Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER LXI


__ADS_3

Cherry mengembuskan ******* sedih, tapi menyerah, seraya berkata dengan bergumam dia tidak bermaksud untuk menyusahkan. Nyonya Besar Dior lalu memiliki gagasan menyenangkan gadis itu mungkin ingin pergi ke luar bersama Nyonya Mary, yang harus berbelanja, dan membeli beberapa bunga untuk ditaruh di kamar Nona Dior. Usulan itu berdampak baik. Wajah Cherry menjadi cerah, dan dia berseru, “Oh, ya! Aku ingin melakukan semua itu, Nyonya! Terima kasih!”


Namun, ketika Nyonya Besar Dior menyarankan lagi dia sebaiknya menulis surat kepada Stonehenge untuk memintanya berkuda bersamanya pada esok pagi, gadis itu menggeleng, dan berkata dengan mantap tidak ada apa pun yang akan membujuknya untuk pergi bersenang-senang selagi Nona Dior sakit. Tidak diharapkan Nona Harrow akan menyerah dengan paruh pada perintah dokter, dan memang dia tidak menyerah. Belum juga Cherry berjalan keluar bersama sang pengurus rumah tangga, Nona Harrow menyebabkan Nyonya Besar Dior mengalami setengah jam yang sangat melelahkan, yang selama itu dia mengeluhkan dengan penuh semangatnya akan keangkuhan Elle yang berani mengusir dia dari kamar Caroline: menjelaskan niatnya untuk menjaga sendiri Caroline, apa pun kata dokter, menyampaikan kata-kata mengharukan tapi membingungkan demi mendukung tuntutannya untuk menjadi satu-satunya orang yang pantas untuk bertanggung jawab di kamar sakit, dan beberapa kali memohon Nyonya Besar Dior untuk menyetujui apa pun yang dikatakan siapa pun, darah lebih kental daripada air dan mengakhiri monolog dengan menjelaskan, dengan nada penuh kemenangan, tidak ada gunanya bagi Nyonya Besar Dior membicarakan bahaya tertular karena dia sudah terkena influenza.


Butuh beberapa waktu sebelum Nyonya Besar Dior mampu meyakinkan Nona Harrow, dan dibutuhkan taktik yang hebat, tapi dia berhasil pada akhirnya, tanpa perlu melukai perasaan Nona Harrow. Dia berkata tidak tahu bagaimana dia dan sang perawat akan bertahan jika Belevia merasa harus mencurahkan perhatian kepada Caroline. Itu sangat cukup. Nona Harrow, dengan perasaan kasih sayang yang meluap-luap, berkata dia siap berbuat apa pun di dunia untuk meringankan beban-beban yang dia ketahui betul sedang ditanggung oleh Nyonya Besar Dior tersayang, dan lalu dia pergi, merasa bahagia dengan mengetahui jasanya tak tergantikan.


Tidak seperti Luke atau Nona Harrow, Nona Dior adalah pasien yang sangat baik. Dia mematuhi petunjuk-petunjuk dokter, menelan obat-obatan yang paling menjijikkan tanpa membantah, hanya membuat sedikit permintaan, lebih jarang mengeluh, dan dengan tegas menahan diri agar tidak bergerak-gerak ke sana kemari, yang dia tahu menjadi upaya sia-sia untuk mendapat posisi yang lebih nyaman. Sebagaimana telah diprediksi oleh Dokter Andre, demamnya meninggi, dan meskipun sungguh keterlaluan mengatakan dia mengigau, pikirannya memang sedikit melantur, dan segera sesudah terbangun dari tidurnya yang tidak tenang, dia berseru, “Oh, mengapa dia tidak datang?” dengan suara yang marah tapi dia segera sadar, dan setelah menatap sejenak wajah Elle dalam kebingungan, yang membungkuk di atasnya, Nona Dior bergumam, “Oh, itu kau, Elle?! Aku pikir aku pasti bermimpi, sepertinya.” Elle melihat tidak ada alasan untuk melaporkan kejadian ini kepada Nyonya Besar Dior.


Demamnya mulai menurun pada hari kedua, tapi masih tetap cukup tinggi sehingga membuat Dokter Andre menggeleng, dan barulah pada hari ketiga demamnya menghilang dengan sendirinya, dan tidak berulang lagi. Setelah melewati serangan mengejutkan ini, Nona Dior begitu lelahnya sehingga selama dua puluh jam berikutnya dia tidak punya energi untuk melakukan sesuatu lebih dari menelan, dengan susah payah, sedikit makanan cair, atau merangsang dirinya untuk memberikan minat lebih jelas pada kejadian apa pun yang terjadi di rumah tangganya. Karena sebagian besar waktu dia tertidur, menyadari perasaan begitu lega tulang-tulangnya tidak lagi terasa sakit, dan jendela bundar di kepalanya tidak lagi membuat hidupnya terasa mengerikan.


Pada hari keempat, tibalah Tuan Arthur di Versailles. Dia telah menerima dengan tenang kabar, yang disampaikan oleh istrinya yang penuh tanggung jawab, Nona Harrow terbaring karena menderita influenza, surat kedua, yang memberitahunya Luke telah tertular mengganggunya sedikit, tapi tidak cukup untuk membuat dia mengabaikan kepastian dari Majorie dia tidak perlu merasa cemas tapi surat ketiga meski istrinya masih memohon agar dia tidak datang ke Rouen, yang berisikan kabar Caroline juga telah menyerah pada epidemi yang terjadi, membuatnya lekas-lekas menuju Rouen dalam waktu satu jam setelah dia menerima surat itu. Dia tidak bisa mengingat kejadian sejak masa kecil adiknya ketika Caroline terkena sesuatu yang lebih serius dari flu ringan di kepala, dan baginya, jika Caroline bisa jatuh sakit, mustahil untuk mengetahui kapan Majorie-nya juga akan terbaring lemah.


Nyonya Besar Dior menyambut sang suami dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia sangat gembira bisa dipeluk lagi oleh tangan kuat sang suami: di sisi lain, dia mau tak mau merasa kehadiran sang suami di rumah ini akan menjadi beban tambahan bagi para pengurus rumah tangga yang sudah terlampau dibebani oleh tiga orang sakit, yang salah satunya adalah pelayan tambahan. Nyonya Besar Dior adalah seorang istri yang patuh, tapi dia tahu betul sang suami tidak berguna di kamar si sakit.


Malahan, dia lebih merupakan rintangan daripada sesuatu yang berharga karena dengan dianugerahi kesehatan yang sangat baik, dia memiliki sangat sedikit pengalaman sakit, dan menyebabkan si sakit kambuh lagi penyakitnya karena berbicara dengan nada suara yang kuat, atau jika diperingatkan si sakit sangat lemah kondisinya karena dia berjinjit-jinjit masuk ke kamar, berbicara kepada si pasien dengan suara berbisik dan diliputi perasaan khidmat, dan tampak seperti seorang pria yang telah datang untuk menyampaikan ucapan selamat jalan untuk kali terakhir karena tidak ada lagi harapan untuk sembuh.


Tuan Arthur merasa sangat lega mengetahui Majorie-nya, alih-alih terbaring sakit, terlihat amat sehat, tapi dia tidak suka istrinya selama ini menunggu di tempat tidur bayi sejak Luke terserang influenza. Dia berpendapat sungguh aneh tidak ada seorang pun di rumah itu yang mampu menjaga seorang bayi, dan tidak bisa diyakinkan Majorie tidak lelah ataupun tidak bosan. Sang istri menertawainya, dan berkata, “Tidak, tidak, tentu saja aku tidak lelah atau bosan! Sadarkah kau, Sayang, inilah kali pertama aku mengurus si bayi seorang diri? Kecuali karena tidak bisa menjenguk Luke, dan merasa sangat cemas tentang Caroline, aku menikmati setiap menitnya, dan akan merasa menyesal saat menyerahkan si bayi kembali ke perawat besok. Dokter Andre menganggap kondisinya sudah sangat aman sekarang, tapi aku akan menjaga si bayi bersamaku untuk satu malam lagi sebab dia sedang tumbuh gigi lagi dan agak rewel, dan aku ingin perawat tidur nyenyak sebelum dia mengurusnya lagi. Kau harus menemui Luke sekarang, dia sedang istirahat. Katakan sesuatu yang baik kepada Belevia, maukan? Dia selama ini sangat membantu dengan menjaga Luke.”


“Ya, baiklah, tapi ceritakan tentang Caroline! Aku tidak pernah sekaget ini dalam hidupku ketika aku mendapat kabar dia sakit parah! Aku hampir tidak bisa memercayai mataku sebab aku tidak ingat aku pernah tahu dia roboh sebelumnya. Ini pasti serangan yang cukup hebat!”

__ADS_1


Mereka disela oleh Nona Susan Dior, yang sejak tadi berbaring tidur di atas sofa di belakang ruang tamu, dan yang sekarang terbangun, dengan rewelnya meminta perhatian. Nyonya Besar Dior meluncur melewati separuh ruangan, dan baru saja hendak mengangkat Nona Susan ketika Nona Harrow masuk terburu-buru, dan mohon diizinkan untuk membawa si kecil.


“Karena aku melihat Tuan Arthur datang, dan aku tahu dia akan ingin berbicara denganmu, yang karena itulah aku selama ini menyimak, dengan berpikir si bayi sangat mungkin akan terbangun. Oh, bagaimana kabarmu Sepupu Arthur? Senang sekali melihatmu bersama kami lagi walau aku kira kau akan merasa sangat cemas saat melihat Caroline kita tersayang andai saja Elle memperbolehkan Anda menemuinya!” Dia tertawa terkikih dengan nyaringnya. “Aku yakin kau akan terkejut saat mengetahui Elle telah menjadi Ratu di Versailles tidak seorang pun dari kami yang berani menggerakkan tangan atau kaki tanpa persetujuannya! Bahkan, aku tidak diizinkan menemui Caroline hingga hari ini! Sungguh, aku sangat terhibur, tapi mau tak mau aku merasa kasihan kepada Caroline yang malang, terpaksa menerima bantuan dari pelayannya padahal orang-orang dari keluarganya akan lebih pantas. Namun, aku tidak keberatan karena aku tahu, meski dia itu tiran, aku bisa mengandalkan Elle untuk menjaga nyonyanya sebaik yang akan aku lakukan. Lagi pula, ada Nyonya Besar Dior yang perlu dipikirkan, yang terlihat begitu lelah, yang membuatku sadar dia lebih membutuhkan aku daripada Caroline!”


Dia mulai menimang-nimang si bayi di tangannya, dan Tuan Arthur, yang telah mendengarkan wanita itu dengan perasaan tidak suka yang kian besar, pergi cepat-cepat, dengan hampir menyeret sang istri bersamanya. Selagi mereka menaiki tangga, dia berkata, “Percayalah, Majorie, aku mulai berharap tidak membujuk Caroline untuk mempekerjakan wanita itu! Tapi, aku tidak ingat dia mengoceh pada kita ketika dia dan Caroline mengunjungi kita!”


“Tidak, Sayang, tapi di rumah kau tidak pernah melihatnya terlalu sering. Itulah yang tidak aku sukai dari rumah-rumah kota seberapa pun luasnya rumah itu, seseorang tidak pernah bisa menjauh dari orang lain yang tinggal satu atap dengan mereka! Dan, meski Belevia baik hati dan sangat membantu, kuakui aku kerap terpaksa mengurung diriku di dalam kamar untuk melepaskan diri dari dia. Aku pikir,” tambahnya dengan merenung, “kalau sampai dia tinggal di Chateau, aku harus memberinya ruang duduk sendiri.”


“Tinggal di Chateau?” Tuan Arthur berseru dengan tiba-tiba. “Kau tidak ingin mengatakan Caroline bermaksud melepaskan dia?”


“Oh, tidak! Tapi, kita tidak pernah tahu situasi apa yang mungkin muncul untuk membuat penjagaannya tidak diperlukan lagi. Caroline bisa saja menikah, misalnya.” Tuan Arthur tertawa mendengar ucapan ini, dan berkata, dengan sangat yakin, “Tidak akan! Yah, dia sudah dua puluh sembilan tahun, dan jelas seorang wanita tua!”


††*****††


Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.


Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.


Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.

__ADS_1


Terima kasih banyak.


________________________________


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!


Thanks and best regards

__ADS_1


“Saya yang lagi ngupas bawang”


__ADS_2