Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER LXII


__ADS_3

“Dia pergi ke Paris sekitar sepuluh hari lalu,” jawab Nyonya Besar Dior. “Tapi, keponakan perempuannya masih di sini, jadi aku kira dia pasti berniat kembali.”


“Ah, kau menyuratiku bahwa gadis itu di sini, dan aku sungguh berharap dia tidak di sini! Ingatlah, dia itu seorang gadis kecil yang menawan, dan aku tidak ingin berkata sesuatu yang buruk tentangnya, tapi aku tidak pernah menyetujui kelakuan Caroline terkait urusan ini, dan aku tidak akan pernah setuju!”


“Tuan Constantine juga tidak menyetujuinya. Dia bilang Caroline bukanlah orang yang pantas untuk menjaga Cherry.”


“Dasar kurang ajar!” geram Tuan Arthur. “Tapi, Caroline memang bukan orang yang pantas, dan aku sudah berkata demikian selama ini!”


“Tidak, aku yakin kau benar,” sang istri sependapat. “Tapi, kukira sungguh, aku tahu Tuan Constantine punya niat untuk melepaskan dia dari tanggung jawab Caroline. Itulah alasannya dia pergi ke Paris. Kau tidak boleh menyebut-nyebut hal ini, Arthur sebab Cherry sama sekali tidak tahu tentang hal ini, dan Caroline bercerita kepadaku secara diam-diam.”


“Kau memberitahuku, dalam surat pertama yang kau tulis setelah aku meninggalkanmu di sini, bahwa kau pikir tidak ada bahaya Caroline akan jatuh cinta kepadanya. Hanya Tuhan yang tahu mengapa begitu banyak wanita benar-benar jatuh cinta kepadanya sebab dia itu seorang laki-laki angkuh dan sangat tidak menyenangkan yang kuharap tidak pernah kujumpai!”


“Aku akui tidak menyukainya, tapi kupikir dia bisa membuat dirinya sangat menyenangkan bagi siapa pun yang dia ingin senangkan.”


“Astaga, kau tidak bermaksud mengatakan kepadaku laki-laki itu sudah menyenangkan Caroline!” serunya, dengan penuh ketakutan.


“Kau tidak akan berpikir begitu, tapi... aku tidak tahu, Arthur! Tuan Constantine tidak merayunya, dan dia kelihatannya mengatakan hal-hal yang sangat tidak sopan kepadanya, tapi jika dia tidak berusaha menaruh minat kepada Caroline, aku mau tak mau merasa heran mengapa dia tetap berada di Rouen untuk waktu yang sangat lama.”


“Apa Caroline menyukai dia?” tuntut Tuan Arthur.


“Aku juga tidak tahu itu.” Sang istri mengakui. “Seseorang tidak akan berpikir begitu, karena mereka kelihatannya saling bercekcok setiap kali bertemu, tapi belakangan ini aku telah mencurigai Caroline tidak bersikap acuh tak acuh kepadanya seperti yang dia ingin agar aku percayai.”


“Kau pasti salah! Caroline, dari semua orang, punya perasaan terhadap seorang laki-laki seperti Constantine? Itu tidak mungkin! Mereka menyebutnya pria paling kasar di Paris! Aku tidak heran pria itu akan berusaha merayunya. Dia terkenal suka bermain cinta, dan aku sangat tak tenang begitu mengetahui Cherry adalah keponakannya, sebab kemungkinan besar laki-laki itu akan datang ke sini, dan Caroline adalah seorang wanita yang teramat cantik! Tapi, bahwa Caroline akan jatuh cinta kepadanya tidak, tidak, Majorie, kau pasti salah!”


“Mungkin aku salah, Sayang. Tapi, jika aku tidak salah, jika Caroline menerima pinangan darinya, kita harus belajar untuk menyukainya.”

__ADS_1


“Menyukainya?” Tuan Arthur mengulangi, dengan suara terkejut. “Aku bisa katakan kepadamu ini, Majorie, tidak ada apa pun yang akan pernah membujukku untuk menyetujui pernikahan itu!”


“Tapi, Arthur,” sang istri membantah, “persetujuanmu tidak dibutuhkan. Caroline bukanlah anak kecil. Jika dia memutuskan untuk menikahi Tuan Constantine, dia akan melakukannya, dan kau akan harus menerimanya dengan sukarela kecuali kau ingin menjauh darinya, yang aku sangat yakin tidak kau inginkan.” Tuan Arthur terlihat agak bingung, tapi berkata, “Jika Caroline memilih untuk menikahi Constantine, dia harus menanggung konsekuensinya. Tapi, aku akan memperingatkan dia dengan sungguh-sungguh mereka bisa jadi lebih tidak direstui daripada yang dia perkirakan!”


“Kau akan melakukan semuanya sesuai yang kau pandang baik, Sayang, tapi kau harus berjanji kepadaku tidak akan menyebut-nyebut masalah ini kepada Caroline sampai dia sendiri membicarakannya. Ingatlah, ini semua hanya perkiraan saat ini. Dan, kau sama sekali tidak boleh mengatakan apa pun untuk membuatnya sedih. Tapi, saat kau melihatnya, aku yakin kau tidak ingin membuatnya sedih.”


Namun, Tuan Arthur tidak akan melihat adiknya sampai keesokan hari. Kunjungan dari Nona Harrow telah menyebabkan Caroline sakit kepala, dan enggan untuk menerima tamu lainnya. Begitu sang dokter mengatakan tidak ada lagi bahaya penularan yang perlu ditakutkan, Nyonya Besar Dior menyadari sangatlah mustahil melarang Nona Harrow masuk ke kamar Caroline sebab Caroline telah meminta untuk bertemu Cherry, dan Nona Harrow, sangat disesalkan, telah bertemu dengan Cherry yang keluar dari kamar sakit. Pemandangan yang menyakitkan menjadi akibatnya, sebab, karena dituduh telah masuk dengan diam-diam untuk menemui Nona Dior ketika Elle tidak melihat, Cherry berkata dengan marah dia tidak berbuat hal semacam itu. Nona Dior telah memanggilnya, dan tentang Elle yang tidak melihat, Elle berada di kamar itu dan masih ada di sana. Hal ini membuat Nona Harrow pergi dengan cepat mencari Nyonya Besar Dior, menuntut dengan histeris untuk mengetahui mengapa Cherry telah diperbolehkan untuk menemui Nona Dior sementara dia, sepupunya sendiri, dicegah. Alhasil, Nyonya Besar Dior, yang merasa serangan kemurungan Nona Harrow ada benarnya, mengatakan tidak seorang pun yang berusaha menjauhkan dia dari Caroline: tentu dia boleh menengoknya. Dia menambahkan, dia tahu Belevia bisa dipercaya untuk tidak tinggal dengannya terlalu lama, atau berbicara terlalu banyak. Nona Harrow, yang masih terisak-isak, menjawab dia harap dirinya bersikap lebih bijak untuk tidak berbicara terlalu banyak kepada orang-orang dalam kondisi lemah seperti Caroline. Nyonya Besar Dior pun berharap demikian, tapi dia meragukannya, dan mengakhiri kunjungan itu dua puluh menit setelah Nona Harrow memasuki kamar, yang pada saat itu Caroline terlihat seolah akan mengalami kambuh lagi.


“Kupikir aku harus menyuruhmu keluar sekarang, Belevia,” Nyonya Besar Dior berkata, dengan tersenyum ramah. “Dokter bilang hanya seperempat jam, kau tahu!”


“Oh, ya, memang! Dia sangat benar! Caroline malang sangatlah lemah! Kutegaskan aku sangat terkejut mendapati dia begitu pucat dan tidak seperti dirinya, tapi, sebagaimana yang sudah kukatakan kepadanya, kita akan segera melihatnya pulih kembali. Sekarang, aku akan meninggalkan dia, dan dia harus berusaha untuk tidur, bukankah begitu? Aku hanya akan menarik tirai-tirai menutupi jendela sebab tidak ada yang lebih tidak menyenangkan daripada terkena silauan cahaya. Bukan berarti sangatlah tidak menyenangkan melihat matahari lagi setelah berhari-hari mendung, dan mereka bilang cahaya matahari sangat bermanfaat walau aku sendiri agak meragukannya. Aku ingat mamaku tersayang berkata cahaya matahari berbahaya bagi kulit wanita, dan dia tidak akan pergi ke luar di udara terbuka tanpa mengenakan selubung di wajahnya. Yah, aku harus meninggalkanmu sekarang, Caroline Sayang, tapi kau bisa merasa yakin aku akan selalu menengok untuk melihat bagaimana keadaanmu!”


“Majorie,” kata Nona Dior dengan lemah, ketika Nona Harrow akhirnya membawa dirinya sendiri ke luar kamar, “kalau kau mencintaiku, bunuhlah sepupu tercinta kita! Hal pertama yang dia katakan ketika masuk adalah dia tidak akan berbicara denganku, tapi dia tidak berhenti bicara sejak saat itu hingga sekatang.”


Nona Harrow berhasil menjengkelkan Tuan Arthur di meja makan malam, pertama dengan mengutarakan serangkaian pandangan yang sangat bodoh, lalu dengan mencoba berdebat dengan Nyonya Besar Dior. Ketika makan malam berakhir, Nona Harrow bangkit berdiri, seraya berkata, “Sekarang kalian harus memaafkan aku, jika sekiranya kalian berkenan! Aku akan naik untuk duduk menemani pasien kita tersayang selama sesaat.”


“Tidak, Belevia,” kata Nyonya Besar Dior, “Caroline sangat lelah, dan tidak boleh menerima tamu lagi hari ini.”


“Oh” ujar Nona Harrow, dengan tawa kecil disertai marah, “Aku tidak menganggap diriku termasuk seorang tamu, Nyonya Besar Dior. Kau sudah beberapa kali masuk ke kamar Caroline, dan beberapa orang mungkin berpikir aku lebih berhak melakukan itu karena merupakan sanak saudara! Bukan berarti aku bermaksud mengatakan kau bukanlah tamu yang disambut dengan gembira sebab aku yakin Caroline pasti selalu senang menemuimu!”


Tuan Arthur segera merasa tersinggung mendengar pernyataan ini, memberitahunya dengan keras Nyonya Besar Dior harus menjadi satu-satunya penentu siapa yang akan, dan siapa yang tidak akan diizinkan untuk mengunjungi Caroline dan menambahkan jika sang istri menerima nasihatnya, dia tidak akan mengizinkan Nona Harrow mendekati Caroline lagi karena Tuan Arthur tidak meragukan ocehan Nona Harrow yang tiada hentinya yang telah membuat Caroline lelah.


††*****††


Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.

__ADS_1


Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.


Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.


Terima kasih banyak.


________________________________


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!


Thanks and best regards


“Saya yang di pojokan kulkas”

__ADS_1


__ADS_2