonya Rosa.
"Tentu saja boleh, ini kan rumah anakmu juga," balas ibu Diana.
Nyonya Rosa menatap Alex dan seketika itupula dia mendapat persetujuan. "Silahkan menginap saja, lagipula aku sudah bosan mendengar ocehan Mommy setiap hari. Kali ini Mommy harus mengoceh kepada kak Putera setiap hari," ucapnya bergurau.
Semua orang disana pun tertawa, termasuk Putera dan juga nyonya Rosa. Mereka saling menatap satu sama lain, seperti ada banyak hal yang akan mereka sampaikan selama tinggal bersama didalam rumah ini.
"Ya sudah tentu Mama boleh menginap disini, benarkan sayang," ucap Lovely sambil merangkul suaminya.
"Hem, tentu saja. Dia bisa menginap kapanpun yang dia mau," ucap Putera lengkap dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, aku akan meminta bibi menyiapkan satu kamar untuk mama," seru Lovely.
"Terima kasih sayang," balas nyonya Rosa.
"Ya sudah kalau begitu aku harus pulang, jaga Mommy dengan baik selama menginap disini," ucap Alex.
"Sudah pasti," jawab Putera.
Alex tersenyum, kemudian mengajak istri dan anak mungilnya masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah.
Sementara itu ibu Diana dan tuan Dira juga ingin pulang ke rumahnya, namun ibu Diana tiba-tiba merasa pusing dan juga merasa mual pada perutnya itu.
Alhasil wanita paruh baya itu muntah karena rasa mual yang tidak tertahankan lagi.
"Diana, apa kau baik-baik saja?" tanya Tuan Dira cemas.
"Mama kau kenapa muntah seperti itu?" tanya Putera.
"Mama, apa yang terjadi?" tanya Lovely panik sekali.
Namun orang yang ditanya hanya senyum-senyum sendirian saja. "Jangan mencemaskan aku hingga seperti itu," ucapnya penuh teka teki.
"Apa maksumu Diana?" tanya tuan Dira tidak mengerti, terlebih istrinya itu malah meraih lengannya dan mengarahkannya ke bagian perut.
Nyonya Rosa seperti mengerti akan hal tersebut dan ekspresi bahagia seketika itupula menyelimuti dirinya. "Diana, apa kau sedang hamil!" serunya. Membuat tuan Dira terbelalak begitupula dengan Lovely dan juga Putera.
"H-hami? B-benarkah!" seru mereka bertiga.
Ibu Diana tersenyum malu dan mengangguk kecil. "Iya, aku hamil," ucapnya malu-malu.
Tuan Dira mendadak lemas, tidak disangka gempurannya itu masih bisa membuahkan hasil nyata. Namun keterkejutannya itu langsung disambut suka cita oleh semua orang. Lalu bergantian mengucapkan selamat untuk mereka berdua.
"Aku senang sekali!" seru Lovely melonjak kegirangan.
Tuan Dira menatap lekat istrinya itu dan tidak lupa menghadiahkannya sebuah ciuman hangat.
"Terima kasih sayangku, disaat hari bahagia ini kau juga memberikanku salah satu harta yang tidak ternilai," ucapnya penuh haru.
"Sama-sama," balas ibu Diana kemudian membalas pelukan suaminya itu.
Lovely merasa bahagia sekali, ia lalu memeluk Putera dan turut menangis haru atas kebahagiaan yang datang pada keluarganya saat ini.
Sejenak wanita itu berpikir, cinta itu memanglah tidak berwujud. Namun selalu ada disetiap hidup seseorang dan dapat membawa kebahagiaan bagi siapapun yang percaya dan punya rasa cinta dalam hidupnya.
Karena sejatinya cinta itu memang nyata adanya.
.......
.......
.......
...- TAMAT-...
Hai terima kasih penulis ucapkan kepada para pembaca sekalian, karena sudah sudi membaca karya receh ini. Mohon maaf jika selama penulisan dalam karyaku ini, masih terdapat salah pengetikan, salah-salah kata dan lain sebagainya.
Jangan lupa mampir di karyaku yang lain, sertakan juga like, komentar, hadiah dan juga vote untuk menyemangati penulis receh ini dalam berkarya.
__ADS_1
Terima kasih, Salam hangat
Penulis.