
Namun, ketika dia sudah berpakaian rapi dengan berbalutkan gaun mahal, dan mengikat sendiri tali-tali topi renda di bawah dagunya, dia mengakui dirinya sungguh tak tampak seperti seorang wanita muda yang buruk. Tuan Arthur di izinkan masuk tak lama setelah pukul sebelas, dan dengan memperhatikan adiknya tidak terlihat dalam tampilan terbaiknya, dia begitu terkejut dengan wajah pucat dan mata lelahnya sehingga dia melupakan perintah yang diberikan kepadanya dan berseru tiba-tiba.
“Demi Tuhan, Caroline! Hancurlah aku bila aku pernah melihatmu tampak sangat lelah! Wanita tua yang malang, betapa buruknya masa-masa yang telah kau jalani! Dan, jika aku memikirkan tukang oceh yang celaka itulah yang membuatmu sakit aku bisa yah, lupakan saja!” tambahnya, dengan terlambat, teringat akan perintah-perintahnya.
“Tidak ada gunanya membuat diri kita sedih! Nah, aku akan memberitahumu apa yang diinginkan Majorie dan aku agar kau lakukan, dan itu adalah datang ke Chateau begitu kau cukup sehat untuk bepergian, dan berkunjung dalam waktu lama. Bagaimana?”
“Sangat menyenangkan! Terima kasih, betapa baiknya kalian berdua! Tapi, katakan padaku, bagaimana keadaan Luke?” Tuan Arthur tidak pernah membutuhkan dorongan lebih untuk membicarakan anak-anaknya, dan menghabiskan sisa kunjungan singkatnya dengan cara yang tidak membahayakan.
Ketika bangkit untuk pergi, dia mengecup pipi adiknya, memberinya tepukan penyemangat di pundak, dan berkata, “Nah, tidak ada yang bisa menuduhku telah tinggal terlalu lama, atau berbicara kepadamu sampai menderita, “kan?”
“Tentu saja tidak! Mengobrol denganmu telah berdampak sangat baik bagiku, dan kuharap kau akan mengunjungi ku sebentar nanti.”
“Ah, tentu saja aku akan berkunjung! Ah, apakah itu kau, Elle? Datang untuk memaksaku keluar, bukan? Alangkah kejamnya kau ini! Nah, Caroline, jadilah gadis yang baik, dan lihat seberapa cepat kau bisa kembali sehat! Aku akan mengajak Majorie berjalan-jalan sekarang: hanya jalan santai, kau tahu, tapi aku akan mengunjungimu sebentar saat kami pulang.”
Dia lalu pergi, dan Elle memindahkan salah satu bantal yang menyangga nyonya nya, dan mendesaknya untuk memejamkan mata, tidur sebentar sebelum kudapan dibawakan kepadanya.
Nyonya Besar Dior, setelah dengan enggan menyerahkan putrinya ke perawat, merasa sangat gembira untuk berjalan-jalan santai bersama Tuan Arthur, dan tidak menyesal ketika Cherry menolak ajakan untuk menemani mereka. Dia berangkat ke arah Paris Road, dengan bersandar pada lengan suaminya, dan berkata, “Alangkah menyenangkannya bisa bersama denganmu lagi, Sayang! Sekarang kita bisa mengobrol dengan nyaman, tanpa Belevia yang malang menyela kita!”
“Ya, itulah yang kupikirkan, ketika aku membujuk mu untuk berjalan-jalan denganku,” kata Tuan Arthur.
“Gagasan baikku yang jahat, bukan?”
Namun, dia tidak akan berpendapat hal itu gagasan yang bagus seandainya dia mengetahui tidak kurang dari sepuluh menit kemudian Tuan Constantine akan meminta izin masuk ke rumah Nona Dior. Anash, yang membukakan pintu untuk Tuan Constantine, berkata Nona Dior tidak menerima tamu. Nona Dior, katanya, sedang tak sehat, dan belum boleh meninggalkan kamar.
“Aku sudah diberitahukan demikian,” ujar Tuan Constantine.
“Tolong berikan kartu namaku kepadanya.” Anash menerima kartu nama itu darinya, dan berkata, dengan sedikit membungkuk,
“Saya akan menyuruh agar kartu nama ini disampaikan ke kamar Nyonya, Tuan”
“Nah, jangan biarkan aku berdiri di ambang pintu!” kata Tuan Constantine dengan tidak sabar.
Anash, seorang kepala pelayan yang baik sekali, mendapati dirinya dalam kebingungan sebab dia tidak pernah sebelumnya menghadapi seorang tamu pada pagi hari sekaliber Tuan Constantine.
Orang-orang kasar yang dapat ditanganinya tidak ada teman-teman Nona Dior lainnya yang akan menuntut izin masuk ketika diberi tahu Nona Dior tidak berada di rumah dan Tuan Arthur, yang tidak menyukai Tuan Constantine, sebagaimana diketahui betul oleh Anash, pasti akan mengharapkan dia tidak diizinkan masuk.
“Saya menyesal, Tuan, tidak mungkin bagi Anda untuk bertemu Nona Dior. Hari ini kali pertama dia cukup sehat untuk duduk selama satu atau dua jam, dan pelayannya memberi tahu saya dia hampir tidak punya kekuatan untuk berjalan ke sofa. Jadi, saya yakin Anda akan mengerti Anda tidak bisa menjumpainya hari ini.”
“Tidak, aku tidak akan mengerti,” kata Tuan Constantine, dengan kasarnya berjalan cepat melewati si pelayan menuju ruang depan.
“Tutup pintunya! Sekarang, bawa kartu namaku ke nyonyamu segera, dan katakan kepadanya aku ingin bertemu dengannya!” Anash merasa terhina dengan cara masuk Tuan Constantine yang tidak sopan, dan dia sama sekali tidak suka diberi perintah yang tidak bisa ditolak. Dia hendak menanggapi dengan penuh wibawa ketika sebuah kecurigaan terlintas di kepalanya dia nantinya menjelaskan hal ini pada Nyonya Mary sebagai situasi yang luar biasa dia sedang menghadapi seorang pria yang benar-benar jatuh cinta. Kaum pria dalam kondisi demikian haruslah dimaafkan, jadi dia memaafkan Tuan Constantine, dan berkata dengan gaya kebapakan seperti caranya bicara kepada Tuan Luke,
“Nah, Anda tahu saya tidak bisa melakukan itu, Tuan! Saya akan memberi tahu Nyonya bahwa Anda berkunjung, tapi Anda tidak bisa berharap untuk bertemu dengannya ketika dia baru saja bangun dari tempat tidur.”
__ADS_1
“Aku tidak hanya berharap untuk bertemu dengannya, tapi aku harus menemuinya,” jawab Tuan Constantine.
Untunglah bagi Anash, dia diselamatkan dari keadaan sulitnya oleh kemunculan Elle di tempat kejadian, yang menuruni tangga, memberi hormat dengan sedikit membungkuk, dan berkata,
“Apakah Anda ingin menjumpai Nona Caroline, Tuan?”
“Tidak hanya ingin, tapi bertekad untuk menemuinya. Apa kau pelayannya?”
“Ya, Tuan, benar.”
“Bagus! Aku pernah mendengar dia berbicara tentangmu, dan kukira namamu Elle, dan kau telah menemani Nona Dior selama bertahun-tahun. Benarkah?”
“Saya sudah menemaninya sejak dia kecil, Tuan”
“Bagus lagi! Kau pasti mengenalnya dengan sangat baik, dan bisa memberitahuku apakah akan berbahaya baginya untuk menemui ku.”
“Saya kira itu tidak akan membahayakan dia, Tuan, tapi saya tidak bisa memutuskan sendiri untuk mengatakan apakah dia akan bersedia menerima Anda.”
“Tanyakan langsung kepadanya!” Elle kelihatannya memperhatikan Tuan Constantine dengan tanpa berprasangka sekejap pun, lalu berkata,
“Tentu saja, Tuan Jika Anda bersedia menunggu di ruang tamu, saya akan menanyakan.”
Dia berbalik dan pergi menaiki tangga lagi dengan penuh wibawa dan Anash, yang tersadar kembali dari keterkejutan melihat anggota rumah tangga yang paling menakutkan menyerah tanpa tanda ketidaksukaan terhadap tuntutan Tuan Constantine yang kurang ajar, mengarahkan pria itu ke ruang tamu. Anash sangatlah tertarik dengan situasi yang belum pernah terjadi ini, dan kesenangannya menikmati situasi ini tidak lagi dirusak oleh ketakutan akan murka Tuan Arthur karena jika Tuan Arthur menjadi marah, dia sekarang bisa melemparkan kesalahan atas gangguan Tuan Constantine kepada Elle.
“Nona Caroline akan senang menerima Anda, Tuan Silakan ikut dengan saya?” Dia mendahului pria itu menaiki sepasang anak tangga kedua, dan berhenti di puncak tangga, dan berkata,
“Saya harus memperingatkan Anda, Tuan, Nona Caroline sama sekali tidak sepenuhnya pulih. Anda akan mendapatinya sangat lelah karena demam, dan saya harap Anda tidak akan membuatnya gelisah.”
“Aku juga berharap demikian,” jawabnya.
Elle rupanya merasa puas dengan jawaban ini sebab dia membuka pintu kamar Nona Dior, dan mengantar pria itu masuk, seraya berkata dengan suara yang sama sekali tak memiliki ketertarikan,
“Tuan Constantine, Nyonya”
Elle tetap tinggal, seraya menahan pintu tetap terbuka, selama beberapa menit karena ketika dia menyampaikan kabar tentang kedatangan Tuan Constantine kepada nyonya nya, Nona Dior berkelakuan dengan cara yang sangat gelisah, dan kelihatannya tidak tahu apakah dia ingin menemuinya atau tidak.
Nona Dior telah bangun dari posisi berbaringnya, seraya berkata dengan bingung, “Tuan Constantine? Oh, tidak, aku tidak bisa Elle, apa kau membohongiku? Apa dia memang di sini? Oh, mengapa dia harus kembali tepat ketika aku sangat lusuh dan benar-benar tidak sehat? Aku tidak ingin menemuinya! Dia orang paling menjijikkan oh, apa yang harus aku lakukan?”
“Yah, Nyonya, kalau Anda ingin saya Mengusirnya, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukannya, tapi dari wajahnya kemungkinan besar dia akan memerintahkan saya untuk menyingkir, dan menaiki tangga dengan menggebu-gebu, dan hal berikutnya yang akan Anda ketahui adalah dia akan mengetuk pintu Anda jika tidak, dia masuk tanpa mengetuk, yang tidak akan membuat saya heran.”
Nona Dior tertawa ragu-ragu.
“Pria menjijikkan! Singkirkan syal mengerikan ini! Kalau aku harus menemuinya, aku tidak akan melakukannya dengan berbaring di atas sofa seolah aku menderita penyakit serius!”
__ADS_1
Maka, ketika Tuan Constantine masuk, dia mendapati Nona Dior duduk di salah satu ujung sofa, ekor gaunnya terhampar dalam lipatan halus di kakinya dan rambutnya yang bercahaya tersembunyi di dalam sebuah topi berenda. Dia mampu menjadi tenang kembali, dan berkata, dengan suara yang cukup mantap, “Bagaimana kabarmu? Kau pasti memaafkan aku karena menyambut mu seperti ini Elle sudah memberitahumu, aku yakin, aku tidak sehat, dan belum diperbolehkan untuk meninggalkan kamar.” Saat bicara, Nona Dior berusaha berdiri, tapi lututnya bergetar begitu hebat sehingga dia harus berpegangan pada lengan sofa untuk mencegahnya jatuh. Namun, tepat pada saat wanita itu berjalan sempoyongan, Tuan Constantine, yang melintasi kamar dalam dua langkah, menangkap wanita itu dengan tangannya, dan mendekapnya dekat-dekat, saling berhadapan, dan dengan garangnya mencium wanita itu.
“Oh!” Nona Dior terkesiap, berusaha untuk menjauhkan diri dari pria itu tapi sia - sia.
“Berani-beraninya kau! Lepaskan aku segera!”
“Kau akan jatuh kalau aku melepaskanmu,” kata Tuan Constantine, dan menciumnya lagi.
“Tidak, tidak, kau tidak boleh! Oh, betapa kejinya kau ini! Aku harap aku tidak pernah bertemu denganmu!” tegas Nona Dior, seraya menghentikan perlawanan tak seimbang untuk membebaskan dirinya, dan terperenyak dengan lemasnya ke dalam lengan-lengan kuat pria itu, dan mencucurkan air mata ke pundaknya. Pada saat ini, Elle, yang tersenyum masam, menarik diri, rupanya merasa Tuan Constantine sangat mampu untuk menangani Nona Dior tanpa bantuannya.
“Jangan menangis, Gadis Cengengku yang Berharga!” ujar Tuan Constantine, seraya memberikan ciuman ketiga kali di bawah telinga Nona Dior, kini kepala wanita itu pun bersandar pada pundaknya, merupakan satu-satunya bagian tubuh yang bisa di jangkaunya.
Dan saat dirasa lebih nyaman, Nyonya Dior semakin merapatkan tubuh untuk mendapatkan kehangatan dari tubuh Tuan Constantine, dan perlahan mereka berjalan untuk duduk di kursi yang tersedia dalam kamar tersebut.
††*****††
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.
Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.
Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.
Terima kasih banyak.
________________________________
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
Thanks and best regards
“Saya yang di pojokan galon”
__ADS_1