
Beberapa bulan kemudian.
Kandungan Lovely kini telah menginjak usia 9 bulan dan itu berarti, tidak lama lagi ia akan segera melahirkan seorang bayi.
Wanita itu begitu sibuk, karena sedang mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan persalinannya maupun persiapan menyambut kelahiran sang buah hati.
Hal tersebut ia lakukan sendirian, karena mengerti akan kondisi sang suami, yang sedang sibuk mengerjakan proyek pembangunan perumahan di daerah kabupaten.
Wanita itu juga menolak bantuan dari siapapun dari tenaga para maid yang ingin membantunya membersihkan kamar, karena dengan cepat Lovely berkata itu adalah keinginan dirinya sendiri.
Alhasil, wanita hamil itu pun merasa kelelahan. Hingga terlelap tidur seharian hingga malam menjelang.
Putera baru saja tiba di rumahnya dan ia begitu terkejut ketika istrinya sudab tertidur pulas, padahal jam masih menunjukkan pukul delapan malam.
"Tumben sekali dia sudah tidur jam segini, apa ia sedang pura-pura tertidur agar bisa mengerjaiku?" batin pria itu menerka-nerka.
Putera tersenyum, kemudian menghampiri dan duduk disisi ranjang. Ia menyelipkan anak rambut yang mengganggu ke belakang daun telinga, agar bisa melihat secara jelas wajah istrinya yang sedang tertidur.
Lalu, ia berniat mengusili dengan cara membenamkan wajahnya ke dalam ceruk leher isrtinya dan mengusak-mengusakkan wajahnya itu berkali-kali.
"Lovely sayang, bangun. Suamimu sudah pulang," bisik Putera masih asyik menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lovely.
Namun si empunya tidak bergerak, karena rasa lelah yang melanda membuat dirinya tidak lagi kuasa membuka kedua mata. Rasa kantuk yang melebihi kapasitas, mampu mengalahkan rasa geli menggelitik yang diciptakan oleh suaminya sendiri.
Alhasil Putera mendengus kesal, karena hari-harinya terasa belum lengkap jika belum mendapat ciuman dari istrinya itu.
"Sayang, hari ini kau belum menciumku. Kau juga belum menyapaku." Putera mengingat dia pergi pagi-pagi sekali, saat semua orang masih terlelap tidur.
Putera menatapi lekuk tubuh Lovely dan memandang wajah kelelahan istrinya, ada perasaan bersalah terdahulu saat dirinya main serong dengan wanita lain.
Walau tidak berselingkuh hingga berhubungan badan karena alerginya selalu saja menyerang, namun nyatanya itu membuat ia menyesali perbuatan salah sewaktu lalu hingga sekarang ini. Dan ia yakin, perasaan kecewa masih melekat dihati istrinya itu sampai kapanpun.
"Maaf," gumam Putera.
Pria itu bertekad akan terus menjaga istrinya dan tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah diberikan. Bahkan dia pernah sesumbar akan mendapatkan alergi lebih parah lagi, jika melakukan kesalahan serupa demi mendapat kembali kepercayaan istrinya itu.
...----------------...
Mansion Peterson.
Nyonya Rosa diam-diam membeli sebuah hadiah perlengkapan seorang bayi baru lahir untuk cucu dari anak pertamanya.
__ADS_1
Ia begitu antusias dan bersemangat sekali menyambut kelahiran sang cucunya itu, walau ia tahu Putera sendiri masih belum bisa menerima kehadirannya.
Namun kasih sayang seorang nenek tidak dapat dipungkiri, karena nyatanya dia akan tetap datang bagaimanapun caranya, saat kelahiran itu terjadi.
"Tidak ada yang bisa menghalangi aku untuk bertemu dengan cucuku tersayang," gumam nyonya Rosa bertekad.
Wanita itu juga berniat akan mengajak Feby agar ikut bersamanya saat menjenguk cucu dan juga menantunya. Karena selain untuk dikenalkan kepada keluarga Mahesa, hal tersebut juga dilakukan sebagai alasan demi melihat cucunya nanti.
"Ah aku tidak sabar ingin melihat cucuku, dia pasti lucu dan menggemaskan sekali," gumam nyonya Rosa sambil menatapi sebuah hadiah pemberiannya untuk sang cucu.
Alex yang kebetulan mengetahui hal itu merasa geram, lagi-lagi dia mendapati ibunya tengah senyum-senyum sendiri karena memikirkan keluarga pertamanya.
Iri hatinya kembali muncul dan Alex tidak punya rasa peduli akan kebahagiaan saudara tirinya. Karena mau bagaimanapun juga kasih ibunya itu tidak boleh dibagi-bagi untuk orang lain walau itu kepada putra pertamanya sendiri.
...----------------...
Rumah sakit.
Beberapa hari kemudian, Lovely dibawa ke rumah sakit setelah mengeluh merasakan sakit akibat kontraksi pada perutnya itu.
Dokter beserta bidan bergegas melakukan penanganan, karena sang pasien menunjukkan gejala ingin melahirkan.
"Sudah pembukaan tiga," seru bidan yang memeriksa kepada dokter yang bertugas.
"Ya sayang, kau harus kuat. Demi anak kita," balas Putera menguatkan.
"Ukh sakit sekali!" rintih wanita itu sesekali meremass tangan Putera yang memeganginya.
"Sabar ya sayang, kamu pasti bisa!" seru Putera memberi semangat, sesekali mencium tangan dan mengusap wajah Lovely yang berkeringat.
Pria itu senantiasa menemani istrinya yang sedang berjuang, menunggu hadirnya sang buah hati lahir ke dunia ini.
Sedangkan seluruh keluarga Mahesa, menunggu mereka di depan ruang bersalin dengan harap-harap cemas dan berharap agar diberikan kelancaran serta keselamatan bagi sang ibu dan juga bayinya.
...***...
Tiga jam kemudian.
Suara tangis bayi mulai terdengar dan Putera begitu senang mendengar hal tersebut. Karena itu menandakan jika istrinya telah berhasil mengeluarkan anaknya.
Pria itu begitu gembira sekali, hingga ia bersimpu dan bersujud untuk mengucap syukur kepada sang pencipta, karena telah memberikan kelancaran kepada istri tercintanya.
__ADS_1
"Oh Tuhan terima kasih atas anugerah-Mu," puji syukur Putera berseru sambil menggendong bayinya yang baru lahir.
Sesekali menciumi wajah bayinya kemudian bergantian menciumi wajah sang istri.
"Terima kasih sayang, terima kasih! Kau telah memberikanku seorang jagoan kecil," seru Putera menangis haru.
Lovely hanya bisa mengangguk dan tersenyum, ia juga turut menangis ketika merasakan kebahagianan yang baru saja menimpa mereka berdua.
Tak ada bedanya dengan mereka berdua, kebahagiaan juga turut dirasakan oleh seluruh keluarga Mahesa. Terlebih bagi Opa Mahesa sendiri.
Dia sampai rela datang jauh-jauh ke rumah sakit, demi melihat cicitnya yang baru saja lahir.
"Minggir semuanya, Opa mau lihat cicit Opa yang tampan ini!" seru Opa Mahesa menyingkirkan semua makhluk hidup yang bertengger menghalangi jalannya.
Lantas kakek tua itu berkesempatan menggendong sang cicit dan mengecup lembut pipinya. "Dia lucu sekali, mirip seperti Papa nya!" gelak tawa Opa mengingat wajah Putera saat baru lahir.
Semua orang di dalam ruangan itu pun turut senang, melihat Opa Mahesa gembira. Mungkin inilah satu-satunya kesempatan berharga yang diberikan Tuhan untuk dirinya, yaitu melihat cucunya telah berkeluarga.
Lalu, pria pendiri perusahaan Mahesa itu bertanya kepada Lovely dan juga Putera, agar segera memberikan nama untuk cicitnya.
"Lovely, Putera. Cepatlah berikan nama untuk cicitku ini, tapi kau harus ingat. Harus ada nama keluarga kita dibelakangnya!" seru Opa Mahesa tidak sabar.
Putera menatap istrinya dan ia tersenyum, ada satu nama yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya.
"Tenang Opa, kami sudah memikirkan nama putraku jauh sebelum dia lahir," balas Putera menatap Opa Mahesa.
"Oh siapa namanya? Cepatlah, Opa sudah tidak sabar," seru Opa antusias.
"Namanya Marcell Putera Mahesa dan panggilannya adalah Marcell!" seru Putera.
Opa tersenyum senang. "Marcell Putera Mahesa, agak aneh tapi sepertinya cocok," gumamnya sambil menatap wajah sang cicit yang sedang bobo nyenyak dipangkuan sang Opa.
"Nama yang bagus!" jawab Opa Mahesa setuju kemudian menatap Tuan Dira. "Bagaimana menurutmu Dira?" tanyanya.
"Nama itu bagus, aku menyetujuinya," jawab Tuan Dira. Begitu pula dengan Ibu Diana, wanita itu juga turut menyetujui nama tersebut.
Sementara itu di depan kamar dimana Lovely sedang dirawat, seorang wanita paruh baya tengah mengintip keseruan dari balik pintu kamar.
Ia tersenyum. "Marcell Putera Mahesa, Mama juga setuju dengan nama itu," ucap Nyonya Rosa turut senang dengan pemberian nama tersebut.
.
__ADS_1
.
Bersambung.