Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER XXXIV


__ADS_3

Hidangan telah disajikan di ruang makan. Jamuannya bersifat informal, tetapi sebagian besar pemuda yang hadir telah mengajak gadis-gadis muda pilihan mereka untuk turun ke ruang makan dengan kawalan mereka, dan ketika Nona Dior, seorang nyonya rumah yang terampil, telah memasangkan para janda kaya dengan pasangan yang tepat, dia mendapati dirinya berhadapan dengan Tuan Besar Curtis, yang memohon kehormatan untuk mengantarkannya ke ruang makan. Nona Dior bisa memastikan bahwa malam ini akan menjadi malam paling tidak menyenangkan yang pernah dilewatinya dan kelihatannya tidak ada cara untuk terlepas dari bencana tambahan ini, maka dia hendak tersenyum dengan sopan, dan menempatkan tangannya di lengan lelaki itu, ketika Tuan Constantine, yang entah datang dari mana, seketika berdiri di belakangnya, dan berkata, “Terlalu terlambat, Curtis! Nona Dior sudah berjanji kepadaku! Kau sudah siap pergi sekarang, Nyonya?” Nona Dior mendapati dirinya sendiri dalam kebingungan. Jika dia tidak mengakui janji ini, perselisihan di antara kedua pria ini tidak akan terelakkan wajah Curtis sudah merah padam. Apa pun, dia memutuskan, akan lebih baik daripada percekcokan di dalam rumahnya.


Dia memaksakan senyum menghiasi bibirnya, dan berkata bohong, tetapi dengan tenang, “Aku khawatir aku memang berjanji untuk mengizinkan Tuan Constantine mengantarku ke meja makan, Curtis. Bersediakah kau membantuku dengan mengantar Belevia sebagai penggantiku?”


Tuan Constantine, setelah menarik tangan Nona Dior ke lengannya, dan menuntunnya ke luar ruangan, berkata dengan mencela, “Kau tahu, itu tadi sangatlah memalukan! Membujuk peminangmu yang sangat ternama untuk menerima sepupumu sebagai pengganti akan sangat mungkin menjadikan dia musuhmu seumur hidup!”


“Aku tahu, tapi apa lagi yang dapat kulakukan, sedangkan Belevia adalah satu-satunya wanita yang masih tertinggal diruangan, dan kau telah mengklaim dengan salah, sebagaimana kau ketahui betul! aku telah berjanji untuk turun bersamamu? Tentu saja tidak ada yang lebih aku sukai untuk pergi bersama!” katanya dengan sengit.


“Ayolah, itu sungguh keterlaluan,” kata Tuan Constantine. “Kau tidak bisa membohongiku untuk percaya kau akan lebih suka ditemani Curtis daripada aku.”


“Yah, memang begitu!” Nona Dior menegaskan.


“Sebab aku tahu betul kau hanya ingin bersamaku supaya kau bisa menekanku karena telah mengundang Denis Damitri ke pestaku, dan aku tidak akan menerimanya, karena itu aku akan memperingatkanmu. Apa hakmu untuk mendikteku tentang siapa yang boleh ku undang atau tidak boleh ku undang ke pestaku?”


“Hilangkan semua kemarahan itu,” sarannya. “Kau tidak akan bertengkar denganku, Gadisku, jadi jangan menunjukkan kemarahan tak beralasan itu kepadaku. Aku mungkin menyesalkan seleramu sehubungan dengan para pengagummu itu, tapi aku tidak mengira sudah mencampuri apa yang bukan urusanku. Dan, jika aku menekanmu, itu tidak akan terjadi di depan umum, aku berjanji.”


Agak merasa tenang, Nona Dior berkata dengan nada yang lebih pantas, “Yah, aku akan mengakui, Tuan, bukan keinginanku untuk memasukkan Damitri ke daftar tamuku. Sungguh, aku mengatakan semua yang aku bisa, dalam batas kesopanan, untuk membuatnya berpikir dia akan mendapati pestanya sangat membosankan. Dan, ketika upaya itu tidak berhasil, aku mengundang Cyril Curtis, dan temannya, dan Mayor Beverley, serta beberapa orang lainnya.”

__ADS_1


“Dengan keyakinan mereka bisa menyisihkan Damitri, atau harapan aku mungkin tidak melihat dia di antara begitu banyak pemuda tampan?”


Pernyataan ini benar sekali dengan tingkat akurasi yang cukup untuk membuat Nona Dior tertawa. Dia berkata, “Oh, betapa menjijikkannya kau ini! Dan, hal yang paling tidak menguntungkan dari masalah ini adalah, kau membuatku jadi menjijikkan juga, yang sangat tidak bisa dimaafkan!”


“Aku tidak berbuat seperti itu,” jawab Tuan Constantine, senyuman aneh terlihat di sudut mulutnya. “Rasanya, aku tidak bisa melakukannya sekalipun aku menginginkannya.”


Mereka telah mencapai dasar tangga pada saat ini, dan hendak memasuki ruang makan sehingga Nona Dior tidak harus menjawab, yang sangat bagus, karena dia tidak bisa memikirkan sesuatu untuk dikatakan. Dia bahkan tidak bisa memutuskan apakah pria itu telah memberinya sebuah pujian atau apakah dia salah paham terhadap pria itu karena sekalipun kata-kata yang diutarakan pria itu berisi pujian, nada suaranya saat menyampaikan kata-kata itu tenang dan biasa.


Tuan Constantine meninggalkannya begitu mereka memasuki ruang makan, tapi kembali dalam beberapa menit dengan membawa berbagai jenis kue pastel untuknya, dan segelas sampanye. Nona Dior sudah berada di tengah satu kelompok, dan Tuan Constantine tidak tinggal berlama-lama, tetapi kemudian terlihat bercakap-cakap dengan Cherry, yang sedang makan es dengan diawasi Cyril Curtis. Gadis itu menyapa Tuan Constantine dengan gembira, dan permintaan untuk mengetahui apakah dia pernah menghadiri sebuah pesta yang lebih menyenangkan. Tuan Constantine terlihat agak geli, tetapi meyakinkan keponakannya dia belum pernah. Cyril berkata, “Selamat malam, Tuan! Saya tadi memberi tahu keponakan Anda Nona Dior terkenal memberikan makanan dan minuman terbaik kepada para tamunya, tapi yang ingin dia makan hanya es. Haruskah aku membawakan satu lagi, Nona Constantine?”


“Ya, tolong!” Cherry menjawab dengan segera. “Dan, bolehkah aku mendapat segelas limun? Oh, Tuan, akankah aku menyukai sampanye? Tuan Curtis berkata aku tidak akan suka.”


Cherry mengambil gelas itu, dan menyesap dengan hati-hati. Ekspresi rasa tidak suka di wajahnya terlihat menggelikan.


Dia mengembalikan gelas itu kepada pamannya, seraya berkata, “Ugh! Sangat tidak enak! Bagaimana bisa orang-orang minum sesuatu yang tidak enak seperti itu? Kukira Tuan Curtis membohongiku sewaktu dia berkata aku tidak akan menyukainya, sebab dia, dan kau, bahkan Nona Dior, kelihatannya sangat menyukai minuman itu.”


“Sekarang kau tahu dia tidak membohongimu.” Tuan Constantine mengamatinya dengan serius, dan mengejutkan gadis itu dengan berkata, “Ingatkan aku, saat aku kembali ke Paris untuk menyerahkan kepadamu seperangkat batu pirus milik ibumu. Kebanyakan perhiasannya tidak cocok untuk gadis seusiamu, tapi kukira batu pirus itu pasti sempurna. Seingatku, juga ada bros mutiara dan anting-anting padanannya. Aku akan mengirimkan semuanya kepadamu.”

__ADS_1


Pernyataan tidak terduga ini membuat Cherry kagum. Dia hanya mampu memulihkan keadaannya untuk berterima kasih kepada sang paman, tapi hal ini dilakukannya dengan penuh semangat hingga membuat pamannya tertawa, menyentuh pipinya dengan satu jari, dan berkata, “Anak nakal yang konyol! Tidak perlu berterima kasih kepadaku! Perhiasan ibumu adalah milikmu. Aku hanya menyimpannya untukmu sampai kau dewasa atau sampai aku menilaimu cukup dewasa untuk memakainya.”


Setelah Tuan Curtis kembali, Tuan Constantine meninggalkan Cherry dalam pengawasan pemuda itu, dan kembali ke Nona Dior. Sepanjang waktu, Nona Dior mengamati apa yang terjadi antara Tuan Constantine dan keponakannya, lalu berjalan maju untuk menemuinya, seraya berkata dengan suara yang sarat nada bersalah, “Aku sudah begitu lalai! Seharusnya, aku memberi tahu Cherry untuk tidak meminum sampanye!”


“Memang sudah seharusnya,” ujar Tuan Constantine.


“Yah, kalau kau tahu itu, aku terkejut kau malah memberikan gelasmu kepadanya!” kata Nona Dior, dengan agak kasar.


“Apakah kau menyukai sesapan sampanye pertamamu?” tanyanya.


“Tidak, kukira tidak.”


“Benar sekali. Curtis muda telah memberi tahu dia tidak akan suka sampanye, jadi aku membuktikan ucapan pemuda itu.”


“Kukira,” kata Nona Dior dengan penuh pertimbangan, “itu mungkin lebih ditujukan untuk maksud tersebut daripada untuk melarangnya meminum sampanye.”


“Tentu saja lebih ditujukan untuk maksud itu.” Nona Dior memberikan senyuman jail kepadanya, dan bergumam, “Kurasa, tidak lama lagi kau akan menjadi seorang wali yang ulung.”

__ADS_1


“Semoga tidak begitu.”


__ADS_2