
Pada keesokan harinya, Tuan Besar Curtis mengunjungi Versailles untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Nona Dior karena telah melukai perasaannya. Karena para pelayan sedang sibuk mengurusi segala persiapan untuk pesta jamuan makan malam nanti, kunjungannya kurang tepat waktu. Anash, atau Diandre, sang pelayan, mungkin akan memberi tahu sang bangsawan bahwa Nona Dior tidak ada di rumah: tapi karena Anash benar-benar sibuk di kamar sepen, mengumpulkan semua sendok-garpu dan gelas yang akan dibutuhkan untuk menjamu sekitar tiga puluh tamu, dan Diandre, dibantu oleh bocah bayaran dan dua pelayan wanita, sedang memindahkan berbagai perabotan keluar dari ruang tamu, jadi yang membukakan pintu bagi Tuan Besar Curtis adalah seorang pelayan muda yang upaya gugupnya untuk mengatakan nyonyanya tidak ada di rumah, berhasil dihadapi sang bangsawan tanpa kesulitan. Tuan Besar Curtis berkata, dengan sikap sangat ramah yang membuat pelayan itu terpesona, dia mengira Nona Dior akan menyediakan waktunya beberapa menit untuknya, dan berjalan melewati si pelayan masuk ke dalam rumah. Si pelayan pergi sebelum sang bangsawan masuk dan kembali ke Anash yang memarahinya habis-habisan. Dia memberi alasan bahwa Tuan Besar Curtis berjalan melewatinya begitu saja seolah dia tidak ada di sana.
Kelihatannya, tidak ada pilihan selain mengantar sang bangsawan ke ruang baca di bagian belakang rumah, dan tergesa-gesa mencari nyonyanya. Si pelayan menemukannya, setelah mencari sia-sia dilantai-lantai atas, di ruang bawah tanah, dan bertanya kepada juru masaknya, sehingga Curtis terpaksa dibiarkan menunggu beberapa lama sebelum Nona Dior muncul.
Suasana hati Nona Dior sedang tidak baik, dan setelah memberi salam paling singkat, dia memberi tahu tamunya bahwa dia hanya bisa menyediakan waktu beberapa menit, mengingat ada banyak hal yang perlu dikerjakan pagi itu, dan memohon sang tamu untuk menyampaikan urusannya dengannya tanpa buang-buang waktu.
Jawaban Tuan Besar Curtis memperdayanya. Sang bangsawan berkata, dengan menahan tangan Nona Dior dalam genggaman hangat, “Aku tahu itu. Kau mengadakan sebuah pesta malam ini, bukan? Aku tidak akan menahanmu lebih lama dari sekadar memohon kepadamu agar memaafkan aku aras andilku dalam perselisihan di antara kita di Ruang pompa kemarin lusa, dan memercayai bahwa aku, didorong oleh kekhawatiran besar terhadap keselamatanmu, sampai mengutarakan kata-kata yang kau anggap tidak sopan! Aku hanya bisa meyakinkanmu, Nona Caroline yang terhormat, kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk bersikap kurang sopan, dan memohon kepadamu untuk memaafkan aku.”
Kemarahan Nona Dior menguap. Dia berkata, “Yah, tentu saja aku memaafkanmu, Curtis! Jangan pikirkan hal itu lagi! Kita semua terkadang mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan.”
Tuan Besar Curtis menekan bibirnya ke tangan Nona Dior. “Terlalu baik, terlalu murah hati!” ujarnya, dengan suara yang sangat terharu. “Aku khawatir, ketika aku mengetahui dari Cyril kau telah mengundangnya dan Hawkesbury muda ke pestamu malam ini, tapi tidak mengundangku, aku telah membuatmu tersinggung hingga sulit dimaafkan.”
“Omong kosong!” ucap Nona Dior. “Aku tidak mengundangmu karena pesta ini ditujukan untuk Cherry, dan pestanya seluruhnya akan hampir seluruhnya terdiri dari para gadis yang belum diperkenalkan ke publik, dan saudara laki-laki dan kekasih mereka yang mendampingi, juga beberapa ayah dan ibu. Kau akan merasa sangat bosan!”
“Aku tidak pernah mungkin merasa bosan bersama Anda,” sang bangsawan berkata singkar.
Nona Dior segera diserbu oleh bayangan menyedihkan dari lelaki itu, yang ditinggalkan untuk melewati malam yang sepi, merasa dirinya tidak diinginkan sementara saudaranya pergi bersama temannya untuk bergembira pada malam hari. Dia akhirnya menyerah pada dorongan hatinya dengan berkata, “Yah, tentu saja, datanglah, kalau kau sanggup menghadapi anak-anak dan para janda!”
Kata-kata itu langsung disesalinya begitu dilontarkan. Terlalu terlambat ketika dia mengingat Curtis sangat terbiasa seorang diri. Amatlah jarang Cyril, selama masa kunjungannya yang tidak sering, melewatkan malam hari di rumah. Dia berkata, ketika dimarahi, bahwa Will tidak menginginkannya: dan 'Theresa, saudari tertua Curtis, mengeluhkan itu karena kebiasaannya beristirahat di perpustakaan setelah makan malam, dengan asyik membaca katalog-katalog miliknya, atau mengatur ulang hiasan-hiasan kecilnya.
Nona Dior berkata, dengan upaya sia-sia untuk membuat lelaki itu menolak undangannya, “Aku harus memperingkatkanmu, Tuan, paman Cherry akan hadir. Kau mungkin lebih suka untuk tidak berjumpa dengannya.”
“Aku yakin,” ujarnya, dengan senyuman penuh kesabaran, Saku cukup mampu menguasai diri sendiri sehingga tidak akan membuatmu malu dengan terlibat pertengkaran dengan Constantine di bawah atap rumahmu, Nona Caroline yang terhormat!” Pria itu lalu, dengan pernyataan ulang rasa terima kasihnya, menyampaikan selamat tinggal. Nona Dior hanya merutuki diri sendiri karena telah terbujuk untuk memenuhi tuntutan sang bangsawan.
__ADS_1
Sisa hari itu berlalu tanpa kejadian apa pun selain kedatangan Deborah Lisa, yang dipekerjakan untuk menjadi pelayan Cherry. Caroline telah mempersiapkan diri menghadapi kritikan tentang wanita berwajah riang ini dari para pelayan yang lebih tua, tetapi meskipun Elle mengatakan dengan hati-hati bahwa masih terlalu dini untuk menilai, dia menambahkan bahwa Nona Lisa kelihatannya memahami pekerjaannya: dan Nyonya Mary serta Anash mengungkapkan persetujuan tulus mereka terhadap penghuni baru ini. “Seorang wanita muda yang sangat sopan, dan seperti yang pasti disukai Nyonya,” ujar Nyonya Mary.
“Bukan seseorang yang suka menentang,” kata Anash, seraya menambahkan dengan penuh keyakinan, “dan jangan khawatir dia akan berselisih dengan Nona Elle, Nona Caroline!”
Nona Lisa menunjukkan kemampuannya ketika dia mendandani Cherry untuk pesta malam itu, sebab tidak hanya dia membujuk Cherry untuk mengenakan gaun muslin bercorak mawar merah jambu yang paling lembut dibanding gaun kuning yang agak lebih modern yang ingin dipakai Cherry, tapi juga berhasil meyakinkan gadis itu seuntai manik-manik yang telah dibeli Cherry hari itu tidak cocok untuk pakaian malam hari seperti halnya kalung mutiaranya menyikat rambut keriting Cherry yang kehitam-hitaman sampai halus mengilap, dan mengaturnya dengan gaya sederhana nan menawan, yang menarik pujian dari Nona Dior, ketika dia memasuki kamar Cherry tepat sebelum makan malam.
Nona Dior membawa serta seutas gelang tangan yang cantik, berhiaskan mutiara, dan memasangkannya di pergelangan Cherry, seraya berkata, “Itu kado kecil, dengan rasa sayangku untuk pesta pertamamu!”
“Oh? Cherry terkesiap. “Oh, Nona Dior, terima kasih! Oh, cantik sekali! Betapa sangat baiknya Anda kepadaku. Lihatlah, Lisa!”
“Memang sangat cantik, Nyonya Cocok sekali, jika saya boleh berkomentar,” jawab Lisa, seraya mengamati pakaian Nona Dior dengan mata ahlinya.
Dia tidak mendapati apa pun untuk dikomentari. Nona Dior memakai jubah biru langit berbahan sutra tipis dengan bagian depan terbuka yang ditutupi lapisan satin putih. Seutas kalung safir terjepit di sekitar lehernya, dan sebongkah safir tersemat di rambutnya yang mengilap. Dia terlihat, Cherry memberitahunya dengan nada terpesona, luar biasa. Nona Dior mentertawainya, dan memprotes pilihan kata sifat Cherry, dengan berkata bahwa kata itu terdengar seolah dia berpakaian secara berlebihan untuk acara itu.
“Yah yah, jelita!” Cherry memperbaiki.
“Ayo kita turun untuk membuat Archard terpesona! Aku diberitahu dia sudah datang beberapa menit lalu.” Mereka mendapati pemuda itu sedang menunggu di ruang tamu. Dia telah diundang untuk makan malam, dan jelas sekali dia berusaha keras menampilkan yang terbaik dengan pakaiannya. Cherry berseru kagum, “Oh, bagus sekali, Archard! Kau terlihat sangat rapi, sungguh! Benar, “kan, Nyonya?”
“Ya, benar. Sangat tampan,” ujar Nona Dior. “Aku begitu terpesona, terutama oleh keelokan dasinya. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk mendapat sesuatu seindah ini, Archard?”
“Berjam-jam!” jawabnya, pipinya merona. “Ini pola oriental, Anda tahu, dan saya kira saya telah berhasil membuatnya. Nah, tolong, berhentilah mentertawai saya, Nyonya!” Dia berpaling untuk mengambil dari atas meja tempatnya menaruh dua karangan bunga, dan memberikannya dengan gaya yang canggung, seraya berkata, “Tolong, sekiranya Anda bersedia menerima buket ini! Dan, yang ini, Cher, untukmu.”
††*****††
__ADS_1
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.
Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.
Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.
Terima kasih banyak.
________________________________
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
__ADS_1
Thanks and best regards
“Saya yang di pojokan kulkas”