
Ketiadaan Archard terasa telah menciptakan kekosongan menyedihkan di rumah itu, dan bahkan di luar rumah itu ada sejumlah besar orang yang mengatakan kepada Caroline betapa menyesalnya mereka pemuda itu telah meninggalkan Rouen, dan betapa besar harapan mereka pemuda itu akan mengunjungi kembali kota itu tidak lama lagi. Archard kelihatannya telah memperoleh banyak teman, yang kenyataannya menambah rasa hormat Caroline kepadanya. Sangat jarang pemuda bersedia mengorbankan kesenangan mereka untuk orang tua yang begitu memilukan dan keterlaluan seperti Nyonya Besar Oliver. Dia berharap Archard tidak bermuram durja di Etretat, tapi khawatir dia pasti menjalani kehidupan yang sangat menjemukan.
Namun, beberapa hari kemudian Nona Dior menerima sebuah surat darinya, dan menyimpulkan dari isi halaman surat yang ditulis rapat-rapat bahwa meskipun Archard memikirkan Rouen dan penduduknya dengan sedih, keadaan di Etretat telah membaik. Archard bercakap-cakap lama dengan ayahnya, hasil dari perbincangan itu adalah dia sekarang menyibukkan diri dengan urusan manajemen tanah milik keluarga, dan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama pengurus harta warisan. Nona Dior akan terbelalak jika mengetahui betapa banyaknya yang dipelajari pemuda itu. Pertengkarannya dengan Tuan Besar Oliver telah ditebus. Pemuda itu menyadari ayahnya terlihat lemah dan letih, tapi dia senang bisa mengatakan ayahnya punya semangat, dan bahkan telah mengatakan jika Archard ingin mengundang beberapa temannya untuk menyambangi dia, ayahnya akan senang menyambut mereka di Etretat.
Nona Dior menyimpulkan Tuan Besar Oliver telah belajar suatu pelajaran berharga, dan dia tidak perlu mengkhawatirkan masa depan Archard.
Tidak perlu mencemaskan tentang apa pun juga, tentunya. Cherry baik-baik saja, dan berkelakuan dengan sangat patuh, sakit gigi si kecil Luke tidak diingat oleh siapa pun kecuali ibunya dan si perawat, Nona Harrow telah mendapat persetujuan si perawat dan mulai menghabiskan sebagian besar hari-harinya entah itu di kamar bayi atau mengajak Luke berjalan-jalan, dan jika Tuan Constantine mengubah niatnya untuk kembali ke Rouen, hal itu sangatlah baik sebab mereka menjalani hidup dengan sangat bahagia tanpa dirinya.
Namun, ketika, pada suatu pagi, Nona Dior menerima sebuah surat dari pria itu, jantungnya berdebar-debar, dan dia hampir tidak berani membuka segelnya, takut membaca isinya yang menyatakan pria itu memang telah mengubah pikirannya.
Kelihatannya seolah dia tidak berbuat demikian, tapi meskipun terasa melegakan saat mengetahui pria itu masih berniat untuk kembali, suratnya benar-benar tidak memuaskan.
Tuan Constantine menulis surat itu dengan tergesa-gesa, dan hanya memberi tahu dia terpaksa menunda kepulangannya.
Dia sangat disibukkan dengan beberapa urusan rumit yang membutuhkannya untuk mengunjungi tanah-tanah miliknya. Dia sebentar lagi akan memulai perjalanan itu, dan memohon maaf kepada Caroline karena hanya mengirimkan surat pendek bertulisan tidak rapi untuk memberi tahu tentang rencananya saat ini. Dia tidak sempat menulis lebih dari itu, tapi tetap akan menjadi miliknya, selamanya, Damien Constantine.
Bukan contoh dari seni menulis surat, apalagi surat dari seorang pria yang sedang jatuh cinta, demikian pikir Nona Dior. Satu-satunya bagian dari surat itu yang menumbuhkan harapan pria itu memang masih mencintainya adalah bagian akhirnya. Namun, kemungkinan besar pria itu menandatangani semua suratnya dengan tulisan Milikmu, selamanya, dan akan jadi tidak masuk akal bila memahami kata-kata sederhana ini lebih dari sekadar sikap ramah-tamah.
Nona Dior mendapati dirinya tidak bersemangat, dan berusaha sangat keras untuk menghilangkan serangan kesedihan tiba-tiba yang konyol ini, dan tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk memikirkan Tuan Constantine, suratnya, atau betapa dia sangat merindukannya. Dia berpendapat sekalipun tidak berhasil melaksanakan ketetapan hati yang terpuji ini, dia setidaknya mampu menyembunyikan kesedihannya dari Nyonya Besar Dior, tetapi segera mengetahui bahwa dia keliru. “Aku harap kau akan memberitahuku, Sayang, apa yang membuatmu begitu ... begitu murung,” kata Nyonya Besar Dior dengan nada membujuk.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa. Apa aku kelihatan murung? Aku tidak menyadari kecuali jalanan yang basah, pepohonan yang meneteskan air hujan, dan tidak ada lainnya yang bisa terlihat, tapi payung-payung dan genangan air selalu membuatku kesal. Aku benci terkungkung di rumah, kau tahu!”
“Yah, memang menyedihkan cuacanya mendung, tapi kau biasanya tidak pernah sedikit pun memperdulikan cuaca. Betapa seringnya aku memohon kepadamu untuk tidak bepergian keluar ketika turun hujan yang sangat deras! Tapi, kau tidak pernah menghiraukannya! Kau bilang kau suka merasakan tetesan hujan di wajahmu.”
“Oh, itu di pedesaan, Majorie! Itu hal yang sangat berbeda di kota, di mana seseorang tidak bisa mengikat syal menutupi kepalanya, menemukan sepasang sepatu yang kuat dan pergi berjalan-jalan! Kau tidak akan memintaku berpenampilan seperti itu di Rouen!”
“Tentu saja tidak,” kata Nyonya Besar Dior dengan tenang, menundukkan kepala lagi di atas jubah yang sedang dia buat untuk bayi perempuannya.
“Sebenarnya, kukira aku butuh pekerjaan,” Caroline mengusulkan. “Nah, seandainya aku tidak menganggap pekerjaan menjahit itu sangat membosankan, atau kalau aku memiliki bakat Cherry dalam melukis lukisan cat air sudahkah kau melihat salah satu sketsanya? Hasil sketsanya benar-benar lebih unggul daripada lukisan wanita muda pada umumnya!”
“Oh, aku berpendapat kegiatan menjahit atau membuat sketsa tidak akan memberikan apa yang diharapkan. Kegiatan-kegiatan itu tidak mengalihkan pikiran seseorang, bukan? Aku tidak tahu tentang membuat sketsa sebab aku sama sekali tidak pernah menyukainya, tapi kukira itu sama halnya dengan kegiatan menjahit, dan kegiatan menjahit kuanggap tidak mengalihkan pikiran seseorang malahan, sebaliknya.”
“Nah, Sayang, aku yakin kegiatan itu bisa memberikan apa yang kau harapkan, tapi kau sedari tadi duduk dengan sebuah buku terbuka di hadapanmu selama dua puluh menit terakhir, dan aku mau tak mau memperhatikan kau belum membalik halamannya,” jawab Nyonya Besar Dior. Dia mendongak, dan tersenyum sekilas kepada Caroline. “Aku tidak bermaksud mengusikmu dengan pertanyaan-pertanyaan menyelidik, jadi aku tidak akan berkata-kata lagi. Hanya saja aku sangat berharap kau tidak akan berbuat sesuatu yang mungkin akan kau sesali sepanjang hidup. Aku tidak bisa tahan melihatmu dibuat tidak bahagia, Sayangku. Coba katakan, apakah menurutmu aku telah membuat rompi ini cukup besar untuk si bayi?
Cuaca tetap tak menentu selama beberapa hari, dan jelas sudah berbagai hiburan di luar ruangan yang telah direncanakan oleh Stonehenge dan banyak temannya harus ditunda. Hal ini tentu saja mengecewakan Cherry dan setelah selang waktu yang sangat singkat, bahkan kesabaran Nyonya Besar Dior pun ikut habis, dan tentang Cherry yang bertanya kepadanya, untuk kedua puluh kali, apakah dia tidak berpendapat langitnya menjadi semakin cerah, dan apakah masih tidak mungkin pesta besok di Sydney Green diadakan, dia menyampaikan kata-kata teguran yang lembut tapi dipilih dengan hati-hati kepada Cherry, “Nak, cuaca tidak akan membaik karena kau terus berlari ke jendela dan menanyai kami apakah kami tidak menganggap cuacanya menjadi cerah. Saudariku maupun aku tidak tahu sedikit pun apakah besok akan cerah, jadi apa gunanya mengharapkan kami untuk menjawabmu? Kau akan jauh lebih baik bila berhenti menempelkan hidungmu di jendela setiap beberapa menit dan menyibukkan dirimu dengan lukisanmu, atau musikmu.” Nyonya Besar Dior tersenyum dengan murah hati, dan menambahkan, “Kau tahu, Sayang, sebesar apapun orang menyukaimu, mereka akan segera mulai berpikir kau ini membosankan jika kau suka berbicara berulang-ulang tentang setiap hal remeh yang mengganggumu, seolah kau ini hanya anak manja.”
Cherry menjadi merah padam, dan selama sesaat kelihatannya seolah dia akan menanggapi dengan pedas: tapi setelah sesaat bergumul dalam batin, dia mengatakan dengan suara lembut, “Maafkan aku, Nyonya!” dan lari ke luar ruangan.
Segeralah terlihat kata-kata Nyonya Besar Dior ada gunanya, sebab, walaupun Cherry sering melayangkan pandangan sayu ke tetesan hujan yang saling berkejaran mengenai kaca jendela, dia hanya sesekali mengeluhkan cuaca yang membandel, dan benar-benar melakukan upaya yang patut dipuji untuk menahan kekecewaan dengan sikap tenang yang ceria.
__ADS_1
††*****††
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
Thanks and best regards
“Saya yang di pojokan kulkas”
__ADS_1