
Terdengar suara geli yang berbicara di samping Nona Dior. “Tapi, aku harap dia akan mengatakannya, dan kau bisa lihat dia sama sekali tidak tenang,” ujar Tuan Constantine. Pria itu mengangguk kepada Curtis, yang jelas sekali penuh kebencian, dan menyapa sekenanya, yang malah memperburuk kekesalan sang bangsawan. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya.
“Orang-orang mengatakan kaulah yang membeli lukisan Brueghel yang meragukan itu di Christies bulan lalu, tapi kukira kabar itu tidak benar.”
“Aku memang membelinya, dan aku tidak menganggapnya meragukan!” jawab Tuan Besar Curtis, wajahnya jadi berwarna hampir ungu karena upayanya untuk menahan rasa benci. “Aku dengar tau menyukainya, Constantine!”
“Tidak, tidak! Tidak jika aku berkesempatan memeriksanya lebih dekat!” sahut Tuan Constantine menenangkan. “Aku bukan penawar yang membuatmu menawar harga dengan begitu tinggi malahan, aku sama sekali tidak ada di pelelangan.”
Mengamati, dengan rasa puas, dampak ucapan ini terhadap sang ahli karya seni yang marah, Tuan Constantine menambahkan, dengan cara yang memperburuk suasana, “Kukira aku tidak diberi tahu siapa pesaing Anda yang tidak berhasil: orang bodoh yang mudah dikelabui, pastinya.”
“Apakah kau bermaksud mengatakan aku juga seseorang yang mudah dikelabui?” tuntut Tuan Besar Curtis dengan sengit.
Tuan Constantine mengangkat alis hitamnya dengan ekspresi terkejut yang berlebihan, dan berkata dengan nada bingung, “Nah, apa gerangan yang telah kukatakan sehingga kau berpikiran demikian? Tidak mungkin luput dari perhatianmu, Curtis terhormat, aku dengan hati-hati menahan diri supaya tidak mengatakan “orang bodoh lainnya yang mudah dikelabui'?”
“Sebelum pergi, aku akan memberitahumu, Constantine, aku mendapati humor mu itu tidak menyenangkan!”
“Tentu saja!” sahut Tuan Constantine. “Kau mendapat izinku untuk mengatakan kepadaku apa pun yang kau inginkan! Betapa tidak adilnya aku bila menolak memberimu izin untuk berbuat demikian padahal aku tidak pernah terpikir harus meminta izin mu untuk mengatakan aku menganggap mu sangat membosankan, yang selama bertahun-tahun ini telah aku lakukan.”
“Jika tidak mempertimbangkan lingkungan sekitar kita,” ujar Tuan Besar Curtis, dengan menggeram, “aku akan sangat tergoda untuk memukulmu, Tuan!”
“Semoga saja kau memiliki keteguhan untuk menahan godaan,” ujar Tuan Constantine, pura-pura bersimpati. “Tindakan yang sangat konyol, bukan?”
__ADS_1
Karena Curtis tahu betul Tuan Constantine terkenal akan kemampuannya memberi pukulan telak di ring tinju serta kekasarannya, jawaban ini membuatnya murka sehingga, dengan hanya membungkuk singkat kepada Nona Dior, dia berbalik dan melangkah pergi, keningnya berkerut-kerut dan bibirnya dikatupkan rapat-rapat.
“Aku tidak pernah dapat memahami,” ucap Tuan Constantine, “mengapa begitu banyak orang kesulitan membebaskan diri dari orang-orang membosankan yang sombong seperti pria itu!”
“Mungkin,” Nona Dior mengusulkan, “karena hanya segelintir orang jika memang ada yang sekasar dirimu!”
“Ah, pasti itulah alasannya?” Dia mengangguk.
“Kau seharusnya merasa malu!” Nona Dior memberitahunya.
“Tidak, tidak, bagaimana bisa kau berkata begitu? Kau tidak bermaksud mengatakan kau tidak ingin terbebas darinya, “kan?”
“Yah, tidak,” Caroline mengakui. “Aku memang menginginkan begitu, tapi itu karena dia membuatku sangat dongkol. Aku akan melakukannya sendiri kalau kau tidak menyela kami! Dan, aku tidak akan bersikap kasar!”
Nona Dior tersenyum, tapi berkata dengan murah hari, “Pria yang malang! Seseorang hanya bisa mengasihaninya.”
“Simpati yang sia-sia, percayalah! Dia tidak akan percaya, ku yakin, jika dikatakan kepadanya dia adalah sasaran belas kasihan. Di matanya sendiri, kedudukan sosialnya begitu tinggi sehingga ketika orang-orang menahan kantuk di tengah salah satu ceramahnya yang sok hebat, dia merasa kasihan kepada mereka, sebab jelaslah baginya bahwa mereka adalah orang-orang dengan kecerdasan rendah, sangat tidak layak menerima pengajaran darinya.”
Karena mengingat dengan jelas beberapa kejadian ketika Nona Dior nyaris terpancing untuk berteriak saking kesalnya dengan penjelasan panjang lebar Tuan Besar Curtis, yang selalu disertai, dengan upaya murah hati tapi menyebalkan untuk menguraikan kebodohannya atau mengoreksi penilaian artistiknya yang salah berdasarkan seleranya yang tinggi, Nona Dior tidak bisa menahan tawa kecilnya, tetapi dia menebusnya dengan berkata sekalipun sang bangsawan agak membosankan, dia memiliki banyak sifat yang sangat baik.
“Aku berharap dia memilikinya. Setiap orang punya beberapa sifat baik. Yah, aku pun punya! Tidak banyak, tentunya, hanya sedikit.”
__ADS_1
Nona Dior berpikir sebaiknya mengabaikan umpan ini, dan melanjutkan, seolah dia tidak mendengar selaan itu, untuk membela watak Tuan Besar Curtis, “Dia pria yang sangat terhormat,” ujarnya dengan nada menegur. “Selalu bersikap baik, dengan cara yang tepat, dan ... dan memiliki pendirian. Dia juga seorang kakak penyayang, dan juga pria yang sangat penting!”
“Kukira kau tidak seharusnya mendorong dia untuk memikat hatimu,” kata Tuan Constantine, seraya menggeleng. “Kau akan membuat pria malang itu meminang mu, dan jika kau tidak menerimanya, mungkin sekali dia akan sangat patah hati sehingga kalau dia tidak mengakhiri hidupnya, dia akan larut dalam kesedihan selama sisa hidupnya.”
Gambaran yang muncul dari penjelasan ini menggoyahkan sikap serius Nona Dior. Dia tertawa keras, tetapi memberi tahu pria itu begitu dia mampu mengendalikan suaranya, tidak baik bagi Tuan Constantine mempermainkan orang-orang yang berkedudukan sosial lebih tinggi darinya.
“Jika demikian, tidak pantas kau menertawakannya!” sahutnya dengan pedas.
“Aku tahu itu tidak pantas.” Nona Dior mengakui. “Aku tidak menertawainya, tapi menertawai mu karena mengatakan segala hal yang sangat tidak masuk akal tentang dirinya. Nah, jika kau ingin bicara dengan Cherry”
“Aku tidak ingin. Siapa anak muda yang ada di dekatnya?”
Nona Dior memandang ke seberang ruangan, ke tempat Cherry berada di tengah kelompok yang asyik mengobrol.
“Archard Blanchet, kalau yang kau maksud anak laki-laki yang tampan itu.”
Tuan Constantine mengangkat kacamatanya. “Oh, jadi itu pewaris Oliver, ya? Bukan remaja yang jelek, tapi wajahnya terlalu kekanak-kanakan. Kakinya juga mirip potongan kaki kucing.” Kacamatanya diarahkan ke kelompok itu, dan wajahnya mengeras. “Kulihat gadis itu membuat Damitri mengincarnya,” ujarnya dengan kasar. “Izinkan aku mengatakan kepadamu, Nyonya, aku tidak ingin kau mengizinkan hubungan semacam itu!”
Nona Dior merasa tersinggung dengan nada suaranya yang tiba-tiba terkesan otokrasi, tetapi menanggapi dengan ketulusan hati yang menjadi ciri khasnya, “Aku tentu tidak akan berbuat demikian, Tuan Constantine, tenanglah! Jujur saja, aku jengkel dia harus datang menemui ku semalam, jadi aku terpaksa memperkenalkan dia kepada Cherry sebab meski menurutku dia orang yang menyenangkan, aku sangat sadar tingkah lakunya yang menawan, ditambah dengan kepandaiannya bicara dan kecenderungan merayu hampir semua wanita cantik, menjadikannya seorang teman yang tidak diinginkan bagi seorang gadis yang masih polos.”
Tuan Constantine membiarkan kacamatanya terjatuh, dan mengalihkan pandangannya ke wajah Nona Dior, “Kau memperhatikannya, ya? Seharusnya aku bisa menduganya! Urusanmu bukanlah urusanku, Nona Dior, tapi urusan Cherry adalah urusanku, dan aku memberimu peringatan aku tidak berniat membiarkan gadis itu jatuh ke dalam cengkeraman Damitri atau pria gila lain seperti dia!”
__ADS_1
Nona Dior menjawab, dengan suara dingin yang bertentangan dengan binar kemarahan di matanya, “Mohon jelaskan kepadaku, Tuan, dalam keadaan bagaimana sifat Tuan Damitri berbeda dari sifat mu sendiri?”
Sedikit harapan yang mungkin dia pupuk untuk membuat pria itu kebingungan pupus begitu saja. Pria itu hanya terlihat terkejut, dan berseru tiba-tiba, “Demi Tuhan, kau mengira aku akan membiarkan gadis itu menikahi pria seperti diriku? Berapa bodohnya pertanyaan yang kau ajukan kepadaku! Padahal, aku mulai menganggap mu wanita dengan kearifan yang tinggi!”