Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER XLVII


__ADS_3

Nona Dior berpikir, dengan mengingat rayuan-rayuannya, bahwa pria itu selama ini merupakan peminang nya yang sangat tekun: dan ketika Nona Dior mengingat perhatian-perhatian yang telah dicurahkan pria itu kepadanya, dia segera membandingkannya dengan Tuan Constantine, dan tanpa sengaja tertawa kecil.


Tidak ada dua pria yang lebih tak serupa. Yang satu menggunakan setiap tipu daya yang diketahuinya untuk menyukseskan rayuannya, yang lain sama sekali tidak menggunakan tipu daya. Sesungguhnya, pikir Nona Dior dengan kritis, pria itu kelihatannya tidak membuang kesempatan untuk menjauhkannya. Pria


itu blakblakan tanpa ampun, terlalu sering bersikap kasar hingga menjadi tidak sopan, tidak memberinya sanjungan yang berlebihan, dan tidak menunjukkan kecenderungan untuk menyenangkan hatinya di luar kebiasaan.


Rayuan yang sangat aneh jika itu bisa disebut rayuan dan mengapa pria itu benar-benar mengusik ketenangannya, yang, karena dia terlalu jujur untuk menipu dirinya sendiri, dia akui memang berhasil pria itu lakukan, adalah persoalan yang tidak bisa dia temukan jawabannya. Satu-satunya jawaban yang muncul di hadapannya, bahwa pikirannya yang teratur telah menjadi kacau, benar-benar tidak bisa diterima baginya. Dia bertanya-tanya apakah dirinya terlalu berlebihan menanggapi beberapa tanda yang diberikan pria itu, mengira pria itu jatuh cinta kepadanya. Apakah tanda-tanda itu hanya menandakan suatu


keinginan untuk merayunya? Begitu gagasan ini muncul di benaknya, dia langsung menghapusnya. Pria itu tidak pernah berusaha merayunya, dan sikap acuh tak acuh yang menjadi ciri khasnya tidak dimiliki seorang pria yang berkemauan keras untuk melancarkan rayuan-rayuan gombal. Nona Dior berpendapat bahwa hal terbaik bagi ketenangan pikirannya adalah menunggu pria itu kembali ke Paris, dan segera menyadari bahwa dia tidak menginginkan pria itu pergi. Namun, Nona Dior mendapati dirinya tidak mampu memutuskan apakah dia ingin menjadi istri pria itu atau apa yang akan dia katakan seandainya pria itu memang melamarnya.


Dia selalu mengira bahwa jika dia beruntung bertemu pria yang ditakdirkan untuk memikat hatinya, dia akan mengenalinya dengan segera, tapi kelihatannya dia selama ini keliru dengan keyakinan ini, atau pria tersebut bukanlah lelaki idaman itu.


Dengan pikiran-pikiran kacau yang saling berdesakan di dalam benaknya inilah dia menemani Nyonya Besar Dior dan Nona Harrow menyantap makan siang ringan. Namun, dia dididik terlalu baik sehingga tidak membiarkan sedikit pun tanda keresahan pikirannya terlihat, baik di wajahnya maupun dalam sikapnya.


Mengundang pertanyaan-pertanyaan penuh kecemasan yang tidak berniat dia jawab akan menunjukkan buruknya kelakuan yang patut disesalkan. Tidak ada wanita terpandang yang memperlihatkan perasaannya, atau membuat tamu-tamunya merasa tidak nyaman dengan berperangai sedemikian rupa sehingga menyebabkan mereka berpikir dia bersedih, atau menderita sakit kepala hebat. Dengan demikian, Nyonya Besar Dior ataupun Nona Harrow tidak mencurigai bahwa dia sedang tidak bersemangat. Nona Dior mendengarkan obrolan umum mereka, menanggapi kata-kata semacam itu ketika ditujukan kepadanya, melontarkan komentar-komentar yang terpikir olehnya, semuanya disertai senyuman manis yang menyembunyikan dari mereka kertidaktertarikannya pada apa yang sedang mereka perbincangkan. Dia sudah terbiasa menjaga percakapan membosankan dengan sebagian besar pikirannya ada di tempat lain, tapi dia akan mengalami banyak kesulitan


jika dia bangkit dari meja untuk memberi tahu si penanya topik apa yang sedang dibicarakan.


Sudah menjadi kebiasaan Nyonya Besar Dior untuk beristirahat di kamar tidurnya sendiri selama satu jam menjelang sore sebelum melewatkan jam berikutnya bersama anaknya yang sangat dicintai. Nona Harrow, untuk alasan-alasan yang kerap kali dia berikan dengan panjang lebar, tidak pernah beristirahat selama siang hari, dan dengan riang memerinci beberapa tugas yang menantinya. Tugas-tugas itu dimulai dari memperbaiki mainan rusak untuk Luke sampai menelisik sobekan besar pada hiasan di salah satu pakaiannya.


“Bagaimana aku bisa merobeknya, aku sama sekali tidak bisa menduganya!” katanya.


“Aku sedikit pun tidak ingat pakaianku tersangkut pada sesuatu, dan kuyakin itu tidak mungkin sampai tersangkut tanpa mengetahuinya, dan aku selalu hati-hati mengangkat rokku ketika aku menanjak supaya tidak menginjaknya sebab kalau aku sampai menginjaknya, aku mungkin sekali akan terjatuh, yang pernah terjadi sekali, ketika aku masih kecil dan ceroboh. Dan, aku pasti memperhatikan hal itu, sebab kuyakin aku akan terluka. Oh ya, dan omong-omong soal luka,” dia menambahkan dengan sungguh-sungguh,


“aku menjadi bingung bagaimana bisa terjadi bahwa seseorang dapat melukai dirinya sendiri tanpa sedikit pun ingat akan kejadian itu! Bagiku kelihatannya sangat aneh bahwa hal seperti itu bisa terjadi, sebab orang itu akan mengira pasti terasa sakit jika itu terjadi, tapi itulah yang terjadi. Aku ingat betul”


Namun, apa yang diingatnya betul tidak pernah diketahui Nona Dior sebab dia memilih pergi, dan mencari perlindungan di ruang bacanya, dengan maksud mengurus laporan-laporannya. Dia memang berusaha keras melakukannya, tapi kemajuannya lambat, sebab pikirannya melantur dengan cara menjengkelkan yang membuatnya kehilangan kesabaran pada diri sendiri. Raut muka masam Tuan Constantine dan suaranya yang tajam, masih saja berseliweran sehingga dia terus-menerus lupa hitungan di tengah kolom penghitungan, dan terpaksa mulai menambahkan lagi dari awal. Setelah dia sampai mendapat tiga hasil penghitungan yang berbeda, dia begitu kesal sehingga berujar dengan cara yang sama sekali tidak sopan,


"Oh, dasar bangsat, pergi kau! Kau tidak perlu berpikir aku menyukaimu sebab aku tidak suka! Aku justru membencimu!” Dia berkonsentrasi lagi pada pekerjaannya, tapi sepuluh menit kemudian, Tuan Constantine lagi-lagi mengganggunya, kali ini secara langsung.

__ADS_1


Anash masuk ke ruangan, dengan berhati-hati menutup pintu di belakangnya, dan memberitahunya bahwa Tuan Constantine telah datang, dan memohon kebaikan hati untuk berbicara dengannya. Nona Dior segera saja mengalami perasaan campur aduk. Dia tidak ingin bertemu pria itu, tapi juga tidak ada orang lain yang lebih ingin ditemuinya ketimbang pria itu. Dia merasa ragu, dan Anash berkata, dengan nada suara yang mencela.


“Mengetahui Anda sibuk, Nona Caroline, saya memberitahukan situasi ini kepadanya, dan memberanikan diri untuk mengatakan bahwa saya ragu kalau Anda bersedia menerima tamu. Tapi Tuan Constantine, Nyonya, sayangnya bukanlah orang yang memahami hal itu dan berperilaku semestinya. Alih-alih meninggalkan kartu namanya kepada saya dan pergi, dia menginginkan saya untuk menyampaikan kepada Anda bahwa dia datang menemui Anda untuk membicarakan masalah yang sangat penting. Jadi, saya setuju untuk melakukannya, dengan berpikir bahwa ini mungkin saja terkait Nona Cherry.”


“Ya, pasti itu, tentu saja,” sahut Nona Dior, dengan sikap tenangnya yang biasa. “Aku akan segera menemuinya.”


Anash memberi tahu dengan sikap yang lebih mencela, dan menyampaikan bahwa dia terpaksa meninggalkan Tuan Constantine di ruang depan. Mendapat pandangan terkejut dari Nona Dior, Anash menjelaskan penyimpangan aneh ini dengan mengatakan.


“Saya baru saja, Nona Caroline, hendak mengantarnya ke ruang tamu karena saya berharap saya tidak perlu memberi tahu Anda ketika dia menghentikan saya dengan menanyai saya dengan ... dengan sangat terus terang apakah ada kemungkinan dia akan bertemu Nona Harrow di sana.”


Anash berhenti sebentar, sedikit gemetar, mengusik ketenangan wajahnya yang terlatih, yang Nona Dior tidak kesulitan memahaminya sebagai rasa simpati yang ditahan terhadap sesama pria yang dihadapkan pada kemungkinan bertemu dengan sepupunya yang cerewet. Anash melanjutkan dengan tenang, “Saya terpaksa memberitahunya, Nona Caroline, bahwa saya yakin Nona Harrow sedang sibuk dengan pekerjaan menjahit di sana. Karena itulah, dia menginginkan saya untuk menyampaikan pesannya kepada Anda, dan mengatakan dia akan menunggu jawaban Anda di ruang depan. Apa yang Anda inginkan agar saya sampaikan kepadanya, Nyonya?”


“Yah, aku sangat sibuk, tapi mungkin kau benar dengan berpikir dia telah datang untuk berunding denganku tentang beberapa urusan yang berkaitan dengan Nona Cherry,” jawab Nona Dior.


“Rasanya aku sebaiknya menemuinya. Tolong antarkan dia ke sini.” Anash membungkuk dan undur diri, muncul kembali sesaat kemudian untuk mengantar Tuan Constantine masuk keruangan. Nona Dior bangkit dari kursi di belakang mejanya, lalu berjalan menghampiri, seraya mengulurkan tangan dengan


alis sedikit terangkat. Tidak ada apa pun dalam tingkah laku atau suaranya yang bisa memberikan alasan pada pengamat yang paling teliti sekalipun untuk mencurigai nadinya berdenyut lebih cepat, dan dia anehnya merasa sesak napas.


“Apakah kau datang untuk memberikan beberapa perintah lagi tentang caraku memperlakukan Cherry? Haruskah aku meminta izinmu sebelum membolehkan gadis itu menghabiskan waktu seharian bersama keluarga Stinchcombe? Jika itulah alasannya, aku sungguh mohon maaf kepadamu, dan harus segera meyakinkanmu, Nyonya Cheltenham telah berjanji untuk memastikannya pulang ke sini dengan selamat!”


“Bukan, Lebahku yang Manis,” dia membantah, “bukan itu alasannya. Aku tidak ingin bertemu dengannya, dan aku tidak peduli sedikit pun tentang keberadaannya sekarang ini, jadi jangan marah-marah, aku mohon.” Tuan Constantine berjabat tangan dengan Nona Dior selagi dia berbicara, dan terus memegangi tangannya dengan genggaman kuat selama sesaat, sementara matanya yang tajam mengamati wajah Nona Dior. Kedua matanya menyipit saat dia menatap, dan dia berkata dengan cepat, “Apakah aku menyakiti hatimu pagi ini? Aku tidak bermaksud begitu. Itu kesalahan lidahku yang tidak pantas. Jangan hiraukan itu.”


Nona Dior menarik tangannya, seraya berkata setenang mungkin.


“Demi Tuhan, tidak! Aku punya terlalu banyak kebijaksanaan untuk terluka karena hal-hal kasar yang kau katakan.”


“Aku juga berharap demikian,” ujarnya. “Jika lidahku tidak bersalah, apa yang telah terjadi sehingga membuatmu tidak bersemangat?”


“Apa gerangan yang membuatmu berpikir aku mengalami patah semangat, Tuan Constantine?” tanya Nona Dior, dengan rasa geli yang terlihat jelas, seraya duduk dan mempersilakan pria itu dengan sedikit isyarat untuk ikut duduk.

__ADS_1


Tuan Constantine mengabaikan ini dan tetap berdiri sambal memandangi Nona Dior dengan memberangus sedemikian rupa sehingga Nona Dior mendapati hal itu membingungkan. Setelah diam sejenak, Tuan Constantine berkata.


“Aku tidak bisa mengatakan itu. Cukup dikatakan bahwa aku tahu sesuatu atau seseorang telah membuatmu tidak bersemangat.”


“Yah, kau keliru,” katanya. “Aku tidak sedang patah semangat, tapi kuakui aku merasa agak marah karena tidak bisa mencocokkan laporanku yang buruk.”


Tuan Constantine menyunggingkan senyuman yang jarang terlihat. “Izinkan aku melihat apakah aku bisa melakukannya.”


“Tentu saja tidak! Itu berarti aku mengaku kalah! Aku berharap kau bersedia duduk dan memberitahuku apa yang menyebabkanmu datang ke sini.”


“Pertama, untuk memberitahumu aku akan kembali ke Paris besok,” jawabnya.


††********************††


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!


Thanks and best regards

__ADS_1


“Saya yang di pojokan kulkas”


__ADS_2