Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
Chapter XLIV


__ADS_3

Namun, ketika Caroline memperkenalkan Cherry kepadanya malam itu, Nyonya Besar Dior sama terkejutnya dengan sang suami, bercakap-cakap sangat ramah dengan gadis itu, kemudian memberi tahu Caroline bahwa sulit memercayai seorang anak manis dan berkelakuan santun seperti itu bisa menjadi anak perwalian dari seorang pria dengan reputasi seperti Constantine. Dia agak bingung dengan kehadiran Archard saat makan malam, dan lebih bingung lagi dengan ucapan-ucapan akrab yang dia lontarkan kepada Caroline, rumahnya, dan pelayan-pelayannya. Pemuda itu berkelakuan seolah dia adalah seorang keponakan laki-laki yang disukai, atau, setidaknya, seorang bocah laki-laki yang telah mengenal Caroline seumur hidup dan kentara sekali dia menjadi penurut di rumah ini, dan cukup sering makan malam di sana. Dia bertanya-tanya apakah pemuda itu mungkin berkerabat dengan Cherrys dan saat Caroline menceritakan identitas Archard, Nyonya Besar Dior awalnya meragukan, lalu benar-benar tercengang oleh kemustahilan situasi yang membuatnya tiba-tiba tertawa.


“Oh, Aku belum pernah merasa benar-benar terhibur sejak topi Nyonya Barrak diterbangkan angin dengan membawa serta wignya!” Nyonya Besar Dior tersekat tawanya sendiri. “Ujung-ujungnya, pasti, mereka akan menikahi satu sama lain!”


“Semoga tidak! Mereka akan menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh cekcok!”


“Aku tidak tahu itu. Kau bilang mereka berselisih dalam setiap hal, tapi kelihatannya bagiku tidak seperti itu, dengan mendengarkan mereka saat makan malam. Aku kira mereka punya banyak sekali kesamaan. Hanya tunggu satu atau dua tahun, ketika mereka sama-sama lebih bijak, dan lihat apakah aku benar! Mereka memang masih sepasang anak-anak yang suka bercekcok, tapi saat mereka sedikit lebih dewasa, mereka akan berhenti melakukannya, seperti aku yang tidak lagi bercekcok dengan saudari-saudariku, padahal sewaktu kami semua masih bersekolah, kami biasa bercekcok tanpa henti.”


“Aku tidak bisa membayangkan kau bercekcok dengan siapa pun.” Caroline tersenyum. “Tentang Cherry dan Archard, keluarga Oliver tidak lagi menginginkan pernikahan itu, dan akan jika mereka bisa dipercaya menentangnya dengan keras. Aku tidak akan heran jika Tuan Constantine menentangnya juga sebab dia tidak suka Oliver.”


“Oh, berakhir sudah!” ujar Nyonya Besar Dior, tertawa.


“Pertentangan adalah hal yang kurang dalam perkata ini!” Caroline tak bisa berhenti berpikir bahwa penentangan dari Tuan Constantine mungkin akan terkesan kejam, mustahil untuk dilawan, tapi dia menyimpan sendiri pemikiran ini.


Beberapa jam kemudian, Nona Dior ditakdirkan untuk dihadapkan pada sebuah dilema. Cherry, yang muncul di kamar tidurnya saat pulang dari Laura Place, untuk berterima kasih kepadanya karena telah mengirimkan kereta untuk membawanya pulang, dan untuk memberitahunya betapa dia sangat menikmati kunjungan pertamanya ke Sydney Garden, dengan hutan kecilnya yang rindang, gua-guanya, labirinnya, dan air terjunnya, berkata dengan mata dan pipi berseri-seri, “Dan, Tuan Damitri bilang selama musim panas mereka memasang hiasan-hiasan cahaya dan menggelar hiburan khusus pada malam hari, juga acara sarapan untuk umum! Oh, Nona Dior yang Terhormat, bersediakah Anda membawaku ke acara hiburan pada malam hari? Tolong katakan Anda bersedia!”

__ADS_1


“Ya, tentu saja aku bersedia jika kau menginginkannya,” jawab Nona Dior. “Apakah Tuan Damitri memberitahumu tentang acara hiburan dan pameran hiasan cahaya ini tadi malam?”


“Oh, tidak! Sore ini, ketika memberitahunya aku akan menjelajahi Garden bersama Stonehenge. Kami berpapasan dengannya, Lisa dan aku, tidak lebih dari dua menit setelah kami meninggalkan rumah. Dia bilang dia datang untuk menyambangi Anda, tapi dia merasa wajib untuk berbalik, untuk menemaniku ke Laura Place. Bukankah dia sangat baik, Nyonya? Dia juga amat lucu! Dia membuatku tergelak dengan hal-hal menggelikan yang dia katakan! Aku sungguh berpendapat dia orang yang menyenangkan, bukankah begitu?”


Nona Dior butuh satu menit penuh untuk menanggapi pertanyaan ini, mengisi sikap bungkamnya dengan berpura-pura perhatiannya terfokus pada sematan bros di korsasenya. Padahal, sebenarnya, dia tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, dia merasa berkewajiban untuk memperingatkan Cherry akan tipu muslihat seorang pria mempesona tapi miskin yang sedang mengincar seorang istri kaya: di sisi lain, dia juga tidak ingin menghancurkan kepolosan Cherry, atau yang lebih buruk lagi tidak ingin membangkitkan dalam diri anak itu jiwa pemberontak yang mungkin, dengan sangat mudahnya, menyebabkan dia menentang wewenang dari orang-orang yang lebih tua darinya, dan mendorong usaha Damitri menjalin persahabatan.


Nona Dior berkompromi. Dia berkata, dengan tawa kecil yang ramah, “Kelakuan Damitri yang menyenangkan dan rasa humornya yang baik adalah keahliannya. Tolong, Sayang, kau jangan memperbesar kesombongannya dengan menambahkan dirimu pada daftar korban-korbannya! Dia itu tukang bersenang-senang yang tidak bisa diharapkan lagi, dan tidak bisa melihat wanita rupawan tanpa menjalin persahabatan dengannya! Sudah lama aku tidak bisa menghitung lagi banyaknya gadis-gadis bodoh yang ditinggalkan menderita karenanya.”


Ucapannya membuat alis Cherry berkerut. Gadis itu berkata dengan ragu, “Mungkin dia mendapati bahwa dirinya tidak sungguh-sungguh mencintai satu pun dari mereka, Nyonya?”


“Atau tidak ada dari mereka yang sekaya perkiraannya!” Begitu melontarkan kata-kata tajam ini, Nona Dior langsung menyesalinya. Mata Cherry menyala marah, dan dia berkata dengan sengitnya,


Cherry berlari keluar kamar, meninggalkan Nona Dior yang hanya bisa menyalahkan diri sendiri dengan sedihnya karena telah terdorong untuk mengatakan apa yang telah dia putuskan untuk tidak dikatakan. Dia hanya bisa berharap tidak ada omongan jahat yang memberi tahu Tuan Constantine anak perwaliannya ditemani sampai ke kota oleh seorang pria yang dikenalnya sebagai pemburu kekayaan terkenal.


Ternyata, itu harapan kosong. Pada keesokan pagi, Caroline pergi bersama Nyonya Besar Dior dan Cherry ke Ruang pompa. Nyonya Stinchcombe, yang sedang mencari pengobatan untuk penyakit remariknya dengan meminum segelas air terkenal setiap pagi, ada di sana, dengan kedua putrinya. Caroline segera mengarahkan Nyonya Besar Dior kepadanya, dan merasa puas melihat kedua wanita itu langsung terlibat dalam perbincangan akrab. Dia meninggalkan mereka berdua sementara dia melintasi ruangan untuk mengambil segelas air dari alat pompa, dan tengah berjalan kembali dengan membawa segelas air itu ke sisi Nyonya Besar Dior ketika dia melihat Tuan Constantine berjalan ke arahnya. Nona Dior mempersiapkan diri, tapi kata-kata pertama yang dilontarkan pria itu sangat tidak mengkhawatirkan.

__ADS_1


“Senang berjumpa denganmu, Nona Dior!” katanya riang.


“Haruskah aku turut bersedih denganmu? Apakah kau juga sangat menderita karena penyakit rematik?”


“Tidak, sungguh, aku tidak sakit.” Nona Dior menjawab dengan lembut. “Ini untuk saudari iparku, bukan untukku. Apa yang menyebabkanmu darang ke sini pagi ini, Tuan?”


“Harapan menemukanmu di sini, tentunya. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu.”


Hati Nona Dior mencelus, tapi dia menyahut dengan cukup tenang, “Yah, kau bisa melakukannya, tapi pertama-tama aku harus memberikan minuman mengerikan ini dulu ke saudari iparku. Lagi pula, aku ingin memperkenalkanmu kepadanya.” Dua langkah lagi membawanya ke sisi Nyonya Besar Dior, dan dia menyerahkan gelas itu kepada saudari iparnya seraya berkata,


“Ini minumannya, Sayang! Kuyakin ini harus diminum dalam kondisi hangat, jadi beranikanlah dirimu dan habiskan dengan”


Segera! Nyonya Besar Dior memandang minuman racun itu dengan ragu-ragu, tapi dengan patuh meminumnya, bukan sekali tenggak, melainkan menyesap hati-hati. Dia lalu menghabiskannya, dan menyatakan minumannya tidak seburuk seperti yang selama ini diduganya karena cerita Caroline.


“Dengan begitu, aku menganggap kau bermaksud mengatakan minuman ini tidak seburuk yang dikatakan orang-orang kepadaku tentang air Harrogate! Kau harus mengizinkan aku untuk memperkenalkan Tuan Carleron kepadamu, dia paman Cherry.”

__ADS_1


Tuan Constantine, yang telah bertukar sapa singkat dengan Nyonya Stinchcombe, menunduk, dan berkata dia senang bisa berkenalan dengan Nyonya Besar Dior. Pria itu terdengar acuh tak acuh alih-alih gembira, dan Nyonya Besar Dior, yang menjawab bungkukan itu dengan agak dingin, cenderung menduga Arthur tersayangnya telah keliru menganggap Caroline menghadapi bahaya karena mengalah pada tipu daya yang mempesona dari si pemain wanita ini. Kelihatannya bagi Nyonya Besar Dior, Tuan Constantine sama sekali tidak punya tipu daya yang mempesona lelaki itu bahkan tidak tampan! Dengan mengingat para peminang Caroline di masa lalu, yang kesemuanya dikaruniai wajah tampan dan kelakuan yang sangat baik, Nyonya Besar Dior mulai mencurigai Caroline selama ini telah menjadikan kakaknya bahan tertawaan, sebagaimana yang sayangnya terlalu sering Caroline lakukan.


Nyonya Besar Dior tidak bisa melihat apa pun dalam diri Tuan Constantine yang dapat menarik wanita mana pun yang sekritis dan terlalu pemilih seperti Caroline, dan akibatnya menjadi ramah terhadap pria itu, dengan menyelamatinya atas keponakan perempuannya yang menawan, dan mengatakan betapa dia sangat menyukai Cherry.


__ADS_2