
Ucapan ini membuat Tuan Arthur tidak bisa berkata-kata. Dia terlihat malu, dan mencari perlindungan dalam harga diri yang terluka. “Sudah pasti akan lebih baik bagiku untuk menyewa penginapan yang cocok di kota!”
“Jauh lebih baik, kecuali itu akan membuat semua penggosip di Rouen membicarakannya! Besok pagi, aku akan memberi perintah untuk mempersiapkan kamar-kamar, tapi aku khawatir aku tidak akan bisa menjamu Majorie seperti yang kuinginkan. Aku punya banyak sekali janji yang harus kupenuhi, di samping menemani Cherry saat dia diperkenalkan. Kau akan sependapat bahwa hal itu, karena pamannya telah mempercayakan gadis itu dalam penjagaanku, adalah tanggung jawab yang tidak dapat dihindarkan.”
Dengan ucapan tajam ini, Nona Dior meninggalkan kamar. Dia masih merasa marah sebab tingkah laku dan alasan lemah kakaknya atas kunjungan mendadak itu telah menegaskan kecurigaannya bahwa alasan sebenarnya adalah kebulatan tekad untuk mencegah kedekatan apa pun antara dia dan Damien Constantine. Majorie akan ditempatkan di rumahnya sebagai seorang pengawas meskipun apa yang dibayangkan George dapat dilakukan Majorie (wanita kecil yang malang!) untuk mencegah adiknya melakukan apa yang dikehendakinya sendiri hanya dia yang tahu! Nona Dior terlalu marah sehingga tidak bisa memikirkan apa yang baginya terlihat sebagai campur tangan yang tak dapat dipertanggungjawabkan, sebenarnya bukanlah suatu upaya buruk, melainkan niat baik untuk melindunginya dari seseorang yang diyakini kakaknya merupakan lelaki badung berbahaya. Dan, melihat sosok Nona Harrow yang menunggu didekat ambang pintu kamar tidurnya sama sekali tidak meredakan amarahnya. Nona Dior tidak meragukan bahwa Nona Harrow punya andil atas kedatangan Arthur yang mendadak, dan akan terasa senang sekali membungkam wanita tua cerewet yang suka mencampuri urusan orang lain itu dan juga menamparnya. Menahan dorongan hati yang sangat tidak patut ini, Nona Dior berkata dengan tidak ramah, “Nah, Belevia? Apa yang kau inginkan?”
“Oh? kata Nona Harrow, dengan gugup. “Sama sekali tidak ada, Caroline Sayang! Aku hanya bertanya-tanya apakah Tuan Arthur mendapatkan semua yang dibutuhkannya. Seandainya Anash memberitahuku kedatangannya, aku akan undur diri dari pesta, dan memperhatikan keperluannya, sebagaimana aku tidak perlu meyakinkanmu, sebab sudah menjadi kewajibanku untuk menyediakan segala kebutuhan tamumu, bukan? Dan, bahkan pelayan-pelayan hebat seperti Anash kita yang baik, kau tahu”
“Anash jauh lebih mampu daripadamu, Sepupu, untuk menyediakan kebutuhan Tuan Arthur,” sela Nona Dior, seraya memaksa keras dirinya sendiri untuk mengendalikan amarah.
“Jika ada yang diinginkan, Tuan Arthur akan membunyikan bel! Kusarankan kau pergi tidur, agar kau punya tenaga untuk tugas yang menantimu besok! Aku akan memerlukanmu untuk menyediakan kebutuhan beberapa tamu lagi! Selamat malam!”
Tidur semalaman mengembalikan keseimbangan mental dan emosi Nona Dior yang sempat terguncang, dan dia mampu menghadapi kakaknya saat sarapan dengan sikap lumayan tenang. Dia menanyai kakaknya, dengan agak senang, apakah kakaknya menginginkan dia untuk menyediakan akomodasi untuknya selama masa tinggal Majorie, dan menerima, tanpa memperlihatkan kelegaan yang dirasakannya, penjelasan yang membosankan tentang alasan keadaan yang menghalanginya untuk tinggal lebih lama setelah kedatangan Majorie. Hal ini segera membuat Nona Harrow mengutarakan keberatan-keberatannya, yang katanya dia tahu betul Caroline tersayang akan mendukungnya.
“Aku yakin Nyonya Besar Dior pasti butuh dukunganmu untuk melalui siksaan mendatang!” ungkap Nona Harrow. “Apalagi pada saat-saat seperti ini, sejak kedatanganmu kali terakhir untuk tinggal di Rouen, karena aku tidak memperhitungkan sama sekali kunjunganmu tempo hari! Dan, kalau kau berpikir tidak tersedia kamar untukmu, tidak ada kesulitan tentang hal itu, sebab kau dan Nyonya Besar Dior bisa merasa nyaman di kamar hijau, yang dapat dipersiapkan untukmu dalam sekejap. Kau hanya perlu memberi perintah!”
“Kalau dia bisa menjejalkan seseorang ke dalamnya,” ujar Nona Dior dengan nada geli.
__ADS_1
Tuan Arthur mendengus tertawa, dan bertukar pandang penuh arti dengannya. Dia menyukai percakapan saat sarapan yang hanya dinikmati segelintir orang, dan mungkin dia tidak pernah menyukai Nona Harrow, apalagi jika dia mendapat cecaran ocehan tidak logis darinya.
“Kapan aku bisa menantikan kedatangan Majorie?” Tanya Nona Dior dengan lembut.
“Yah, tentang hal itu, aku tidak bisa menjawabmu dengan tepat,” jawab kakaknya, tampak terusik. “Dia berniat berangkat pagi-pagi, tapi dengan semua urusan berkemas-kemas, dan menjaga agar si perawat tidak melupakan sesuatu dan kemungkinan besar dia memang akan melakukannya karena walau dia sangat bagus dalam menangani anak-anak, dia tidak cerdas sama sekali tidak! Sewaktu kami membawa Luke untuk mengunjungi kakek-neneknya tahun lalu, kami harus bolak-balik tiga kali! Asal kau tahu, kesabaranku benar-benar diuji, dan aku sampai menegaskan bahwa aku tidak akan pernah melakukan perjalanan dengannya lagi! Atau dengan Luke!” tambahnya, dengan senyuman lebar yang enggan. “Masalahnya, kau tahu, Luke itu tidak bisa bepergian! Merasa sakit sebelum menempuh satu setengah kilometer, dan setelah itu harus berhenti, menurunkannya dari kereta agar bisa muntah di jalanan kasihan anak itu.”
Ucapan terakhir yang acuh tak acuh ini membuat Nona Dior tiba-tiba tertawa, yang dengan malu-malu diikuti oleh kakaknya. “Sekarang aku tahu bagaimana keadaan yang membuat kepulanganmu ke Tywnham yang terburu-buru sangatlah penting!” ujarnya.
“Yah, kuharap aku bukan orang tua yang tidak berperasaan, tapi ... yah, kau tahu bagaimana keadaannya, Caroline.”
“Oh, sungguh menyayat hatiku ketika bocah manis itu sakit, sebab tidak ada hal yang lebih menyedihkan lagi daripada itu!” sela Nona Harrow. “Bukan berarti aku sendiri suka mabuk perjalanan, sebab aku sendiri yakin bahwa aku bisa bepergian dari satu ujung negeri ke ujung lainnya tanpa mengalami ketidaknyamanan, tapi aku ingat betul teman istimewaku, Nona Aston, selalu merasa tidak enak badan dalam kereta sewaan sekalipun. Dia sekarang sudah meninggal, sungguh malang dia, walau bukan dalam kereta sewaan, tentunya.”
Menilai dari ekspresi kakaknya bahwa dia hendak mengutarakan cercaan yang gegabah, Nona Dior menyela, untuk menganjurkan kepada kawannya yang cerewet bahwa jika dia telah menghabiskan sarapannya, dia sebaiknya berbicara kepada Nyonya Mary tentang pengaturan yang perlu dibuat untuk Nyonya Besar Dior, anak-anaknya, perawatnya, juru riasnya, dan pelayan perawat. Nona Harrow mengutarakan kesediaan tulusnya untuk melakukan hal itu, dan segera memberi penjelasan terperinci tentang rencana-rencana yang telah dia susun. Nona Dior segera menghentikannya dengan berkata, “Nanti saja, Belevia, jika kau bersedia! Detail-detail rumah tangga tidak menarik bagi Arthur!”
“Tidak, tentu saja! Kaum pria tidak pernah tertarik pada hal-hal seperti itu, bukan? Ayahku sendiri biasanya selalu berkata”
Dia disela oleh kehadiran Cherry yang masuk dengan tergesa-gesa, jadi mereka tidak pernah tahu apa yang biasanya selalu dikatakan oleh mendiang Tuan Harrow. Cherry memohon maaf dengan sangat atas keterlambatannya. “Aku tidak bisa mengira bagaimana aku bisa bangun kesiangan, kecuali aku tidak dibangunkan! Oh, bagaimana kabar Anda, Tuan Arthur? Pelayanku bercerita kepadaku Anda tiba pada pertengahan pesta. Apakah Anda terlalu lelah untuk menikmati pesta? Aku berharap Anda bisa ikut menikmatinya sebab pestanya sungguh memuaskan! Benar, "kan, Nyonya?”
__ADS_1
Nona Dior tertawa, memberitahunya untuk membunyikan bel guna meminta secangkir teh yang segar, dan berkata dia telah memerintahkan agar Cherry tidak diganggu.
“Memang, aku bermaksud agar sarapanmu dibawa ke atas begitu kau bangun,” ujar Nona Dior.
“Oh, ya, Lisa memberitahuku begitu, tapi aku tidak sedikit pun merasa letih, dan aku tidak bisa membayangkan menyantap sarapanku di tempat tidur! Remah-remahnya berserakan di atas ranjang, dan tehnya tumpah ke atas seprai. Lagi pula, aku akan menunggangi kuda betinaku pagi ini, dan betapa menjengkelkannya kalau aku sampai terlambat! Apakah pamanku memberi tahu Anda kapan dia berniat membawakan kudanya, Nyonya?”
“Tidak,” jawab Nona Dior, menyadari Tuan Arthur menjadi diam membisu dengan rasa khawatir. “Sebenarnya, aku lupa kita hendak berkuda hari ini. Ada hal lain yang perlu kupikirkan. Saudari iparku akan membawa anak-anaknya untuk tinggal bersamaku, dan aku tidak begitu yakin kapan mereka akan datang.”
“Oh,” Cherry berkata datar. “Aku tidak tahu. Apakah itu berarti Anda tidak bisa pergi bersama kami? Tolong jangan membatalkannya, Nyonya!”
Sisi buruk dari kecerdasan berpikirnya mendorong Tuan Arthur untuk mengutarakan kata-kata yang tidak bijak. “Gadis muda yang terhormat,” katanya dengan ramah, “kau seharusnya tidak mengharapkan saudariku bersenang-senang menikmati ekspedisi, sehingga tidak ada orang yang akan menyambut kedatangan Nyonya Besar Dior.”
“Tidak. Tentu saja tidak,” Cherry menyetujui dengan santun, tetapi dengan nada suara kecewa.
Nah, Nona Dior telah memutuskan, berjam-jam sebelumnya, untuk tidak berkuda bersama Tuan Constantine, bahkan tidak untuk menemuinya. Dia sudah berniat untuk menuliskan pesan formal yang menunjukkan penyesalan. Hal itu, pikirnya, akan memberi Tuan Constantine suatu pelajaran yang bermanfaat. Namun, setelah Tuan Arthur berbicara, amarahnya bangkit dan dia berkata, “Tentang hal itu, Nyonya Mary akan bahagia bisa menyambut Majorie dan diberikan kesempatan untuk memanjakan anak-anak, selain mendiskusikan dengan Majorie semua detail kamar bayi yang menurut mereka berdua sangat menarik, dan yang tidak membuatku tertarik.” Dia bangkit saat menambahkan, “Aku harus pergi dan memberi tahu Nona Harrow apa yang aku ingin dia lakukan untukku pagi ini.”
“Anda akan berkuda bersama kami?!” Cherry berteriak penuh semangat.
__ADS_1