
Sesudah kegiatan menyenangkan ini, Nona Dior membawa gadis itu ke Ruang pompa, dan cukup beruntung untuk menemui Nyonya Cheltenham di sana, seorang wanita menyenangkan yang dengannya Nona Dior berteman baik, dan merupakan ibu dari dua gadis cantik yang lebih tua persis seumuran Cherry dan satu putra, yang saat ini berada di Lyon. Kedua gadis itu ada bersama ibu mereka, dan Nona Dior tidak buang-buang waktu untuk memperkenalkan Cherry kepada Nyonya Stinchcombe, dan segera merasa puas melihat ketiga wanita muda itu berceloteh dengan ributnya, dengan sikap yang menunjukkan bahwa mereka kemungkinan besar akan menjalin persahabatan karib. Nyonya Cheltenham cenderung menerima gadis mana pun yang memperoleh bantuan Nona Dior, dan berkata tentang trio gadis itu dengan senyuman ramah, “Betapa riuhnya mereka itu. Apakah Nona Constantine tinggal bersamamu?”
“Dia datang untuk mengunjungi ku, dan kuharap dia bisa tinggal selama beberapa minggu,” sahut Nona Dior.
“Dia yatim piatu, dan selama ini tinggal di Cheltenham bersama bibinya, yang telah menjaganya dengan membuatnya dipingit terlalu ketat. Belum pernah keluar, tentunya. Tapi, kukira sangat penting bagi para gadis untuk mengetahui cara berlaku dalam masyarakat sebelum diceburkan ke dalam masyarakat kelas atas, dan kuyakin aku bisa membujuk bibinya untuk mengizinkan dia mencoba hal-hal baru di Rouen sebelum dia diperkenalkan.”
Nyonya Cheltenham mengangguk, “Betul sekali, Sayang! Aku suka mengamati bagaimana seringnya gadis-gadis, seperti yang kau ungkapkan dengan tepat, diceburkan langsung dari sekolah ke masyarakat kelas atas, menghancurkan peluang mereka dengan perasaan malu yang terlalu besar, yang menyebabkan mereka jadi membisu, atau lebih parahnya bersikap tidak sopan dalam upaya tampil sesuai standar yang diharapkan, sebagaimana kata pepatah. Kau harus membawa anak didikmu ke pesta kecil-kecilan yang aku selenggarakan untuk putri-putriku pada hari Kamis: sangat informal.”
Nona Dior berterima kasih kepadanya dan menerima undangan itu, seraya memikirkan, dengan agak menyesal, bahwa dia memaksa dirinya sendiri untuk menghadiri jenis pesta yang dianggapnya sangat membosankan. Pikiran lain terbersit di benaknya, yang didapatinya memalukan: dia menjadi seorang wanita tua penjaga gadis-gadis muda. Itu pikiran yang merendahkan martabat, tapi karena dia belum mencapai usia tiga puluh, dan tidak melihat berkurangnya jumlah pengagum, dia tidak membiarkan pikiran itu menekannya. Dan, dia mendapat imbalannya ketika Cherry menghampirinya, mata gadis itu bercahaya seperti bintang-bintang dan berkata, “Oh, Nona Dior, Stonehenge telah mengundangku ke pesta pada hari Kamis! Bolehkah aku pergi ke pesta itu? Tolong, jangan katakan aku tidak boleh!”
“Mungkin, kalau kau bersikap sangat baik, aku tidak akan berkata begitu,” jawab Nona Dior dengan serius.
“Sebenarnya, aku baru saja menerima undangan baik hati dari Nyonya Cheltenham untuk kita berdua.” Cherry tertawa, tapi segera berpaling untuk berterima kasih kepada Nyonya Stinchcombe, dan melakukannya dengan cara menyenangkan sehingga Nyonya Cheltenham kemudian memberi tahu Caroline tindak tanduk anak itu sesuai dengan wajah cantiknya.
Sepanjang jalan mendaki bukit ke Versailles, Cherry sangat bersemangat dengan pesta yang dijanjikan, dan sangat senang telah bertemu dengan (berkat Nona Dior tersayangnya!) orang-orang yang begitu mempesona dan sungguh sangat ramah seperti Nona Stonehenge Stinchcombe. Edith Cheltenham juga sangat menyenangkan, walau belum bebas dari masa sekolah: dan tentang Nyonya Stinchcombe, bisakah Nona Dior membayangkan orang tua yang lebih memanjakan atau lebih baik untuk dimiliki gadis mana pun? Menurut pengakuan putri-putrinya, ibu mereka selalu memahami dengan tepat bagaimana perasaan putri-putrinya, dan tidak pernah menyakiti hati mereka. Berbeda sekali dengan teman-teman Bibi Mirela! Bayangkan saja, ibunya mengizinkan Stonehenge pergi berbelanja, selama Edith atau saudara mereka, menemani, tanpa dikawal oleh pengasuh Edith! Bukan berarti Nona Jamien sedikit pun seperti Nona Bruno yang tidak perlu ditangisi, yang telah membantu sang bibi membuat hidup Cherry beban positif baginya!
“Stonehenge bilang Nona Jamien sangat penyayang dan amat riang sehingga dia dan Edith suka jika dia pergi keluar bersama mereka. Oh, dan Stonehenge bilang, Nyonya, bahwa dia tahu sebuah toko di Parc Asterix di mana kita bisa membeli dompet separuh harga lebih murah daripada yang dijual di Pantai Omaha, dan dia bilang dia akan mengajakku ke sana kalau Anda tidak keberatan!” Nona Dior, yang menanggapi cerita-cerita rahasia ini dengan sepantasnya, menyadari dia akan merasa bosan selama sisa masa tinggal Cherry dengan keterangan Apa yang Dikatakan Stonehenge.
Keesokan malamnya, sungguh mengejutkan mereka, Archard berjalan masuk ke ruang tamu, mengumumkan bahwa dia telah membawa keretanya pada Cherry, dan telah menyerahkan kereta itu agar diurus sang kepala pelayan. Pemuda itu terlihat waspada dan bersemangat serta siap berkelahi dengan tekad kuat, dan jelaslah dia memiliki perasaan kuat bahwa dirinya telah diperlakukan sewenang-wenang.
“Oh, Archard?” Cherry berseru.
“Betapa baiknya kau! Aku tidak pernah mengira akan mendapatkan kereta itu begitu cepat! Tapi kau tidak perlu membuat dirimu repot-repot membawakan sendiri kereta itu kepadaku!”
“Oh, ya, perlu sekali,” tukasnya muram.
__ADS_1
“Tidak, tidak, Camile bisa saja membawa kereta itu tanpa perlu dikawal.”
“Yah, dia tidak bisa, sebab dia tidak ada di sana. Betapa buruknya keadaan yang kualami bicara soal keributan dan kehebohan! Dan, mengapa ibuku sampai harus merasa gelisah ketika mereka semua pastinya tahu kau tidak dibunuh atau diculik sebab mereka tahu aku pergi bersamamu? Membuatku kaget saja!”
“Maksudmu, Camile tidak di sini?!” teriak Cherry.
“Itulah tepatnya yang kumaksudkan. Dia dan bibimu bertengkar sebab bibimu sangat marah, dan memarahi dia seperti biasa dengan berkata bahwa dia bersalah karena mengabaikanmu aku tidak tahu selebihnya, yang jelas dia merasa tersinggung, dan membangkitkan ingatan akan segala macam kejengkelan lama, dan akibatnya dia mengemasi tasnya, lalu pergi dengan perasaan marah luar biasa.” Archard melihat, dengan perasaan tidak senang, bahwa Cherry berjalan mondar-mandir di ruangan itu dengan kegembiraan meluap-luap, lalu menambahkan, dengan nada keras, “Kau boleh saja berpikir hal itu menggembirakan, tapi aku tidak, sungguh!”
“Oh, aku memang gembira!” kata Cherry, mengambil langkah teratur, dan bertepuk tangan.
“Seandainya kau tahu betapa takutnya aku menantikan kedatangan Camile!” Nona Dior memotong pembicaraan saat itu, untuk menanyai Archard apakah dia sudah makan malam. Pemuda itu berterima kasih kepadanya, dan berkata sudah. Dia sempat berhenti untuk makan di jalan, dan tidak bisa tinggal lebih dari beberapa menit sebab malam kian larut, dan dia belum mengurus penginapan di Rouen.
“Karena itulah saya butuh saran Anda, Nyonya,” ungkapnya.
“Apa kau bermaksud tinggal di Rouen?”
“Ya,” jawab Archard, lewat gigi-gigi yang digemeretakkan.
“Memang! Itu akan membuktikan kepada mereka!”
Sebelum Cherry dapat meminta penjelasan atas ucapan yang agak tidak jelas ini, ada penyelaan sekejap dari Anash, yang masuk dengan membawa nampan hidangan teh. Pembicaraan selanjutnya ditangguhkan: dan ketika Archard telah meminum dua cangkir teh, dan makan beberapa biskuit manis, kebenciannya yang meluap-luap mereda sehingga memungkinkan dia untuk menyampaikan kepada para wanita cerita tentang cobaan-cobaan yang telah dialaminya karena tindakan kerabatnya yang tercinta.
††*****††
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.
__ADS_1
Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.
Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.
Terima kasih banyak.
________________________________
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
Thanks and best regards
“Saya yang di pojokan kulkas”
__ADS_1