Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER LVI


__ADS_3

Nona Dior, yang sangat menikmati cerita ini, merasa si sulung Nona Blanchet adalah putri yang mirip dengan Nyonya Besar Oliver. Dia juga melihat masa tinggal Archard di Rouen telah berdampak menurutnya sangat baik bagi pemuda itu, dan dia berharap Nyonya Besar Oliver telah menyadari Archard bukan lagi putra yang patuh dan dicintai, yang akan melakukan apa pun yang diperintahkan kepadanya, melainkan seorang pemuda yang telah melewati batas masa remaja dan menjadi seorang pria.


Rupanya Nyonya Besar Oliver memang sudah menyadarinya. Dia menyuruh Corswold keluar ruangan. Menurut Archard, ibunya melakukan hal ini karena dia mengakui kebenaran dari keluhannya. Nona Dior berpikir Nyonya Besar Oliver berbuat begitu karena dia ketakutan. Tetapi, hal ini tidak dia utarakan.


Dia hanya berkata, “Oh, astaga! Penghujung hari yang sungguh menyedihkan!”


“Saya akan berpikir demikian juga!” kata Archard dengan bersemangat. “Kecuali itu bukanlah penghujung, tapi permulaan! Dari hari ini, maksud saya! Yah, saya baru kembali ke Somme lewat tengah malam, jadi baru saat itulah saya melihat surat yang ditulis Mama pada saya, ketika hari sudah demikian larut untuk menemaninya, sekalipun saya tidak” Dia berhenti, dengan perasaan sangat malu.


“Mabuk berat?” usul Nona Dior, memberi banTuan


Pemuda itu tersenyum lebar padanya. “Tidak, tidak, tidak mabuk berat, Nyonya! Hanya sedikit bersemangat! Kalau Anda tahu apa yang saya maksudkan!”


“Oh, aku tahu betul apa yang kau maksud!” Nona Dior meyakinkannya, binar senyum bersinar-sinar di matanya. “Kau telah minum alkohol agak banyak, tapi kau tidak terlalu mabuk untuk menyadari kebodohan dari menghadap mamamu sampai kau menghilangkan bau alkohol dari tubuhmu dengan tidur. Apakah aku benar?”


Archard tiba-tiba tertawa. “Ya, astaga, Anda benar! Anda hebat, Nyonya! Nah, saya pergi tidur, tapi saya menyuruh tukang semir sepatu di hotel untuk membangunkan saya tidak lebih dari pukul delapan pagi ini, yang dia lakukan, dan meski saya harus akui saya merasa agak tidak enak awalnya, secangkir kopi hitam pekat sedikit banyak memulihkan kondisi saya seperti semula, dan saya pun pergi ke Christopher.” Dia berhenti sebentar, tawa lenyap dari suaranya, keningnya mengerut, dan mulutnya mengeras. Waktu berlalu saru menit penuh sebelum dia berbicara lagi, dan ketika dia memang berbicara, hal itu dilakukan dengan agak sulit. Dia berujar, “Apakah menurut Anda saya ini berhati pengecut jika menyerah, Nona Dior?”


“Sama sekali tidak! Kau punya kewajiban terhadap ayahmu, ingat?”


“Ya, saya tahu. Tapi, saya mulai bertanya-tanya apakah dia benar-benar sakit parah seperti yang diyakini Mama. Atau sekalipun dia sungguh meyakininya, apakah dia mengatakan itu untuk memaksa saya pulang, dan tinggal di rumah karena dia... yah, jauh lebih sayang kepada saya ketimbang saudari-saudari saya.”


“Kuyakin dia mungkin sedikit membesar-besarkan, tapi dari apa yang sudah kau ceritakan kepadaku, aku mendapat kesan keadaan fisik Tuan Besar Oliver benar-benar melemah karena masa tugasnya di Semenanjung.”


“Ya, memang, tidak ada keraguan tentang hal itu!” ujar Archard, menjadi riang. Dia menimbang-nimbang sejenak, lalu berkata, “Dan, dia memang mendapat serangan jantung yang parah beberapa tahun lalu. Tapi ... tapi Mama kelihatannya hidup dalam ketakutan karena kemungkinan Ayah mengalami serangan lagi, yang bisa jadi berbahaya, jika dia marah besar atau jika seseorang tidak berbuat persis seperti yang disuruhnya kepada orang itu.”


“Itu sangat wajar, Archard.”


“Ya, tapi itu tidak benar! Dia benar-benar murka ketika Cher kabur dan saya membantu dia kabur: dan ketika saya gagal menahan amarah, kami bertengkar, dan saya bilang akan langsung kembali ke Rouen, dia jadi mengamuk sehingga gemetaran saking marahnya, dan nyaris tidak bisa bicara. Tapi, dia tidak mengalami serangan jantung! Selain itu, dia tetap saja marah sebab beberapa hari kemudian dia menyurati saya yang isinya berupa cercaan hebat sehingga mustahil mengharapkan saya untuk percaya dia sangat lemah. Tapi ketika saya berusaha mengutarakan hal ini kepada Mama, yang dia katakan hanya bahwa dia tidak bisa menyalahkan saya karena melawan orang tua sebab dia tahu betul saya telah terperangkap dalam pengaruh jahat! Saya tidak bisa membayangkan siapa yang telah menanamkan pemikiran sebodoh itu dalam kepalanya! Saya butuh waktu lama untuk mengorek informasi darinya, tapi dia akhirnya memberi tahu saya, dan menurut Anda apakah itu? Pengaruh Anda, Nyonya! Astaga, saya hampir tertawa terbahak-bahak! Yah, pernahkah Anda mendengar sesuatu sekonyol itu?”

__ADS_1


“Tidak pernah!” kata Nona Dior. “Aku percaya kau mampu meyakinkan dia bahwa dia keliru?”


“Ya, tapi itu butuh kerja keras! Seseorang kelihatannya telah memberitahunya bahwa Anda adalah wanita paling cantik di Rouen, menggambarkan kecantikan Anda dengan saksama kepadanya, juga, sebab Mama bicara tentang mata Anda, rambut Anda, dan sosok tubuh Anda seolah dia benar-benar telah menjumpai Anda! Jadi saya berkata ya, Anda memang sangat cantik dan juga sangat cerdas, dan saya malu jika dia tidak menuduh saya telah menjadi korban dari kecantikan Anda”


“Aku hampir bisa mendengar dia berkata begitu,” gumam Nona Dior dengan sikap menghargai.


“Saya yakin hal itu akan membuat Anda tertawa, tapi itu tidak membuat saya tertawa, walau saya kira itu lucu. Masalahnya, hal itu membuat saya sangat marah, dan saya mengatakan kepada Mama bahwa sungguh tidak sopan berbicara dalam gaya Bahasa kasar seperti itu tentang seorang wanita yang kepadanya semua orang menaruh hormat, dan yang telah begitu baik kepada saya seolah saya adalah keponakan laki-lakinya. Yang memang benar, Nyonya, dan saya tidak bisa meninggalkan Rouen tanpa memberi tahu Anda betapa saya sangat berterima kasih kepada Anda atas segala hal yang telah Anda lakukan untuk membuat masa tinggal saya di Rouen begitu menyenangkan! Mengizinkan saya berkunjung ke rumah Anda, mengundang saya pergi bersama Anda dan Cher ke teater, membuat saya mengenal teman-teman Anda oh, masih banyak hal lainnya!”


“Anakku Sayang, aku berharap kau tidak berbicara omong kosong!” sanggah Nona Dior. “Akulah yang berterima kasih kepadamu. Aku telah tanpa malu memanfaatkanmu dan aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tanpamu, untuk mengantar Cherry berkeliling dan menjaganya. Dan, hal lain yang kuharap tidak akan kau lakukan adalah berbicara seolah-olah kita tidak akan pernah bertemu lagi! Aku harap kau akan sering mengunjungi Rouen, dan aku janji kau akan selalu menjadi tamu yang disambut gembira di Versailles.”


“Te… terima kasih, Nyonya!” Archard tergagap, seraya merona. “Saya memang bermaksud sering-sering berkunjung, sungguh! Saya telah menjelaskannya kepada Mama jika saya pulang dengannya hari ini, hal itu harus dilakukan dengan pemahaman jelas saya bebas untuk datang dan pergi sesuai kehendak saya, dan tanpa harus membujuk Papa untuk memberi saya izin setiap kali saya ingin melakukan sesuatu yang tidak dia setujui.”


“Ah, kau sangat bijak,” kata Nona Dior. “Aku yakin dia mungkin tidak menyukainya pada awalnya, tapi percayalah, dia akan segera menjadi terbiasa memiliki seorang pria bijaksana sebagai putranya dan bukan sekadar bocah laki-laki!”


“Apa menurut Anda dia akan begitu, Nyonya?” tanya Archard, dengan agak ragu.


“Oh, terima kasih, Nyonya, tapi tidak bisa. Saya tidak boleh tinggal. Ibu saya ingin sekali tiba di Etretat hari ini karena dia takut ayah saya akan mencemaskan kemungkinan ibu saya mengalami kecelakaan. Yang sangat mungkin, sebab ibu saya tidak pernah pergi tanpa Ayah. Akan lebih bijak, tentu saja, jika kami menunda keberangkatan sampai besok pagi, tapi ketika saya mengusulkan ini, saya langsung melihat hal itu tidaklah mungkin. Saya tidak bermaksud mengatakan ibu saya berusaha untuk ... untuk membujuk saya. Malahan, dia berkata saya harus menjadi satu-satunya penentu apa yang terbaik, tapi saya bisa melihat dia tidak akan bisa tidur sekejap pun malam ini karena mengkhawatirkan Papa, jadi sekalipun kami tidak mencapai Etretat sebelum tengah malam, akan lebih baik baginya untuk pulang hari ini ketimbang merasa cemas sendiri hingga sakit demam. Dan, tidak ada bedanya kalau kami memang harus bepergian pada malam hari karena keadaannya tidak akan gelap, bulan sedang bersinar penuh, dan saya tidak perlu mengkhawatirkan langit mendung.” Dia menambahkan dengan memohon, seolah dia telah mendeteksi dalam ekspresi Nona Dior bagaimana perasaan wanita itu tentang masalah ini, “Anda lihat, Nyonya, Mama tidak sehat dan kuat, dan dia suka merasa gelisah, dan ... dan saya tahu cobaan apa yang telah dijalaninya dan ... dan”


“Kau sangat mencintainya,” timpal Nona Dior, seraya menepuk pipi pemuda itu yang memerah, dan tersenyum kepadanya dengan hangat. “Dia wanita yang beruntung! Sekarang, kau ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Cherry, jadi kita akan naik ke ruang tamu. Rasanya aku mendengar dia datang, dengan saudariku, satu atau dua menit lalu.”


“Ya yah, saya harus berpamitan, walau kemungkinan besar dia akan memaki saya karena tidak punya ketetapan hati,” katanya dengan penuh sesal.


Namun, Cherry berkelakuan dengan sangat santun. Gadis itu berseru, ketika Archard memberitahunya bahwa dia harus kembali ke Etretat, “Oh, tidak, Archard! Haruskah kau pulang? Tolong jangan pergi!” Namun, saat pemuda itu menjelaskan situasinya, gadis itu tidak lagi keberatan, tapi terlihat berpikir keras, dan berkata bahwa dia kira Archard memang harus pergi. Barulah setelah Archard meninggalkan rumah, Cherry muncul dari ruang baca, berkata dengan sungguh-sungguh kepada Nona Dior, “Aku jadi merasa hampir senang aku seorang yatim piatu, Nyonya?” Nyonya Besar Dior mengeluarkan sanggahan yang agak terkejut, dan berkata, “Astaga, Nak, apa yang kau maksudkan?”


“Cara keluarga Oliver menggertak Archard agar melakukan apa yang mereka ingin dia lakukan dengan ... dengan cara yang buruk!” Cherry menjelaskan. “Nyonya Besar Oliver menyentuh sisi baik Archard, dan sayangnya adalah dia memang punya sisi baik! Aku tahu sangat terpuji bila memiliki sifat baik, tapi itu malah membuatnya agak lemah.”


“Oh, tidak. Aku tidak akan pernah mengatakan dia lemah,” sahut Nona Dior. “Kau harus ingat dia sangat sayang kepada ibunya, dan aku yakin, dia menyadari betul kehidupan penuh rasa cemas yang dijalani ibunya. Aku agak mengira Nyonya Besar Oliver cenderung menempel kepadanya”

__ADS_1


“Ya, dia memang begitu, dan dengan cara yang paling memuakkan,” ujar Cherry. “Begitu pun Corswold dan Lavinia. Aku heran Archard bisa tahan menghadapi mereka. Aku tidak akan bisa.”


“Tidak, tapi kau tidak punya sifat baik, bukan?” Nona Dior mengoloknya. Cherry tertawa, tapi berkata, “Benar sekali! Dan, syukurlah aku tidak punya sebab pasti itu sangat tidak menyenangkan!”


Nona Dior merasa geli, tapi Nyonya Besar Dior menggeleng-geleng mendengarnya, kemudian mengatakan kepada adik iparnya dia berpendapat ucapan itu adalah gambaran menyedihkan dari kemalangan yang berkaitan dengan proses tumbuh menjadi dewasa tanpa seorang ibu.


“Yah, kemalangan itu tentu saja tidak lebih buruk dibanding kemalangan karena menjadi dewasa dengan seorang ibu seperti Nyonya Besar Oliver!” kata Caroline dengan pedas.


††*****††


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!


Thanks and best regards


“Saya yang lagi chat sama dia”

__ADS_1


__ADS_2