Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
Chapter XXX


__ADS_3

Nona Dior mendapati dirinya tidak bisa berkata-kata, tapi dia tidak perlu memberi tanggapan. Dengan membungkuk singkat, pria itu berbalik pergi, meninggalkan Nona Dior dengan rasa sesal karena telah membiarkan kekesalannya membuatnya bersikap, yang disadarinya dengan sangat terlambat, tidak pantas. Wanita dari kalangan atas tidak menuduh pria paling bengal sekalipun sebagai orang gila. Dia berkata kepada dirinya sendiri pria itulah yang bersalah dan dia sudah tertular cara bicara yang terlalu blakblakan dari pria itu. Namun, itu tidaklah pantas hati nuraninya menegur. Dia mengira dirinya harus meminta maaf kepada pria itu dan mendapati, dengan sedikit terkejut, lebih memalukan dianggap bodoh olehnya daripada dianggap tidak sopan.


Dengan perasaan terguncang, Nona Dior berjalan menghampiri kelompok Nyonya Stinchcombe, dan menyapa wanita itu dengan senyum tenangnya yang biasa. Namun, sebelum dia sempat bertukar salam dengan orang-orang lain di kelompok itu, dia disela. Cherry berteriak dengan penuh semangat, “Oh, Nona Dior, tolong beri tahu Tuan Damitri kita akan senang menjumpainya di pesta! Aku memberanikan diri mengundangnya, sebab Anda berkata aku bisa mengundang siapa pun yang aku pilih, dan aku tahu dia teman Anda! Hanya saja, dia tidak berani datang tanpa undangan dari Anda!”


Saat itulah Nona Dior menyadari tugas menjaga Cherry mungkin bukanlah pekerjaan enteng yang selama ini dia bayangkan dengan gembira. Mustahil menolak undangan yang diberikan dengan begitu lugunya, tetapi dia berbuat yang terbaik sebisanya. Dia berkata, “Tentu saja, kalau dia mau datang, aku akan senang memasukkan dia dalam daftar tamu.”


“Aku memang ingin datang” kata Tuan Damitri dengan segera, bergerak maju untuk membungkuk. Dia mengangkat wajahnya, seraya tersenyum licik kepada Nona Dior, dan berkata dengan lembut, “Mengapa kau tidak menginginkan aku datang, Nyonya yang sangat dicintai? Sudah pasti kau tahu aku orang yang tepat untuk diundang ke sebuah pesta!”


“Oh, ya,” Nona Dior berkata dengan entengnya.


“Yang selalu mengoceh dengan lucunya! Tapi, aku kira pestaku tidak akan menjadi jenis pesta yang kau sukai. Malahan, aku membayangkan kau akan menganggap pesta itu sangat menjemukan hampir seperti pesta anak-anak!”


“Oh, kalau begitu, kau tidak mungkin menginginkan ketidakhadiran ku! Aku tampil dalam kondisi terbaik di pesta-pesta anak-anak, dan akan sibuk mengatur beberapa permainan didalam rumah untuk membuat para tamu muda mu tetap terhibur. Permainan tebak kata, misalnya, atau permainan buta-butaan?!”


“Jangan mengada-ada seperti itu!” ujar Nona Dior sambil tertawa. “Kalau kau datang, aku akan mengharapkan mu untuk menghibur para janda kaya!”


“Oh, tidak akan sulit melakukannya! Aku bahkan berhasil menghibur nenekku, dan hal itu, kau tahu, membutuhkan keterampilan yang sangat baik!”

__ADS_1


“Kau tahu, kau ini berandal yang menyedihkan!” Nona Dior memberi tahu seraya melangkah menjauh darinya.


Nona Dior mendapati Tuan Curtis telah bergabung dalam kelompok itu, dan terpikir olehnya, saat dia berjabat tangan dengan pria itu, kehadiran Tuan Damitri di pestanya akan menjadi kurang mencolok jika dia juga mengundang Tuan Curtis. Pria itu jauh lebih muda dari Damitri, tetapi cara bicaranya yang menyenangkan, dan tampilan gayanya yang tegas membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. Dia ditemani oleh seorang pemuda sangat tampan, yang dia perkenalkan sebagai Jonathan Hawkesbury, seorang teman yang datang dari Paris untuk tinggal beberapa hari di Curtis Court sehingga Nona Dior dengan segera memasukkan dia dalam daftar undangan. Nona Dior tidak berpendapat kecerdasan pemuda itu tinggi, tapi tata krama nya amat sopan, dan pakaiannya sangat bagus sehingga dia pasti mampu menambah kemeriahan pestanya, demikianlah pikir Nona Dior. Kedua laki-laki itu menerima undangannya. Tuan Hawkesbury mengungkapkan rasa terima kasih kepadanya, dan Cyril berkata dengan sikap riang, “Astaga, ya! Kami akan senang datang ke pestamu, Nona Caroline yang terhormat! Akankah ada dansa?”


Nona Dior dengan cepat mengubah rencana-rencananya. Dia sudah memesan orkes kecil untuk memainkan musik lembut bagi para tamunya, tetapi dia sekarang mulai berpikir para pemusik mungkin akan memainkan satu-dua musik dansa pedesaan, dan mungkin pikiran nekat music walz. Itu bisa mengejutkan beberapa janda kaya yang lebih kaku sebab meskipun musik waltz menjadi makin populer di Paris, musik ini tidak pernah diperdengarkan di Komunitas manapun di Rouen. Namun, musik itu sudah pasti akan membuat pestanya yang semula membosankan dan biasa menjadi bergaya secara tidak terduga.


Nona Dior berkata, “Yah, itu akan bergantung pada keadaan! Ini dimaksudkan menjadi pesta jamuan makan malam, bukan pesta dansa, tapi kukira acaranya akan berakhir sebagai... mungkin bukan sebuah pesta dansa, melainkan sebuah pesta dansa dadakan.”


Tuan Curtis memuji saran ini, dan menambahkan informasi bahwa temannya yang agak sukar bicara akan memamerkan sepatunya yang paling bagus. Tuan Hawkesbury menyangkal, tetapi mengungkapkan, dengan sikap sangat sopan dan penuh hormat, harapan bahwa dia mungkin diberikan penghormatan untuk berdansa bersama nyonya rumahnya. Nona Dior lalu memisahkan diri dari kelompok itu, dengan maksud memperbanyak tamu pestanya dengan memasukkan nama Mayor Beverley, yang baru saja memasuki Ruang pompa untuk menjaga ibunya. Dia bukan jenis orang yang suka berdansa, terapi dia hampir sebaya dengan Denis Damitri, dan, dari kenyataan dirinya yang mengalami kemalangan karena kehilangan satu tangan dalam pertempuran berdarah di Waterloo, dia merupakan sasaran daya tarik mengagumkan bagi para gadis yang akan hadir di pesta. Setelah berhasil memasukkan pemuda itu dalam daftar undangan, Nona Dior berjalan-jalan mengelilingi ruangan untuk mencari sasaran berikutnya.


Dia menemukan dua orang dan tiba-tiba saja terlintas di benaknya bahwa dia tidak ingin memberi Cherry daya tarik tambahan, dengan menyembunyikan Tuan Damitri dari mata tajam Tuan Constantine. Hal ini sangatlah konyol sehingga membuatnya tertawa dalam hati, tapi juga menjengkelkan. Apa urusan pria itu dengan orang-orang yang dia pilih untuk diundang ke rumahnya? Dia tidak peduli sedikit pun akan pendapat pria itu, dan tidak akan buang-buang waktu memikirkan hal itu lagi.


“Op? cicit Cherry penuh kegembiraan. “Terima kasih, Tuan! Aku sungguh amat berutang kepadamu! Dari mana asal kuda itu? Kapan aku bisa menungganginya? Jenis kuda betina apakah dia? Akankah aku menyukainya?”


“Kuyakin begitu. Kuda itu berwarna kelabu, sangat cerdas dan lincah. Dia berasal dari istal Tuan Besar Warrington, dan terbiasa mengangkut seorang wanita, tapi aku membelinya di Tattersall's. Warrington tidak lagi memakainya sejak kematian istrinya. Kau bisa menungganginya besok lusa.”


“Oh, bagus! Bagus sekali!” teriaknya seraya bertepuk tangan.

__ADS_1


“Itukah alasan kau harus meninggalkan Rouen? Apakah kau pergi jauh-jauh ke Paris untuk membelikan ku seekor kuda? Aku... aku sungguh berterima kasih kepadamu! Nona Dior telah meminjamkan ku kuda betina favoritnya, dan dia wanita paling baik hati yang pernah ada, tapi aku tidak suka terus meminjam kudanya, sekalipun dia berkata dia sendiri tidak ingin berkuda.”


“Tidak, aku juga tidak suka,” ujar Tuan Constantine. Dia mengangkat kacamatanya, seraya mengamati dengan cermat Tuan Blanchet, yang baru saja muncul di pintu masuk, tetapi berdiri dengan malu-malu di belakang. “Kau, kukira, pasti Blanchet Muda,” ujarnya. “Dengan begitu, aku harus berterima kasih kepadamu karena telah menjaga keponakanku, kurasa.”


“Ya, tapi ... tapi itu tidak ada apa-apanya, Tuan!” Archard tergagap. “Maksud saya, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah menemani dia, sebab saya... saya tidak mampu membujuknya untuk kembali ke Etretat, yang seharusnya dia lakukan.”


“Dia sulit dikendalikan, bukan? Aku bersimpati kepadamu.”


Archard nyengir dengan malu-malu. “Saya agak berpikir demikian?” katanya. “Yah, dia sedang dalam kondisi nekatnya, Anda tahu.”


“Aku bersyukur bisa mengatakan aku tidak tahu,” jawab Tuan Constantine sinis.


“Aku tidak begitu!” tegas Cherry, langsung merasa tersinggung. “Dan, tentang menjaga diriku, aku sangat mampu menjaga diri sendiri!”


“Tidak, kau tidak bisa!” sahut Archard dengan ketus. “Kau bahkan tidak tahu cara pergi ke Rouen, dan kalau aku tidak mengejar mu”


“Kalau kau tidak ikut campur, aku akan menyewa kereta di Colleville sur mer.” Cherry berkata dengan angkuhnya. “Dan, keretanya tidak akan kehilangan satu roda, seperti keretamu yang menjijikkan!”

__ADS_1


“Oh, begitu, ya? Dan, menyadari dirimu tidak punya uang ketika kau tiba di Rouen? Jangan jadi gadis bodoh!”


__ADS_2