
Dampak dari ucapan blak blakan ini sama sekali bukan yang diharapkannya sebab alih-alih merasa tersinggung karenanya, lelaki itu justru tertawa dan berkata dengan sikap menghargai,
“Itu seharusnya membuat saya merasa tertampar, bukan?”
“Saya sungguh berharap begitu!”
“Oh, tentu saja! Tapi, itu tidak membuat saya menyerah! Saya peringatkan Anda, saya akan melakukannya lagi. Nah, daripada bercekcok dengan saya, mungkin Anda bisa berbaik hati menjelaskan mengapa Anda tidak mengembalikan Cherry kepada bibinya, tapi malah menahannya di sini dan jelas-jelas mendorong anak itu menjadi tidak patuh?”
Gaung tak menyenangkan dari apa yang pernah diucapkan Tuan Arthur kepadanya memunculkan sedikit rona merah di pipi Nona Dior. Dia tidak segera menjawabnya, tapi ketika mendongak, dia melihat binar sikap menantang terpancar dimata lelaki itu, dan bibirnya mencibir sinis. Nona Dior berkata dengan terus terang,
“Kakak saya telah menanyakan pertanyaan yang sama kepada saya. Seperti Anda, dia tidak setuju dengan tindakan saya. Anda berdua mungkin benar, tapi saya sama-sama tidak menganggap penting baik pendapatnya maupun pendapat Anda. Saat saya mengundang Cherry untuk tinggal bersama saya, saya melakukan apa yang saya yakini dan masih yakini! menjadi sesuatu yang benar untuk dilakukan.”
“Omong kosong!” ujar lelaki itu dengan kasar. “Satu-satunya alasan Anda pastinya karena Anda teperdaya sehingga berpikir Cherry telah diperlakukan sewenang-sewenang di tangan bibinya, dan jika itulah yang dia ceritakan kepada Anda, anak itu pastinya pembohong kecil keterlaluan! Mirela Raina telah menyayangi dan memanjakan anak itu sejak dia mengambil tanggung jawab untuk mengurusinya!”
“Tidak, dia tidak mengatakan sesuatu seperti itu, tapi hal yang memang diceritakannya membuat saya mengasihaninya dari lubuk hati terdalam. Meski mungkin tidak terpikirkan oleh Anda, Tuan Constantine, ada sebuah tirani yang lebih buruk daripada tirani perlakuan sewenang-wenang. Yaitu tirani dalam bentuk air mata, kemurungan, permohonan akan rasa kasih sayang, dan rasa terima kasih! Tirani inilah yang kelihatannya telah dijalankan oleh Nyonya Raina sepuas-puasnya! Seorang gadis dengan karakter kurang kuat mungkin akan menyerah, tapi Cherry bukan anak lemah, dan betapa pun tidak bijaksananya dia karena telah melarikan diri, saya mau tidak mau menghargainya karena memiliki keberanian untuk berbuat demikian!”
Tuan Constantine berkata, dengan agak menghina, “Cara yang dramatis dan tak penting untuk menunjukkan keberanian. Saya mengenal Nyonya Raina dengan cukup baik sehingga mengetahui dia tidak akan menangis dan bersikap murung kalau saja Cherry tidak memberinya banyak sekali pancingan. Saya menyimpulkan anak kecil menjengkelkan itu memanfaatkan sifat baik bibinya lagi. Nyonya Raina sering mengeluhkan kekeras kepalaan anak itu kepada saya, tapi apa lagi yang bisa dia harapkan dari seorang gadis yang dibesarkan dengan sangat dimanjakan? Kukira begitulah keadaannya sejak awal.”
“Kalau begitu, saya heran Anda harus menyerahkan anak perwalian Anda dalam asuhan bibinya!” seru Nona Dior sengit. “Seseorang akan menduga-duga apakah Anda punya sedikit pun perhatian untuk kesejahteraan anak itu” Dia berhenti, menyadari dia telah membiarkan amarah membuatnya bersikap tidak pantas, lalu berkata,
“Maafkan saya! Saya tidak berhak, tentunya, untuk mencela tingkah laku Anda ataupun Nyonya Raina!”
“Tidak,” ujar Tuan Constantine. Mata Nona Dior menatapnya keheranan, memperlihatkan pandangan bertanya-tanya, sebab dia sangat bingung dengan kata bersuku satu ini.
“Sama sekali tidak berhak,” ujar lelaki itu, memperjelas.
Selama masa-masa genting, Nona Dior nyaris saja gagal menahan amarahnya, tapi rasa humor muncul menolongnya, dan alih-alih menyerah pada dorongan hati untuk menyampaikan hal penting kepada pria itu, dia malah tertawa tiba-tiba, dan berkata,
“Berapa tidak sopannya Anda memberi saya jawaban kasar seperti itu, padahal saya sudah memohon maaf kepada Anda!”
“Berapa tidak adilnya Anda menuduh saya memberi jawaban kasar padahal yang saya lakukan hanyalah menyetujui Anda!” sahutnya pedas.
__ADS_1
“Diharapkan,” ujar Nona Dior, dengan rasa simpati yang besar, “kira tidak ditakdirkan untuk sering bertemu, Tuan Constantine! Anda membangkitkan keinginan kuat dalam diri saya untuk memberi celaan terbaik yang pernah Anda terima dalam hidup!” Tawa Nona Dior terpantul di mata lelaki itu.
“Oh, tidak, akan sangat tidak bijaksana jika Anda melakukan itu!” kata Tuan Constantine. “Ingatlah, saya terkenal akan ketidak sopanan saya! Saya akan membalas celaan Anda lagi, dan karena saya pria kurang ajar dan Anda wanita bertabiat baik yang berpengaruh, semuanya akan berakhir lebih buruk bagi Anda.”
“Itu bisa saya percaya! Tapi, Tuan, saya bertekad melakukan apa yang saya mampu untuk menyadarkan Anda akan kewajiban Anda terhadap anak malang itu. Menyingkirkan dia dengan menyerahkannya kepada Nyonya Raina ketika dia masih kecil, itu bisa dimaklumi, tapi dia sekarang bukan anak kecil lagi, dan”
“Izinkan saya mengoreksi Anda, Nyonya,” potongnya. “Saya pasti akan menyingkirkan dia dengan menyerahkannya kepada Nyonya Raina kalau anak itu dipercayakan kepada perwalian tunggal saya, tapi kebetulan sekali saya tidak punya pilihan dalam hal ini! Saudara saya menunjuk Raina untuk berbagi perwalian dengan saya: dan atas keinginan istrinyalah, sekiranya dia meninggal, saudarinya harus bertanggung jawab atas Cherry.”
“Begitu, ya,” ujar Nona Dior, seraya mencerna penjelasan itu. “Tapi, apakah Anda juga menyerahkan kewenangan Anda atas masa depan Cherry? Bersediakah Anda melihat dia dipaksa untuk menjalani pernikahan yang tidak dia sukai?”
“Tidak, tentu saja tidak!” sahutnya dengan jengkel. “Tapi, karena pernikahan tidak menjadi pokok persoalan, aku tidak bisa melihat”
“Tapi, itu pokok persoalannya!” seru Nona Dior, sangat terkejut. “Itulah alasannya kabur dari Etretat! Pastinya Anda sudah mengetahui apa yang diniatkan? Saya sudah menduga Anda menjadi pendukung rencana itu!” Tuan Constantine membelalakkan mata kepadanya dari bawah alisnya yang mengerut. “Rencana apa?” desaknya.
“Astaga!” ucap Caroline. “Kalau begitu, Nyonya Raina tidak pernah memberi tahu Anda?! Oh, betapa ... betapa kejinya dia! Itu membuat saya makin yakin telah melakukan hal yang benar ketika menahan Cherry!”
“Sangat memuaskan bagi Anda, Nyonya! Tolong senangkan saya juga dengan memberi tahu apa yang Anda bicarakan!”
“Oh, benarkah? Apa Anda mengira saya akan duduk sebelum Anda mempersilakan saya duduk? Anda memang menganggap saya ini buruk, ya?”
“Tidak, saya tidak begitu! Saya tidak tahu apa-apa soal Anda!” ujar Nona Dior dengan marah.
“Kecuali bahwa saya terkenal akan ketidaksopanan saya.” Caroline mau tak mau tertawa, dan berkata dengan jujur seraya duduk,
“Saya khawatir sayalah yang telah bersikap tidak sopan. Silakan, tidak maukah Anda duduk, Tuan Constantine?”
“Terima kasih,” sahutnya sopan, lalu memilih sebuah kursi di seberang kursi Caroline.
“Dan, sekarang, bersediakah Anda berbaik hati untuk menceritakan kepada saya apa maksud dari omong kosong campur aduk ini tentang Cherry?”
“Ini bukan omong kosong meski saya mengakui siapa pun bisa dimaklumi berpikir demikian! Saya mendapat kesan Anda tidak tahu alasan Nyonya Raina membawa Cherry berkunjung ke Ome?”
__ADS_1
“Saya tidak tahu dia telah membawa anak itu ke sana, sampai saya menerima sebuah surat bernoda air mata dengan isi yang berapi-api darinya, ditulis dari Etretat. Tentang alasannya, saya kira dia tidak memberitahukan hal itu. Bagi saya, hal itu kelihatannya sangat wajar. Rumah Cherry sendiri berada di sekitar situ, dan sampai kematian ibunya, anak itu telah menganggap keluarga Oliver seperti keluarganya sendiri, dan mungkin menjalin pertemanan dengan anak-anaknya terutama sekali, seingat saya, dengan putra Oliver yang jarak usianya tidak begitu jauh.”
“Apakah Anda sangat yakin Nyonya Raina tidak memberi tahu Anda tentang rencana yang dia dan suami-istri Oliver buat di antara mereka?” tanyanya ragu-ragu.
“Tidak,” jawabnya. “Saya tidak terlalu yakin dia tidak bercerita, tapi saya memang tidak bisa memahami lebih dari halaman pertama isi suratnya dan itu pun dengan susah payah sebab dia membasahi suratnya dengan air mata! Halaman kedua membingungkan saya sebab dia tidak hanya menangis di halaman itu, tapi juga mencoret dan mencoret ulang kalimat-kalimatnya mungkin dengan maksud baik agar saya tidak banyak buang waktu saat membacanya.”
††*****††
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.
Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.
Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.
Terima kasih banyak.
________________________________
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
__ADS_1
Thanks and best regards